Keragaman dalam Damai

December 8, 2006

Kompas, Kamis, 28 Juli 2005
Oleh: Andreas Yumarma
   Pertemuan interfaith di Bali menarik disimak pesannya bagi kebersamaan dan kedamaian. Hal ini disebabkan bukan karena tragedi kekerasan terhadap Ahmadiyah di Bogor atau konflik bernuansa agama di berbagai negeri, tetapi lebih karena keparahan mindset warga yang kian kehilangan rasa kemanusiaan dan keterlibatan ikut merasakan kesusahan orang.
   Penghayatan kehidupan agama dan keyakinan, entah itu lima agama besar yang diakui di negeri ini atau aliran-aliran kepercayaan dan keyakinan, ternyata belum mampu mengubah arah egosentrisme menjadi altruisme. Kesalehan dan kesosialan semu tidak jarang menjelma menjadi kesombongan rohani yang ternyata masih berfokus pada diri sendiri.

Read the rest of this entry »


Ma Gwe - Dilakukan Menyambut Kelahiran Anak

December 8, 2006

Oleh Periksa Ginting
Bogor—Lain lubuk lain pula ikannya. Demikian orang selalu berkata dalam mengungkapkan perbedaan kondisi yang terjadi antara satu daerah dengan daerah lainnya. Tradisi atau kebudayaan antara satu suku dengan suku yang lain juga berbeda, walau terkadang tujuannya sama.
   Tradisi yang merupakan warisan leluhur suatu suku atau bangsa tersebut hingga saat ini masih tetap dipertahankan, meskipun ada yang sudah mengalami perubahan. Bagi warga keturunan Tionghoa, acara syukuran atas kelahiran seorang anak tetap dipertahankan hingga saat ini.

Read the rest of this entry »


Kuncir (Taucang)

December 8, 2006

Tanya:
Dalam kesempatan ini saya ingin minta sharing Anda tentang kuncir (taucang?) yang dimiliki para pria di masa lalu. Bisakah Anda memberikan ulasan, latar belakang, makna, waktu, serta mengapa dan kapan akhirnya kebiasaan itu tak lagi berlanjut.
Informasi ini saya sampaikan, karena dalam waktu dekat saya akan menulis artikel singkat, dengan sedikit menyinggung masalah kuncir ini.

Read the rest of this entry »


Pergeseran Identitas Warga Keturunan Tionghoa

December 1, 2006

     JAKARTA - Sebagian besar warga keturunan Tionghoa di Indonesia tidak menggunakan nama Tionghoa yang diberikan oleh orang tua mereka. Hal ini memperlihatkan adanya pergeseran identitas diri pada individu keturunan Tionghoa di Indonesia dalam konteks keterikatan kebudayaan dan kebangsaan.

Read the rest of this entry »


Prasasti Jawa-China di Keraton Yogyakarta

December 1, 2006

     HANYA karena beda tafsir dalam membaca catatan sejarah, sejak dua bulan lalu antara China dan Jepang terjadi perselisihan yang masih juga tetap belum terpulihkan.
Meski pemerintah di Beijing terlihat menahan diri, tetapi untuk sebagian masyarakat China, kekejaman saat pendudukan Jepang agaknya sulit dihapuskan dari ingatan. Karena itu, setiap kali muncul ingatan terhadap masa penyerbuan pasukan Jepang ke China pada pra-Perang Dunia II muncul, seperti membangkitkan kembali naga tidur.

Read the rest of this entry »


Maksud dan Kegunaan dari Kata Kedua dari Nama Tionghua

November 29, 2006

1. Kenapa kebanyakan nama orang chinese terdiri tiga kata?
KH:
Nama Tionghoa terdiri dari sne (marga) dan mia (nama). Sebagian besar sne orang Tionghoa terdiri dari 1 huruf. Ada beberapa sne yang terdiri dari 2 huruf. Mia bisa terdiri dari 1 atau 2 huruf. Di Indonesia (Asia Tenggara) umumnya orang menggunakan 2 huruf untuk mia. Karena itu, kita lebih sering melihat nama Tionghoa yang terdiri dari 3 huruf (1 sne dan 2 mia). Misalnya: Kwik Kian Gie (郭建義), Siauw Giok Tjhan (萧玉燦).  Untuk Sne dengan 2 huruf, jika menggunakan nama 2 huruf maka total hurufnya menjadi 4 huruf. Misalnya: Auwjong Peng Koen (歐陽炳昆).

