Saat-saat Terakhir Revolusi Kebudayaan Cina

Sumber : Frances Wood, Hand-Grenade Practice in Peking, My Part in the Cultural Revolution, 2000/SL, dimuat di Intisari tahun 2001.

Cultural Revolution PosterSejak 1966 Cina diramaikan hiruk-pikuk gerakan antikapitalisme. Tentara Merah menyerang para dosen, dokter, seniman, novelis, dan mereka yang dianggap tidak mewakili kaum proletar. Gonjang-ganjing terus berlangsung sampai tahun 1975 meski tak lagi diwarnai kekejaman. Frances Wood, mahasiswi Inggris yang belajar di Institut Bahasa Asing dan Universitas Beijing tahun 1975 – 1976, ikut menyaksikan “The Great Proletarian Cultural Revolution”, yang pada masa Mao Zedong diteriakkan dengan penuh semangat, belakangan justru dianggap sebagai “Dasawarsa Penuh Bencana”.

Ketika saya belajar sastra Cina di Universitas Cambridge, 1968 – 1971, Cina sedang berada di puncak Revolusi Kebudayaan. Dunia luar tak banyak tahu apa yang sebenarnya terjadi, kecuali laporan media massa Eropa tentang mayat-mayat yang hanyut di Pearl River, dekat Hongkong dan Makao.

Selain menutup diri, negeri itu menolak segala yang berunsur Barat. Sebagai mahasiswa yang ingin belajar lebih lanjut, saya tak punya harapan untuk pergi ke Cina. Tapi dari sumber kepustakaan saya tahu, Cina senantiasa berubah seirama dengan perubahan kebijakan para pemimpinnya. Saya hanya bisa berharap dari perubahan itu.

Pemimpin Besar Mao Zedong memainkan peran penting sejak berdirinya Republik Rakyat Cina pada 1949. Ia menyingkirkan para pesaing dan musuhnya. Misalnya, ia menyerukan gerakan Anti-Kanan pada 1957 untuk menyingkirkan Zhou Enlai, pelopor gerakan Seratus Bunga tahun 1956.

Mao memprakarsai gerakan “Lompatan Jauh ke Depan” pada 1958 untuk memberi warna khusus bagi komunisme Cina. Berbeda dengan Soviet yang bertumpu pada industri berat, Mao menggalakkan pertanian yang ditunjang industri kecil di pedesaan. “Kalau Stalin hanya punya satu kaki, industri berat, kita punya dua kaki, yakni pertanian dan industri kecil,” ucap Mao.

Empat makhluk jahat

Mao menjejalkan aneka slogan. Para petani harus “menggali lebih dalam” untuk meningkatkan hasil. Ladang-ladang harus bebas dari “empat makhluk jahat”: burung, tikus, serangga, dan lalat. Maka sepanjang 1958 – 1960 jutaan serangga, tikus, lalat, dan burung dibantai.

Berhasilkah upaya itu? Para petani yang “menggali lebih dalam” belum sempat memetik hasil ketika mereka jatuh kelelahan. Punahnya burung berdampak pada  terganggunya keseimbangan alam, sehingga belakangan burung dikeluarkan dari daftar “empat makhluk jahat”. Para pejabat sadar, ambisi Mao terlalu utopis. Tapi karena takut, mereka memberi laporan ABS. Angka produksi digelembungkan, data dan foto hasil panen direkayasa, sementara kenyataannya para petani menderita. Sepanjang 1958 – 1961 tak kurang dari 30 juta orang meninggal karena kelaparan.

Akhir 1958 Mao mundur dari jabatan sebagai pimpinan Partai Komunis. Ia sengaja mengambil jarak dari pusat kekuasaan agar bisa melihat betapa para pimpinan menjadi borjuis dan korup. Rakyat kehilangan semangat revolusioner. Bagi Mao, kenyataan itu tak bisa dibiarkan. Harus ada reformasi untuk meluruskan kembali jalan revolusi. Itulah Revolusi Kebudayaan. “Kebudayaan” tidak hanya berarti kesenian, melainkan seluruh aspek dan lembaga kemasyarakatan.

