Panggilan Kekerabatan Dalam Tradisi Tionghua

December 26, 2006

Ini bentuk rencana dari daftar panggilan kinship. Belum kepikir bagaimana menampilkannya dengan lebih bagus. Saya baru buat sedikit dalam bhs. Hokkian (dialek Xiamen), nanti akan ditambahkan.

Read the rest of this entry »


Ma Gwe - Dilakukan Menyambut Kelahiran Anak

December 8, 2006

Oleh Periksa Ginting
Bogor—Lain lubuk lain pula ikannya. Demikian orang selalu berkata dalam mengungkapkan perbedaan kondisi yang terjadi antara satu daerah dengan daerah lainnya. Tradisi atau kebudayaan antara satu suku dengan suku yang lain juga berbeda, walau terkadang tujuannya sama.
   Tradisi yang merupakan warisan leluhur suatu suku atau bangsa tersebut hingga saat ini masih tetap dipertahankan, meskipun ada yang sudah mengalami perubahan. Bagi warga keturunan Tionghoa, acara syukuran atas kelahiran seorang anak tetap dipertahankan hingga saat ini.

Read the rest of this entry »


Maksud dan Kegunaan dari Kata Kedua dari Nama Tionghua

November 29, 2006

1. Kenapa kebanyakan nama orang chinese terdiri tiga kata?
KH:
Nama Tionghoa terdiri dari sne (marga) dan mia (nama). Sebagian besar sne orang Tionghoa terdiri dari 1 huruf. Ada beberapa sne yang terdiri dari 2 huruf. Mia bisa terdiri dari 1 atau 2 huruf. Di Indonesia (Asia Tenggara) umumnya orang menggunakan 2 huruf untuk mia. Karena itu, kita lebih sering melihat nama Tionghoa yang terdiri dari 3 huruf (1 sne dan 2 mia). Misalnya: Kwik Kian Gie (郭建義), Siauw Giok Tjhan (萧玉燦).  Untuk Sne dengan 2 huruf, jika menggunakan nama 2 huruf maka total hurufnya menjadi 4 huruf. Misalnya: Auwjong Peng Koen (歐陽炳昆).

Read the rest of this entry »


Belajar Falsafah di Kelenteng…

October 12, 2006

Jumat, 03 September 2004

   KELENTENG-kelenteng yang meriah dengan warna merah mencolok khas simbol kemakmuran bagi etnis Tionghoa mewarnai sepanjang jalan di kawasan pecinan Kota Semarang. Bau yong tswa atau yang dikenal dengan hio juga mengharumkan setiap sudut jalan itu.
   KELENTENG-kelenteng di sana memang tak pernah henti membakar yong tswa. Ini karena para pemeluk Konghucu selalu menyematkannya ke dalam abu yong tswa yang habis terbakar seusai menyembah para dewa yang telah memberikan kemakmuran hidup.

Read the rest of this entry »


Adat Pernikahan

October 11, 2006

Sumber : Jelajah Vol 3 Tahun 1999

Masyarakat Tionghoa di Indonesia adalah masyarakat patrilinial yang terdiri atas marga / suku yang tidak terikat secara geometris dan teritorial, yang selanjutnya telah menjadi satu dengan suku-suku lain di Indonesia. Mereka kebanyakan masih membawa dan mempercayai adat leluhurnya. Tulisan ini membahas dua upacara adat yang cukup dominan dalam kehidupan yaitu tentang adat pernikahan dan adat kematian (editor: adat kematian ada di posting terpisah).

Read the rest of this entry »


Sejarah dan Makna Tiong Chiu

October 10, 2006

Kamis, 05 Oktober 2006 – oleh Anly Cenggana SH *)
Depresi Sosial Budaya Tionghoa
     Perkataan Tiong Chiu berasar dari kata Tiong berarti tengah dan Chiu berarti musim rontok, jadi boleh dikatakan sebutan Tiong Chiu arti secara harafiah berarti pertengahan musim rontok. Namun demikian masyarakat lebih kenal dengan sembahyang Tiong Chiu Pia sebenarnya penyebutan ini tidak tepat/salah kaprah namun kenyataan dalam kebiasaan masyarakat tetap demikian.
     Perayaan sembahyang kue bulan tahunan setiap tanggal 15 bulan delapan kalender Imlek, untuk tahun ini memasuki tahun Imlek ke 2557 tanggalan masehi jatuh pada tanggal 6 Oktober 2006. Pada hari itulah bulan paling bulat dan paling terang sepanjang tahun, karena pada hari itu jarak bulan dengan bumi dan bentuk kue yang bulat melambangkan terangnya bulan menyinari bumi.

Read the rest of this entry »


Asal usul makanan kecil Tjah Kwei

September 9, 2006

Tjah KweiTjah Kwei adalah makanan asal Tiongkok yang dibuat dari tepung trigu, ragi, soda, ammonium bicarbonat dan garam. Adonan kalau sudah “mekar” dibuat seperti tongkat yang panjangnya kira kira 15-20  cm., lalu dua tongkat dilekatkan menjadi satu. Kalau digoreng panjangnya menjadi kira kira 25 cm dan berwarna coklat.  Tjah kwei terkenal di Asia tenggara dan merupakan makanan kecil terutama bagi orang-orang Tionghoa. Di Solo, Jawa Tengah, Tjah Kwei dibuat oleh orang “pribumi” dan setiap malam pembeli selalu berderet-deret untuk antri. Untuk makanan pagi di daratan Tiongkok dan Taiwan Tjah-kwei dimakan bersama-sama dengan susu kedele adalah sarapan pagi yang nikmat.  Tjah Kwei di Solo dimakan baik oleh suku Tionghoa maupun oleh orang jawa Solo.

