Perilaku Ekonomi Etnis Cina di Indonesia Sejak Tahun 1930-an – F.R. Wulandari

Pendahuluan
Kehidupan etnis Cina di Indonesia memang sangat menarik untuk dikaji. Pertama, karena sensitif menyangkut pembicaraan SARA, kedua, latar belakang historis dan cara pandang mereka serta pengalaman hidup di bumi nusantara ini, tidak bisa begitu saja digeneralisasi.
Makalah ini mencoba membahas secara obyektif, perilaku budaya dan ekonomi etnis Cina di Indonesia, dimana perilaku tersebut merupakan perilaku yang saling terkait satu sama lain. Isu ini memang sering menjadi diskusi dibanyak kalangan masyarakat Indonesia.

Artikel Terkait :

.Etnis Cina dengan perilaku ekonominya disadari atau tidak, dalam kenyataan telah menyumbangkan beragam kegiatan perekonomian bangsa Indonesia baik yang bersifat positif maupun negatif. Sedangkan budaya “pecinan”-nya memperkaya keunikan khasanah budaya Indonesia.

Seperti yang dicatat oleh Fujitsu Research di Tokyo (Naisbitt, 1997:19-20) yang mengamati daftar perusahaan-perusahaan di 6 (enam) negara kunci di Asia, didalamnya di gambarkan betapa perusahaan-perusahaan tersebut secara mayoritas dikuasai oleh etnis Cina perantauan, misalnya, Thailand sebanyak 81%, Singapura sebanyak 81% di Indonesia sebanyak 73% dan lain-lain.

Gambaran di atas membuktikan betapa berpengaruhnya peran ekonomi etnis Cina dalam perekonomian di Indonesia. Telah menjadi suatu ketentuan atau syarat utama kesuksesan suatu pembangunan ekonomi, bahwa partisipasi ekonomi segala pihak yang harus lepas dari kasus primordialisme termasuk SARA di dalamnya. Ini menjadi permasalahan dalam tulisan ini. Sebab adanya stereotipe-stereotipe negatif tentang peran ekonomi etnis Cina dalam masyarakat akan mengganggu pertumbuhan ekonomi, khususnya stereotipe negatif yang berhubungan dengan peran ekonomi mereka.

Selama Orde Baru berjaya dalam 3 dekade lebih, selama itu pula etnis Cina banyak mengalami diskriminasi. Hal itu bisa dibuktikan dengan adanya beberapa peraturan yang mengatur eksistensi etnis Cina di Indonesia.

  • Pertama, Keputusan Presiden Kabinet No. 127/U/KEP/12/1996 tentang masalah ganti nama.
  • Kedua, Instruksi Presidium Kabinet No. 37/U/IV/6/1967 tentang Kebijakan Pokok Penyelesaian Masalah Cina yang wujudnya dibentuk dalam Badan Koordinasi Masalah Cina, yaitu sebuah unit khusus di lingkungan Bakin.
  • Ketiga, Surat Edaran Presidium Kabinet RI No. SE-06/PresKab/6/1967, tentang kebijakan pokok WNI keturunan asing yang mencakup pembinaan WNI keturunan asing melalui proses asimilasi terutama untuk mencegah terjadinya kehidupan eksklusif rasial, serta adanya anjuran supaya WNI keturunan asing yang masih menggunakan nama Cina diganti dengan nama Indonesia.
  • Keempat, Instruksi Presidium Kabinet No. 37/U/IN/6/1967 tentang tempat-tempat yang disediakan utuk anak-anak WNA Cina disekolah-sekolah nasional sebanyak 40 % dan setiap kelas jumlah murid WNI harus lebih banyak daripada murid-murid WNA Cina.
  • Kelima, Instruksi Menteri Dalam Negara No. 455.2-360/1968 tentang penataan Kelenteng-kelenteng di Indonesia.
  • Keenam, Surat Edaran Dirjen Pembinaan Pers dan Grafika No. 02/SE/Ditjen/PP6/K/1988 tentang larangan penerbitan dan pencetakan tulisan/ iklan beraksen dan berbahasa Cina. (Kompas Minggu, 6 Februari 2000: 9).

Perjalanan etnis Cina dalam sejarah bangsa Indonesia, memang perlu dipertanyakan seberapa besar hak dan dimana letak keadilan berbangsa yang diterima oleh etnis Cina di Indonesia. Oleh sebab itu tulisan ini akan membahas latar belakang sejarah dari jaman penjajahan Belanda, Orde Lama, Orde Baru dan masa Reformasi.
Secara khusus, tulisan ini membahas tentang bagaimana latar belakang sejarah etnis Cina di Indonesia, sejak tahun 1930-an sampai awal tahun 2000, serta bagaimana sikap mereka dalam bidang ekonomi, yang menyangkut perilaku ekonomi etnis Cina di Indonesia.

Pembahasan
Perilaku ekonomi etnis Cina di Indonesia dipengaruhi oleh persepsi mereka tentang situasi dan kondisi politik, hankam dan sosial masyarakat. Seperti yang dikemukakan oleh Robbins (1991:125), bahwa persepsi individu ataupun sekelompok orang merupakan suatu proses dimana individu atau suatu kelompok mengorganisir dan menerjemahkan kesan sensorik mereka untuk memberikan tanda bagi lingkungan mereka. Terlepas dari pengukuran seseorang berjiwa nasionalis ataupun bukan, hal ini terkait dengan salah satu kebutuhan dasar hidup manusia yaitu menyangkut keselamatan dan keamanan etnis Cina di Indonesia. Selain itu persepsi tentang etnis Cina di Indonesia juga tergantung streotipe yang beredar di kalangan masyarakat pribumi tentang etnis Cina di Indonesia.
Pembentukan persepsi tentang etnis Cina di Indonesia terkait dengan karakteristik pribadi mereka, terutama dalam menyikapi situasi lingkungan yang mereka hadapi, dengan motivasi tertentu terutama untuk mendapatkan keamanan dan kesejahteraan hidup, bahkan kemapanan. Hal ini tentunya dipengaruhi oleh latar belakang pengalaman masa lampau, yang merupakan dasar untuk melangkah maju meraih harapan-harapan hidup mereka di masa kini dan yang akan datang. Oleh sebab itu, perlu diketahui latar belakang sejarah etnis Cina, sebagai pengetahuan untuk memahami perilaku ekonomi dan budaya etnis Cina. Lintasan sejarah, dalam makalah ini akan dibatasi dalam beberapa bagian, yaitu periode tahun 1930-an, periode tahun 1941sampai tahun 1958, periode tahun 1959 sampai tahun 1966, periode tahun 1966 sampai tahun 1986, periode tahun 1986 sampai Agustus 1999, dan periode Agustus 1999 sampai Maret 2000.

