Penggunaan Mandarin Vs Loyalitas

September 21, 2007

Belakangan ini timbul perdebatan yang hangat di kalangan komunitas Tionghoa tentang penggunaan bahasa Mandarin di Indonesia dan bagaimana Komunitas Tionghoa dan masyarakat Indonesia luas menyikapi penggunaannya yang kian populer ini. Ada yang mengaitkan penggunaan Mandarin ini dengan loyalitas seseorang terhadap Indonesia.
Argumentasi ini memang menarik.  Akan tetapi kiranya orang perlu berkepala dingin dan menggunakan akal rasional dalam mengaitkan penggunaan sebuah bahasa dengan loyalitas seseorang atau sebuah komunitas terhadap tanah airnya.

Read the rest of this entry »


Chinese Language Proficiency and The Politics of Identity

September 4, 2007

     The mastery of Chinese has always eluded me, even though learning the language has always been part of my life. When I was six, my parents made me take Chinese lessons with a private tutor at home.
     I dreaded those sessions because I could never remember the right way to pronounce and write the complex Chinese characters. Moreover, there was never an opportunity for me to use the language after the lessons ended. We spoke only Indonesian at home and in society, which forbade the formal teaching and learning of Chinese in school and suppressed all forms of Chinese cultural expressions due to the policy of assimilation that lasted from 1966 until 1998.
     Under the assimilation policy, the Indonesian government closed all Chinese-language schools and ruled that children of Chinese descent must enroll in Indonesian-language schools. In these schools, Chinese children were to learn Indonesian history, politics, and social practices alongside their Indonesian peers.

Read the rest of this entry »


Seputar Kebangkitan Organisasi Tionghoa

September 3, 2007

SUARA PEMBARUAN DAILY
————————–
Oleh Benny G Setiono

     Setelah rezim Orde Baru jatuh dan berlangsung reformasi, tumbuh kesadaran di sebagian kalangan etnis Tionghoa bahwa kedudukan mereka terutama di bidang sosial dan politik, sangat lemah dan menyedihkan. Kesadaran itu pada ujungnya membangkitkan keberanian untuk menolak kesewenang-wenangan yang menimpa diri mereka dan menuntut keadilan sebagai warga negara Republik Indonesia
      Dengan segera berbagai organisasi baik partai politik, ormas maupun LSM dideklarasikan. Di antaranya Partai Reformasi Tionghoa Indonesia (Parti), Partai Bhinneka Tunggal Ika (PBI), Solidaritas Nusa Bangsa (SNB), Formasi, Simpatik, Gandi, PSMTI, Perhimpunan INTI.
      Demikian juga berbagai penerbitan seperti harian, tabloid, dan majalah antara lain Naga Pos, Glodok Standard, Suar, Nurani, Sinergi, Suara Baru, bermunculan. Namun, dengan berjalannya waktu, ternyata beberapa organisasi tersebut berguguran dan beberapa media cetak hilang dari peredaran.

Read the rest of this entry »


An American with a Chinese heart

August 20, 2007

A woman from the United States in her 90s is devoting her love and energy to the development of a small Chinese village where she used to live as a small child.

In the early 20th century Eunice Moe Brock’s parents came to the eastern Chinese province of Shandong where they gave birth to her. When she grew up during the Kuomintang Republic, Brock saw the poverty, plague and flames of war. And so when she left China at the age of 13, she was determined to come back to help the poor people of her birthplace, she told the People’s Daily.

Following her husband’s death in 1998, the old woman sold her house, her car, a 40-acre forest and other belongings and moved to China. She settled down at Liumiao Village in Liaocheng of Shandong, to follow through on her promise to help the local villagers.

In the past few years Brock has built a computer room for the primary school with her own money, and donated desk, chairs and books. She also paid the bills for people to have cataract surgery and has been trying to improve the medical care facilities in a number of villages. So far, she has donated more than 300,000 yuan.