Read the rest of this entry »


Melestarikan Tradisi Melalui Kue Keranjang

September 7, 2006

PEMBUAT kue keranjang yang tetap bertahan di Kota Bogor itubernama Tjioe Tjie Siang (81) atau akrab dipanggil Iyek. Ia mengaku baru pertama kali dalam hidupnya menghadapi wartawan dan diwawancarai tentang usahanya membuat kue keranjang, melanjutkan usaha yang ditekuni almarhumah istrinya, Thung Eng Nio.

Read the rest of this entry »


Chinese Valentine Day

September 6, 2006

14 Februari adalah hari Valentine Barat yang diperingati luas di dunia. Namun sebenarnya orang Tionghoa juga punya hari valentine sendiri. Chinese Valentine memang masih lama, namun menyambut hari Valentine 14 Februari, saya turunkan juga tulisan tentang Chinese Valentine yang populer di kalangan Tionghoa di seluruh dunia.

Chinese Valentine disebut “Qi Shi“, yang artinya malam ketujuh di bulan tujuh penanggalan Imlek. Jadi Chinese Valentine jatuh pada tanggal 7 bulan 7 penanggalan Imlek. Asal usul perayaan hari kasih sayang ala Chinese ini berasal dari sebuah legenda yang diceritakan turun temurun.

Read the rest of this entry »


Imlek Sejati Milik Tionghoa Miskin

September 6, 2006

Sumber : Kompas, 21 Januari 2004

GUBUK berdinding bilik tipis, beratap rumbia, dengan lantai tanah berukuran 3 x 3 meter itu penuh sesak dihuni keluarga Susanto (35), orang Tionghoa yang bermukim di Tanjung Burung, Kabupaten Tangerang, Provinsi Banten.

Di dalam gubuk sangat sederhana itu tidak ada pembatas ruangan. Hanya ada sebuah “dapur” di sudut ruangan, sebuah lubang untuk jamban, dan dipan berkasur tipis tempat mereka tidur. Itulah properti milik Susanto yang berkulit gelap akibat terbakar panas Matahari saat mencari nafkah, mengayuh becak.

Read the rest of this entry »


Shangdi: Sebuah pembahasan dari segi linguis

September 1, 2006

Tanya:
Shangdi artinya Tuhan, leluhur orang Tiongkok telah menyembah Shangdi sejak ribuan tahun lalu. Benarkah kesimpulan bahwa orang Tiongkok kuno sebenarnya telah mengenal monotheisme lebih dulu daripada agama-agama lainnya?

Jawab:
Pertama-tama, saya harus menghimbau untuk para penyimak tulisan saya ini untuk melepaskan dulu fanatisme agama masing-masing. Karena pembahasan saya ini hanya murni dari segi linguistik, tanpa bermaksud menyebabkan perseteruan lebih lanjut. Malah, lewat tulisan ini saya harap dapat menipiskan friksi pendapat di antara yang percaya bahwa Shangdi-nya Tiongkok kuno ada hubungannya dengan Trinitas Kristen dan yang menihilkan keyakinan tadi.

Read the rest of this entry »


Dewa Pintu

August 30, 2006

Tanya:
Dewa pintu adalah karakter umum yang ada dalam kepercayaan tradisional Tionghoa. Bagaimana sejarah dewa pintu di dalam kebudayaan Tionghoa?

Read the rest of this entry »


Makna singa batu di depan arsitektur tradisional Tiongkok

August 17, 2006

Tanya:

Sayang sekali, sampai kini saya belum berhasil mendapatkan referensi tertulis maupun lisan mengenai makna singa batu tersebut.    
Mungkin Rinto-heng, Xuan Thong-heng atau yang lain bisa memberikan konfirmasinya?

Read the rest of this entry »


Tata-cara penulisan nisan (bongpay) tradisional Tionghoa

August 17, 2006

Tanya:
Nisan tradisional Tionghoa sangat banyak pernak-pernik tulisannya, apa makna dan apakah ada aturan tertentu dalam penulisan nisan tersebut?


Jawab:
Bongpay (Mandarin: Mu-bei) adalah sebutan dalam dialek Hokkian untuk papan nisan pada makam tradisional Tionghoa yang biasanya terbuat dari batu, marmer ataupun batu sejenis lainnya. Di atas bongpay biasanya terdapat tulisan-tulisan dalam karakter Han yang mengandung makna dan nilai artistik tersendiri. Bongpay biasanya selain menuliskan mengenai mendiang pemilik makam tadi, juga melambangkan bakti dari anak cucu sang mendiang.

Read the rest of this entry »


Lun gwee: Bulan kabisat dalam kalender Imlek

August 17, 2006

Tanya:
Kita mengenal istilah lun-gwee di dalam kalender Imlek. Apa sebenarnya lun-gwee ini? Mengapa harus ada lun-gwee? Mengapa lun-gwee kelihatan sepertinya tidak beraturan penentuannya?

Chinese calendar symbol
Jawab:
Masalah lun-gwee telah beberapa kali dibahas di milis oleh Bung KH, Bung Chris dan lain2nya dalam pembahasan tentang kalender Tionghoa. Sekarang saya akan coba membahas masalah lun-gwee saja.
Lun-gwee dapat dikatakan adalah bulan kabisat dalam kalender Imlek. Di dalam kalender Gregorian (Masehi) kita kenal tahun kabisat, di mana setiap 4 tahun sekali ada 29 hari dalam bulan Februari. Di dalam kalender Imlek, kita kenal bulan kabisat, di mana ada 2 bulan yang sama dalam setahun, artinya 1 tahun Imlek tersebut mempunyai 13 bulan.

Read the rest of this entry »