<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	>
<channel>
	<title>Comments on: Seputar Kebangkitan Organisasi Tionghoa</title>
	<atom:link href="http://iccsg.wordpress.com/2007/09/03/seputar-kebangkitan-organisasi-tionghoa/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://iccsg.wordpress.com/2007/09/03/seputar-kebangkitan-organisasi-tionghoa/</link>
	<description>Studying Indonesian-Chinese culture</description>
	<pubDate>Sun, 12 Oct 2008 10:38:51 +0000</pubDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=MU</generator>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
		<item>
		<title>By: ketel</title>
		<link>http://iccsg.wordpress.com/2007/09/03/seputar-kebangkitan-organisasi-tionghoa/#comment-3208</link>
		<dc:creator>ketel</dc:creator>
		<pubDate>Tue, 22 Jan 2008 16:48:45 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://iccsg.wordpress.com/2007/09/03/seputar-kebangkitan-organisasi-tionghoa/#comment-3208</guid>
		<description>bagi teman-teman yang mempunyai kontak didi kwartadana, mona lohanda tolong beritahu saya dong. soalnya ada beberapa hal yang penting saya tanyakan, sehubungan dengan penulisan skipsi saya yang berjudul "Cina bagai mata uang: studi kasus konflik mitos antara Cina dengan Pribumi (islam)" 
nomor kontak dapat dikirim ke alamat 
sasi_ireng@yahoo.co.id</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>bagi teman-teman yang mempunyai kontak didi kwartadana, mona lohanda tolong beritahu saya dong. soalnya ada beberapa hal yang penting saya tanyakan, sehubungan dengan penulisan skipsi saya yang berjudul &#8220;Cina bagai mata uang: studi kasus konflik mitos antara Cina dengan Pribumi (islam)&#8221;<br />
nomor kontak dapat dikirim ke alamat<br />
<a href="mailto:sasi_ireng@yahoo.co.id">sasi_ireng@yahoo.co.id</a></p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: ketel</title>
		<link>http://iccsg.wordpress.com/2007/09/03/seputar-kebangkitan-organisasi-tionghoa/#comment-3207</link>
		<dc:creator>ketel</dc:creator>
		<pubDate>Tue, 22 Jan 2008 16:16:43 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://iccsg.wordpress.com/2007/09/03/seputar-kebangkitan-organisasi-tionghoa/#comment-3207</guid>
		<description>kebangkitan ketionghoaan mulai tumbuh pada awal tahun 1900-an. mereka adalah kaum peranakan, yang telah mengalami modernisme. dilain sisi ada beberapa hal yang harus dipertanyakan ketika mereka berorientasi ke cina daratan. mereka masih uforia terhadap sebuah perlindungan dari negara asal, lantas dimana pepatah bumi dijinjing langit diinjak, he he he. saya tertarik dengan komunikasi budaya yang berawal dari sebuah rekonsiliasi ingatan dan pemikiran. sebab selama ini yang ada hanyalah ruang kekuasaan yang melegitimasi sebuah keberadaan. ( konyol banget sih), masalahlah hampir semua etnis yang ada di Indonesia adalah minoritas. rekonsiliasi sejarah ( pemikiran dan ingatan) adalah sebuah terobosan baru untuk menafsirkan sebuah peristiwa sejarah. 
        
mitos adalah bola salju yang terus menggelinding dari generasi kegenerasi dari kedua belah pihak (pribumi dan WNI) yang mana hal ini akan terus menjadi sebuah bom waktu yang jika meledak mengalahkan dampak dari Tsunami di Aceh.

untuk melihat ini mulailah kita berkomunikasi secara budaya, dimana kita akan sama duduk bersama dalam sebuah jamuan makan dimana tak ada piring, sendok, namun hanya tangan yang disa dipergunakan sebagai alat untuk makan, bagai mana?</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>kebangkitan ketionghoaan mulai tumbuh pada awal tahun 1900-an. mereka adalah kaum peranakan, yang telah mengalami modernisme. dilain sisi ada beberapa hal yang harus dipertanyakan ketika mereka berorientasi ke cina daratan. mereka masih uforia terhadap sebuah perlindungan dari negara asal, lantas dimana pepatah bumi dijinjing langit diinjak, he he he. saya tertarik dengan komunikasi budaya yang berawal dari sebuah rekonsiliasi ingatan dan pemikiran. sebab selama ini yang ada hanyalah ruang kekuasaan yang melegitimasi sebuah keberadaan. ( konyol banget sih), masalahlah hampir semua etnis yang ada di Indonesia adalah minoritas. rekonsiliasi sejarah ( pemikiran dan ingatan) adalah sebuah terobosan baru untuk menafsirkan sebuah peristiwa sejarah. </p>
<p>mitos adalah bola salju yang terus menggelinding dari generasi kegenerasi dari kedua belah pihak (pribumi dan WNI) yang mana hal ini akan terus menjadi sebuah bom waktu yang jika meledak mengalahkan dampak dari Tsunami di Aceh.</p>
<p>untuk melihat ini mulailah kita berkomunikasi secara budaya, dimana kita akan sama duduk bersama dalam sebuah jamuan makan dimana tak ada piring, sendok, namun hanya tangan yang disa dipergunakan sebagai alat untuk makan, bagai mana?</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Tulus Subardjono</title>
		<link>http://iccsg.wordpress.com/2007/09/03/seputar-kebangkitan-organisasi-tionghoa/#comment-2769</link>
		<dc:creator>Tulus Subardjono</dc:creator>
		<pubDate>Fri, 05 Oct 2007 09:05:47 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://iccsg.wordpress.com/2007/09/03/seputar-kebangkitan-organisasi-tionghoa/#comment-2769</guid>
		<description>Jitu sekali Pak Benny G Setiono, ini.
Organisasi Tionghoa harus juga memikirkan komunitas Tionghoa yang kurang beruntung (baca : secara ekonomi hidup pas-pasan) dan ini jumlahnya cukup banyak, terutama mereka yang telah berbaur lama dalam masyarakat. 

