chavez-hu jintao

Sino-Venezuela dan Wafatnya Chavez

Wafatnya Presiden Chavez dinilai akan membawa dampak besar bagi hubungan Sino-Venezuelan. Selama ini Venezuela menjadi sumber minyak penting bagi Tiongkok .  Roda pembangunan di Tiongkok yang cepat meningkatkan kebutuhan energi sementara Venezuela juga membutuhkan bantuan finansial dari Tiongkok yang telah menjelma menjadi kekuatan ekonomi kedua terbesar didunia.

Penulis Tionghoa , Xu Shicheng, menulis biografi pertama Hugo Chavez dalam bahasa Mandarin. Xu menggambarkan Chavez sebagai pemimpin besar di Amerika Latin di abad 21. Buku yang berjudul “Biography of Hugo Chavez : From the Bolivarian Revolution to the Socialisme of 21st Century” diluncurkan di Kedubes Venezuela di Beijing di tahun 2011. Acara tersebut dihadiri oleh intelektual Tionghoa dan diplomat asing.

Chavez menjadi bagian dari sejarah Amerika Latin dan gerakan kirinya menulari kawasan lain seperti Argentina , Bolivia , Ecuador , Nicaragua , Peru dan Uruguay. Xu menganggap Chavez sebagai negarawan penting di dunia Amerika Latin dan dunia. Chavez menjadi pemimpin di negara Amerika Latin yang paling sering berkunjung ke Tiongkok , dengan total enam kunjungan , yang menjadi fakta yang membuktikan hubungan baik antara kedua negara.

Wafatnya Hugo Chavez meninggalkan tanda tanya besar akan arah hubungan bilateral Sino-Venezuelan dimasa mendatang.  Juru-bicara Kemenlu Tiongkok , Hua Chunying menyampaikan bela sungkawa menyusul wafatnya Chavez. Hua mengatakan bahwa Chavez adalah pemimpin besar dan sahabat baik rakyat Tiongkok yang telah membuat kontribusi signifikan terhadap hubungan kedua negara.

Sementara itu seorang analis via Bloomberg mengatakan bahwa administrasi pemerintahan pasca-Chavez kemungkinan akan lebih dekat ke Amerika Serikat. Dan Matt Ferchen via Voice of Russia menjelaskan bahwa kepentingan Tiongkok di Venezuela akan terpengaruh oleh kematian Chavez. Dengan besarnya investasi Tiongkok di Venezuela berarti Tiongkok akan senang jika pemimpin baru nanti melanjutkan kebijakan lama dan Venezuela tetap menjadi partner yang bisa dipercaya. Continue Reading

ecocentrisme versus egocentrisme

Hak Hak Alam

Photo Credit : transitionconsciousness.wordpress.com

Budaya-Tionghoa.Net | Pandangan dunia modern dewasa ini dipengaruhi oleh filsafat Materialisme Descartes dan pemikir-pemikir Materialisme seperti Newton, Bacon. Dan pengertian terhadap alam adalah mekanik dan menurut Bacon tujuan ilmu pengetahuan adalah untuk eksploitasi alam yang kemudian diperparah oleh Kapitalisme yang menganggap alam adalah untuk dieksploitasi demi kapital sehingga melahirkan kerusakan alam secara luas dan parah. Alam bukanlah sesuatu yang agung tapi lebih dari seonggok barang yang mekanik dan manusia yang berkuasa atas alam itu. Karena itu pada tahun 1970an lahir Ekologi sebagai jawaban atas kerusakan alam ini dan banyak aliran Ekologi seperti Antroposentrisme, Biosentrisme dan lain-lain.