Mao mengerahkan ribuan pelajar dan mahasiswa ke Lapangan Tiananmen di pusat Kota Beijing. Mereka membawa buku kecil warna merah, The Little Red Book, berisi kutipan naskah-naskah pidato Mao.

Belakangan gerakan diperluas ke kalangan pekerja, buruh, dan petani. Mereka mengecam siapa pun yang berada dalam posisi pimpinan. Sering kecaman berubah menjadi sanksi atau hukuman. Korban berjatuhan, baik karena hukuman maupun bunuh diri.

Seorang dokter ahli bedah otak, misalnya, tiba-tiba dimutasi menjadi petugas kebersihan WC. Dosen atau petinggi universitas dialihtugaskan ke peternakan babi. Birokrat dikirim ke pedalaman agar menghayati keadaan rakyat.

Revolusi Kebudayaan juga menyertakan istri Mao, mantan bintang film tak terkenal Jiang Qing, untuk menyingkirkan para pesaingnya dalam ranah kesenian. Opera, film, dan panggung teater didominasi produksi Madam Mao. Lukisan bunga dan alam tak boleh dipasang, diganti gambar bendera merah, traktor di ladang, atau gambar Mao dalam ekspresi heroik.

Kaum perempuan tak boleh lagi berambut panjang dan dandan sesukanya. Jika ketahuan Tentara Merah, rambut mereka akan dipotong dan celana panjang ketat mereka akan dirobek di depan umum. Banyak pengarang dipenjara, dibuang ke kamp kerja paksa, atau dibiarkan frustrasi hingga bunuh diri. Beberapa pemusik atau pianis dipotong jarinya oleh Tentara Merah.

Sejak 1971 keadaan menjadi normal dalam versi Mao. Sekolah dan universitas dibuka kembali dengan syarat hanya buruh dan petani yang boleh belajar. Mahasiswa asing dan turis boleh datang, meski dalam wilayah terbatas. Para turis hanya disuguhi traktor dan sistem irigasi disertai pidato propaganda.

Saya beruntung tahun itu bisa ikut dalam rombongan pertama mahasiswa asing yang mengunjungi Cina setelah tertutup sejak 1966. Saya senang bukan karena bisa berkomunikasi dengan rakyat Cina dalam bahasa mereka, tetapi karena setiap kali bisa berbagi makan dengan mereka yang ternyata memang kelaparan.

Kunjungan singkat itu membuat saya ketagihan. Dengan keberuntungan yang lebih, pada 1975, permohonan saya ikut program pertukaran mahasiswa Inggris – Cina diterima.

Film propaganda

Malam hari, 25 September 1965, saya bergabung dengan sembilan mahasiswa Inggris lain mendarat di Bandara Beijing. Ada Rose yang sedang mendalami sejarah kesenian dan arkeologi Cina di London, ada pula Beth yang baru lulus dari Cambridge dan terpaksa meninggalkan suami serta anjingnya. Rombongan dari Leeds University, di antaranya Gerry dan Jim, serta Sarah yang baru saja melewati tingkat II.

Kami diangkut dengan bus menuju Foreign Language Institute di barat laut Beijing. Di kawasan itu terdapat berbagai perguruan tinggi dan institut, tak jauh dari Beijing University. Kami menuju asrama. Banyak mahasiswa asing di sana. Mereka yang dari negara maju belajar bahasa, sementara kebanyakan mahasiswa asal Asia dan Afrika belajar teknik dan kedokteran.

Asrama kami berlantai dua berwarna abu-abu, bagian dalamnya dilabur warna putih yang masih baru. Karena kualitas labur tidak bagus, lama-kelamaan rontok.

Paginya, usai sarapan, kami dibawa ke Kedubes Inggris yang terletak di kawasan diplomatik di sisi tenggara kota, Jianguomen wai. Pejabat kedutaan menasihati kami cara hidup sebagai orang asing agar tidak terjerumus dalam kesulitan.