Organisasi kebudayaan menjadi alternatif yang baik, sebab bisa lebih akrab dan terjalin dialog budaya antar etnis di Indonesia tanpa kehilangan jatidiri masing masing.  Menurut saya, orang akan dapat menghargai budaya orang lain kalau dirinya juga menghargai budayanya sendiri. Bila budaya kita dihargai, maka kitapun akan mudah menghargai budaya liyan.

Organisasi kebudayaaan Tionghoa amat jarang, lebih banyak yang bersifat hobby, kepentingan ekonomi dan internal mereka sendiri. Saya dapat memahami apabila kemudian terjebak pada acara hura hura atau hedonis, dan ini justru menjauhkan dengan komunitas lingkungannya. Bahkan warga Tionghoa yang kurang mampupun tidak mendapat tempat.   

Warga Tionghoa pada umumnya tidak memiliki pengalaman organisasi sosial sebab pergaulan sosialnya sangat terbatas -apalagi anak mudanya- sehingga nampak canggung bila beroganisasi sosial (bahkan enggan atau merasa hanya buang buang waktu saja). Mereka lebih mau memberi uang/materi, akibatnya keterlibatan warga Tionghoa dalam pergaulan sosial hanya dipandang dari aspek uangnya saja. Bukan orangnnya. Akibatnya banyak warga Tionghoa hanya dimanfaatkan uangnya oleh masyarakat luas. Ingat kasus, Kerusuhan Solo tahun 1998, sehari sebelumnya warga Tionghoa Solo menghimpun dana untuk bantuan sembako, dibagikan pada masyarakat,  kalo gak salah mencapai ratusan juta rupiah. Tapi apa yang terjadi? Esoknya kerusuhan terjadi juga... ironis bukan. Siapa yang bela?