Konsep alam sebagai benda itu merupakan pandangan barat yang berbeda dengan timur, di mana dalam konsep timur seperti dalam Taoisme, semua adalah bagian dari Tao sehingga memiliki jejaring yang berkesinambungan dan berkesambungan, alam harus dihargai, disetarakan dan anjuran hidup alamiah selaras dengan alam, seperti halnya Spinoza tentang alam dan semua yang ada itu tercipta dari alam dan alam itu sendiri adalah bagian dari kita semua dan kita semua adalah bagian dari alam, ini memiliki kemiripan dengan Daode Jing yang merupakan dasar dari Taoisme, ini serupa dengan pengertian Ekosentrisme dimana manusia dengan segala sesuatu, baik yang bersifat biosfer dan abiosfer itu setara. Seandainya alam dapat berbicara, tentunya cara berbicara berbeda dengan manusia. Alam berbicara melalui dampak kerusakan yang dibuat manusia atau dengan berubahnya siklus alam yang menjadi tidak karuan, alam tidak perlu berbicara dengan bahasa manusia, karena itulah alam. Bukan dengan membahas percakapan dalam bentuk bahasa seperti apa yang dilakukan manusia, alam sendiri berbicara dengan bahasa alam itu sendiri, seperti dalam Zen, “Rasakan angin sepoi yang berbicara”. Amat sulit bagi manusia yang berpikiran rasional untuk menerima alam itu bercakap-cakap karena hal itu sulit dibuktikan dengan logika tapi bisa dilakukan melalui intuisi, karena itulah yang membedakan antara konsep timur dan barat saat memandang alam.

Kita tidak pernah mau menyatukan diri dengan alam, memisahkan alam sebagai “the outsider” dari manusia yang berbeda dan berhak berkuasa atas alam seperti dalam pandangan Antroposentrisme yang beranggapan bahwa manusia sebagai pusat dan tujuan tindakan ekologis yang terpengaruh oleh Antropologi Kristiani, Aristoteles dan filsafat modern yang beranggapan bahwa manusia sebagai the free and rational being. Dalam hal ini, mungkin seorang penganut Politeisme jauh lebih menghargai alam karena mereka bisa dengan sujud menghargai sebatang pohon sedangkan menurut kaum rasional itu adalah hal yang absurd karena pohon tidaklah lebih tinggi bahkan lebih rendah dibanding manusia. Saat orang mentertawakan Zhuang Zi yang mengatakan sekelompok ikan berenang dan bahagia, orang itu berargumen bahwa Zhuang Zi bukan ikan sehingga tidak tahu apakah ikan senang atau tidak. Pandangan itu secara logika adalah benar, tapi jika menyadari bahwa manusia memiliki hubungan jejaring tersembunyi dengan segala sesuatu yang ada, maka Zhuang Zi bisa merasakan ikan itu bahagia karena ikan itu adalah bagian dari alam, saat mengatakan itu bisa dikatakan Zhuang Zi sedang bersatu dengan alam. Sama seperti halnya manusia memilah-milah system syaraf yang kompleks antara manusia dengan kecoa, sehingga beranggapan bahwa manusia jauh lebih tinggi dari kecoa karena manusia bisa berpikir, ini adalah pandangan Antropsentrisme yang beranggapan bahwa manusia memiliki kuasa terhadap apapun yang ada disekitarnya karena manusia lebih unggul padahal rasa keunggulan memberikan bencana bagi alam dan manusia sebagai bagian dari alam itu sendiri akan merasakan dampaknya.

Continue Reading

Di Zi Gui 弟子規 Pedoman Menjadi Murid Dan Manusia Yang Baik

 

 

 

敬天地
拜祖先
礼神明

 

Hendri Irawan | 弟 子規  Dì Zǐ Guī, secara harafiah berarti pedoman hidup seorang murid yang baik. Penulis memilih untuk menafsirkan dan menyadurnya dengan judul PEDOMAN HIDUP BERBUDI  PEKERTI dikarenakan pedoman hidup ini berlaku universal dan yang dimaksud dengan murid sebenarnya adalah semua manusia yang mau belajar demi memperbaiki kualitas diri.

Pedoman ini ditulis oleh seorang sarjana bernama 李毓秀 Lǐ Yùxiù. Beliau hidup di periode 康熙 Kāngxī (1662-1723 CE) dinasti 清 Qīng. Awalnya tulisan ini diberi nama 訓蒙文 Xùn Méng Wén artinya Tulisan Untuk Mendidik Anak. Kemudian oleh賈存仁Jiǎ Cúnrén direvisi dan dirubah namanya menjadi 弟子規  Dì Zǐ Guī.