Perilaku Ekonomi Etnis Cina Tahun 1930-an
Pada era ini, dalam bidang agraria, etnis Cina masih dibatasi kepemilikannya, kecuali di Pulau Bangka, di Kalimantan Barat, dan beberapa lokasi di Pulau Sumatera serta Pulau Jawa. Akibat kondisi jaman Malaise, ada pergeseran peran ekonomi tertentu terutama dari kuli perkebunan di Sumatera Timur menjadi tengkulak, pedagang ikan, atau pemilik penggilingan beras. Demikian juga munculnya dominasi dalam per-dagangan eceran oleh etnis Cina, pada tingkat yang lebih rendah daripada Belanda. Profesi ini diikuti pula oleh peran sebagai tengkulak dan penjaja keliling kecil-kecilan. Bisnis di bidang keuangan hanya bersifat tengkulak pegadaian tingkat bawah dan tidak berbentuk perbankan. Industri pabrik kretek, batik dan tekstil kecil juga dimiliki oleh etnis Cina ini, sedangkan pribumi sebagian besar masih berkutat di bidang agraria dan dinas-dinas pemerintah Hindia Belanda.
Etnis Cina yang telah berpendidikan mulai menekuni bidang-bidang yang terspesialisasi, misalnya dokter, akuntan dan pengajar. Yang bekerja sebagai kuli, atau buruh kasar baik yang terampil ataupun tidak, mulai menyusut jumlahnya. Selain itu, banyak yang bekerja di perusahaan-perusahaan Cina (Mackie, 1991:322-323). Jadi, pada periode tahun 1930-an, sebagian besar etnis Cina bekas kuli berganti peran menjadi pedagang dan usahawan dalam perdagangan kecil-kecilan atau industri berskala kecil yang menyisihkan para pedagang dan usahawan kecil pribumi, tetapi tidak usahawan-usahawan Belanda.

Perilaku Ekonomi Etnis Cina Tahun 1941 sampai Tahun 1958
Secara umum perusahaan Belanda dan pihak swasta asing dominan dalam sektor ekonomi utama, seperti manufacture, perkebunan, industri tekstil dan lain-lainnya. Muncul perubahan peran ekonomi etnis Cina, yang saat itu sedikit demi sedikit memasuki ushaha grosir dan ekspor impor yang waktu itu masih didominasi Belanda. Kemudian diikuti oleh tumbuhnya bank-bank swasta kecil yang dimiliki oleh etnis Cina, dan muncul juga dalam industri pertekstilan (Mackie, 1991:322-323).
Bidang pelayaran menjadi sektor utama yang secara luas dipegang oleh etnis Cina masa itu, tetapi pada akhirnya mendapat saingan dari perusahaan negara dan swasta pribumi. Pada bidang jasa dan profesipun secara kuantitatif meningkat, tetapi untuk dinas pemerintahan dan angkatan bersenjata, secara kuantitas hampir tidak ada.

Terjadi pergeseran peran dari tenaga “kasar” (misalnya sebagai kuli perkebunan) menjadi tenaga kerja “halus” yang pekerjaannya memiliki status atau “gengsi” yang lebih tinggi dan lebih membutuhkan keterampilan, misalnya penata rambut, pengrajin emas, wartawan, dokter, pengacara dan lain-lain. Sehingga, pada jaman perjuangan kemerdekaan Republik Indonesia dan Demokrasi Terpimpin, peran ekonomi etnis Cina meluas, lebih-lebih dengan adanya kebijakan Benteng yang membuat usaha pribumi tidak berjalan efektif dan memacu hubungan “Ali-Baba”, serta terjadi persaingan dari perusahaan negara dan swasta pribumi lainnya.

Perilaku Ekonomi Etnis Cina Tahun 1959 sampai Tahun 1966
Perilaku ekonomi etnis Cina semakin menonjol pada periode ini, lebih-lebih tahun 1957 sampai tahun 1958. Keberhasilan usaha mereka mengambil alih perusahaan-perusahaan besar Belanda yang dinasionalisasi, walaupun kondisi politik dan ekonomi Indonesia tidak menguntungkan mereka, lebih-lebih setelah peristiwa G 30 S/PKI tahun 1965. Pada masa itu, etnis Cina kelas menengah melakukan human capital besar-besaran dibidang pendidikan terutama yang bersifat teknis dan manajerial, sehingga pada saat terjadi inflasi tinggi dan perasaan anti etnis Cina menyebar luas hingga tahun 1966, etnis Cina dapat beradaptasi dengan fleksibel. Hal tersebut dilakukan melalui penyediaan modal dan valuta asing yang didapat dari modal sendiri atau keluarga dan atau jaringan dengan pihak luar. Kunci utama keberhasilan pelaku ekonomi baru etnis Cina, adalah merintis kedekatan dengan pejabat pemerintah pada awal Orde Baru sebagai pembinaan hubungan secara ekonomi dan politis. Walaupun demikian, orang Cina tidak banyak yang terjun secara terbuka dalam politik praktis saat itu, mereka melakukannya lewat dukungan material dan non material.

Perilaku Ekonomi Etnis Cina Tahun 1966 sampai Tahun 1986
Pada tahun 1965 sampai tahun 1968 merupakan tahun-tahun dimana tindakan kekerasan terhadap etnis Cina meningkat akibat peristiwa G 30 S/PKI, yang oleh rezim Soeharto diatasi secara gradual.
Situasi kondusif bagi pertumbuhan perekonomian dirangsang oleh pemerintah Orde Baru, yang tentunya membutuhkan lebih banyak usaha, dan modal swasta. Secara kebetulan, kedua hal tersebut banyak dimiliki oleh etnis Cina dan ditunjang pula oleh kemampuan teknis dan hubungan perekonomian dengan pihak luar negara, terutama dengan sesama etnis Cina di luar negara. Akibatnya, kebanyakan etnis Cina mengalami peningkatan status sosial ekonomi daripada kondisi sebelumnya. Namun demikian, mereka masih dikesampingkan dari usaha-usaha perekonomian utama, dan terdiskri-minasi untuk memasuki Angkatan Bersenjata Republik Indonesia, administrasi sipil pemerintah dan perguruan tinggi negara.
Dampak dari perlakuan diskriminatif ini adalah terjadinya pembagian kerja yang bersifat pri dan non pri (bumi). Perubahan peran ekonomi cenderung menghambat kerjasama ekonomi yang lebih kuat sejak pasca perang kemerdekaan Republik Indonesia. Menurut Mackie (1991: 327-328), para etnis Cina akhirnya lambat laun mengganti identitasnya menjadi identitas Indonesia, terutama disebabkan atas alasan peran ekonomi mereka.
Munculnya perusahaan-perusahaan yang dikuasai etnis Cina berdampak negatif, dengan tidak dilibatkannya pengusaha pribumi untuk bekerjasama dalam korporatisasi perusahaan-perusahaan. Efek negatif yang muncul adalah semakin tajamnya persaingan usaha pri dan non pri (bumi).