Di kawasan diplomatik terdapat toserba Friendship Store yang menjual aneka barang asing keperluan sehari-hari. Tak jauh dari situ terdapat kompleks perumahan diplomat yang dijaga Tentara Pembebasan Rakyat bersenjata lengkap. Setiap rumah punya balkon, setiap keluarga memiliki tukang masak dan perawat anak yang disediakan oleh Public Security Bureau.

Setiap Jumat sore kami dijemput minibus untuk menuju The Bell, pub di Kedutaan. Sedangkan Sabtu pagi biasa diisi kegiatan senam tajiquan di lapangan kampus.

Hari Sabtu pertama diisi pemeriksaan kesehatan. Meski di negara asal kami sudah diperiksa, dan ada surat keterangannya, pihak berwenang di kampus tidak mau tahu. Lucunya, kaum laki-laki tidak perlu diperiksa darah, sementara para mahasiswi diambil darahnya untuk maksud yang tidak kami ketahui.

Sering di malam hari di lapangan terbuka diputar film. Beberapa film sempat saya saksikan. Haixia, misalnya, berkisah tentang bayi di keranjang yang ditemukan oleh pasangan nelayan yang lantas hidup sengsara. Kampungnya diserbu tentara Kuomintang pimpinan Chiang Kai-shek, keluarganya disiksa dan dibunuh. Sampai akhirnya Tentara Pembebasan Rakyat menyelamatkan dia, dan sejak itu hidup bahagia.

Latihan lempar granat

Tempat kuliah saya berada di sebuah bangunan abu-abu. Di depan terdapat patung Mao Zedong sebesar dua kali ukuran manusia. Sangat gagah dalam mantel khasnya, mengacungkan satu tangan ke depan. Itu memang pose standar Ketua. Tapi karena di seberang jalan terdapat Institute for Petroleum Studies dengan patung Mao yang sama besar dan sama posenya, jadinya kedua patung itu terkesan saling menghormat.

Kami diajar dua orang guru, Hu Laoshi (Guru Hu) dan Tian Laoshi. Hu lebih tua, santun, dan tenang, sedangkan Tian lebih muda namun berwibawa. Yang menyamakan keduanya adalah pakaian khas setelan abu-abu kedodoran.

Setiap hari, kecuali Minggu, kami belajar bahasa mulai pukul 08.00 -12.00, diselingi istirahat 20 menit. Pukul 10.00 selama delapan menit seluruh penghuni kampus bersenam diiringi musik. Lompat-lompat, membungkuk sampai jari tangan menyentuh jempol kaki, dsb. Tak ada minum kecuali di kantin.

Selasa sore kami melakukan laodong atau “pekerjaan tangan”. Bagi pelajar dan kaum intelektual Cina, kerja tangan paling membanggakan adalah mencangkul. Namun di Institut hal itu tidak diwajibkan, mungkin dianggap kelewat keras sehingga bisa menimbulkan protes di tingkat pejabat pemerintahan. Tapi beberapa mahasiswa Kanada yang getol mendalami Marxisme dan Leninisme tetap semangat mencangkul di sawah.

Kami juga ditugasi memecah batu bata untuk campuran semen. Heran, batu bata di Cina sangat rapuh. Saya jadi takut menyandarkan badan di tembok.

Kami juga diberi tugas membersihkan rumput. Bagi orang Cina masa itu, rumput adalah sarang nyamuk dan serangga lain, makhluk yang pada 1958 diperintahkan Mao untuk dibasmi. Ketika saya katakan, habitat nyamuk adalah genangan air dan bukan rumput, para pembimbing tidak mau tahu. Pantas, di banyak tempat yang saya kunjungi tidak banyak warna hijau.

Setiap Rabu sore kami wajib mengikuti pelajaran olahraga. Lari keliling lapangan, anggar menggunakan bambu, juga melakukan taijijian, versi lain dari taijiquan yang artinya pukulan pedang. Kami juga melakukan tolak peluru. Malah ada mahasiswi Spanyol yang kakinya kejatuhan peluru besi bulat.