Read the rest of this entry »


Etnis Tionghoa, Khonghucu dan Hak Asasi Manusia:Refleksi Perayaan Imlek Tahun 2558/2007

February 18, 2007

18 Feb 2007
Oleh Agust Riewanto

   Hingga hari ini masih banyak peraturan perundang-undangan yang berpotensi melahirkan diskriminasi dan pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM) bagi agama mayoritas etnis Tionghoa Khonghucu di Indonesia. Salah satunya adalah kebijakan Kantor Catatan Sipil yang menolak proses pencatatan perkawinan etnis Tionghoa yang beragama Khonghucu, karena agama ini dianggap di luar agama resmi versi pemerintah.
   Padahal sejak ditetapkan UU No1 Tahun 1974 tentang Perkawinan, maka mulai saat itu tidak berlaku lagi peraturan perkawinan Adat, hukum Islam, Ordonansi Perkawinan Kristen Indonesia (HOCI), hukum perkawinan Perdata Barat (KUHPerdata) dan perkawinan campur (reglemennt Gemengde Huwelijken/RGH). Oleh karena itu UU No 1 tahun 1974 adalah merupakan produk hukum perkawinan yang spektakuler, karena merupakan upaya pengkodifikasian hukum perkawinan Indonesia yang cukup komprehensif.
Bersamaan dengan diundangkannya UU.No 1/1974 itu, diterbitkan pula Peraturan Pemerintah (PP) No 9 Tahun 1975 tentang Pelaksanaan UU No 1/1974. Namun, patut disayangkan dalam UU perkawinan ini, masih bersemayam beberapa sisi diskriminasi terhadap agama Khonghucu (agama mayoritas etnis Tionghoa).

Read the rest of this entry »


Solidaritas “Sin Nien”

February 18, 2007

oleh: William Chang

   Katastrofe kosmik belum reda. Tanah longsor, banjir, flu burung, demam berdarah dengue (DBD) masih menimpa beberapa daerah. Bagaimanakah ber-Sin Nien dalam keadaan ini?
   Sebagai pesta yang sarat makna kosmik, kultural, dan spiritual, Sin Nien (Tahun Baru Imlek alias Pesta Musim Semi) dirayakan di seluruh dunia. Kuasa “hantu- hantu” pengganggu manusia dan jagat raya dihalau dengan membakar batang bambu kering dan menebar warna merah. Dunia yang diguncang roh-roh jahat harus distabilkan dan diharmonikan melalui ritus kelahiran kembali (cosmic rebirth). Dunia baru sedang didambakan.
   Kesadaran akan kuasa adikodrati di dalam dan luar diri manusia menempa watak kosmik manusia. Selaku mikrokosmos, manusia seharusnya arif memperlakukan makrokosmos karena koneksitas kedua kosmos amat memengaruhi irama hidup manusia. Ternyata, kecenderungan buruk mikrokosmos (egoisme, hedonisme, kerakusan, liberalisme) telah merusak seluruh sistem makrokosmos (perubahan iklim, musim dan siklus kosmos). ebaliknya, korupsi makrokosmos menggelisahkan ketenangan hidup mikrokosmos.

Read the rest of this entry »


Imlek 2558 – Sepiring Nasi di Meja Abu Leluhur

February 18, 2007

oleh: Iwan santosa

   Sesaji lengkap berupa daging, buah, penganan dan arak di meja abu menjelang Imlek merupakan kewajiban keluarga Tionghoa sebagai bakti kepada leluhur. Namun, hanya sepiring nasi, sate dari tetangga dan air yang bisa disediakan Encek Ouw Ceng Lim (74) di meja abu.
   Separuh rumah sewaan termasuk meja abu, terapung di atas susunan papan di atas genangan akibat banjir Kali Angke. Untuk menghadap leluhur, dia harus berdiri nyaris menyentuh genting di bagian belakang rumah yang masih terendam air.
Padahal sebelumnya, setiap sembahyang Imlek, persembahan lengkap selalu diusahakan oleh keluarga miskin itu.
   “Tiga hari lagi Sin Cia (Tahun Baru dalam dialek Hokkian-Red) kami tidak punya uang. Semua terendam banjir. Paling tidak saya masih bisa persembahkan nasi dan air di meja abu. Untuk jalan ke wihara saya sudah tidak kuat,” ujar Encek Ceng Lim yang tinggal bersama isteri, anak lelaki dan lima cucu perempuan di Gang Berdikari, Kelurahan Kapuk, Kecamatan Cengkareng, sejak tahun 1965.
   Ceng Lim kelahiran Cikupa. Tangerang mengenang, sebelum banjir 2007 menghantam pemukiman di Kapuk-yang banyak dihuni warga Tionghoa Benteng-dia selalu mendoakan almarhum ayahnya Ouw Ceng Lam yang meninggal tahun 1970-an dan bersemangat menyambut tahun baru.