Perilaku Ekonomi Etnis Cina Tahun 1986 sampai Agustus 1999
Masa ini merupakan masa keemasan bisnis etnis Cina di Indonesia, terlebih-lebih bagi yang dekat dengan “Keluarga Cendana”. Etnis Cina mengokohkan diri sebagai salah satu pilar penyanggga pertumbuhan ekonomi Indonesia. Keberanian pengusaha dan pelaku ekonomi etnis Cina lainnya dalam penanaman modal, spekulasi, strategi kerjasama dan jaringan kerja dengan pihak luar negara menjadi point istimewa perilaku ekonomi etnis Cina di tahun-tahun ini. Kedekatan dengan pejabat bahkan sampai ke hal-hal pribadi yang cenderung dihubungkan dengan kolusi, korupsi dan nepotisme juga dilakukan oleh beberapa pengusaha etnis Cina kelas menengah dan atas.

Akan tetapi, pembangunan ekonomi juga kemapanan hidup yang didengungkan dan dibanggakan Orde Baru, bagaikan suatu menara gading yang dasar konstruksi tidak kuat, maka terjadi keruntuhan rezim dan kemapanan hidup yang “menyakitkan” dengan adanya krisis moneter. Kalangan bawah “bergerak” karena ketidakpuasan terhadap situasi dan kondisi kehidupan sosial dan ekonominya, serta sikap anti kemapanan, yang salah satunya tercetus dalam bentuk kerusuhan Mei 1998. Kerusuhan berupa penghancuran toko-toko serta pusat perdagangan terutama yang dimiliki oleh etnis Cina. Hal ini ikut mendorong jatuhnya mantan Presiden Soeharto dari kursi kepresidenan.
Kerusuhan Mei 1998, juga berpengaruh pada sikap anti etnis Cina terutama yang memiliki usaha. Orang Cina yang trauma akibat kerusuhan Mei 1998, banyak yang lari ke luar negara, dan sebagian ada yang melarikan modal ke luar negara. Usaha-usaha niaga etnis Cina di kota-kota besar banyak yang vakum, dan baru mulai bangkit setelah ada jaminan keamanan dari mantan Presiden Habibie. Pelaku ekonomi etnis Cina hanya menunggu perkembangan keadaan.

Perilaku Ekonomi Etnis Cina Agustus 1999 sampai Maret 2000
Kondisi ekonomi yang kondusif pun digalakkan dalam pemerintahan mantan Presiden Abdurrahman Wahid, dengan dicabutnya beberapa Kepres ataupun Inpres yang mendiskri-minasikan etnis Cina serta himbauan yang ditujukan kepada pelaku ekonomi etnis Cina untuk menjalankan usahanya kembali ke atau di tanah air.
Akan tetapi, kinerja pemerintah Gus Dur belum meyakinkan banyak pihak termasuk pelaku ekonomi etnis Cina, karena gaya kepemimpinan dan gaya politik Gus Dur sering berubah arah, sehingga berdampak pada fluktuasi nilai tukar mata uang asing terutama dollar Amerika Serikat di bursa saham Jakarta. Tentu saja, hal ini menggoyahkan kestabilan usaha ekonomi terutama kalangan pihak asing dan pelaku ekonomi etnis Cina. Pelaku ekonomi etnis Cina masih menunggu langkah-langkah konkret pemerintah Gus Dur untuk memperbaiki situasi per-ekonomian dan usaha nasional, walaupun demikian pelaku ekonomi etnis Cina masih merasa “aman” berbisnis dan bertempat tinggal sementara waktu di Indonesia. Oleh sebab itu usaha-usaha etnis Cina yang saat itu dilakukan cenderung yang bukan beresiko atau berspekulatif tinggi tetapi dapat menguntungkan mereka, terutama di usaha-usaha bagian hilir.
Perilaku ekonomi etnis Cina sepanjang periode tahun 1930-an sampai Maret 2000 masih dibumbui oleh berbagai stereotipe yang “miring” tentang peran ekonomi etnis Cina dalam masyarakat Indonesia. Antara lain, yaitu: (a) kebobrokan ekonomi Indonesia adalah akibat banyaknya dana yang dibawa pengusaha etnis Cina ke luar negara; (b) kolusi dan nepotisme menjadi kebiasaan pengusaha etnis Cina yang mempengaruhi kepada kinerja para birokrat. Stereotipe-stereotipe miring di atas yang terasa sebagai generalisasi beberapa hal negatif perilaku ekonomi etnis Cina tampaknya perlu dikaji dengan pikiran yang obyektif dan bijaksana.
Mengutip pernyataan Bustanil Arifin, dalam Pasific Business Forum (Naisbitt, 1997:19-20), bahwa perusaha-an kecil dan menengah memperkerjakan separuh tenaga kerja di banyak negara-negara Asia dan etnis Cina memiliki 90% dari perusahaan-perusahaan tersebut. Khususnya di Indonesia, populasi etnis Cina hanya 3,5% dari seluruh total populasi penduduk Indonesia tetapi ternyata mengendalikan 73% ekonomi di Indonesia.

Etnis Cina di Indonesia menjadi salah satu masyarakat keturunan Cina perantauan yang hidup dan tinggal di luar negara asalnya. Jaringan kerja etnis Cina perantauan sejak kegiatan ekonomi tahun 1990-an hingga kini mendominasi kegiatan ekonomi wilayah Asia, termasuk Indonesia. Menguatnya jaringan-jaringan kerja lintas negara ini mendominasi pula cara atau perilaku etnis Cina di Indonesia dalam menyikapi galobalisasi. Etnis Cina di Indonesia sebagian besar lebih siap menyongsong globalisasi. Seperti yang beritakan dalam majalah berbahasa Cina Forbes Zibenjia pada tahun 1994, yang menganalisa ratusan perusahaan besar dan 10 (sepuluh) pasar saham Asia yaitu Taipei, Seoul, Shanghai, Hongkong, Shenzhen, Bangkok, Kuala Lumpur, Jakarta, Singapura dan Manila:
“Their combined assets came to $ 1.14 trilion, or 89 percent of total market capitalizition of the top thousand companies, 517 had an etnic Chinese as the single largest stockholder. Thus, ethnic Chinese controlled $ 541 billion, some 42 percent of the total in these ten markets ¡V quite a bit more than the $200 billion to $300 billion cited in other estimates”. (Naisbitt, 1997:19)
Keistimewaan perilaku ekonom etnis Cina yang pertama adalah terletak pada kuatnya sistem jaringan kerja. Walaupun demikian sikap kompetitif antara mereka tetap terpelihara secara sehat. Hal ini semakin memperkuat kinerja bisnis di kalangan mereka. Bahkan saat terjadi krisis ataupun munculnya tantangan besar, mereka akan saling bekerjasama. Oleh sebab itu bisnis keluarga menjadi salah satu ciri jaringan kerja yang mereka bentuk. Demikian pula di Indonesia, usaha kecil sampai perusahaan besar etnis Cina di Indonesia banyak yang dikelola sebagai usaha keluarga, contohnya Salim Group, Khong Guan, PT “Cap Orang Tua” perusahaan jamu “Jago”, perusahaan jamu “Air Mancur”, dan lain-lain.
Sebagai gambaran tokoh konglomerat etnis Cina, salah satunya adalah Liem Sioe Liong yang oleh Naisbitt disebutkan memiliki kekayaan bersih $4,5 juta (1997:24). Liem Sioe Liong alias Soedono Salim pemilik Salim Group, merupakan salah satu sosok etnis Cina perantauan yang sukses mengadu untung di luar negara asalnya. Soedono Salim yang meninggalkan Cina Selatan di tahun 1930-an menuju Indonesia, melalui jaringan usaha perdagangan ia bisa berhubungan erat dengan Soeharto, Presiden II RI, yang dimasa lalu Liem Sioe Liong menyediakan dukungan untuk melawan penjajah Belanda. Mereka saling bersahabat sampai Soeharto menggantikan Presiden Soekarno tahun 1965. Keuntungan yang didapat Liem Sioe Liong dari hubungan ini adalah diperolehnya berbagai fasilitas ijin ataupun proyek untuk perusahaan Salim Group, hingga penjualannya meningkat drastis sampai $ 9 juta tahun 1994, yang dihitung sebagai 5% pendapatan kotor domestik Indonesia.
Perilaku hubungan jaringan kerja antara etnis Cina terbentuk karena pengalaman yang mereka lalui. Sesama migran etnis Cina dimanapun berada saling menjaga dan membantu pendatang-pendatang baru di bumi nusantara yang mereka tempati sebagai negara harapan. Manfaat dari adanya hubungan jaringan kerja yaitu:

  • memaksimalkan “contact points” untuk (informasi) pekerjaan
  • menyebarluaskan berita termasuk tukar menukar berita, dan
  • memperkuat dukungan psikologis antar anggota.

Menurut Wertheim yang dikutip oleh Mackie (1991: 293), pembagian kelas etnis Cina dengan masyarakat pribumi bersifat vertikal dalam artian sebagai sikap primordial, akibat tanggapan bahwa etnis Cina dianggap kelompok minoritas. Kompetisi antar perlaku ekonomi Cina (terutama sebagai pengusaha atau wiraswastawan) dengan masyarakat pribumi sering menjadi penyebab konflik tertutup maupun terbuka terhadap etnis Cina.
Hubungan jaringan kerja antar etnis Cina di Indonesia ini, menguatkan psikis anggotanya melalui hubungan bisnis dan sebagainya. Selain itu hubungan jaringan kerja ini berfungsi sebagai mediator toleransi antaretnis Cina dengan masyarakat, terutama dalam hubungan bisnis.

Kuatnya hubungan jaringan kerja etnis Cina di Indonesia, ini semakin meningkatkan kekuatan usaha etnis Cina. Situasi dan kondisi ini mendorong usahawan etnis Cina mendirikan usahanya sampai ke wilayah pelosok-pelosok pedesaan. Tetapi kondisi ini tidak memancing konflik usaha dengan pengusaha pribumi, justru dominasi pengusaha etnis Cina pada sektor-sektor kehidupan ekonomi yang lebih penting di kota besar yang menjadi salah satu penyebab saingan keras dengan pengusaha pribumi kelas menengah.
Dalam tiga dasa warsa terakhir, masyarakat etnis Cina perantauan dan atau etnis Cina di Indonesia justru cenderung menanam modal jangka panjang di dalam negeri (Naisbitt, 1997:28). Sikap ini mematahkan generalisasi stereotipe bahwa etnis Cina cenderung menanamkan investasi di negara asal, daripada negara yang ditempatinya. Namun sikap ini juga tergantung pada sikap pemerintah dan kebijakan politik serta sikap rakyat pada umumnya. Dalam kenyataan sosial dan politik, beberapa orang dalam masyarakat pribumi menganggap etnis Cina lokal tetap sebagai orang “luar” yang diragukan nasionalismenya dan tidak dapat berasimilasi. Hal ini menjadi bumerang bagi semua pihak dimana dapat dipastikan pada etnis Cina akan merasa terancam dan tidak ada pilihan lain untuk bertahan dengan solidaritas komunal mereka sebagai kelompok minoritas yang tertindas.
Tentunya kecenderungan untuk menanam modal jangka panjang di negara yang mereka tempati mendukung integrasi dengan komunitas lokal. Hal ini dibuktikan dibanyak tempat di nusantara bahwa etnis Cina dapat berbahasa lokal, misalnya etnis Cina di Pontianak, di Solo, di Tegal, di Ujung Pandang dan sebagainya. Walaupun mereka menjalankan integrasi lokal, dalam beberapa kehidupan keseharian etnis Cina, terutama yang belum atau tidak melakukan pernikahan asimilasi dengan pihak pribumi, tetap mempertahankan kemampuan baca dan berbicara bahasa Mandarin dan atau Kanton. Etnis Cina yang tidak atau belum berasimilasi melalui perkawinan dengan kaum pribumi, biasanya hanya mengambil kebiasaan-kebiasaan budaya lokal terutama dalam hal makanan.
Karakteristik lain yang dimiliki etnis Cina di Indonesia adalah kemauan kerja kerasnya dan kebiasaan hidup hemat. Mereka mampu bekerja dalam waktu yang panjang dan jarang beristirahat kecuali untuk hari besar mereka. Senantiasa menghasilkan uang, sudah menjadi kebiasaan sekaligus kesenangan mereka. Prof. Wang Gung Wu menegaskan bahwa sikap orang Cina mengarah pada kemakmuran (dalam Wang dan Cushman,  1991:30).
Salah satu kesamaan karakteristik antara etnis Cina di Indonesia dengan masyarakat pribumi berkaitan dengan konflik adalah sama-sama lebih menyukai penyelesaian perbedaan melalui negoisasi, dibandingkan pemecahan konflik secara formal. Hal ini terlihat dari kentalnya jaringan kerja yang telah menjadi kebiasaan etnis Cina, tentunya kondisi ini menjawab mengapa “guan xi” (kontak personal) menjadi penting dalam perilaku ekonomi mereka.

Skinner (Mackie, 1991:306) mengatakan bahwa kekuatan kecenderungan asimilasi terutama bergantung pada keadaan daerah setempat dan faktor sosio budaya, bukan pada kualitas yang ada pada diri etnis Cina. Hal ini ditegaskan oleh Mackie bahwa: “akibat kolonialisme Belanda yang melakukan pembagian kelas warganegara Hindia Belanda, mendudukan etnis Cina di atas bangsa pribumi, mengakibatkan lambannya identifikasi etnis Cina terhadap Indonesia pada pasca awal kolonialisme Belanda” (1991:306).
Walaupun kemudian proses identifikasi penuh etnis Cina sebagai orang Indonesia mengalami hambatan diskriminasi politik, ekonomi dan sosial, namun solusi asimilasi sosio budaya bukan merupakan jawaban kunci dari permasalahan ini. Hambatan-hambatan ini akhirnya menjadi alasan mengapa beberapa pelaku ekonomi dari kalangan etnis Cina mengarahkan investasi bisnisnya ke luar negeri, yang intinya mencari keamanan untuk bisnis dan kelangsungan kehidupannya.
Menurut Mackie (1991:330-332), perilaku ekonomi etnis Cina, menurut Mackie (1991:330-332), terutama yang berjenis perusahaan konglomerat, diidentifikasikan dalam 7 (tujuh) karakteristik, yaitu:

  1. Mayoritas berupa keaneka-ragaman kepentingan, yang tidak lepas dari “core business”-nya, misalnya pangan.
  2. Orang-orang baru sebagai pelopor pembentukan struktur konglo-merasi, karena tidak semua perusahaan keluarga berlatar belakang dari perusahaan keluarga etnis Cina yang telah mapan sebelumnya. Contohnya, Liem Sioe Liong adalah usahawan etnis Cina perantauan yang semula miskin.
  3. Mempunyai hubungan dengan modal asing. Perusahaan-perusahaan etnis Cina yang mapan cenderung dipercaya oleh pihak asing daripada perusahaan pribumi atau perusahaan negara.
  4. Mempunyai kepemilikan bank-bank swasta, dimana kepemilikan- nya dimanfaatkan untuk membantu kepentingan yang lebih luas bagi para konglomerat.
  5. Investasi dilakukan bukan pada sektor pertambangan, perkebunan dan industri berat, karena sektor-sektor tersebut memiliki resiko politis dan resiko kerugian paling besar.
  6. Investasi di luar negeri, terutama Singapura dan Hongkong, memiliki pertumbuhan ekonomi tinggi dan tidak terlalu besar resiko politis dan ekonominya.
  7. Sebagian besar perusahaan keluarga berfungsi sebagai inti perusahaan konglomerat, walaupun kini tingkatan manajernya bertumpu pada profesionalitas manajer dan pekerja, tetapi tidak meminimalisir “peran” pemilik perusahaan keluarga tersebut. Ciri perilaku bisnis etnis Cina ini terlihat dalam komposisi staf dalam perusahaannya, dimana jabatan pengambil keputusan berada di tangan kolega etnis Cina atau anggota keluarga yang dipercaya.

Ternyata ke 7 (tujuh) karakteristik ini semakin memperkecil kecenderungan asimilasi penuh etnis Cina pada masa mendatang. Adalah hal yang menarik, bahwa adanya hubungan percukongan yang semakin menjamur dan semakin meningkatnya kejayaan perilaku ekonomi di kalangan elit etnis Cina semasa Orde Baru. Hal ini menjadikan perusahaan- perusahaan mereka sebagai perusahaan multinasional selain konglomerasi.

Sementara itu masyarakat kelas menengah pribumi belum begitu kuat dalam sektor ekonomi modern, kecuali konglomeratnya. Kondisi ini diperburuk dengan sikap beberapa birokrat atau pejabat tinggi Indonesia yang cenderung lebih menyukai kerjasama dengan etnis Cina untuk menjalankan usaha mereka, karena etnis Cina dianggap lebih berpengalaman dan kuat modal daripada pribumi. Selain itu, bekerjasama dengan pengusaha pribumi rentan resiko karena mereka umumnya beraliansi pada partai-partai politik tertentu, sementara pengusaha etnis Cina umumnya netral dalam politik. Situasi kondisi ini yang semakin menyuburkan praktik percukongan, korupsi, kolusi dan nepotisme. Meski demikian sistem kemitraan cukong ini berubah dari waktu ke waktu tergantung pada keberuntungan bisnis Cina yang bersangkutan.
Memang terbukti akhirnya, justru etnis Cina “totok” yang kebanyakan para emigran lebih berhasil dibanding etnis Cina peranakan, penyebabnya etnis Cina “totok” cenderung inovatif dan berani mengambil resiko tinggi sebagai wiraswasta, sedangkan etnis Cina peranakan lebih konservatif dalam usaha, yang cenderung pula lebih berminat menjadi kaum profesional daripada wiraswasta. Walaupun demikian, perilaku ekonomi etnis Cina di Indonesia masih cenderung mengarah pada sistem patron-klien dengan beberapa pejabat pemerintah Indonesia, demi menjaga “keamanan dan kesejahteraan” mereka. Tetapi tak dipungkiri kehadiran mereka membantu dalam meningkatkan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada umumnya.

Kesimpulan
Prinsip-prinsip perilaku ekonomi etnis Cina di Indonesia memang berubah dari masa ke masa, tetapi secara umum prinsip perilaku ekonomi etnis Cina tergantung pada pemahaman mereka terhadap kebijakan dan situasi kondisi politik nasional tentang keberadaan etnis Cina secara nasional.
Perilaku ekonomi ini akhirnya mengarah pada usaha yang sifatnya aman dan netral dalam arti tidak mengandung banyak resiko bagi keselamatan dan kesejahteraan diri. Bentuk konkret ekonomi etnis Cina cenderung bergerak di bidang perdagangan (retail) dan keuangan, usaha-usaha yang sifatnya bukan usaha besar (karena usaha-usaha vital pengelolaannya dikuasai oleh negara).
Perilaku ekonomi yang cenderung proaktif, berbentuk usaha atau perusahaan keluarga, sudah menjadi ciri etnis Cina di kawasan Asia termasuk Indonesia. Hal ini ditunjang pula oleh persepsi etnis Cina terhadap identifikasi diri etnis Cina terhadap negara yang didiami. Khusus di Indonesia, persepsi ekonomi etnis Cina terbagi antara persepsi ekonomi dan politik etnis Cina “totok” dan peranakan yang awal keduanya hadir sebagai etnis Cina perantauan.
Etnis Cina “totok” terutama yang kondisi status ekonominya berada di bawah, cenderung berperilaku ekonomi dinamis dan berorientasi dagang. Perilaku tersebut termotivasi oleh harapan untuk hidup aman, makmur dan loyal terhadap adat, maupun kepatuhan terhadap keluarga, termasuk hubungan kerjasama etnisitas sesama etnis Cina. Sementara itu orang Cina peranakan cenderung lebih konservatif dalam berbisnis.
Etnis Cina mengandalkan integritas suatu hubungan antar etnis Cina di bidang ekonomi dan kekeluargaan. Bentuk kolaborasi perilaku etnis Cina di Indonesia terutama kelas menengah dan atas (yang secara profesi tidak terikat)

Referensi

  • Wang, G. W., dan Jennifer Cushman. (1991). Perubahan indentitas orang Cina di Asia Tenggara. Jakarta: Pustaka Utama Grafika.
  • Mackie, J.A.C. (1991). Peran ekonomi dan identitas etnis Cina Indonesia dan Muangthai dalam Wang Gung Wu dan Jennifer Cushman, Perubahan Identitas Orang Cina di Asia Tenggar. Jakarta: Pustaka Utama Grafika.
  • Naisbitt, J. (1997). Megatrends Asia. New York: Touchstone Rockefeller Center.
  • Robbins, S. P. (1991). Organizational Behavior. New Jersey:Prentice-Hall.
About these ads

32 thoughts on “Perilaku Ekonomi Etnis Cina di Indonesia Sejak Tahun 1930-an – F.R. Wulandari