Walau pedoman ini lebih banyak diajarkan ke anak-anak, isinya sebenarnya bersifat universal. Dan justru manusia dewasa juga patut membacanya. Karena manusia semakin dewasa maka tingkah lakunya semakin menyimpang akibat dari pengaruh lingkungan dan pendidikan yang diterima. Continue reading

Memahami Kocoa 糊紙 Dari Sudut Estetika

Budaya-Tionghoa.Net |  I.Pendahuluan . Penulis beberapa kali membahas tentang kocoa 糊紙[1] terutama untuk kalangan Tridharma[2], terakhir dilakukan pada tanggal 9 April 2011 di Adiraja shop, Muara Karang, Jakarta. Pada pembicaraan yang penulis bawakan sebelumnya tidak pernah memasukkan unsur estetika, apa yang dibawakan oleh penulis seringnya membahas dari sudut sejarah dan nilai-nilai spiritual.  Apa yang dibabarkan pada Estetika membuka wawasan dan memperkaya khazanah penulis tentang kocoa sebagai suatu bagian dari seni yang merepresentasikan lubuk terdalam keluarga yang ditinggalkan terhadap mereka yang pergi ke alam baka dan suatu sikap penghormatan terhadap para mahluk suci. Tentunya kocoa sebagai sarana ritual juga memiliki nilai-nilai filosofis serta sejarah perkembangannya. Dimana yang akan penulis paparkan dalam karya tulis ini lebih kearah perkembangan sejarahnya, terutama terkait dengan kertas yang pembuatannya disempurnakan oleh Cai Lun pada masa dinasti Han sekitar 2000 tahun yang lalu dan akan disinggung sedikit nilai-nilai spiritualnya.

Continue Reading

Beri Jalan Orang Cina

Penulis: Abdurrahman Wahid (Gus Dur)
Sumber: Editor, 21 April 1990

Gus Dur     Jadi orang Cina di negeri ini, di masa ini pula, memang serba salah. Walaupun sudah ganti nama, masih juga ditanyakan ‘nama asli’nya kalau mendaftarkan anak ke sekolah atau jika membuat paspor. Mungkin, karena memang nama yang digunakan terasa tidak pas bagi orang lain, seperti nama Nagaria. Biasanya naga menggambarkan kemarahan dan keganasan. Apakah si naga yang riang gembira ini tertawa-tawa? Hartadinata, terasa lucu, karena tidak klop antara kekayaan dan keanggunan jabatan, antara harta dan nata.

Continue reading

Tionghoa dalam Dinamika Sejarah Indonesia Modern: Refleksi Seorang Sejarawan Peranakan****

Tionghoa dalam Dinamika Sejarah Indonesia Modern: Refleksi Seorang Sejarawan Peranakan
Heterogenitas Golongan Tionghoa
Kekerasan atas Tionghoa dan “Koloborasi”: Kasus Jaman Jepang
Hubungan Pribumi–Tionghoa
Tidak Banyak Hal Yang Baru Dalam Social Policy Tionghoa
Catatan Kaki
All Pages
Page 1 of 6

oleh: Didi Kwartanada++++
“. . .Indonesia, the largest country in the world with a Chinese problem”[1]

Pendahuluan: Love and Hate Relations
Pertama-tama saya mohon maaf, karena tidak banyak waktu untuk melakukan persiapan penulisan makalah ini. Waktu penelitian kepustakaan di Belanda yang hanya dua bulan sama sekali tidak menyisakan banyak waktu untuk hal-hal lainnya. Jadi kebanyakan bahan yang disajikan disini adalah yang masih terekam dalam benak saya, sehingga pemaparannya jauh dari lengkap dan bersifat fragmentaris. Walaupun judul ceramah ini sangat luas, namun saya akan membatasi diri pada peran atau kontribusi Tionghoa dan juga hubungan Tionghoa dengan pribumi. Saya akan mengajak Bapak Ibu serta hadirin sekalian secara sersan—serius tapi santai—untuk berkelana sejenak ke masa lampau.