Nah organisasi kebudayaan akan menambah lancar komunikasi antar budaya, dan menambah keakraban sesama warga, sebab ada sentuhan kemanusiaannya.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Jitu sekali Pak Benny G Setiono, ini.<br />
Organisasi Tionghoa harus juga memikirkan komunitas Tionghoa yang kurang beruntung (baca : secara ekonomi hidup pas-pasan) dan ini jumlahnya cukup banyak, terutama mereka yang telah berbaur lama dalam masyarakat. </p>
<p>Organisasi kebudayaan menjadi alternatif yang baik, sebab bisa lebih akrab dan terjalin dialog budaya antar etnis di Indonesia tanpa kehilangan jatidiri masing masing.  Menurut saya, orang akan dapat menghargai budaya orang lain kalau dirinya juga menghargai budayanya sendiri. Bila budaya kita dihargai, maka kitapun akan mudah menghargai budaya liyan.</p>
<p>Organisasi kebudayaaan Tionghoa amat jarang, lebih banyak yang bersifat hobby, kepentingan ekonomi dan internal mereka sendiri. Saya dapat memahami apabila kemudian terjebak pada acara hura hura atau hedonis, dan ini justru menjauhkan dengan komunitas lingkungannya. Bahkan warga Tionghoa yang kurang mampupun tidak mendapat tempat.   </p>
<p>Warga Tionghoa pada umumnya tidak memiliki pengalaman organisasi sosial sebab pergaulan sosialnya sangat terbatas -apalagi anak mudanya- sehingga nampak canggung bila beroganisasi sosial (bahkan enggan atau merasa hanya buang buang waktu saja). Mereka lebih mau memberi uang/materi, akibatnya keterlibatan warga Tionghoa dalam pergaulan sosial hanya dipandang dari aspek uangnya saja. Bukan orangnnya. Akibatnya banyak warga Tionghoa hanya dimanfaatkan uangnya oleh masyarakat luas. Ingat kasus, Kerusuhan Solo tahun 1998, sehari sebelumnya warga Tionghoa Solo menghimpun dana untuk bantuan sembako, dibagikan pada masyarakat,  kalo gak salah mencapai ratusan juta rupiah. Tapi apa yang terjadi? Esoknya kerusuhan terjadi juga&#8230; ironis bukan. Siapa yang bela?</p>
<p>Nah organisasi kebudayaan akan menambah lancar komunikasi antar budaya, dan menambah keakraban sesama warga, sebab ada sentuhan kemanusiaannya.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Tjokro</title>
		<link>http://iccsg.wordpress.com/2007/09/03/seputar-kebangkitan-organisasi-tionghoa/#comment-2531</link>
		<dc:creator>Tjokro</dc:creator>
		<pubDate>Thu, 06 Sep 2007 01:33:22 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://iccsg.wordpress.com/2007/09/03/seputar-kebangkitan-organisasi-tionghoa/#comment-2531</guid>
		<description>Saya pikir negara tidak akan ambil pusing untuk urusan di luar warga negaranya. Kerusuhan di Solomon berbau politis dan persaingan antara RRC dan Taiwan. Keduanya punya misi politis dalam perang 'media'.
Tulisan Pak Benny di atas bagus sekali dan saya sangat setuju bahwa orang Tionghua harus "Luo di sheng gen".</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Saya pikir negara tidak akan ambil pusing untuk urusan di luar warga negaranya. Kerusuhan di Solomon berbau politis dan persaingan antara RRC dan Taiwan. Keduanya punya misi politis dalam perang &#8216;media&#8217;.<br />
Tulisan Pak Benny di atas bagus sekali dan saya sangat setuju bahwa orang Tionghua harus &#8220;Luo di sheng gen&#8221;.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Rudy Phoa</title>
		<link>http://iccsg.wordpress.com/2007/09/03/seputar-kebangkitan-organisasi-tionghoa/#comment-2523</link>
		<dc:creator>Rudy Phoa</dc:creator>
		<pubDate>Wed, 05 Sep 2007 04:03:38 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://iccsg.wordpress.com/2007/09/03/seputar-kebangkitan-organisasi-tionghoa/#comment-2523</guid>
		<description>Saya setuju sekali dgn pandangan bpk bahwa sifat orang Tionghoa sesuai semboyan "dimana bumi dipijak, disitu langit dijunjung". Maka organisasi2 Tionhoa harus masuk dalam mainstream "Bangsa Indonesia", TANPA menanggalkan identitas Tionghoanya. Perbedaan yang jelas dgn orang barat, semboyannya " dimana bumi dipijak, disitu bumi dikuasai". Kalau sekiranya semboyan orang Tionghoa sama dgn orang barat, maka benua Amerika dan Australia adalah jajahan orang Tionghoa. Ini kira2 sama kalau kita menolak masuk dalam mainstream "Bangsa Indonesia".

Memang dimasa lalu hubungan antar bangsa ada pasang surutnya dimana etnis orang Tionghoa menanggung getahnya (Baca: "Tionghoa dalam pusaran politik" karangan bapak). Bagaimana bisa membantu, mengurus diri sendiri saja masih sulit sekali. Tapi zaman telah berubah. Saya jakin bahwa "perlindungan" dari negara leluhur akan diberikan sekiranya diperlukan. Ini telah dibuktikan waktu terjadi kerusuhan di Solomon Islands belum lama berselang. RRT mengirim kapalnya untuk menyelamatkan orang2 keturunannya. Jadi bantuan dari "negara Leluhur" bisa diharapkan.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Saya setuju sekali dgn pandangan bpk bahwa sifat orang Tionghoa sesuai semboyan &#8220;dimana bumi dipijak, disitu langit dijunjung&#8221;. Maka organisasi2 Tionhoa harus masuk dalam mainstream &#8220;Bangsa Indonesia&#8221;, TANPA menanggalkan identitas Tionghoanya. Perbedaan yang jelas dgn orang barat, semboyannya &#8221; dimana bumi dipijak, disitu bumi dikuasai&#8221;. Kalau sekiranya semboyan orang Tionghoa sama dgn orang barat, maka benua Amerika dan Australia adalah jajahan orang Tionghoa. Ini kira2 sama kalau kita menolak masuk dalam mainstream &#8220;Bangsa Indonesia&#8221;.</p>
<p>Memang dimasa lalu hubungan antar bangsa ada pasang surutnya dimana etnis orang Tionghoa menanggung getahnya (Baca: &#8220;Tionghoa dalam pusaran politik&#8221; karangan bapak). Bagaimana bisa membantu, mengurus diri sendiri saja masih sulit sekali. Tapi zaman telah berubah. Saya jakin bahwa &#8220;perlindungan&#8221; dari negara leluhur akan diberikan sekiranya diperlukan. Ini telah dibuktikan waktu terjadi kerusuhan di Solomon Islands belum lama berselang. RRT mengirim kapalnya untuk menyelamatkan orang2 keturunannya. Jadi bantuan dari &#8220;negara Leluhur&#8221; bisa diharapkan.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
</channel>
</rss>