Read the rest of this entry »


Dicari, Imlek Bangsa Indonesia

February 18, 2007

oleh: P Agung Wijayanto

   Beberapa tahun lalu, pemerintah Indonesia menyatakan, perayaan Imlek sebagai hari libur nasional. Sejak itu menjamur berbagai model perayaan Imlek yang ditawarkan berbagai kalangan, terutama dunia perdagangan.
   Sekarang pun ada banyak anggota masyarakat Indonesia yang dengan penuh semangat merayakan Imlek. Mereka yang tidak merayakan Imlek pun tidak terlalu dirugikan, paling tidak bisa menikmati kesempatan berlibur pada hari raya itu.
   Penekanan perayaan Imlek tanpa memerhatikan konteks Indonesia akan menyebabkan irrelevansi perayaan itu bagi sebagian besar masyarakat Indonesia. Misalnya, Imlek ditekankan sebagai perayaan musim semi. Indonesia tidak mengenal adanya empat musim. Karena itu, pemasangan pernik-pernik lambang musim semi tidak akan banyak menolong penghayatan perayaan Imlek.
   Dalam konteks masyarakat Indonesia yang plural, penekanan secara berlebihan perayaan Imlek akan dapat meninggalkan permasalahan yang dapat membahayakan keutuhan bangsa.

Read the rest of this entry »


Imlek Perayaan Agama atau Budaya?

February 16, 2007

Oleh Benny G Setiono*

   Pada 18 Februari 2007 masyarakat Tionghoa di Indonesia kembali akan merayakan Tahun Baru Imlek 2558 secara terbuka dan meriah, yang pada masa rezim Orde Baru mustahil dilakukan karena adanya larangan dari pihak penguasa yang sangat otoriter dan represif.

Read the rest of this entry »


Panggilan Kekerabatan Dalam Tradisi Tionghua

December 26, 2006

Ini bentuk rencana dari daftar panggilan kinship. Belum kepikir bagaimana menampilkannya dengan lebih bagus. Saya baru buat sedikit dalam bhs. Hokkian (dialek Xiamen), nanti akan ditambahkan.

Read the rest of this entry »


Sinopis Cerita: PATEKOAN & KAPITEIN GAN DJIE

December 25, 2006

oleh David Kwa
 
Gan Djie adalah seorang Kapitein der Chineezen yang mempunyai riwayat baik dan luar biasa. Ia adalah kapitein der Chineezen ketiga di Batavia, menggantikan Phoa Beng Gam. Istrinya adalah seorang perempuan Bali. Perempuan inilah yang kemudian menggantikan kedudukannya sebagai Kapitein der Chineezen selama 12 tahun setelah ia wafat.
——————– 
   Gan Djie adalah seorang Tionghoa totok yang berasal dari Ciangciu, sebuah kota keresidenan di bagian selatan Propinsi Hokkian. Dalam usianya yang sangat muda ia datang ke Gresik mengikuti kakak laki-lakinya yang sudah terlebih dahulu datang ke Jawa dan kebetulan sedang pulang ke Cina dan henda kembali pula ke Jawa. Di Gresik, Ia membantu kakaknya berdagang hasil bumi.
   Gan Djie seorang yang jujur, ramah, dan bersemangat tinggi, sehingga disukai banyak orang. Ia rajin sembahyang dan di beberapa waktu ia juga suka melakukan pang-she ( melepaskan makhluk hidup yang tengah menderita ) – umumnya burung atau ikan – suatu perbuatan bajik dalam pandangan agama Budha.