  1. Your article is quite interesting
    Sis, may I ask u, where did u based this article on ? [ I mean do u write ur own literally all the content ] or translate from other source ? [ or perhaps both ? ] if it is, may I know the source ?
    Thanks, very much

  2. Etnis cina dalam segala kegiatannya selalu menghalalkan segala cara:
    – Suap Menyuap
    – Mengukur persahabatan dgn uang
    – Tidak mau berbaur, perhatikan perayaan 17 Agustus, mana ada etnis ini ikut merayakan, atau hari raya keagamaan, mereka enggan utk bersilaturahmi.
    – Ekslusif.
    – Berlaku diskriminatif terhadap karyawan pribumi.
    – Tdk mau menerima kebudayaan lokal.
    – Memandang rendah suku lain.
    – Selalu mengandalkan pejabat yg berwenang dalam menyelesaikan suatu kasus, sebaliknya pura2 tdk kenal kalau sipejabat sudah tidak menjabat, maka etnis ini sangat kebal hukum.
    – Karena dibentengi pejabat dgn mengandalkan suap, maka dalam bisnisnya selalu melanggar kaidah2 moral dan hukum, seperti membuka usaha prostitusi dgn modus membuka salon, karaoke, pijat dan diskotik, judi, terlibat illegalloging, penyeludupan, menilep pajak,dan melakukan kejahatan dunia perbankan
    – Dalam membentengi eksisnya mereka utk menguasai perekonomian di Indonesia, mereka selalu membuat opini bahwa kaum pribumi tdk bisa berdagang karena malas, tidak hemat, tidak mau menderita, tidak mau repot berpikir, takut rugi, dan macam-macam alasan lagi, dan ini seakan dibenarkan oleh kita, bahkan dunia perbankan pun seperti termakan kampanye ini ini bisa dibuktikan apabila kaum pribumi yg mengajukan kredit, sarat yg ditentukan sulitnya minta ampun. Kesimpulan saya, tdk ada diskriminasi di Indonesia kalau etnis ini mau merubah kelakuannya.

    • Salut untuk bung pangestu yang telah menjabarkan secara detil, pemerintah seharusnya juga lebih berhati2 terhadap etnis ini, Jika tidak maka akan terjadi evolusi besar2an yaitu bangsa Indonesia semuanya berkulit putih dan sipit alias orang2 pribumi mati semua karena tidak mendapat pekerjaan dan makan. belakangan ini etnis ini mulai membangun dinastinya, jangan sampai posisi2 penting kepemerintahan sampai ada etnis ini, apalagi posisi wakil rakyat, mereka cenderung menggunakan otak/logika (akal) dibandingkan hati/peraturan (keadilan).

      • daripada kalian menggunakan dengkul dan otot.jaman skrg msh menggunakan kekerasan mana jamannya coi

    • kaca dulu sblm membuat statement,memang kenyataan org pribumi pemalas apa mau dikata.17 agstus tdk prnh ikut,tp siapa yg menyumbang dana utk kegiatan tsb.byk lg acara sosial lainnya yg membantu kaum pribumi dgn pengobatan gratis dan pembagian sembako.diliat dari kata2 anda,adalah seorang yg sgt fanatik anti etnis ini,skrg anda krj atau ada usaha yg berkaitan dgn etnis ini?

    • sampai kapan pun pribumi dan etnis ini tdk akan prnh akur,liat saja.liat dong negara malaysia yg sdh maju daripada negara indo,contohin disana y coi.memang sdh digariskan kalian pribumi krj ama etnis ini,terima aja.

  3. wah setuju banget dengan pernyataan lembayung, semakin jelas deh, soalnya selama ini selalu saja entnis cina menganggap dia diperlakukan tidak adil,mudah2an kita semakin terbuka matanya betapa liciknya suku ini

  4. Memang mereka licik dan jutek koq. Saya pernah beli beras di sebuah toko, mereka melayani sambil melotot2 dan setengah marah2. Demikian juga saya pernah kulakan di toko grosir diperlakukan yg sama oleh bapak pemilik toko tsb, mendhelik-dhelik dan melotot. Istri saya pernah kerja di toko alat listrik milik org Cina juga demikian, diberi beban kerja yg tidak semestinya, belum lagi supervisor mereka adalah perawan tua, lengkap deh. Pokoknya semua pegawai di sana sangat sumpek sehingga pd saat istri saya dipecat karena difitnah, tidak sampai seminggu sekitar 6 orang mengundurkan diri sekaligus.

  5. keberhasilan perekonomian tionghoa perantau dikarenakan oleh banyak faktor, salah satu bentuk perdagangan yang digeluti oleh masyarakat Tionghoa peranka adalah bentuk Kongsi (yang kini berkembang menjadi perusahaan yang tergabung dalam Multinational Corporation) dan juga zulu-zulu yang secara gamblang adalah praktek arisan (bentuk ini sangat tradisional) akan tetap bentuk inilah membuat mereka menjadi kuat, karena menerut Melly G Tan dalam Pisma kelompok minboritas, terjadinya konsfigurasi sosial dari interaksi sossial menjadi integrasi sosial. hal ini juga berhubungan dengan ajaran confusius, yani perluasan keluarga dari nuclear family ke extended family, hal ini terlihat pada persekutuan keluarga, seperti keluarga, han, nio dan tan, persekutuan, tan, the dan liem, dan sebagainya. hal tersebut juga terlihat pada rumah abu, dimana kini rumah abu tidak dimonopoli oleh salah satu keluarga.
    rumah abu bagi masyarakat Tionghoa adalah suatu lembaga jaminan kehidupan mereka, dimana perputaran perekonomian terjadi disana.
    perselingkuhan antara konfusius dengan kapitalisme juga terlihat, dimana dengan basic dasar confusoius juga menyuburkan kapitalisme (Gordon S. Redding; P. Haryono).
    faktor ekstern yang membuat perekonomian Tionghoa adalah pemerintah kolonial yang menempatkan masyarakat Tionghoa peranakan dalam posisi perantara, yang pada akhirnya mereka menggeluti perdagangan, sebab jika dilihat dari konsepsi konfusius, perdagangan membuat status sosial mereka jatuh, tapi itu sebelum ada terjadireformasi konfusius yang berbarengan dengan revolusi Tiongkok.
    secara ekonomi, kekuatan perekonomian terletak pada ruko (rumah toko)yang memeliki fungsi sebagai
    1. fungsi perdagangan
    2. perkeditan
    3. penyimpanan barang
    dalam menjalankan usahanya, hubungan patronase antara komunitas Tionghoa peranakan dengan penguasa setempat tetap terjaga. hal ini kentara pada masa kolonial dan orde baru, dimana Tionghoa peranakan dijadikan sebagai eksekutor dari lajannya perekonomian daerah.

