Pada jaman 400 sampai 100 tahun BC banyak cerita cerita, fabel yang sangat berguna, karena pada masa itu cerpen-cerpen meningkat mencapai yang kita katakan sekarang sophistication. Dynasti Zhou tidak mempunyai kekuasaan dan banyak daerah-daerah berdiri sendiri dipimpin oleh elites seperti pangeran atau dukes etc. Mereka saling bertempur untuk memperluaskan daerahnya. Pada masa yang chaos ini raja tidak berfungsi sebagai raja, ayah tidak berfungsi sebagai ayah dan dunia Tiongkok kalut dan tidak aman. Dalam keadaan yang chaos ini banyak kaum intelektual memperkembangkan budaya untuk meringankan kechaosan dan kemiskinan rakyat banyak dan mengembalikan keadaan yang tenang, aman dan makmur. Maka timbullah berbagai pikiran dan isme-isme sebagai ratusan bunga yang sedang berkembang sampai dengan puncaknya. Banyak budayawan-budayawan seperti Lao Zi, Zhuang Zi, Kong Fu Zi, Meng Ke (Mencius), Mo Zi, Han Fei Zi, Sun Zi, Wang Zhong, Kong Sun Long, etc. etc. Karangan-karangan mereka diteruskan turun menurun dan memberikan kontribusi yang signifikan bagi perkembangan Kultur Tionghoa di jamannya dan seterusnya.
Filosof Tionghoa dan Barat berbedah, karena filosof filosof Tionghoa tidak saja membicarakan teori-teori yang sulit-sulit, tetapi juga membuat banyak cerpen-cerpen yang mencerminkan fikirannya, seolah-olah mempraktikan teorinya. Yang paling terkenal dalam membuat cerpen-cerpen ini yalah Zhuang Zi, baik dalam bahasa, isi yang berkwalitas yang tinggi maupun karena humornya.
Advis dengan tujuan tertentu
(Karangan seorang Taois yang besar Lie Zi)
Dijaman dulu ada dua tetangga yang berkenalan, kelihatan hubungannya baik juga. Yang satu katakanlah namanya A-Piang. Di depan rumah opa A Piang ada satu pohon yang besar, tetapi agak kekeringan, karena sudah berbulan-bulan tidak hujan. Pada satu hari A Piang bertemu tetangganya dijalanan dan mereka bersama-sama berjalan pulang. Pada percakapan ini tetangganya A Piang berkata:” dirumah anda ada pohon yang kering dan menurut perkataan orang, pohon yang tidak subur itu mboh Hokgi (tidak baik, tidak memberi keuntungan), lebih baik di tebang.” A Piang lalu berkata:” apakah demikian kokh saya tidak pernah dengar omongan ini.” Tetangganya lalu menjawab:”memang demikian, ini adalah advis saya sebagai tetangga yang baik.”
A Piang berasa tidak enak, dia selalu mempunyai obsesi dalam pikirannya, sekarang aku sudah tahu tentang ini, kalau aku tidak mengerjakan, kalau sampai terjadi apa-apa, orang akan menyalahkan aku. Lalu A Piang memanggil orang untuk memotong pohon yang besar itu.
Esoknya sesudah pohon itu dipotong, tetangganya A Piang datang berkunjung dan mengatakan pada A Piang: “bolehkah aku minta beberapa kayu-kayu dari pohon yang kau tebang untuk kayu bakar?”
A Piang lalu berpikir dan berkata pada dirinya:” orang tua tetangga aku ini sebetulnya membutuhkan kayu bakar, maka dia memakai akal busuk agar aku menebang pohon yang besar ini. Kami kan tetangga dan mempunyai hubungan yang baik, tetapi tokh dia mengakali aku untuk berbuat dengan tujuan tertentu. Betul-betul keterlaluan!”