Hanya sedikit mahasiswa yang bersemangat ikut. Kebanyakan ogah-ogahan. Padahal para instruktur tetap semangat mengulang-ulang seruan Ketua Mao,
“Kembangkan kekuatan fisikmu agar mampu membela Tanah Air!”

Ada juga latihan lempar granat. Yang kami genggam adalah granat kuno yang sudah tak bisa meledak, tidak ada pen pencabutnya. Tapi kami harus melakukannya penuh semangat, pura-pura menggigit pen kemudian melemparkannya. Kegiatan itu jelas tidak diketahui pihak British Council. Saya berpikir, apa kata masyarakat Inggris jika tahu uang pajak mereka dipakai untuk membiayai mahasiswanya mengikuti kegiatan yang mirip latihan gerilya di Cina?

Jumat sore kami belajar bahasa dan analisis aneka peristiwa yang biasa dimuat harian People’s Daily.

Waktu terus berjalan. Hingga pada akhir minggu ketiga yang menjemukan, kami harus melakukan kaimen banxue atau “sekolah di luar ruangan”. Kami dikirim ke kawasan pertanian.

Para petani bekerja di ladang-ladang negara, menggarap tanaman kubis, bawang, gandum dan padi, juga buah-buahan. Semua hasil disetorkan kepada pemerintah melalui unit kerja desa, sementara keluarga petani tinggal memiliki sedikit lahan untuk ditanami sayuran. Setiap hasil panen yang disetor, yang mestinya dibayar tunai oleh pemerintah, pada praktiknya sering diganti dengan minyak, telur, gandum, atau kayu bakar.

Berapa harga celana?

Bergaul dengan petani ternyata cukup menyenangkan. Banyak kejutan. Misalnya, dugaan semula bahwa orang Cina menikah pada akhir usia 20-an demi program keluarga berencana, ternyata salah. Mereka terkejut ketika tahu saya masih lajang pada usia 27. Malang bagi teman saya Rose, karena tunangannya yang ditinggal di Inggris berumur 37 tahun. “Bagaimana mungkin kamu mencintai laki-laki setua itu?” tanya petani di komunitas rakyat Sijiqing.

Hampir setiap saat kami membicarakan harga. Mereka bertanya berapa harga celana, berapa harga televisi, dan ketika saya jawab angkanya dalam hitungan yuan, mereka berseru sambil menahan napas. Ketika saya katakan harga rumah di Inggris jika dihitung dalam yuan, mereka berteriak.

Rupanya, keingintahuan orang Cina soal harga tidak hanya pada waktu itu. Dalam kisah pengalaman seorang dokter Spanyol yang menyertai diplomat Inggris di masa awal pembangunan gedung Kedubes Inggris di Beijing, tahun 1866, juga diceritakan, para tukang setempat banyak bertanya tentang harga celana.

Permohonan membeli sepeda

Institut Bahasa terletak di pinggiran Beijing. Jarak antar tempat di kampus juga cukup jauh. Sehingga saya dan beberapa teman memutuskan untuk membeli sepeda.

Setiap hari jutaan sepeda berlalu-lalang di kota, namun hampir tak ada sepeda baru. Kebanyakan sepeda laki-laki dengan palang melintang, warnanya pun hitam. Rupanya, itu akibat prosedur yang cukup berbelit untuk memiliki sepeda, selain memang mahal harganya.

Sebuah keluarga, misalnya, bisa menabung sepanjang satu tahun untuk membeli sepeda. Ketika uang sudah terkumpul, ternyata mereka hanya bisa mendaftar untuk beli satu.

Sepeda dikenai pajak tahunan. Ada pelat nomor yang dipasang pada penahan lumpur di ujung spatbor belakang. Jika nomor ini tak ada ketika diperiksa polisi, pengendara didenda 20 yuan (sepertiga gaji rata-rata pekerja di Cina). Denda yang sama diterapkan bagi setiap pelanggaran. Misalnya, bersepeda sambil membawa payung terbuka, memboncengkan orang, dsb.