  6. bj dan wiranto harus meminta maaf kepada seluruh org tionghoa karena tidak mampu melindungi dan diskriminasi terhadap org tionghoa serta cabut pernyataan bj habibi yg mengatakan tidak terjadi pelecehan etnis tionghoa kerusuhan mei adalah kegagalan pemerintah yg kemudian di limpah kan pada etnis tionghoa seperti mengapa harga sembako naik??? isu yg sengaja di edarkan org tionghoa menimbun sembako untuk membunuh org pribumi secara pelan2 sehingga rakyat marah pada org tionghoa di mana2 terdengar bunuh cina usir cina
    begitu jg pada saat pki banyak org tionghoa yg mati ini merupakan genosida kejahatan perang yg di lakukan oleh soeharto bersama anjing2 kapitalisnya yang tidak pernah terpublikasi
    himbauan kepada saudara2 tionghoa indonesia selalu siap sedia untuk melakukan perlawanan jika terjadi diskriminasi yang di tujukan pada kita
    seruan untuk kembali k tanah air dan tnggalkan negara biadap ini

  7. tidak semua orang thionghoa seperti itu.. mungkin ada tapi hanya sedikit.. banyak juga orang keturunan yg hidup susah.kalau kita sebagai manusia harusnya kita berpikir dan percaya mengapa Tuhan menciptakan banyak suku bangsa ???? berpikirlah dengan apa yang sudah Tuhan berikan pada kita yaitu otak..untuk berpikir….
    jika ada orang yg berkata seperti itu tandanya orang itu sirik dan iri karna mereka tdk bisa seperti orang yg sukses… pada dasarnya bila kita jujur dan cerdas kita akan bisa bergaul dengan siapapun….
    wahai saudara-saudariku mari kita sama2 berpikir dengan akal dan logika yg sehat.. agar kita tidak mudah terprovokasi maupun di adu domba… oleh orang orang yg tidak bertanggung jawab..

  8. sulit untuk menilai hanya berdasarkan ras dan apa yg tampak dari luar atas segala persoalan. karena hati dan rasa yg tidak tampak juga menentukan. saya cina generasi ke-3 yg tidak bisa membenci pribumi karena saya punya saudara pribumi, abang ipar,dsb, jadi hanya bisa pasrah kalo ada orang yg teriak2 benci cina.
    tapi terlintas dalam pikiran saya, jika terus terkotak2 seperti ini kapan kita bisa membangun negeri ini, karena begitu mulai bekerja kita akan lihat kanan dan kiri dulu, siapa yg ada disamping kita. intinya, bukan apa yg terlihat dari luar tapi apa yg telah kita kerjakan untuk membangun negeri ini.
    saya cinta negeri ini, sampai mati pun saya cinta negeri ini, tapi bukan pilihan saya untuk lahir disini sebagai non-pri, itu kuasa Tuhan.
    sudahlah, ini bahasan yg klasik, dimanapun akan terjadi hal seperti ini, hanya bedanya di negara2 lain ada hukum dan aturan tentang hal ini, disini abu-abu. dan mereka/negara lain itu berkonsentrasi untuk membangun negaranya dan bekerja sesuai bidangnya, bukan meributkan hal2 kecil seperti ini.
    semoga masukan ini bermanfaat.

  9. Segala penilaian perbuatan baik buruknya seseorang seseorang haruslah di nilai menurut kacamata Etika, Norma dan Hukum. Bukan berdasarkan sinisme kebencian karena perbedaan warna kulit dan budaya. Ingat kata PRIBUMI sudah jelas artinya. Di mana seseorang di lahirkan dan memperoleh kewarganegaraan maka iya adalah seorang PRIBUMI. Kenapa Etnis Tionghoa yang selalu di sebut NONPRI. Mengapa mereka di bedakan? Banyak pembahasan di atas yang telah berubah menjadi penilaian subyektif. Jangan pernah berani mengaku seorang yang demokratis atau Negara demokrasi namun menjadi mayoritas yang picik. hanya berani menindas yang minoritas. Bangsa yang besar adalah yang mampu menerima perbedaan, menyatukan/merangkul yang berbeda. Bukan membenarkan/ mendukung perbuatan mayoritas yang jelas melanggar hukum.

    • setuju bro, kenapa orang tionghoa yang disebut nonpri padahal masih ada keturunan arab dll. inilah diskriminasi yang dibuat oleh pemerintah orba, ketidakmampuan mengurus negeri ini dilimpahkan kepada satu etnis yang sebenarnya juga ikut membangun bangsa ini. etnis tionghoa adalah etnis yang mau bekerja keras dan sangat mengutamakan kejujuran dalam berusaha inilah kunci keberhasilannya. Sebenarnya kalo ditilik “orang pribumi” punya satu dogma bahwa harta tidak dibawa mati maka jangan menumpuk harta (kalau menumpuk harta dibilang serakah) akhirnya belum punya harta yang berlebih sudah difoya2 tidak ingat bahwa harta itu berguna untuk anak cucu, bahwa esok bisa sakit dan butuh dana berobat, dan akhirnya tidak mau bekerja keras/tidak tekun. ada pengalaman saya : suatu ketika tetangga saya (yang “pribumi”) mau sunatan dan menikahkan anak perempuannya (bersamaan), dananya tidak cukup, apa yang dilakukannya? dia menjual perahu motor (tongkang) yang menjadi satu2nya sumber nafkahnya, hanya untuk pesta mewah pernikahan dan sunatan. Apa kata orang tua saya, jangan tiru tindakan bodoh itu, ibu saya bilang jika tidak punya uang jangan pesta besar2an seperti itu, pesta itu ada akhirnya. Benar saja setelah pesta, si bapak jadi pengangguran, kalo kerja pun jadi kuli angkut, padahal tadinya dia adalah pemilik angkutan barang yang dia jadi kulinya sekarang. camkan ini wahai saudara2ku yang sinis kepada etnis tionghoa/cina, etnis tionghoa juga manusia, ada yang baik dan ada yang kurang baik. Bagi pemerintah/dpr coba contoh negara tetangga “Malaysia” yang merangkul etnis tionghoa dan india yang dianggap pandai dalam ekonomi beri tanggung jawab di bidang ekonomi, jangan main deskriminasi, jangan main kambing hitam, saya yakin NKRI akan kuat kedepan. salam damai

  10. Cina adalah saudara? Omong-kosong, tengoklah urusan macam simpan-pinjam bank, baru simpulkan siapa yang sebenarnya cina anggap itu saudara. Rasialisme ini keluarga cina sendiri yang membuatnya. Cina jauh lebih rasis.

  11. sudah sudah, mari kita berhenti sejenak untuk berfikir masing masing.
    tiap orang punya otak yang berbeda begitu juga pola pikirnya.
    alangkah baiknya kalau kita sama sam berfikir positif untuk masalah ini, jangan terbawa isu SARA apalagi sampai membawa ego kedalam perdebatan. itu hanya akan menambah masalah lain tapi tidak menyelesaikan masalah yang dihadapi.

    sebagai manusia marilah kita rangkul sahabat dan saudara kita. jadikan bumi ini hanya ada satu ras MANUSIA tidak terkotak kotak dan damai hidup berdampingan

    salam, Manusia :)

  12. pangestu/ phang jung phen, ngapaen jg beritahu pada suku pribumi, suku pribumi itu pemalas, gak mau bekerja keras, tau nya asal besok ada makan jak, hehhe, dan gak mikirin lusa makan apa pake lauk apa, belum mikirin yg lain2, di beritahu kan bukan nya jd semangat tuk bekerja keras, yg ada tambah runyam nanti nya, ok, pak pangestu/ phang jung phen percuma di kasik tau, mereka gak bakalan ngerti

  13. Di Jaman penjajahan Belanda, ada istilah adu domba antara etnis cina dan pribumi, krn di jaman itu orang cina dan pribumi sama sama bahu membahu membangun kota,

    Taktik adu domba dilakukan untuk memecah persatuan antara penduduk pribumi dan cina supaya tidak punya kekuatan melawan Belanda.

