Jiang Yudi (Chiang Yu Tie) - Terus Berkarya Meski Sudah Senja*

November 22, 2006

Oleh : Yudi Marhadi **
     Diantara seniman yang masih hidup mungkin sosok perempuan yang satu bisa dikatakan salah satu yang ‘langka’. Usianya sudah 88 tahun tapi masih saja berkecimpung dalam seni dengan menghasilkan puluhan lukisan.
Bagi masyarakat umum nama Jiang Yudi (Chiang Yu Tie) rasanya masih sangat asing. Namun bagi komunitas lukis dan kaligrafi China, Jiang sudah akrab bahkan sangat dikenal. Karya-karyanya selalu saja diminati dan tak ingin dilewatkan untuk dikoleksi bagi para kolektor lukisan.
     Semangatnya yang tak pernah padam selalu saja terpancar meski usia sudah senja. Ketika penulis  menyambangi secara langsung untuk mengorek lebih dalam pribadinya di Jl. Suwatama, Bandung, Jawa Barat, dengan lugas meski agak terbata-bata bahasa Indonesianya tapi setiap pertanyaan selalu dijawab.

Read the rest of this entry »


Riwayat Hidup Nabi Khongcu

September 15, 2006

“Hanya Kebajikan Berkenan Thian, Tuhan YME”,
“Sungguh Satu Saja: Kebajikan”
(Su King)
 
” Di Empat Penjuru Lautan, Semuanya Saudara.”
(Sabda Suci XII: 5) 
 
=================
Episode Pembuka. Gan Hwee Murid Yang Terkasih Senantiasa Tekun Rajin Mengikuti Bimbingan Nabi
 
Gan Yan dengan menarik napas berkata, “Bila kupandang terasa bertambah tinggi, semakin kugali terasa bertambah dalam. Kadang-kadang kupandang nampak berdiri di muka, sekonyong-konyong ternyata telah ada di belakang.
 
Demikianlah Guru selalu dengan baik meluaskan pengetahuanku dengan Kitab-Kitab dan melatih diriku dengan Kesusilaan, sehingga walaupun kadang-kadang ingin menghentikan belajar, ternyata tidak dapat.


Aku sudah menggunakan segenap kepandaianku, sehingga terasa teguh dan nampak jelas di mukaku; tetapi untuk mencapainya ternyata masih belum dapat juga.” (Sabda Suci IX: 11).
 
Ketika Gan Yan bertanya tentang pemerintahan, Nabi bersabda, “Pakailah penanggalan Dinasti He (Iem Lik), gunakanlah ukuran kereta Kerajaan Ien, kenakanlah topi kebesaran Kerajaan Ciu, bersukalah di dalam musik Siau dan Bu. Jauhkanlah musik Negeri Ting dan jauhilah orang-orang yang pandai memutar lidah. Musik Negeri Ting itu membangkitkan nafsu dan orang-orang yang pandai memutar lidah itu membahayakan.” (Sabda Suci XV: 11).

 

Read the rest of this entry »


Kematian Sam Poo Kong Mungkin Dibunuh

September 9, 2006

Sumber : Suara Merdeka

MENINGGALNYA Sam Poo pada usia 61 tahun diduga ditangan Wang Cing Hong yang dikenal dengan nama Kyai Juru Mudi Dampo Awang. Sam Poo tokoh Cina yang beragama Islam itu dari marga Ma (bukan marga Cen/The), berasal dari Yen Nan, kota Gwen Ming, desa Cin Ling, Cina dan jenazahnya dimakamkan di gua Gedung Batu Semarang.

Dalam buku ”In Nie Hwa Jiauw She” di halaman 70, 71, 72, 73, dikatakan, makam di sebelah gua tersebut merupakan makamnya Sam Poo. Karena, waktu berlayar ke Semarang, kapalnya tenggelam, meninggal dan dikubur di tempat tersebut. Tetapi, dari penelitian Kong Kwan, ditemukan kalau itu merupakan makamnya Wang Cing Hong. Hasil penelitiannya dibenarkan para sejarahwan/ilmuwan yang menyatakan bahwa itu makamnya Wang Cing Hong.

