Sejarah Cersil Tiongkok di Indonesia

Pada masa pemerintahan Soeharto telah melarang cerita silat (cersil) Tiong Hoa. Mengapa, karena cersil mengandung budaya Tiogn Hoa dan cerita-cerita sejarah Tiong Hoa yang didalamnya banyak mengandung filsafat dan ajaran Buddha, Taoisme, dan Kong Fu Chu. Padahal bukan ajaran Komunis , namun karena ada rasa anti-Tiong Hoa, maka itupun dilarang juga karena menyangkut tiga pilar: sekolah Tiong Hoa, media massa Tiong Hoa, dan organisasi Tiong Hoa.

Bahkan sejak tahun 1990 sampai sekarang cersil tidak begitu banyak dibaca oleh kalangan mudah, mereka lebih gemar membaca komik dari Jepang atau barat.
Sementara sejak Kho Ping Hoo meninggal,tidak ada lagi pengarang cersil yang melanjutinya.

Pada akhir abad ke-19, nampaknya sudah banyak cersil diterjemahkan ke dalam bahasa Melayu/Indonesia antara lain :

- SAM KOK (Tiga Negara) tahun 1883-1885.
- Shih DJin Koei Tjing Tang tahun 1884
- Shi Djin Koei Tjeng See tahun 1884
- Hing Kiao Li Tan 1884-1886.

Para penerjemah terdiri dari mantan pelajar sekolah Tiong Hoa Hwee Koan (THHK) atau gurunya. Ada juga dari sekolah Kha Lam Hak Tong di daratan Tiong Kok. Setelah perang dunia kedua, surat kabar yang dikelolah orang Tiong Hoa, semua memuat cersil Tiong Hoa ini. Surat Kabar Tiong Hoa pro Beijing dan Pro Taiwan. Pada tahun 1958, pemerintahan melarang surat kabar pro Taiwan.

Koran Seng Hwo Pao memuat cersil bersambung pertama adalah Kang Ouw San Lie Hiap (Pendekar Wanita Penabur Bunga) dan Peng Tjoan Hiap Eng (Dua Musuh Turunan)semua karya Liang Yu Sheng. Sejak itu semua koran berbahasa Tiong Hoa memuat cersil juga seperti Keng Po dan Sin Po.
Surat kabar itu juga membuat terjemahan cersil karya Cing Yung berjudul Sia Tiaw Eng Hioang Toan (Pahlawan Pemanah Rajawali).

Sejak meletus G.30.S/PKI semua koran pro Bei Jing berbahasa Tiong Hoa dilarang pula. Banyak koran baru yang terbit, namum Ceril Tiong Hoa masih tetap berlanjut. Kemudian cersil besar besaran mulai dibukukan dalam bentuk buku saku.

Penerjemah orang Tiong Hoa di Indonesia antara lain Oey Kim Tang (1903-1995) seorang peranakan Tiong Hoa yang lahir di Tangerang, mantan murid sekolah THHK, ia adalah murid Ong Kim Tiat (OK ) penerjemah cersil sebelum perang dunia ke II.

Kemudian disusul Gan Kok Liang (Gan KL) yang baru tiba dari Tiong Kok. Karya terjemahan pertamanya dari 40 judul adalah Sai Wai Qi Xia Zhuan (Pendekar di daerah Perbatasan )dimuat dalam harian Seng Po. Penerjemah lainnya dari Semarang bernama Tjan Ing Djiu (1949) dan menerjemah Tian Gan Qi Ding (Tujuh Pusaka Rimba Persilatan)dan terjemahannya yang terakhir adalah Darah Pahlawan (Lu Ding Ji) karya Cing Yung. Pedang Tetesan Air Mata (Ying Xion Wu Lei) karya Ku Lung.

Kho Ping Hoo (1926-1994) seorang pengarang dari Solo, dari Indonesia , lulusan sekolah Belanda untuk Pribumi. Pada tahun 1952 mulai menulis cersil. Karyanya mulai dimuat dalam majalah Selecta, Roman Ditektip, Monalisa dan kemudian dibukukan oleh Gema percetakan. Semua karya Kho Ping Hoo adalah hasil  karyanya yang cemerlang kecuali Si Teratai Emas.
Karya pertamanya adalah Pek Liong Po Kiam (Pedang Pusaka Naga Putih) tahun 1959 dan tahun 1962 Ang Coa Kiam (Pedang Ular Merah) semua dalam judul bahasa Hokkian. Tetapi setelah jaman Orba, ia memakai judul dalam bahasa Indonesia. Seperti Kisah Sepasang Anak Rajawali (1973) dan Kisah Bangau Putih (1981).

Pengaruh cersil sejak perang dunia ke-2 bukan hanya terhadap Tiong Hoa tetapi terhadap pribumi dari rakyat biasa sampai pejabat pemerintahan selain membaca cersil juga film serinya.

Cersil Tiong Kok menurut Cing Yung merupakan satu genre sastra Tiong Kok yang tidak terdapat di negara Barat. Karena cersil berhubungan dengan ajaran etika dan moral tradisional Tiong Hoa. Pertarungan hanya kulitnya saja, isinya adalah Kependekaran dan Kepahlawanan (Xia Shi), Kebenaran dan kesetiaan.

Pejabat Indonesia yang gemar antar lain: Sultan Hamengkubuwono IX, sampai masuk rumah sakit karena nonton cerita film Silat. Mantan Komkamtib Laksanamana Soedomo dan Mantan Kebudayaan Mashuri selalu berkata mereka belajar dari cersil.

Baru pada tahun 1990-an surat kabar mulai berani memuat cersil, seperti dalam Suara Pembaruan yang memuat cersil Kho Ping Ho. Dan To Liong To karya Cing Yung.

Sejak itu banyak orang Pribumi mulai tertarik dengan kebudayaan Tiong Hoa dan kemudian munculah cersil Indonesia.
Setelah era Kho Ping Ho, maka hampir dikatakan tidak ada lagi pengarang Tiong Hoa yang mengikuti jejak para  pendahulunya. Sungguh Ironis sekali, generasi sekarang terutama dari Tiong Hoa, lebih menggemari Komik dari negeri Sakura ataupun cerita Fiktif seperti Power Ranger dan Cerita Kartun yang kurang mendidik selain penuh khayalan atau imaginasi dan Humoris. Taman bacaan tidak didominasi oleh cersil seperti tahun 1970-an.

Akankah ada generasi pengarang atau setidak-tidaknya penerjemah di masa mendatang? Kalau dilihat pengenalan budaya Tiong Hoa di Indonesia sudah hampir terbenam di ufuk barat.

Herru Arttan

About these ads

One thought on “Sejarah Cersil Tiongkok di Indonesia

  1. Dimana saya bisa mendapat buku2 cersil baik cetakan lama ( yang masih baik & bersih ) maupun cetakan baru ? Cetak ulang cersil2 lama sekarang ini sangat membantu tetapi waktunya sangat lama. Untuk memasyarakatkan cersil yg ada mungkin bisa dipikirkan kembali tentang harga jual dan menambah outlet penjualan dikota-kota lain

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s