————-
Teman dan teman ada dua, yang satu adalah teman waktu besenang-senang, makan dan minum; ada teman yang betul-betul teman baik waktu senang dan bahkan juga pada waktu susah, katakan teman yang bersama ketawa dan sama menangis. Orang Inggeris mengatakan :”a friend in need is a friend indeed!” Maka melihat orang jangan diwaktu yang senang saja, tetapi juga waktu dia marah dan sedih, dari reaksinya pada waktu-waktu tersebut diatas kita baru dapat mengetahui tabeat dari seseorang.
—————
Ding Suo, dengar kata orang apa yang di dapatkan dalam sumur
(Karangan ini adalah buah karangan dari Cheng Ben yang di buat pada 400-300 tahun BC)
Di Negara Song jaman dulu ada famili Ding yang tidak mempunyai sumur sendiri. Seorang dari famili ini tidak dapat mengerjakan apa-apa selain berjalan jauh beberapa kali sehari mengambil air untuk penghidupan keluarganya.
Mereka merasa mengambil air ini betul betul sangat menyusahkan penghidupan keluarga yang membutuhkan banyak tenaga. Untuk mengurangi kesulitan-kesulitan ini mereka setuju untuk menggali sebuah sumur di kebun belakang rumahnya. Mereka sangat beruntung sumur yang mereka gali itu memberikan air yang jernih dapat digunakan sebagai air minum, masak dan mandi. Anggota keluarga yang biasa mengerjakan pengambilan air, sekarang bisa membantu pekerjaan lainnya. Mereka sangat gembira dan mengatakan pada teman-temannya bahwa: “dengan adanya sumur ini seperti kami mendapatkan tambahan seorang dalam keluarga kami.”
Perkataan ini menyebar luas dari teman ke teman bahkan sampai kota-kota yang jauh dari keluarga Ding tinggal, dan perkataan dalam jalannya hari ke hari berobah dari semula dan sekarang menjadi:” Keluarga Ding menggali sumur dan menemukan seorang didalam sumur itu.”
Berita ini pada satu hari sampai pada duke negara Song dan duke Song menyuruh orang untuk menanyakan kebenaran kejadian ini. Kepala keluarga Ding Sambil menghormat mengatkan sebagai berikut:”dengan menggali sumur yang penuh dengan air bagi keluarga kami, seperti kami mendapatkan satu orang yang bisa membantu pekerjaan kami sehari-hari. Sebenarnya saya tidak mengatakan bahwa kami menemukan orang didalam sumur yang kami gali itu.”
————-
Dalam artikel-artkel saya, saya pernah katakan bahwa bahasa mempunyai batas (limitation), kebenaran tidak mempunyai batas. Bahasa bisa ditambah atau dikurangi, maka kalau kita menerima “dingsuo”, dengar kabar atau hear say , kita harus sadar bahwa ini belum tentu benar. Perlu diselidiki dahulu untuk mendapatkan kebenaran, agar kita tidak membuat kesalahan. Jangan sekali-kali hanya mengikatkan dirimu dari dingsuo saja, ketahuilah kebenarannya.”
Setiap orang mempunyai kepentingan dan keinginan sendiri-sendiri, karenanya dalam perjalanan kata-kata yang diucapkan seseorang dapat dirobah secara sadar atau tanpa sadar. Tentang bahasa, omongan, ding suo, oma saya dari fihak ibu selalu berkata pada kami:”di dunia ini kalau orang titip uang, kalau bisa dikurangi, tetapi kalau omongan kalau bisa (atau hampir selalu) ditambahi!” Omaku mengingatkan kami, mungkin ini peribahasa Jawa:”nuruti lambe (mulut) tidak jadi uwong!” Cocok dengan cerita ini agar cucu-cucu Beliau jangan gampang-gampang percaya akan ding suo, perlu dicari kebenarannya, karena ini tidak ada limitnya.
Dr. Han Hwie-Song
Breda, 20 September 2005
posted by HKSIS in Budaya Tionghua