Read the rest of this entry »


Pendekar-pendekar Komik Tionghua

December 25, 2006

Medio 1960 – Medio 1980
   SALAH satu bentuk kesenian moderen adalah komik alias cergam (cerita bergambar). Sayang sekali sekarang komik Indonesia mengalami ‘mati suri’, belum lahir lagi komikus-komikus seperti pada 25 tahun silam. Lihat di toko buku-toko buku, rak-rak dipenuhi manga (komik Jepang), terjemahan komik Mandarin (Hong Kong-Singapura) serta alihbasa komik superhero Amerika.
   Aku sendiri adalah penikmat komik sejak usia tiga tahun. Sempat mengenyam masa keemasan komik Indonesia pada era medio tahun 1960-an sampai dengan medio 1980-an.

Read the rest of this entry »


Dampak Pengakuan Keislaman Cheng Ho

December 20, 2006

Oleh AM Adhy Trisnanto
‘Islam tidak akan berkurang derajatnya, meskipun ada peran orang-orang China di dalamnya. Di sini orang lupa bahwa keislaman China lebih tua ketimbang Jawa. Orang-orang China telah mengenal Islam di saat masyarakat Jawa hidup dalam dunia berhala dan klenik.’ (Soemanto Al Qurtuby dalam Seminar Membincang Kontribusi Tionghoa dalam Proses Islamisasi di Indonesia, 19 Maret 2005).
   MAJALAH sekelas National Geographic dengan tegas menyatakan Cheng Ho adalah seorang Tionghoa muslim. Tentu saja pernyataan tadi berangkat dari dukungan data, bukan sekadar legenda.
   National Geographic Society memiliki reputasi sebagai organisasi ilmiah dan nirlaba yang terlibat dalam lebih dari 8.000 eksplorasi dan penelitian sejak 1888. Namun, di Indonesia, keislaman Cheng Ho masih saja jadi kontroversi, baik di komunitas Tionghoa maupun Islam. Keislaman Cheng Ho seakan diterima dengan setengah hati.

Read the rest of this entry »


Pemakaman Melayu-Islam di Wihara Ancol

December 19, 2006

Oleh: Iwan Santosa
     Kota Semarang memang punya Kuil Gedung Batu sebagai peninggalan Laksamana Besar Cheng Ho (Zheng He dalam bahasa Mandarin), tetapi Jakarta juga memiliki peninggalan serupa, yakni Wihara Buddha Bhakti Ancol.
     Berawal dari sebuah Kelenteng An Xu Da Bo Gong Miao (Kelenteng Toapekong Ancol), kompleks peribadatan yang didirikan sekitar 1650 Masehi itu masih berdiri kukuh dan menjadi pertanda hubungan baik Tiongkok-Pasundan di tepi pantai Ancol.
     Tempat itu menjadi peribadatan umat Buddha, Konfusius, sekaligus peziarahan bagi umat Muslim di Betawi tempo dulu hingga kini. Penyebabnya adalah sejumlah makam tokoh Sunda dan beragama Islam sekaligus keberadaan Sam Po Kong yang Muslim di tempat itu menjadikannya sebagai tempat pertemuan umat dari pelbagai agama.

Read the rest of this entry »


7 Pedang dari Gunung Thian

December 8, 2006

   Pada tahun 1960-an dulu terbit serial cersil “Thian San Tjit Kiam” (“Tujuh Pedang dari Gunung Thian”). Gunung Thian atau Mahameru adalah gunung tertinggi di Daratan China, hingga disebut Gunung Langit, yang terletak di Provinsi Sinkiang.
   Diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh Gan KL dari Semarang. Cersil tersebut mendapat sambutan luar biasa, melebihi prequelnya, serial “Tjauw Guan Eng Hiong” (“Pendekar dari Padang Rumput”), yang bukunya diterjemahkan oleh OKT dari Jakarta.
Aslinya merupakan karya Liang Yu-shen (baca: Liang Ie-shen), sastrawan cerita silat yang diakui lebih berbobot sastra (dalam bahasa Mandarin) tulisan-tulisannya ketimbang karya Chin Yung (Louis Cha) yang lebih ngepop.

Read the rest of this entry »