Ini bentuk rencana dari daftar panggilan kinship. Belum kepikir bagaimana menampilkannya dengan lebih bagus. Saya baru buat sedikit dalam bhs. Hokkian (dialek Xiamen), nanti akan ditambahkan.
Sinopis Cerita: PATEKOAN & KAPITEIN GAN DJIE
December 25, 2006oleh David Kwa
Gan Djie adalah seorang Kapitein der Chineezen yang mempunyai riwayat baik dan luar biasa. Ia adalah kapitein der Chineezen ketiga di Batavia, menggantikan Phoa Beng Gam. Istrinya adalah seorang perempuan Bali. Perempuan inilah yang kemudian menggantikan kedudukannya sebagai Kapitein der Chineezen selama 12 tahun setelah ia wafat.
——————–
Gan Djie adalah seorang Tionghoa totok yang berasal dari Ciangciu, sebuah kota keresidenan di bagian selatan Propinsi Hokkian. Dalam usianya yang sangat muda ia datang ke Gresik mengikuti kakak laki-lakinya yang sudah terlebih dahulu datang ke Jawa dan kebetulan sedang pulang ke Cina dan henda kembali pula ke Jawa. Di Gresik, Ia membantu kakaknya berdagang hasil bumi.
Gan Djie seorang yang jujur, ramah, dan bersemangat tinggi, sehingga disukai banyak orang. Ia rajin sembahyang dan di beberapa waktu ia juga suka melakukan pang-she ( melepaskan makhluk hidup yang tengah menderita ) – umumnya burung atau ikan – suatu perbuatan bajik dalam pandangan agama Budha.
Pendekar-pendekar Komik Tionghua
December 25, 2006Medio 1960 – Medio 1980
SALAH satu bentuk kesenian moderen adalah komik alias cergam (cerita bergambar). Sayang sekali sekarang komik Indonesia mengalami ‘mati suri’, belum lahir lagi komikus-komikus seperti pada 25 tahun silam. Lihat di toko buku-toko buku, rak-rak dipenuhi manga (komik Jepang), terjemahan komik Mandarin (Hong Kong-Singapura) serta alihbasa komik superhero Amerika.
Aku sendiri adalah penikmat komik sejak usia tiga tahun. Sempat mengenyam masa keemasan komik Indonesia pada era medio tahun 1960-an sampai dengan medio 1980-an.
Dampak Pengakuan Keislaman Cheng Ho
December 20, 2006Oleh AM Adhy Trisnanto
‘Islam tidak akan berkurang derajatnya, meskipun ada peran orang-orang China di dalamnya. Di sini orang lupa bahwa keislaman China lebih tua ketimbang Jawa. Orang-orang China telah mengenal Islam di saat masyarakat Jawa hidup dalam dunia berhala dan klenik.’ (Soemanto Al Qurtuby dalam Seminar Membincang Kontribusi Tionghoa dalam Proses Islamisasi di Indonesia, 19 Maret 2005).
MAJALAH sekelas National Geographic dengan tegas menyatakan Cheng Ho adalah seorang Tionghoa muslim. Tentu saja pernyataan tadi berangkat dari dukungan data, bukan sekadar legenda.
National Geographic Society memiliki reputasi sebagai organisasi ilmiah dan nirlaba yang terlibat dalam lebih dari 8.000 eksplorasi dan penelitian sejak 1888. Namun, di Indonesia, keislaman Cheng Ho masih saja jadi kontroversi, baik di komunitas Tionghoa maupun Islam. Keislaman Cheng Ho seakan diterima dengan setengah hati.
Pemakaman Melayu-Islam di Wihara Ancol
December 19, 2006Oleh: Iwan Santosa
Kota Semarang memang punya Kuil Gedung Batu sebagai peninggalan Laksamana Besar Cheng Ho (Zheng He dalam bahasa Mandarin), tetapi Jakarta juga memiliki peninggalan serupa, yakni Wihara Buddha Bhakti Ancol.
Berawal dari sebuah Kelenteng An Xu Da Bo Gong Miao (Kelenteng Toapekong Ancol), kompleks peribadatan yang didirikan sekitar 1650 Masehi itu masih berdiri kukuh dan menjadi pertanda hubungan baik Tiongkok-Pasundan di tepi pantai Ancol.
Tempat itu menjadi peribadatan umat Buddha, Konfusius, sekaligus peziarahan bagi umat Muslim di Betawi tempo dulu hingga kini. Penyebabnya adalah sejumlah makam tokoh Sunda dan beragama Islam sekaligus keberadaan Sam Po Kong yang Muslim di tempat itu menjadikannya sebagai tempat pertemuan umat dari pelbagai agama.
