Solidaritas “Sin Nien”

oleh: William Chang

   Katastrofe kosmik belum reda. Tanah longsor, banjir, flu burung, demam berdarah dengue (DBD) masih menimpa beberapa daerah. Bagaimanakah ber-Sin Nien dalam keadaan ini?
   Sebagai pesta yang sarat makna kosmik, kultural, dan spiritual, Sin Nien (Tahun Baru Imlek alias Pesta Musim Semi) dirayakan di seluruh dunia. Kuasa “hantu- hantu” pengganggu manusia dan jagat raya dihalau dengan membakar batang bambu kering dan menebar warna merah. Dunia yang diguncang roh-roh jahat harus distabilkan dan diharmonikan melalui ritus kelahiran kembali (cosmic rebirth). Dunia baru sedang didambakan.
   Kesadaran akan kuasa adikodrati di dalam dan luar diri manusia menempa watak kosmik manusia. Selaku mikrokosmos, manusia seharusnya arif memperlakukan makrokosmos karena koneksitas kedua kosmos amat memengaruhi irama hidup manusia. Ternyata, kecenderungan buruk mikrokosmos (egoisme, hedonisme, kerakusan, liberalisme) telah merusak seluruh sistem makrokosmos (perubahan iklim, musim dan siklus kosmos). ebaliknya, korupsi makrokosmos menggelisahkan ketenangan hidup mikrokosmos.

   Menurut mitos klasik Tiongkok, mikrokosmos secara kodrati menaati makrokosmos. Energi bumi, misalnya lumpur Sidoarjo, mewarnai kandungan bumi, sedangkan kekuatan dalam diri manusia mewujudkan ajaran dan prinsip moral. Terasa amat signifikan jika rekonsiliasi, tali persaudaraan, dan saling menghargai dirayakan dalam Sin Nien.

“Fung pau”
   Kini, Sin Nien perlu ditransformasi menjadi perayaan solidaritas (kesetiakawanan) sosial bersama kaum miskin, malang, marjinal, dan sengsara. Budaya positif fung pau (amplop merah berisi duit) meringankan derita sesama dan tidak disalahgunakan sebagai salah satu faktor penyubur korupsi di Tanah Air.
   Kesetiakawanan sosial ini seiring kebijakan Thien (Langit) yang selalu menghargai hati dan perilaku baik manusia. Thien akan mengganjari manusia menurut perbuatannya (baik atau jahat). Diharapkan, amal-bakti Sin Nien akan mendatangkan ganjaran setimpal pada masa depan seperti tersingkap dalam syair tradisional Bong kim ban liong.
   Terlepas dari pengaruh pragmatisme, tradisi fung pau mengingatkan pentingnya sistem kontrak sosial yang baik dalam hidup manusia sehingga beban hidup diringankan dan kesejahteraan hidup dirintis sejak muda. Manusia dilatih rela berkorban dan melakukan amal-bakti. Nilai kesetiakawanan dan keadilan sosial terkandung tradisi fung pau sebagai simbol keberuntungan.

Kontekstualisasi “Sin Nien”
   Kesadaran akan konteks sosial, ekonomi, politik, hukum, dan kemajemukan budaya, mewarnai pandangan dan sikap hidup dalam merayakan Sin Nien. Hingga kini, di sejumlah daerah Sin Nien telah menjadi semacam pesta rakyat. Masyarakat menganggap pesta ini sebagai bagian kebersamaan, terasa terutama pada perayaan Cap Go Me hari ke-15 setelah Sin Nien, yang melibatkan aneka ragam anasir sosial.
   Kebaruan Sin Nien ditemukan dalam sikap reformatif dari anggota komunitas Tionghoa agar tidak terbelenggu ritualisme, tetapi berusaha memaknai Sin Nien dengan kearifan-kearifan tradisional-spiritual dalam konteks nasional. Pembersihan musim semi (spring-cleaning) tidak hanya mencakup sudut-sudut rumah, tetapi pola pikir, cara pandang dan perilaku manusia dalam kemajemukan sosial. Jiwa antikorupsi dalam perayaan ini mendorong komunitas Tionghoa mendukung pemerintah dalam memerangi aneka bentuk korupsi, kolusi dan nepotisme (KKN).
   Sin Nien sebaiknya menjadi momentum istimewa untuk memperbaiki mutu hidup kemanusiaan dari perspektif rohani, kultural, dan sosial sehingga yang diutamakan bukan lagi bunyi mercon, tetapi detik-detik keheningan untuk merenungkan kembali makna hidup anak-anak manusia pada masa depan. Manusia tidak lagi hanya belajar sejarah, namun belajar dari sejarah dan menyusun langkah-langkah perbaikan pada masa depan.

Kesetiakawanan sosial tanpa misi kemanusiaan akan kehilangan makna sosial.
   Orientasi Sin Nien 2558 mengacu kebajikan sempurna Kong Fu-tze yang disampaikan kepada Tsze-chang tentang kepribadian yang “berwibawa, murah hati, ikhlas, serius, dan baik hati”. Kehadiran pribadi-pribadi virtual itu bakal menghadirkan kembali sukacita musim semi bagi mereka yang kehilangan sanak famili, tempat tinggal, sakit, sengsara, disingkirkan, dan didiskriminasi. “Kung xi ta cia sien nien cin phu”!

William Chang Pemerhati Masalah-masalah Sosial
KOMPAS - Sabtu, 17 Februari 2007

 

Leave a Reply