Artikel Terkait :

Di Indonesia dijumpai adanya hubungan –mengutip istilah Dr Mely G.Tan–“love and hate relations” (hubungan cinta-benci) antara orang Tionghoa dan Indonesia.[2] Sebagai contoh yang paling mudah, saat pertandingan olahraga (khususnya badminton), orang akan memuji-muji para atlet Tionghoa apabila mereka memenangkan suatu kejuaraan internasional. Namun saat media massa mengungkapkan penyelewengan dalam bidang ekonomi dan moneter yang dilakukan pengusaha Tionghoa (lengkap dengan nama Cinanya!), orang akan memaki-maki mereka.
Baru-baru ini saya mendapatkan di KITLV satu tabloid bernafaskan Islam yang cukup radikal bernama “Jurnal Islam” (selanjutnya disingkat JI) yang terbit setelah lengsernya Soeharto. Isi tabloid ini penuh dengan makian dan kekhawatiran (phobia) terhadap Yahudi-Zionis Israel–Barat–Nasrani dan Cina (Perantauan). Bahkan selalu dituduhkan adanya konspirasi  mereka berempat untuk melawan Islam (sic!). Yang menarik, walaupun memaki-maki Cina, namun tabloid ini juga menyajikan satu atau lebih laporan yang simpatik tentang aktivitas Tionghoa Muslim maupun organisasi mereka, yakni PITI (Persatuan Islam Tionghoa Indonesia). Muncullah judul2 berita yang provokatif tentang Cina sbg berikut:
·“Awas, Cina Perantauan Ancam Umat Islam” (JI, 2-8/2 2001: 8-9);
·“Konglomerat Cina Mau Makar” (JI, 9-15/2 2001: cover);
·“Siluman Cina Ingin Jadi Presiden” (JI, 16-22/2 2001);
·“Ekonomi Umat Islam Dicengkeram Yahudi dan Cina Kafir” (JI, 8-14/12 2000: 14-15).

Namun nada dan pandangan yang berbeda muncul saat berbicara tentang Tionghoa Muslim:
·“PITI: Berpotensi Besar untuk Membesarkan Islam” (JI, 29/9-5/10 2000: 14);
·“Persaudaraan Muslim Tionghoa Indonesia: Embrio Baru dalam Syiar Islam” (JI, 3-9/11 2000: 14).
· “PITI: Menyiapkan Pemimpin yang Solid” (JI, 22-28/9 2000: 23)

Disini tampak bahwa love and hate relations sudah menjadi “us” (kita) and “them” (mereka). Ini sekedar contoh saja dan tentunya rekan-rekan dari IAIN bisa berbicara lebih dalam soal ini.

Tabu di Jaman Rezim Orde Baru

Rezim Orde Baru (1966-1998) dikenal menabukan segala sesuatu yang berhubungan dengan Tionghoa, bahkan disebut “mempunyai masalah Tionghoa terbesar di dunia” (lihat kutipan di atas). Rezim ini menciptakan konglomerat2 Tionghoa (mayoritas Tionghoa totok).[3] ,sehingga kesan Tionghoa sebagai economic animal yg amat serakah menjadi sangat kuat. Akan tetapi orang sering lupa, bahwa konglomerat bisa bebas beraksi karena mendapatkan dukungan dari penguasa, birokrasi dan militer (dengan kompensasi pembagian keuntungan, tentunya!).
Rezim Orba juga memarjinalkan fakta bahwa golongan Tionghoa ikut berperan  dalam pembentukan nasion Indonesia, khususnya dalam bidang bahasa, pers dan sastra.  Pers Tionghoa dalam bahasa Melayu ikut menyebarluaskan bahasa Melayu sebagai lingua franca di Indonesia sejak 1890-an. Dari penelitian Claudine Salmon (sejarawan Perancis) dalam periode 1870-an hingga 1960an, sastrawan Tionghoa peranakan telah menerbitkan lebih dari 3,000 judul karya sastra dalam bahasaa Melayu dari berbagai bentuk: sandiwara, syair, terjemahan karya-karya Barat atau Tiongkok, novel dan cerpen.[4] Ternyata hasil sastra inipun dinikmati oleh publik non-Tionghoa.[5] Hasil penelitian Claudine ini berhasil memperkenalkan genre sastra ini ke hadapan publik internasional. Ironisnya, hingga kini Sastra Melayu Tionghoa masih belum sepenuhnya diakui sebagai kesusasteraan Indonesia modern. Buku pelajaran Sejarah Nasional Indonesia (SNI) pun sama sekali tidak menyinggung berbagai sumbangan tersebut.[6] Pada periode Orba juga tidak banyak literatur yang tersedia tentang golongan Tionghoa, jadi keberadaan mereka kurang banyak dipahami masyarakat umum.
Kejatuhan Orde Baru ternyata diiringi dengan kemunculan kembali minat yg besar ttg soal-soal “ketionghoaan”, dengan bermunculannya berbagai kegiatan ilmiah dan publikasi bermacam bahan tentang sejarah, adat istiadat dan budaya Tionghoa, yang sebelumnya ditabukan, seperti yang sudah kita saksikan dalam film tentang Imlek di Semarang tadi.[7] Di pihak lain, kita disadarkan pula bahwa tidak banyak akademisi dari kalangan generasi muda –baik Tionghoa maupun non-Tionghoa–yg memfokuskan diri dalam bidang ini.[8] Dengan demikian kajian tentang Tionghoa tidak banyak tersedia di toko-toko buku.  Oleh karena memang para akademisi belum banyak melakukan riset tentang komunitas Tionghoa di luar Jawa,[9] maka kajian yang ada masih bersifat “Jawa sentris” dan hanya ada satu dua studi tentang Sumatra[10] dan beberapa mengenai Kalimantan Barat.[11] Dari segi jender, kajian atau sumber-sumber tentang perempuan Tionghoa Indonesia masih sangat sedikit.[12] Namun hal yang menggembirakan, ternyata di kalangan Tionghoa (non-akademisi) juga terdapat beberapa peneliti dan pengamat yang cukup handal.[13]