7 Pedang dari Gunung Thian
December 8, 2006
Pada tahun 1960-an dulu terbit serial cersil “Thian San Tjit Kiam” (”Tujuh Pedang dari Gunung Thian”). Gunung Thian atau Mahameru adalah gunung tertinggi di Daratan China, hingga disebut Gunung Langit, yang terletak di Provinsi Sinkiang.
Diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh Gan KL dari Semarang. Cersil tersebut mendapat sambutan luar biasa, melebihi prequelnya, serial “Tjauw Guan Eng Hiong” (”Pendekar dari Padang Rumput”), yang bukunya diterjemahkan oleh OKT dari Jakarta.
Aslinya merupakan karya Liang Yu-shen (baca: Liang Ie-shen), sastrawan cerita silat yang diakui lebih berbobot sastra (dalam bahasa Mandarin) tulisan-tulisannya ketimbang karya Chin Yung (Louis Cha) yang lebih ngepop.
Keragaman dalam Damai
December 8, 2006Kompas, Kamis, 28 Juli 2005
Oleh: Andreas Yumarma
Pertemuan interfaith di Bali menarik disimak pesannya bagi kebersamaan dan kedamaian. Hal ini disebabkan bukan karena tragedi kekerasan terhadap Ahmadiyah di Bogor atau konflik bernuansa agama di berbagai negeri, tetapi lebih karena keparahan mindset warga yang kian kehilangan rasa kemanusiaan dan keterlibatan ikut merasakan kesusahan orang.
Penghayatan kehidupan agama dan keyakinan, entah itu lima agama besar yang diakui di negeri ini atau aliran-aliran kepercayaan dan keyakinan, ternyata belum mampu mengubah arah egosentrisme menjadi altruisme. Kesalehan dan kesosialan semu tidak jarang menjelma menjadi kesombongan rohani yang ternyata masih berfokus pada diri sendiri.
Ma Gwe - Dilakukan Menyambut Kelahiran Anak
December 8, 2006Oleh Periksa Ginting
Bogor—Lain lubuk lain pula ikannya. Demikian orang selalu berkata dalam mengungkapkan perbedaan kondisi yang terjadi antara satu daerah dengan daerah lainnya. Tradisi atau kebudayaan antara satu suku dengan suku yang lain juga berbeda, walau terkadang tujuannya sama.
Tradisi yang merupakan warisan leluhur suatu suku atau bangsa tersebut hingga saat ini masih tetap dipertahankan, meskipun ada yang sudah mengalami perubahan. Bagi warga keturunan Tionghoa, acara syukuran atas kelahiran seorang anak tetap dipertahankan hingga saat ini.
Kuncir (Taucang)
December 8, 2006Tanya:
Dalam kesempatan ini saya ingin minta sharing Anda tentang kuncir (taucang?) yang dimiliki para pria di masa lalu. Bisakah Anda memberikan ulasan, latar belakang, makna, waktu, serta mengapa dan kapan akhirnya kebiasaan itu tak lagi berlanjut.
Informasi ini saya sampaikan, karena dalam waktu dekat saya akan menulis artikel singkat, dengan sedikit menyinggung masalah kuncir ini.
Pergeseran Identitas Warga Keturunan Tionghoa
December 1, 2006JAKARTA - Sebagian besar warga keturunan Tionghoa di Indonesia tidak menggunakan nama Tionghoa yang diberikan oleh orang tua mereka. Hal ini memperlihatkan adanya pergeseran identitas diri pada individu keturunan Tionghoa di Indonesia dalam konteks keterikatan kebudayaan dan kebangsaan.
Prasasti Jawa-China di Keraton Yogyakarta
December 1, 2006 HANYA karena beda tafsir dalam membaca catatan sejarah, sejak dua bulan lalu antara China dan Jepang terjadi perselisihan yang masih juga tetap belum terpulihkan.
Meski pemerintah di Beijing terlihat menahan diri, tetapi untuk sebagian masyarakat China, kekejaman saat pendudukan Jepang agaknya sulit dihapuskan dari ingatan. Karena itu, setiap kali muncul ingatan terhadap masa penyerbuan pasukan Jepang ke China pada pra-Perang Dunia II muncul, seperti membangkitkan kembali naga tidur.
Posted by RP
Posted by RP
Posted by RP