Awalnya istilah Indonesia merupakan definisi ilmiah bagi kepulauan Hindia yang dikenalkan oleh para antropolog Barat, seperti JR Logan, GSW Earl, dan Adolf Bastian, di penghujung abad ke-19. Endapan diskursus tersebut telah bertransformasi menjadi suatu bangsa, tepatnya setelah ji-wa-jiwa mudanya mengucap diktum Satu Nusa, Satu Bangsa, Satu Bahasa.
Berlaksa bangsa yang sebelumnya terberai ideologi primordialisme (kedaerahan, kesukuan, keagamaan) bisa bersatu. Masyarakat madani kita yang mulanya didominasi kental oleh gairah primordial, seperti Jong Java, Jong Sumatranen, Jong Celebes, Jong Ambon, Sarekat Islam, Muhammadiyah, Jong Tionghoa (sejarah mencoba menutupinya) tampak mengorientasi kiblat.
Etnis Tionghua dan Sumpah Pemuda – Kristan
October 31, 2006Sastra Melayu Tionghoa Mencari Pengakuan
October 31, 2006KESUSASTRAAN Melayu-Tionghoa adalah tonggak sejarah yang terlupakan di Nusantara. Selama nyaris seabad (1870-1960) dihasilkan tidak kurang dari 3.005 karya sastra dengan melibatkan 806 penulis yang jauh melampaui jumlah karya dan penulis dalam sastra Indonesia Modern.Karya sastra Melayu-Tionghoa merupakan refleksi kritis terhadap dinamika yang terjadi semasa puncak Pax Neerlandica (masa keemasan penjajahan Belanda-Red) dan beberapa dekade awal kemerdekaan Indonesia. Pergulatan mencari identitas dan pengakuan yang dialami etnis Tionghoa sebagai warna “Indo” dari Indonesia tergambar dalam karya-karya tersebut.
Partisipasi Politik Tionghoa dan Demokrasi
October 14, 2006Oleh Christine Susanna Tjhin
JIKA selama Pemilu 1999, komunitas Tionghoa tampak malu-malu dan agak canggung dalam berpolitik, dalam Pemilu 2004, partisipasi politik komunitas Tionghoa terlihat semakin dinamis dan asertif. Bagaimana membaca dinamika itu secara kritis?
“Binatang ekonomi” dan “apolitis” adalah dua stigma populer yang berurat-akar bagi orang Tionghoa. Persepsi mayoritas elite politik Indonesia tampaknya masih berkutat di situ karena menilai partisipasi Tionghoa sebatas keuntungan ekonomis.
Persepsi ini adalah buah dari asumsi tidak mendasar bahwa komunitas Tionghoa yang hanya 2 persen dari populasi menguasai 70 persen perekonomian nasional. Citra kekuatan ekonomi komunitas Tionghoa memang sudah ada sejauh sejarah kolonial. Tetapi label 2 persen dan 70 persen menjadi hingar-bingar di akhir tahun 1990 an seiring krisis ekonomi Asia, dikarenakan tendensi bombastis sejumlah jurnalis masa lalu yang salah mengutip penelitian Michael Backman (1995) tentang kapitalisasi pasar dari 300 konglomerat Indonesia. Backman menemukan 73 persen total kapitalisasi pasar dimiliki oleh etnis Tionghoa.
Beri Jalan Orang Cina
October 14, 2006Penulis: Abdurrahman Wahid (Gus Dur)
Sumber: Editor, 21 April 1990
Jadi orang Cina di negeri ini, di masa ini pula, memang serba salah. Walaupun sudah ganti nama, masih juga ditanyakan ‘nama asli’nya kalau mendaftarkan anak ke sekolah atau jika membuat paspor. Mungkin, karena memang nama yang digunakan terasa tidak pas bagi orang lain, seperti nama Nagaria. Biasanya naga menggambarkan kemarahan dan keganasan. Apakah si naga yang riang gembira ini tertawa-tawa? Hartadinata, terasa lucu, karena tidak klop antara kekayaan dan keanggunan jabatan, antara harta dan nata.
Tionghoa dalam Dinamika Sejarah Indonesia Modern: Refleksi Seorang Sejarawan Peranakan****
October 14, 2006oleh: Didi Kwartanada++++
“. . .Indonesia, the largest country in the world with a Chinese problem”[1]
Pendahuluan: Love and Hate Relations
Pertama-tama saya mohon maaf, karena tidak banyak waktu untuk melakukan persiapan penulisan makalah ini. Waktu penelitian kepustakaan di Belanda yang hanya dua bulan sama sekali tidak menyisakan banyak waktu untuk hal-hal lainnya. Jadi kebanyakan bahan yang disajikan disini adalah yang masih terekam dalam benak saya, sehingga pemaparannya jauh dari lengkap dan bersifat fragmentaris. Walaupun judul ceramah ini sangat luas, namun saya akan membatasi diri pada peran atau kontribusi Tionghoa dan juga hubungan Tionghoa dengan pribumi. Saya akan mengajak Bapak Ibu serta hadirin sekalian secara sersan—serius tapi santai—untuk berkelana sejenak ke masa lampau.