Siapakah orang Tionghoa itu?
Siapakah orang Tionghoa itu? Banyak jawaban yang bisa diberikan, namun menurut penulis orang Tionghoa adalah mereka yang mengidentifikasi dirinya sebagai orang Tionghoa, mempunyai darah Tionghoa (walaupun sudah banyak bercampur) dan mempunyai nama Tionghoa (namun banyak Tionghoa Indonesia yang lahir dimasa Orba tidak lagi mempunyai nama Tionghoa). Satu hal yang khas dari Tionghoa peranakan dari Indonesia (khususnya Jawa), bahwa mereka sudah tidak bisa lagi berbahasa Mandarin. Banyak cerita tentang peranakan dari Jawa, saat mereka melakukan perjalanan ke Singapura, Hongkong, RRT ataupun di Barat, selalu ditanya:  “anda orang Chinese, mengapa tidak mampu berbahasa Mandarin?“[14]
Bagi generasi pra-Orba,  istilah “Cina” jelas berkonotasi merendahkan, oleh karena itu mereka lebih suka disebut “Tionghoa”. Sejarah pemakaian kata “Tionghoa” berawal di kalangan perkumpulan Tiong Hoa Hwee Koan (THHK) Batavia pada tahun 1900. Pada saat itu istilah “Tjina” atau “Tjienna” –yang dipakai sejak lama– mulai dianggap merendahkan. Pada tahun 1928 Gubernur Jendral Hindia Belanda secara formal mengakui penggunaan istilah “Tionghoa” dan “Tiongkok” untuk berbagai keperluan resmi.[15] Penggunaan istilah “Tionghoa” ini hanya bertahan selama 38 tahun saja, karena di tahun 1966 Orde Baru kembali menggunakan istilah “Cina”. Menarik sekali bahwa istilah “Tionghoa” ini sangat khas Indonesia, karena di Malaysia dan Singapura istilah “Cina” masih lazim digunakan.

Tionghoa dalam Dinamika Sejarah Indonesia Modern: Refleksi Seorang Sejarawan Peranakan
Heterogenitas Golongan Tionghoa
Kekerasan atas Tionghoa dan “Koloborasi”: Kasus Jaman Jepang
Hubungan Pribumi–Tionghoa
Tidak Banyak Hal Yang Baru Dalam Social Policy Tionghoa
Catatan Kaki
All Pages
Page 1 of 6

Menuju Indonesia Maju yang Inklusif

Minggu, 15 Februari 2004

Menghilangkan Semua Praktik Diskriminasi
   Tulisan ini diilhami judul disertasi Fuad Hasan beberapa dekade silam, yaitu Kita dan Kami, yang sesungguhnya merupakan persoalan krusial bangsa ini sekarang dan dalam menuju masa depan. Kita dan kami adalah kata ganti orang kedua jamak yang cukup unik dalam bahasa Indonesia.
   Dalam bahasa asing seperti Inggris atau Prancis, kedua kata ganti tersebut diwakili dengan we atau nous. Padahal, kita adalah kata ganti yang inklusif dan kami adalah kata ganti yang eksklusif. Orang asing yang belajar bahasa Indonesia sering tertukar dalam menggunakan kata kita dan kami itu.