Read the rest of this entry »


Shang Fang Bao Jian : Pedang Pusaka Kekaisaran

November 23, 2006

ABS menulis :
Sudah cukup banyak contoh di mana moderator akhirnya menghunus poo kiam-nya, memotong diskusi yang melebar nggak karuan pada ketiga topik itu.

Rinto Jiang :
     Tertarik dengan sepenggal kalimat dari ABS-heng di atas, saya ingin menulis tentang pedang pusaka yang terkenal dalam sejarah. Poo kiam adalah dialek Hokkian dari bao jian yang artinya pedang pusaka.

Read the rest of this entry »


Uang Kertas

November 23, 2006

     Ide mengenai uang kertas di dunia memang pertama digunakan oleh orang Tiongkok, menurut catatan sejarah boleh diusut ke zaman Dinasti Han pada masa pemerintahan Han Wu-di (sekitar abad 2 SM). Waktu itu ada semacam alat pembayaran dengan lembaran-lembaran yang terbuat dari kulit rusa. Kulit ini tidak berharga, yang berharga adalah logam2 mulia yang diwakilinya. Jadi, lembaran kulit tadi adalah bertindak sebagai lembaran kredit, ini dapat dimengerti karena untuk pembayaran yang besar, tentu tidak mudah mengangkut berkilo2 logam mulia untuk melakukan perdagangan.

Read the rest of this entry »


Unit berat Tiongkok dan hubungannya dengan uang Tiongkok (Takaran obat)

November 23, 2006

Dalam takaran obat 1 qian itu berapa gram?
PH menulis :
dalam penghitungan 1 qian adalah 3,73 gram.
Sistem penghitungan ini berbasis kepada 1 Jin 16 liang.
Tapi dalam penghitungan modern terkadang 1 qian suka dihitung dengan jumlah 5 gram.Range perbedaan tidak terlalu jauh.

Read the rest of this entry »


Tionghua-Agama-Islam

November 23, 2006

Lihat saja ketika orang China merantau ke negeri kristen seperti Filipina, Australia, Kanada dan Amerika.Secara otomatis mereka cenderung menjadi kristen juga. Ketika merantau ke negeri Buddha seperti Thailand, tiba - tiba merekapun menjadi penganut Buddha yang setia juga. Namun ketika mereka mendatangi negeri muslim seperti Malaysia dan Indonesia justru mereka cenderung anti kepada agama mayoritas dua negara muslim tersebut. hanya sedikit sekali dikalangan mereka yang mau menerima islam itupun dengan resiko diusir dan dikucilkan oleh keluarga dan komunitasnya.Ketika mendatangi kristen mereka menjadi kristen, ketika mendatangi buddha merekapun jadi penganut buddha namun ketika mendatangi islam mereka enggan menjadi muslim.”

RJ:
     Ini salah satu bentuk ketidakmengertian akan sejarah dan sifat2 migrasi orang Cina.
     Leluhur orang Cina itu sebenarnya bangsa yang sangat sekular, tidak peduli dengan tetek bengek agama yang mengikat. Yang penting bagi mereka adalah menyatu dan hidup harmonis dengan alam supaya kehidupan mereka dapat menjadi lebih baik. Tahukah kita bahwa agama Buddha, agama Kristen, agama Islam itu lebih dulu sampai ke Cina daripada Indonesia? Tahukah kita bahwa orang Cina juga punya andil dalam menyebarkan Islam di Indonesia? Jadi pernyataan “mendatangi kristen mereka jadi kristen, mendatangi buddha mereka jadi buddha” itu adalah pernyataan yang tidak dapat saya terima sejalan dengan pengertian saya akan sejarah keagamaan di Cina dan cara pandang orang Cina terhadap masalah keagamaan.

Read the rest of this entry »


Jiang Yudi (Chiang Yu Tie) - Terus Berkarya Meski Sudah Senja*

November 22, 2006

Oleh : Yudi Marhadi **
     Diantara seniman yang masih hidup mungkin sosok perempuan yang satu bisa dikatakan salah satu yang ‘langka’. Usianya sudah 88 tahun tapi masih saja berkecimpung dalam seni dengan menghasilkan puluhan lukisan.
Bagi masyarakat umum nama Jiang Yudi (Chiang Yu Tie) rasanya masih sangat asing. Namun bagi komunitas lukis dan kaligrafi China, Jiang sudah akrab bahkan sangat dikenal. Karya-karyanya selalu saja diminati dan tak ingin dilewatkan untuk dikoleksi bagi para kolektor lukisan.
     Semangatnya yang tak pernah padam selalu saja terpancar meski usia sudah senja. Ketika penulis  menyambangi secara langsung untuk mengorek lebih dalam pribadinya di Jl. Suwatama, Bandung, Jawa Barat, dengan lugas meski agak terbata-bata bahasa Indonesianya tapi setiap pertanyaan selalu dijawab.