Orang asing hanya bisa membeli sepeda di Friendship Store. Saya memilih sepeda perempuan tanpa palang yang ternyata malah merepotkan karena kelewat ringan. Perjalanan 9 km dari toko ke kampus harus saya tempuh dengan jumlah kayuhan berlipat kali dibandingkan dengan teman yang membeli sepeda laki-laki.

Sesampai di asrama, kami masih dihadapkan pada keruwetan untuk memperoleh pelat nomor. Pertama, kami harus memiliki kartu mahasiswa. Bentuknya seperti dompet plastik berisi foto pemilik, dilengkapi beberapa cap dan tanda tangan para administrator. Masalahnya, saat itu belum ada jasa foto kilat di Beijing. Kami harus pergi ke studio foto Wudaokou, difoto, kemudian menunggu seminggu sampai foto jadi.

Di pusat kota, lalu lintas padat oleh sepeda yang berbaur dengan bus dan lori. Serunya, semua bersaingan membunyikan bel dan klakson. Saking ributnya, bel jadi kehilangan makna. Tertabrak atau terserempet adalah hal biasa.

Di masa Revolusi Kebudayaan lampu tidaklah penting. Maka bersepeda di malam hari menjadi kesulitan tersendiri. Apalagi di atas pukul 21.00, saat lampu lalu-lintas tidak berfungsi karena petugasnya pulang.

Di tempat parkir yang bertarif seragam dua yuan, penjaga yang kebanyakan perempuan memberikan sepotong karton bernomor yang digapit bambu, sementara potongan lain dengan nomor yang sama diikatkan di setang.

Tak ada pembalut

Menjelang musim dingin, pembimbing asrama membagikan kupon untuk ditukarkan mantel. Walau sebelumnya telah siap menghadapi cuaca dingin,
saya tetap kaget dengan suhu yang sesekali -5oC. Mengikuti cara berpakaian orang Cina di musim dingin, sampai enam lapis baju, memang perlu.

Para penduduk juga memperoleh kupon, tapi untuk ditukarkan dengan gandum, minyak, telur, kain, dan komoditas lain yang di musim dingin pasokannya berkurang. Kupon hanya berlaku lokal. Jika akan pergi jauh, orang harus meminta kupon yang berlaku secara nasional. Kalau tidak, ya, membawa bekal sendiri.

Di toko, pada awal bulan roti yang tersedia berwarna putih, yang disebut mantou. Pada akhir bulan, ketika tepung putih makin langka, yang dijual roti warna coklat.

Tapi makanan bukan masalah, yang memprihatinkan adalah kebersihan. Ya, bagi perempuan asing, satu tahun tinggal di Cina saat itu adalah perjuangan. Pembersih paling sederhana, misalnya handuk untuk sanitari, tidak ada. Apalagi pembalut kala menstruasi. Perempuan Cina mengatasinya dengan cara primitif yakni membuat sendiri pembalut dari kertas WC, robekan kain, atau koran bekas.

Di kelompok kami, para perempuan telah siap dengan pil penunda menstruasi. Tapi saya hanya bisa melakukannya sekali pada bulan pertama, itu pun setelah berkonsultasi lewat surat dengan ibu saya. Selebihnya, untuk sebelas bulan sisa masa tinggal di Cina, di kamar tidur saya menumpuk stok pembalut.

Ke Universitas Beijing

Kami menjalani seleksi agar bisa melanjutkan kuliah di Universitas Beijing, meski hanya untuk beberapa bulan. Ujian tidak terlalu sulit, namun birokrasinya berbelit. Malah setelah dua bulan menunggu, di musim dingin akhir tahun 1975 itu, tiba-tiba universitas melakukan seleksi tambahan.

