February 18, 2007
18 Feb 2007
Oleh Agust Riewanto
Hingga hari ini masih banyak peraturan perundang-undangan yang berpotensi melahirkan diskriminasi dan pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM) bagi agama mayoritas etnis Tionghoa Khonghucu di Indonesia. Salah satunya adalah kebijakan Kantor Catatan Sipil yang menolak proses pencatatan perkawinan etnis Tionghoa yang beragama Khonghucu, karena agama ini dianggap di luar agama resmi versi pemerintah.
Padahal sejak ditetapkan UU No1 Tahun 1974 tentang Perkawinan, maka mulai saat itu tidak berlaku lagi peraturan perkawinan Adat, hukum Islam, Ordonansi Perkawinan Kristen Indonesia (HOCI), hukum perkawinan Perdata Barat (KUHPerdata) dan perkawinan campur (reglemennt Gemengde Huwelijken/RGH). Oleh karena itu UU No 1 tahun 1974 adalah merupakan produk hukum perkawinan yang spektakuler, karena merupakan upaya pengkodifikasian hukum perkawinan Indonesia yang cukup komprehensif.
Bersamaan dengan diundangkannya UU.No 1/1974 itu, diterbitkan pula Peraturan Pemerintah (PP) No 9 Tahun 1975 tentang Pelaksanaan UU No 1/1974. Namun, patut disayangkan dalam UU perkawinan ini, masih bersemayam beberapa sisi diskriminasi terhadap agama Khonghucu (agama mayoritas etnis Tionghoa).
Read the rest of this entry »
5 Comments |
Essay-Makalah, Serba-serbi |
Permalink
Posted by RP
February 18, 2007
oleh: William Chang
Katastrofe kosmik belum reda. Tanah longsor, banjir, flu burung, demam berdarah dengue (DBD) masih menimpa beberapa daerah. Bagaimanakah ber-Sin Nien dalam keadaan ini?
Sebagai pesta yang sarat makna kosmik, kultural, dan spiritual, Sin Nien (Tahun Baru Imlek alias Pesta Musim Semi) dirayakan di seluruh dunia. Kuasa “hantu- hantu” pengganggu manusia dan jagat raya dihalau dengan membakar batang bambu kering dan menebar warna merah. Dunia yang diguncang roh-roh jahat harus distabilkan dan diharmonikan melalui ritus kelahiran kembali (cosmic rebirth). Dunia baru sedang didambakan.
Kesadaran akan kuasa adikodrati di dalam dan luar diri manusia menempa watak kosmik manusia. Selaku mikrokosmos, manusia seharusnya arif memperlakukan makrokosmos karena koneksitas kedua kosmos amat memengaruhi irama hidup manusia. Ternyata, kecenderungan buruk mikrokosmos (egoisme, hedonisme, kerakusan, liberalisme) telah merusak seluruh sistem makrokosmos (perubahan iklim, musim dan siklus kosmos). ebaliknya, korupsi makrokosmos menggelisahkan ketenangan hidup mikrokosmos.
Read the rest of this entry »
No Comments » |
Essay-Makalah, Serba-serbi |
Permalink
Posted by RP
February 18, 2007
oleh: Iwan santosa
Sesaji lengkap berupa daging, buah, penganan dan arak di meja abu menjelang Imlek merupakan kewajiban keluarga Tionghoa sebagai bakti kepada leluhur. Namun, hanya sepiring nasi, sate dari tetangga dan air yang bisa disediakan Encek Ouw Ceng Lim (74) di meja abu.
Separuh rumah sewaan termasuk meja abu, terapung di atas susunan papan di atas genangan akibat banjir Kali Angke. Untuk menghadap leluhur, dia harus berdiri nyaris menyentuh genting di bagian belakang rumah yang masih terendam air.
Padahal sebelumnya, setiap sembahyang Imlek, persembahan lengkap selalu diusahakan oleh keluarga miskin itu.
“Tiga hari lagi Sin Cia (Tahun Baru dalam dialek Hokkian-Red) kami tidak punya uang. Semua terendam banjir. Paling tidak saya masih bisa persembahkan nasi dan air di meja abu. Untuk jalan ke wihara saya sudah tidak kuat,” ujar Encek Ceng Lim yang tinggal bersama isteri, anak lelaki dan lima cucu perempuan di Gang Berdikari, Kelurahan Kapuk, Kecamatan Cengkareng, sejak tahun 1965.
Ceng Lim kelahiran Cikupa. Tangerang mengenang, sebelum banjir 2007 menghantam pemukiman di Kapuk-yang banyak dihuni warga Tionghoa Benteng-dia selalu mendoakan almarhum ayahnya Ouw Ceng Lam yang meninggal tahun 1970-an dan bersemangat menyambut tahun baru.
Read the rest of this entry »
1 Comment |
Essay-Makalah, Serba-serbi |
Permalink
Posted by RP
February 18, 2007
oleh: P Agung Wijayanto
Beberapa tahun lalu, pemerintah Indonesia menyatakan, perayaan Imlek sebagai hari libur nasional. Sejak itu menjamur berbagai model perayaan Imlek yang ditawarkan berbagai kalangan, terutama dunia perdagangan.
Sekarang pun ada banyak anggota masyarakat Indonesia yang dengan penuh semangat merayakan Imlek. Mereka yang tidak merayakan Imlek pun tidak terlalu dirugikan, paling tidak bisa menikmati kesempatan berlibur pada hari raya itu.
Penekanan perayaan Imlek tanpa memerhatikan konteks Indonesia akan menyebabkan irrelevansi perayaan itu bagi sebagian besar masyarakat Indonesia. Misalnya, Imlek ditekankan sebagai perayaan musim semi. Indonesia tidak mengenal adanya empat musim. Karena itu, pemasangan pernik-pernik lambang musim semi tidak akan banyak menolong penghayatan perayaan Imlek.
Dalam konteks masyarakat Indonesia yang plural, penekanan secara berlebihan perayaan Imlek akan dapat meninggalkan permasalahan yang dapat membahayakan keutuhan bangsa.
Read the rest of this entry »
7 Comments |
Essay-Makalah, Serba-serbi |
Permalink
Posted by RP
February 16, 2007
Oleh Benny G Setiono*
Pada 18 Februari 2007 masyarakat Tionghoa di Indonesia kembali akan merayakan Tahun Baru Imlek 2558 secara terbuka dan meriah, yang pada masa rezim Orde Baru mustahil dilakukan karena adanya larangan dari pihak penguasa yang sangat otoriter dan represif.
Read the rest of this entry »
5 Comments |
Essay-Makalah |
Permalink
Posted by RP