Read the rest of this entry »


The Real Tang Monk in History (Tong Sam Cong)

September 6, 2006

“Journey to the West” is one of the most famous works of classical Chinese literature. In the book, Tang Monk led his three disciples to the Western Paradise and achieved Consummation after experiencing a lot of troubles and difficulties. Some people regard it as been purely fictional. In history, there was a real Tang monk who risked his life and travelled tens of thousands of miles from China to India to bring Buddhist scriptures back to China. The journey he took was also the cultivation process of a cultivator who was eventually able to let go of life and death.

Read the rest of this entry »


Filosof-filosof Tiongkok dan cerpen-cerpennya revisited

August 17, 2006

Pada jaman 400 sampai 100 tahun BC banyak cerita cerita, fabel yang sangat berguna, karena pada masa itu cerpen-cerpen meningkat  mencapai yang kita katakan sekarang sophistication. Dynasti Zhou tidak mempunyai kekuasaan dan banyak daerah-daerah berdiri sendiri dipimpin oleh elites seperti pangeran atau dukes etc. Mereka saling bertempur untuk memperluaskan daerahnya. Pada masa yang chaos ini raja tidak berfungsi sebagai raja, ayah tidak berfungsi sebagai ayah dan dunia Tiongkok kalut dan tidak aman. Dalam keadaan yang chaos ini banyak kaum intelektual  memperkembangkan budaya untuk meringankan kechaosan dan kemiskinan rakyat banyak dan mengembalikan keadaan yang tenang, aman dan makmur. Maka timbullah berbagai pikiran dan isme-isme sebagai ratusan bunga yang sedang berkembang sampai dengan puncaknya. Banyak budayawan-budayawan seperti Lao Zi, Zhuang Zi, Kong Fu Zi, Meng Ke (Mencius), Mo Zi, Han Fei Zi, Sun Zi, Wang Zhong, Kong Sun Long, etc. etc. Karangan-karangan mereka diteruskan turun menurun dan memberikan kontribusi yang signifikan bagi perkembangan Kultur Tionghoa di jamannya dan seterusnya.

Read the rest of this entry »


Cerita Rakyat Tiongkok Tentang Kesabaran : Wang Wenzheng

August 12, 2006

Dahulu kala di China, ada seorang hakim bernama Wang Wenzheng. Dia terkenal akan kesabaran, toleransi dan pemaaf. Tak pernah ada yang melihatnya marah-marah dengan orang lain atau menggerutu.
Suatu hari keluarganya ingin mengetes taraf kesabarannya. Mereka menghidangkan semangkuk nasi putih yang bersih dan semangkuk sop daging dengan kotoran diatasnya. Saat Wang Wenzheng melihat kotoran tersebut, dia tidak menyentuh sup itu. Dia dengan tenang hanya makan semangkuk nasi tanpa lauk sampai habis.

Read the rest of this entry »


Qin Liangyu (1574~1648)

August 12, 2006

秦良玉 Qin Liangyu (1574~1648) adalah seorang panglima wanita terkenal di masa jaman akhir dinasti Ming.

Beliau lahir di provinsi Sichuan, dari keturunan etnis Miao. Selama masa mudanya, beliau belajar keahlian berkuda, memanah dan bela diri dari ayahnya. Dan juga mempelajari sastra, khususnya dalam bidang
berpuisi. Ia menikah dengan seorang pemimpin militer daerah dan mendampingi suaminya dalam masa tugas dalam beberapa pertempuran kecil menghadapi panglima-panglima perang (panglima independen yang seringkali bertingkah laku seperti perampok) setempat di perbatasan barat daya dinasti Ming. Setelah suaminya meninggal, Qin Liangyu kemudian menggantikan posisi suaminya.

Read the rest of this entry »


Liang Hongyu

August 12, 2006

梁红玉 Liang Hongyu

Tahun pertama Congning (1102 CE) pada masa pemerintahan kaisar Huizhong, Liang Hongyu dilahirkan di distrik Huai’an, provinsi Anhui. Kakek dan ayahnya adalah panglima kerajaan Song (970 CE - 1279 CE). Ketika muda, ia tidak tenggelam dalam kemewahan dan sisi kewanitaannya. Justru dia lebih menyukai belajar ilmu bela diri. Di samping itu sebagai seorang wanita, dia juga belajar menari, menyanyi, menabuh genderang dan juga kerajinan tangan seperti membuat tikar.

Read the rest of this entry »