    Sekarang belanda sudah tidak menjajah Indonesia lagi, sayangnya masih banyak orang pribumi yang diadu domba oleh pikiran mereka sendiri.
    ngeliat orang cina cuman yang kaya kaya doang, ga pernah liat orang cina yang hidup kekurangan.

    sungguh picik dan pendek orang yang berpikiran seperti itu.

    Padahal kenyataannya orang cina bisa menjadi kaya karena memulainya dari nol
    ngebelain diri buat nabung dan nabung, ga boros.

    makan seadanya walau lagi megang duit banyak

    suap menyuap? hal itu dilakukan juga karena ulah aparat yg minta gratisan yang kebetulan orang pribumi.
    Suap menyuap juga tidak dilakukan oleh orang cina semata, Orang pribumi juga banyak melakukan hal itu.

    Cina menjadi rasis karena sejak lama sudah diperlakukan rasis oleh pribumi.

    Belajar dr sejarah Indonesia, banyak cina yang ikut mati membela tanah air Indonesia…..

    sayang generasi penerusnya tidak menghargai sama sekali keikut sertaan mereka dalam perjuangan

  14. Banyak pedagang yang membuka lapangan pekerjaan, dan lagi lagi kebetulan dilakukan oleh mayoritas orang cina. padahal orang pribumi juga banyak yang berdagang.

    Sungguh picik orang yang berpikir cina adalah musuh.

    Sangat Picik dan tidak tahu balas budi.

    ckckckck….

  15. hari gini masih aj ribut cina2an….
    pada gak mikir ap itu org2 di indonesia yg putih2 semisal orang sunda ato orang dayak sedikit banyak ya turunan dr cina noh jamannya cheng ho, cina yang membawa ISLAM ke indonesia, wali songo aj kan asalnya dari daerah perbatasan russia-mongolia, ya itu cina juga! lagian masa semua cina digeneralisir, cina itu gede coy buka mata donk sukunya juga bejibuoran, orang banten sama jawa tengah aj beda, cina tuh dari myanmar sampe ke korea luasnya, budayanya aj beda2. yang bikin org indonesia ngomongin cina ya berasal dari keirian kok cina duitnya lebih banyak? jujur aj deh…lanjutnya kluar cina begini lah begitu lah bukannya benerin diri sendiri malah ngejelkin orang lain….tobat euy Nabi Muhammad aj bilang suru belajar sampai ke cina, uda tau kan org cina pinter, ini cinanya dateng bukannya belajar malah diejek2, yg ada makin tenggelem sendiri kan loe???

  16. Aku jawa indonesia,menurutku orang tionghoa di indonesia lebih baik daripada tionghoa malaysia/singapore dari sudut pandang aku sendiri dan banyak yg mengakui di internet juga,tapi lebih baik lagi tionghoa di philipina karena sudah ngga tau lagi mana yang philipina mana yang tionghoa,karena memang mayoritas agama philipina dan tionghoa di sana adalah agama yang sama kristen,jadi pembauran dan mixing lebih cepat drpd tionghoa di Indonesia/malaysia,dan aku rasa isu perkauman di Malaysia malah lebih parah dan rasis daripada di indonesia walaupun memang di indonesia banyak isu perkauman yg besar tetapi sifatnya lebih sesaat di karenakan memang benar2 indonesia terpuruk,dan perlu di ketahui juga bahwa di Indonesia masalah peperangan kelompok/suku/agama memang tradisi/kebiasaan jelek orang2 indonesia dari sejak nenek moyang selalu memakan banyak korban bahkan cenderung anarkis,jadi masalh anti tionghoa jaman2 dahulu itu ngga usah di kenang2 lagi dan selalu dendam,isu2 lain pembantaian2 di indonesia yang lebih besar dari Mei 1998 itu banyak,dan lagi Bahkan di china(mainland) sana pembantaian lebih tidak manusiawi dan lebih tidak masuk akal akibat korban politik,Mari kita semua orangindonesia(batak,aceh,melayu,bugis,jawa,betawi,cina,sunda,dayak,banjar,melayu,NTT,NTB,maluku,papua dll)tatap ke depan bangun bangsa ini,supaya pemikiran2 kolot,tradisi2 jelek,kesengsaraan ini dapat kita kikis dengan pemikiran yang lebih maju dan universal,sifat pendendam itu menandakan sifat primitif dan bodoh,semakin banyak dendam semakin primitif dan bodohnya kita ini,lihat saja perang suku di suku2 terbelakang indonesia cuma karena masalah sepele..,itu bisa kalian lihat dari contoh itu

    • pada dasarnya gimana orangnya

      aku tionghoa tetapi kalau udah urusan bisnis yah jelas urusan sesama tionghoa juga agak repot kali yah , nawarnya gila-gilaan ,
      dualisme lah pada dasarnya kalau stereotip2 memang begitu
      misalkan stereotip tionghoa pinter dagang , urusan sama yang sama2 dianggap pinter dagang yah khan repot , persaingannya juga repot

  17. ga merasa mereka musuh sihh.. biasa aja.
    cuma kenapa si klo lagi blanja di toko org cina, datang pelanggan lain org cina, pasti pake bahasa mereka. wkt it sm sodaraku yg bs bahasa mandarin kstw. tenyata obrolannya yg org cina itu dpt hrga lbh murah.. mnt korting klo pribumi ga boleh. aduhh sedihh deh.. mmg knpa si hrs gt? trs klo org pribumi yg jual d tawarrr abis2an, pdhl hrga nya emg sgtu (pengalamanku). ga sekali dua kali aq kaya gitu.

    tp aq si ga mempermasalahkan itu. cm cerita aja.
    ya aq maklum aja, mgkn mmg gitu. khn budaya jg mempengaruhi perilaku seseorang.
    jd udh tau gt, harus pinter2 menjaga sikap. siapa org yg sdg dihadapi biar ga sakit hati :)

  18. Pingback: INTEGRASI SOSIAL MASYARAKAT ETNIS CINA DI INDONESIA « TRIO ANAK SEJARAH

  19. kalo lo bilang picik apa liat dulu sono yang KORUPSI Pembunuh TAWURAN tuh mukanya pada mirip sama lo !liat Rudi Hartono,Agnes monica,Susi susanti,go internasional ga ada orang tionghoa juga ni negara udah hancur

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s