Continue reading

Cerita tentang Bangsa Perantau (1) : Asimilasi, Pencinaan Kembali, dan Pengakuan

Cerita tentang Bangsa Perantau (1) : Asimilasi, Pencinaan Kembali, dan Pengakuan
Jakarta, KCM 

Minggu-minggu terakhir ini, sejumlah kota-kota besar di Indonesia ‘memerah’ oleh kain-kain dan lampion-lampion. Pusat-pusat perbelanjaan, hotel, dan restoran seperti berganti busana, menghiasi diri dengan nuansa merah. Tahun baru Imlek. Sekarang, perayaannya sama meriahnya dengan perayaan Lebaran dan Natal. Ini adalah tahun kelima sejak pemerintah Indonesia memberikan kebebasan kepada masyarakat Tionghoa di Indonesia untuk merayakan hari besar adat istiadat mereka.  

Continue reading

Prasangka dan Diskriminasi Terhadap Etnis Tionghoa

oleh Thung Ju Lan

Isu terpenting yang perlu dibahas di sini apabila kita berbicara tentang prasangka dan diskriminasi adalah stereotyping, yaitu suatu kecenderungan untuk mengidentifikasi dan mengeneralisasi setiap individu, benda dan sebagainya ke dalam katagori-katagori yang sudah dikenal. Stereotyping terhadap warga etnis Tionghoa di Indonesia, seperti yang kita semua telah ketahui, mempunyai akar sejarah yang panjang karena katagori-katagori yang kita kenal itu pada awalnya dibuat pada masa pemerintahan kolonial Belanda, walaupun setelah itu masih terjadi proses modifikasi yang terus-menerus sampai hari ini.

Continue reading

Mengikis Rasialisme Anti-Tionghoa

Selasa, 11 Mei 2004 WACANA

Sumanto Al QurtubyPADA 13 Mei 2004, saya diundang oleh Pusat Analisis Ketahanan dan Kepatriotan Indonesia (Patria) Jakarta dalam sebuah acara bertajuk “Dialog Kebangsaan Nasionalisme WNI Etnis Tionghoa”. Selain saya, juga tampil KSAD Jenderal Ryamizard Ryacudu, Kwik Kian Gie, dan Prof. Said Aqiel Siradj. Menurut panitia penyelenggara, dialog itu dimaksudkan untuk mengenang peristiwa Mei 1998 yang tragis tersebut.

Kenapa Mei perlu dikenang? Kita tahu, pada medio Mei 1998 di negeri tercinta ini telah terjadi sebuah tragedi kemanusiaan yang memilukan: penjarahan, pembakaran, pembunuhan, dan pemerkosaan. Celakanya, yang menjadi sasaran amuk massa dan pemerkosaan -lagi-lagi- adalah warga Tionghoa. Itulah sebabnya, peristiwa Mei pada hakikatnya adalah kerusuhan terhadap etnis Tionghoa, sebuah bentuk rasialisme.

Continue reading

China: Penghinaan atau Bukan?

China dalam sejarahnya memang banyak sekali padanan yang menyertainya dikarenakan sejarah China sendiri yang panjang mencapai 5000 tahun. Istilah “Zhong Guo” atau “Negara Tengah” sendiri sebenarnya baru populer setelah terbentuknya republik setelah revolusi 1911. Tentunya istilah Zhong Guo tidak serta merta muncul begitu saja, namun berasal dari istilah Zhong Yuan (Hokkian : Tiong Goan) yang artinya dataran tengah. Dataran tengah ini merujuk kepada daerah di antara Sungai Kuning di utara dan Sungai Panjang (Yang-tse) di selatan yang merupakan mobilitas orang2 yang berbudaya Han. Dulu, orang Han masih menganggap mereka sederajat lebih tinggi daripada bangsa barbar yang belum “cukup” berbudaya. Jangan heran, sikap egosentris seperti ini memang lazim pada negara besar di zaman dulu.