Beruntung, saya lulus. Juga Beth dan Rose. Mahasiswa asal Albania dan Korea Utara paling banyak jumlahnya. Di perguruan tinggi yang acap disebut “Beida” (singkatan dari Beijing Daxue) itu tergabung sekitar 7.000 mahasiswa. Berbeda dengan di Institut, di tempat baru suasana revolusioner amat terasa. Poster dan selebaran berganti-ganti setiap hari. Beida menjadi ajang kampanye dan adu kepentingan.

Di asrama saya memperoleh teman sekamar gadis Beijing berusia 25, Yang Huimei. Ia bekerja di otoritas transportasi, dan kuliah untuk mencari kredit poin demi kenaikan jenjangnya. Setiap Sabtu sore ia pulang, meninggalkan saya bengong di kamar sepanjang hari Minggu.

Di sela-sela kuliah sejarah dan “kebudayaan” (saya beri tanda kutip karena materi kuliah bersifat indoktrinatif, membatasi hanya karya sastra dan budaya terbitan tahun 1965 ke atas), saya sering bersepeda dengan Beth dan beberapa teman menyusuri jalanan Beijing. Sesekali ada kunjungan wajib ke peninggalan sejarah dan kawasan pertanian.

Memasuki bulan Maret, cuaca mulai hangat. Saya ikut berbagai perayaan dan arak-arakan, juga berkumpul di Lapangan Tiananmen. Pihak Kedutaan sampai memperingatkan agar kami tidak terjerumus pada kepentingan partai. Saat itu nama Deng Xiaoping banyak disebut-sebut, sementara oleh kroni Mao ia dianggap tokoh yang tidak sejalan. Mao lebih menyukai Hua Guofeng, padahal banyak orang Cina kurang menyukainya.

Di akhir Juli yang panas, kuliah selesai. Kami mengisi liburan dengan pergi berombongan ke pedalaman naik kereta api. Celakanya, terjadi gempa bumi. Pusatnya di kota pertambangan Tangshan, sekitar 60 km timur laut Tianjin atau 150 km dari Beijing. Getarannya terasa sampai ibukota, kendati tak menimbulkan korban jiwa.

Pulang naik KA Trans Siberia

Saat kepulangan saya tiba ketika Beijing sedang dalam kondisi darurat pasca gempa bumi. Pasokan barang tersendat, kantor-kantor memindahkan pelayanan di halaman. Saya berencana pulang jalan darat naik kereta api Transsiberia. Nina, gadis Denmark yang sekelas waktu di Institut Bahasa, ingin pergi bersama-sama. Untuk mengurangi bawaan, saya mewariskan beberapa baju kepada teman. Itu pun saya masih harus membeli “kopor” tambahan berupa keranjang bambu untuk menaruh pakaian.

Tak banyak acara perpisahan. Program saya tak memberlakukan ujian akhir karena mungkin dianggap tidak penting. Dokumen yang saya terima hanya kertas bertuliskan “Sertifikat Kehadiran”.

Suatu hari Rabu, ditemani Huang Laoshi, kader partai yang bertugas melepas kepergian saya, Transsiberia yang saya tumpangi pun berangkat. Kereta yang penuh asap menyusuri rel ke luar Kota Beijing, menanjak sampai melewati Tembok Besar dekat Green Dragon Bridge, kemudian melalui dataran menuju Mongolia. Penjaga perbatasan tertawa melihat keranjang bambu yang saya jadikan kopor pakaian. Juga topi pandan saya.

Mongolia sangat sepi. Lebih dari lima jam yang tampak hanya padang rumput. Baru di dekat stasiun ada seorang lelaki berkuda mengangkat papan bulat bergagang. Rupanya, ia petugas sinyal kereta.

Sepanjang jalan saya banyak membordir. Ketika masuk perbatasan Rusia, kami istirahat cukup lama karena roda kereta api harus diganti akibat perbedaan jarak antar-rel kereta Cina dan Rusia. Tubuh kami dipaksa beradaptasi karena sepanjang empat hari perjalanan telah melewati enam zona waktu.