Read the rest of this entry »


Sacred Mountains of China

November 22, 2006

     With accurate historical records of events that occurred over three thousand years ago, China has some of the oldest recorded history of any country on earth. It is from the legendary era however, long before historical records were compiled, that we find the first mention of sacred mountains in China. Why were certain mountains believed to be sacred? Perhaps the most primitive reason was the belief that mountains, especially the tallest ones, were pillars separating heaven from earth. According to one ancient Chinese cosmology, the realm of heaven covered the realm of earth and from this belief arose the idea that heaven could fall down if not supported. The mountains were believed to perform this function. In the myth of the ‘Reparation of Heaven’, the Goddess Nu Wa, having repaired the broken sky, killed a huge turtle and erected its four feet as supporting pillars in the four quarters. These four pillars allowed the world to again enjoy a peaceful and harmonious life, and later came to be regarded as the earliest sacred mountains.

Read the rest of this entry »


Etnis Tionghua dan Sumpah Pemuda - Kristan

October 31, 2006

Awalnya istilah Indonesia merupakan definisi ilmiah bagi kepulauan Hindia yang dikenalkan oleh para antropolog Barat, seperti JR Logan, GSW Earl, dan Adolf Bastian, di penghujung abad ke-19. Endapan diskursus tersebut telah bertransformasi menjadi suatu bangsa, tepatnya setelah ji-wa-jiwa mudanya mengucap diktum Satu Nusa, Satu Bangsa, Satu Bahasa.
Berlaksa bangsa yang sebelumnya terberai ideologi primordialisme (kedaerahan, kesukuan, keagamaan) bisa bersatu. Masyarakat madani kita yang mulanya didominasi kental oleh gairah primordial, seperti Jong Java, Jong Sumatranen, Jong Celebes, Jong Ambon, Sarekat Islam, Muhammadiyah, Jong Tionghoa (sejarah mencoba menutupinya) tampak mengorientasi kiblat.

Read the rest of this entry »


Sastra Melayu Tionghoa Mencari Pengakuan

October 31, 2006

KESUSASTRAAN Melayu-Tionghoa adalah tonggak sejarah yang terlupakan di Nusantara. Selama nyaris seabad (1870-1960) dihasilkan tidak kurang dari 3.005 karya sastra dengan melibatkan 806 penulis yang jauh melampaui jumlah karya dan penulis dalam sastra Indonesia Modern.Karya sastra Melayu-Tionghoa merupakan refleksi kritis terhadap dinamika yang terjadi semasa puncak Pax Neerlandica (masa keemasan penjajahan Belanda-Red) dan beberapa dekade awal kemerdekaan Indonesia. Pergulatan mencari identitas dan pengakuan yang dialami etnis Tionghoa sebagai warna “Indo” dari Indonesia tergambar dalam karya-karya tersebut.

Read the rest of this entry »


Partisipasi Politik Tionghoa dan Demokrasi

October 14, 2006

Oleh Christine Susanna Tjhin
     JIKA selama Pemilu 1999, komunitas Tionghoa tampak malu-malu dan agak canggung dalam berpolitik, dalam Pemilu 2004, partisipasi politik komunitas Tionghoa terlihat semakin dinamis dan asertif. Bagaimana membaca dinamika itu secara kritis?
     “Binatang ekonomi” dan “apolitis” adalah dua stigma populer yang berurat-akar bagi orang Tionghoa. Persepsi mayoritas elite politik Indonesia tampaknya masih berkutat di situ karena menilai partisipasi Tionghoa sebatas keuntungan ekonomis.
     Persepsi ini adalah buah dari asumsi tidak mendasar bahwa komunitas Tionghoa yang hanya 2 persen dari populasi menguasai 70 persen perekonomian nasional. Citra kekuatan ekonomi komunitas Tionghoa memang sudah ada sejauh sejarah kolonial. Tetapi label 2 persen dan 70 persen menjadi hingar-bingar di akhir tahun 1990 an seiring krisis ekonomi Asia, dikarenakan tendensi bombastis sejumlah jurnalis masa lalu yang salah mengutip penelitian Michael Backman (1995) tentang kapitalisasi pasar dari 300 konglomerat Indonesia. Backman menemukan 73 persen total kapitalisasi pasar dimiliki oleh etnis Tionghoa.

Read the rest of this entry »