December 26, 2006
Ini bentuk rencana dari daftar panggilan kinship. Belum kepikir bagaimana menampilkannya dengan lebih bagus. Saya baru buat sedikit dalam bhs. Hokkian (dialek Xiamen), nanti akan ditambahkan.
Read the rest of this entry »
4 Comments |
Adat dan Tradisi |
Permalink
Posted by RP
October 12, 2006
Jumat, 03 September 2004
KELENTENG-kelenteng yang meriah dengan warna merah mencolok khas simbol kemakmuran bagi etnis Tionghoa mewarnai sepanjang jalan di kawasan pecinan Kota Semarang. Bau yong tswa atau yang dikenal dengan hio juga mengharumkan setiap sudut jalan itu.
KELENTENG-kelenteng di sana memang tak pernah henti membakar yong tswa. Ini karena para pemeluk Konghucu selalu menyematkannya ke dalam abu yong tswa yang habis terbakar seusai menyembah para dewa yang telah memberikan kemakmuran hidup.
Read the rest of this entry »
5 Comments |
Adat dan Tradisi, Essay-Makalah, Serba-serbi |
Permalink
Posted by RP
October 11, 2006
Sumber : Jelajah Vol 3 Tahun 1999
Masyarakat Tionghoa di Indonesia adalah masyarakat patrilinial yang terdiri atas marga / suku yang tidak terikat secara geometris dan teritorial, yang selanjutnya telah menjadi satu dengan suku-suku lain di Indonesia. Mereka kebanyakan masih membawa dan mempercayai adat leluhurnya. Tulisan ini membahas dua upacara adat yang cukup dominan dalam kehidupan yaitu tentang adat pernikahan dan adat kematian (editor: adat kematian ada di posting terpisah).
Read the rest of this entry »
30 Comments |
Adat dan Tradisi |
Permalink
Posted by RP
September 7, 2006
PEMBUAT kue keranjang yang tetap bertahan di Kota Bogor itubernama Tjioe Tjie Siang (81) atau akrab dipanggil Iyek. Ia mengaku baru pertama kali dalam hidupnya menghadapi wartawan dan diwawancarai tentang usahanya membuat kue keranjang, melanjutkan usaha yang ditekuni almarhumah istrinya, Thung Eng Nio.
Read the rest of this entry »
No Comments » |
Adat dan Tradisi, Serba-serbi |
Permalink
Posted by RP
September 6, 2006
14 Februari adalah hari Valentine Barat yang diperingati luas di dunia. Namun sebenarnya orang Tionghoa juga punya hari valentine sendiri. Chinese Valentine memang masih lama, namun menyambut hari Valentine 14 Februari, saya turunkan juga tulisan tentang Chinese Valentine yang populer di kalangan Tionghoa di seluruh dunia.
Chinese Valentine disebut “Qi Shi“, yang artinya malam ketujuh di bulan tujuh penanggalan Imlek. Jadi Chinese Valentine jatuh pada tanggal 7 bulan 7 penanggalan Imlek. Asal usul perayaan hari kasih sayang ala Chinese ini berasal dari sebuah legenda yang diceritakan turun temurun.
Read the rest of this entry »
2 Comments |
Adat dan Tradisi, Serba-serbi |
Permalink
Posted by RP
September 6, 2006
Sumber : Kompas, 21 Januari 2004
GUBUK berdinding bilik tipis, beratap rumbia, dengan lantai tanah berukuran 3 x 3 meter itu penuh sesak dihuni keluarga Susanto (35), orang Tionghoa yang bermukim di Tanjung Burung, Kabupaten Tangerang, Provinsi Banten.
Di dalam gubuk sangat sederhana itu tidak ada pembatas ruangan. Hanya ada sebuah “dapur” di sudut ruangan, sebuah lubang untuk jamban, dan dipan berkasur tipis tempat mereka tidur. Itulah properti milik Susanto yang berkulit gelap akibat terbakar panas Matahari saat mencari nafkah, mengayuh becak.
Read the rest of this entry »
4 Comments |
Adat dan Tradisi, Serba-serbi |
Permalink
Posted by RP
September 1, 2006
Tanya:
Shangdi artinya Tuhan, leluhur orang Tiongkok telah menyembah Shangdi sejak ribuan tahun lalu. Benarkah kesimpulan bahwa orang Tiongkok kuno sebenarnya telah mengenal monotheisme lebih dulu daripada agama-agama lainnya?
Jawab:
Pertama-tama, saya harus menghimbau untuk para penyimak tulisan saya ini untuk melepaskan dulu fanatisme agama masing-masing. Karena pembahasan saya ini hanya murni dari segi linguistik, tanpa bermaksud menyebabkan perseteruan lebih lanjut. Malah, lewat tulisan ini saya harap dapat menipiskan friksi pendapat di antara yang percaya bahwa Shangdi-nya Tiongkok kuno ada hubungannya dengan Trinitas Kristen dan yang menihilkan keyakinan tadi.
Read the rest of this entry »
1 Comment |
Adat dan Tradisi, Legenda-mitos, Serba-serbi |
Permalink
Posted by RP
August 17, 2006
Tanya:
Sayang sekali, sampai kini saya belum berhasil mendapatkan referensi tertulis maupun lisan mengenai makna singa batu tersebut.
Mungkin Rinto-heng, Xuan Thong-heng atau yang lain bisa memberikan konfirmasinya?
Read the rest of this entry »
2 Comments |
Adat dan Tradisi, Serba-serbi |
Permalink
Posted by RP
August 17, 2006
Tanya:
Nisan tradisional Tionghoa sangat banyak pernak-pernik tulisannya, apa makna dan apakah ada aturan tertentu dalam penulisan nisan tersebut?
Jawab:
Bongpay (Mandarin: Mu-bei) adalah sebutan dalam dialek Hokkian untuk papan nisan pada makam tradisional Tionghoa yang biasanya terbuat dari batu, marmer ataupun batu sejenis lainnya. Di atas bongpay biasanya terdapat tulisan-tulisan dalam karakter Han yang mengandung makna dan nilai artistik tersendiri. Bongpay biasanya selain menuliskan mengenai mendiang pemilik makam tadi, juga melambangkan bakti dari anak cucu sang mendiang.
Read the rest of this entry »
3 Comments |
Adat dan Tradisi |
Permalink
Posted by RP