Continue reading

Etnik Tionghoa, Pribumi Indonesia…….

Etnik Tionghoa, Pribumi Indonesia dan Kemajemukan:
Peran Negara, Sejarah, dan Budaya dalam Hubungan antar Etnis

A Foreword
Leo Suryadinata (Institute of Southeast Asian Studies)

Semenjak berabad-abad lalu, etnik Tionghoa berada di Indonesia dengan jumlah cukup besar. Tetapi, karena persoalan menyangkut etnis masih dianggap peka, sebelum tahun 2000, jumlah suku bangsa/etnis di Indonesia tidak pernah dimasukkan ke dalam sensus penduduk epublik Indonesia. Perhitungan jumlah etnik Tionghoa ditaksir berdasarkan sensus tahun 1930. Pada waktu itu, jumlah etnik Tionghoa hanya 1,2 juta, kira-kira 2,03% penduduk Indonesia. Menurut pendapat lain, jumlah etnik Tionghoa di antara 2,5% dan 3% atau bahkan lebih besar, yaitu berkisar antara 4–5%. Sensus 2000 tidak memberikan jumlah etnik Tionghoa yang lengkap. Hasil perhitungan menunjukkan angka 1,7 juta, atau kira-kira 0,86%. Jika ditambah dengan etnik Tionghoa asing, jumlahnya kira-kira 1,8 juta, yaitu 0,91%. Continue reading

Akar Masalah Sentimen Anti Cina – DR. Wong Chin Na, SE,Ak,MBA

1. Akar Masalah Sentimen Anti Cina
2. Musuh Bersama
3. Evolusi Boss Boneka
4. Cina Dan Strategi Politik
5. Krisis Moneter
6. Kredit Macet
7. China Dan Globalisasi
8. Cina Dan Nasionalisme
9. Hukum Dan Keadilan
10. Keturunan Cina di Indonesia
11. Hipotesis Dan Kesimpulan Sementara
12. Himbauan

Author // DR. Wong Chin Na, SE,Ak,MBA

Budaya-Tionghoa.Net | Awal Januari 1998 Saudara-saudara sebangsa dan setanah air.
Polemik masalah Cina di forum Apakabar dewasa ini, telah berkembang menjadi tulisan- tulisan yang sifatnya menghasut, baik yang ditulis oleh kalangan pribumi maupun yang ditulis oleh keturunan Cina sendiri. Tulisan-tulisan seperti ini sangat berbahaya dan mudah dimanfaatkan oleh unsur-unsur tertentu untuk mengacaukan persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia. Kalau kita tidak ingin negara kita bertambah kacau, marilah kita secara sadar berusaha mencegah timbulnya kekacauan yang lebih parah dengan cara menghentikan tulisan yang tak tentu arahnya tersebut dan merubahnya menjadi suatu diskusi yang sehat yang didasari oleh suatu tujuan untuk memperkokoh persatuan dan kesatuan bangsa. Continue reading

Perilaku Ekonomi Etnis Cina di Indonesia Sejak Tahun 1930-an – F.R. Wulandari

Pendahuluan
Kehidupan etnis Cina di Indonesia memang sangat menarik untuk dikaji. Pertama, karena sensitif menyangkut pembicaraan SARA, kedua, latar belakang historis dan cara pandang mereka serta pengalaman hidup di bumi nusantara ini, tidak bisa begitu saja digeneralisasi.
Makalah ini mencoba membahas secara obyektif, perilaku budaya dan ekonomi etnis Cina di Indonesia, dimana perilaku tersebut merupakan perilaku yang saling terkait satu sama lain. Isu ini memang sering menjadi diskusi dibanyak kalangan masyarakat Indonesia. Continue reading

Sedikit Pemikiran atas anggapan “Euforia Sekejap Atas Kebudayaan Tionghoa” – by RJ

Zaman reformasi mendatangkan kebebasan bagi suku Tionghoa di Indonesia untuk mengenal, menggali dan melestarikan kembali kebudayaannya setelah represi dan tekanan oleh penguasa terdahulu selama lebih 3 dasawarsa. Kebudayaan Tionghoa yang dimaksud di sini tentu adalah kebudayaan Tionghoa yang sesuai dalam lingkup kebudayaan nasional Indonesia, Continue reading