Di Moskow kami berganti kereta. Naik semacam mobil wagon panjang menuju Stasiun Finlandia. Nina menuju negaranya, dan saya ke Inggris melalui Polandia dan Jerman Timur. Di Berlin Timur lagi-lagi penjaga perbatasan terkesan pada kopor bambu dan topi pandan saya. Juga jaket model Sun Yat-sen dan celana baggy biru tua.

Perjalanan di Eropa daratan berakhir di Ostend, untuk dilanjutkan dengan feri ke Dover, pelabuhan di Inggris. Akhirnya, seminggu setelah dari Beijing, saya pun menginjakkan kaki di London.

Dua minggu setelah saya pulang, tepatnya 9 September 1976, Ketua Mao wafat. Saya pergi ke Kedubes Cina di Portland Place, London, dan menuliskan nama saya dalam buku duka cita. Seandainya masih di Cina, saya pasti ikut perkabungan nasional dengan segala upacaranya.

Saya mulai bekerja di perpustakaan School of Oriental and African Studies sambil terus mengikuti perkembangan Cina. Pada 21 Oktober saya mendengar kabar “Kelompok Empat” ditangkap dua minggu sebelumnya. Mereka adalah Jiang Qing, janda Mao, serta Yao Wenyuan dan Zhang Chunqiao, dua tokoh menonjol di Shanghai selama Revolusi Kebudayaan. Seorang lagi adalah Wang Hongwen, penjaga keamanan dari Pabrik Pemintalan No. 17 di Shanghai yang memobilisasi para buruh tekstil selama Revolusi Kebudayaan.

Terus terang selama di Cina, istilah “Kelompok Empat” tidak pernah saya dengar. Yang ada hanya beberapa tokoh yang sangat ditakuti karena berada di pusat kekuasaan. Tapi sejak empat tokoh itu ditangkap, aneka interpretasi dan publikasi berkembang bagai tak terkendali.

Secara pelahan Deng Xiaoping naik menuju kekuasaan. Pemikirannya yang dulu tidak diakui kini diamini. Yang amat terasa adalah suasana kampus karena tak ada lagi “sekolah terbuka” di daerah pertanian. Tak ada lagi mahasiswa dengan kategori tiga pilar politik: pekerja-petani-tentara. Ujian seleksi perguruan tinggi diberlakukan lagi untuk umum. Mahasiswa tak perlu lagi ikut mengikat sayuran, dan area penanaman padi tidak harus ke utara Sungai Yangtze agar tidak menentang alam.

Seruan Deng Xiaoping, “Menjadi kaya itu mulia,” mengubah wajah Cina secara dramatis. Pakaian dan tata rambut warga berubah. Observatorium yang didirikan rohaniwan Jesuit di Jianguomen, yang dulu menjadi satu-satunya monumen tinggi, kini diapit hotel dan gedung pencakar langit. Ketika suatu saat saya kembali ke sana membawa rombongan turis Eropa, atau kedatangan berikutnya mendampingi delegasi parlemen Inggris, Revolusi Kebudayaan cuma menjadi cerita yang sayup-sayup terdengar.
Mungkin cenderung dilupakan.

Catatan Rinto : Ini artikel lama yang pernah saya forward ke milis tahun lalu. Tentara Merah di sini adalah Pengawal Merah (Red Guards) bukan Tentara Pembebasan Rakyat (PLA). Satu sudut pandang Revolusi Kebudayaan dari seorang mahasiswi Barat di Tiongkok. Semoga dapat mencerahkan.

About these ads

3 thoughts on “Saat-saat Terakhir Revolusi Kebudayaan Cina

  1. mau minta artikel yg lebih lengkap tentang aliran maoisme dan beberapa pemberontakan yang terjadi di cina juga peristiwa tiananmen.terima kasih

  2. aq lg nyusun skripsi dg latar blkg budaya cina & revolusi kebudayaannya.novel yg aq jadikan sumber adl krya pearl s.buck “the three daughters of madame liang”.klhtnnnya anda berpengalaman dg chinese & their culture.kl aq bth bantuan,bs kn…??plizz & tengks sebelumnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s