KAYA DAN MAKMUR DALAM BUDAYA CINA
October 13, 2006Oleh Bob Widyahartono, Pengamat Eknomi & Bisnis Cina & Lektor Kepala FE USAKTI/UNTAR
Cina memasuki abad 21 ini diprediksi oleh banyak kalangan elit tengah menggeliat mulai menjadi bangsa yang kaya/makmur. Proses ini tidak berlangsung mulus dan laksana perjalanan mendaki gunung ada jatuh bangunnya ketika menyadari bahwa rakyatnya juga mendambakan sejahtera/makmur.
Ketika Deng Xiaoping, salah satu tokoh besar abad 20 semasa hidupnya pernah mengungkapkan bahwa bagi bangsa Cina menjadi kaya secara terhormat bukanlah dosa.
Banyak pengamat yang waktu itu heran mengapa justru di negara Cina yang belum mantap ekonomi pasar sosialis ungkapan demikian muncul. Belum lagi masuknya era informasi dengan kehebatan teknologi informasi, teknologi proses dan pembangunan infrastruktur manusia, pengetahuan dan fisik yang ikut membuka “tirai bamboo” Cina.
Cina, Inspirasi yang Tak Pernah Lekang
October 13, 2006LEBIH dari sekadar budayanya yang telah berusia ribuan tahun, diaspora masyarakat Cina ke berbagai belahan dunia adalah salah satu unsur yang membuat kelompok masyarakat ini dikenal di pelosok dunia. Cara hidup mereka yang cenderung eksklusif dan sangat kuat mempertahankan tradisi, membuat mereka menjadi kelompok yang terlihat eksotis-menurut sudut pandang Barat-suatu cara pandang yang telah mendapat kritik karena memandang masyarakat lain berdasarkan kacamata Barat.Imigran dari Cina pertama telah ada di Indonesia bahkan sebelum Belanda merapatkan perahunya di Pelabuhan Sunda Kelapa pada 13 November 1596. Mereka telah menetap dan bertani di seputaran apa yang sekarang dikenal sebagai kawasan Jakarta Kota dan masuk dalam jaringan perdagangan rempah-rempah yang bergerak sampai ke Cina dan Jepang.
Belajar Falsafah di Kelenteng…
October 12, 2006Jumat, 03 September 2004
KELENTENG-kelenteng yang meriah dengan warna merah mencolok khas simbol kemakmuran bagi etnis Tionghoa mewarnai sepanjang jalan di kawasan pecinan Kota Semarang. Bau yong tswa atau yang dikenal dengan hio juga mengharumkan setiap sudut jalan itu.
KELENTENG-kelenteng di sana memang tak pernah henti membakar yong tswa. Ini karena para pemeluk Konghucu selalu menyematkannya ke dalam abu yong tswa yang habis terbakar seusai menyembah para dewa yang telah memberikan kemakmuran hidup.
Menuju Indonesia Maju yang Inklusif
October 12, 2006Minggu, 15 Februari 2004
Menghilangkan Semua Praktik Diskriminasi
Tulisan ini diilhami judul disertasi Fuad Hasan beberapa dekade silam, yaitu Kita dan Kami, yang sesungguhnya merupakan persoalan krusial bangsa ini sekarang dan dalam menuju masa depan. Kita dan kami adalah kata ganti orang kedua jamak yang cukup unik dalam bahasa Indonesia.
Dalam bahasa asing seperti Inggris atau Prancis, kedua kata ganti tersebut diwakili dengan we atau nous. Padahal, kita adalah kata ganti yang inklusif dan kami adalah kata ganti yang eksklusif. Orang asing yang belajar bahasa Indonesia sering tertukar dalam menggunakan kata kita dan kami itu.
Adat Pernikahan
October 11, 2006Sumber : Jelajah Vol 3 Tahun 1999
Masyarakat Tionghoa di Indonesia adalah masyarakat patrilinial yang terdiri atas marga / suku yang tidak terikat secara geometris dan teritorial, yang selanjutnya telah menjadi satu dengan suku-suku lain di Indonesia. Mereka kebanyakan masih membawa dan mempercayai adat leluhurnya. Tulisan ini membahas dua upacara adat yang cukup dominan dalam kehidupan yaitu tentang adat pernikahan dan adat kematian (editor: adat kematian ada di posting terpisah).
Sejarah dan Makna Tiong Chiu
October 10, 2006Kamis, 05 Oktober 2006 – oleh Anly Cenggana SH *)
Depresi Sosial Budaya Tionghoa
Perkataan Tiong Chiu berasar dari kata Tiong berarti tengah dan Chiu berarti musim rontok, jadi boleh dikatakan sebutan Tiong Chiu arti secara harafiah berarti pertengahan musim rontok. Namun demikian masyarakat lebih kenal dengan sembahyang Tiong Chiu Pia sebenarnya penyebutan ini tidak tepat/salah kaprah namun kenyataan dalam kebiasaan masyarakat tetap demikian.
Perayaan sembahyang kue bulan tahunan setiap tanggal 15 bulan delapan kalender Imlek, untuk tahun ini memasuki tahun Imlek ke 2557 tanggalan masehi jatuh pada tanggal 6 Oktober 2006. Pada hari itulah bulan paling bulat dan paling terang sepanjang tahun, karena pada hari itu jarak bulan dengan bumi dan bentuk kue yang bulat melambangkan terangnya bulan menyinari bumi.
Posted by RP
Posted by RP
Posted by RP