Beri Jalan Orang Cina

October 14, 2006

Penulis: Abdurrahman Wahid (Gus Dur)
Sumber: Editor, 21 April 1990

Gus Dur     Jadi orang Cina di negeri ini, di masa ini pula, memang serba salah. Walaupun sudah ganti nama, masih juga ditanyakan ‘nama asli’nya kalau mendaftarkan anak ke sekolah atau jika membuat paspor. Mungkin, karena memang nama yang digunakan terasa tidak pas bagi orang lain, seperti nama Nagaria. Biasanya naga menggambarkan kemarahan dan keganasan. Apakah si naga yang riang gembira ini tertawa-tawa? Hartadinata, terasa lucu, karena tidak klop antara kekayaan dan keanggunan jabatan, antara harta dan nata.

Read the rest of this entry »


Tionghoa dalam Dinamika Sejarah Indonesia Modern: Refleksi Seorang Sejarawan Peranakan****

October 14, 2006

oleh: Didi Kwartanada++++
“. . .Indonesia, the largest country in the world with a Chinese problem”[1]
 
Pendahuluan: Love and Hate Relations
   Pertama-tama saya mohon maaf, karena tidak banyak waktu untuk melakukan persiapan penulisan makalah ini. Waktu penelitian kepustakaan di Belanda yang hanya dua bulan sama sekali tidak menyisakan banyak waktu untuk hal-hal lainnya. Jadi kebanyakan bahan yang disajikan disini adalah yang masih terekam dalam benak saya, sehingga pemaparannya jauh dari lengkap dan bersifat fragmentaris. Walaupun judul ceramah ini sangat luas, namun saya akan membatasi diri pada peran atau kontribusi Tionghoa dan juga hubungan Tionghoa dengan pribumi. Saya akan mengajak Bapak Ibu serta hadirin sekalian secara sersan—serius tapi santai—untuk berkelana sejenak ke masa lampau.

Read the rest of this entry »


KAYA DAN MAKMUR DALAM BUDAYA CINA

October 13, 2006

Oleh Bob Widyahartono, Pengamat Eknomi & Bisnis Cina & Lektor Kepala FE USAKTI/UNTAR

   Cina memasuki abad 21 ini diprediksi oleh banyak kalangan elit tengah menggeliat mulai menjadi bangsa yang kaya/makmur. Proses ini tidak berlangsung mulus dan laksana perjalanan mendaki gunung ada jatuh bangunnya ketika menyadari bahwa rakyatnya juga mendambakan sejahtera/makmur.
   Ketika Deng Xiaoping, salah satu tokoh besar abad 20 semasa hidupnya pernah mengungkapkan bahwa bagi bangsa Cina menjadi kaya secara terhormat bukanlah dosa.
   Banyak pengamat yang waktu itu heran mengapa justru di negara Cina yang belum mantap ekonomi pasar sosialis ungkapan demikian muncul. Belum lagi masuknya era informasi dengan kehebatan teknologi informasi, teknologi proses dan pembangunan infrastruktur manusia, pengetahuan dan fisik yang ikut membuka “tirai bamboo” Cina.

Read the rest of this entry »


Cina, Inspirasi yang Tak Pernah Lekang

October 13, 2006

   LEBIH dari sekadar budayanya yang telah berusia ribuan tahun, diaspora masyarakat Cina ke berbagai belahan dunia adalah salah satu unsur yang membuat kelompok masyarakat ini dikenal di pelosok dunia. Cara hidup mereka yang cenderung eksklusif dan sangat kuat mempertahankan tradisi, membuat mereka menjadi kelompok yang terlihat eksotis-menurut sudut pandang Barat-suatu cara pandang yang telah mendapat kritik karena memandang masyarakat lain berdasarkan kacamata Barat.Imigran dari Cina pertama telah ada di Indonesia bahkan sebelum Belanda merapatkan perahunya di Pelabuhan Sunda Kelapa pada 13 November 1596. Mereka telah menetap dan bertani di seputaran apa yang sekarang dikenal sebagai kawasan Jakarta Kota dan masuk dalam jaringan perdagangan rempah-rempah yang bergerak sampai ke Cina dan Jepang.

Read the rest of this entry »


Belajar Falsafah di Kelenteng…

October 12, 2006

Jumat, 03 September 2004

   KELENTENG-kelenteng yang meriah dengan warna merah mencolok khas simbol kemakmuran bagi etnis Tionghoa mewarnai sepanjang jalan di kawasan pecinan Kota Semarang. Bau yong tswa atau yang dikenal dengan hio juga mengharumkan setiap sudut jalan itu.
   KELENTENG-kelenteng di sana memang tak pernah henti membakar yong tswa. Ini karena para pemeluk Konghucu selalu menyematkannya ke dalam abu yong tswa yang habis terbakar seusai menyembah para dewa yang telah memberikan kemakmuran hidup.

Read the rest of this entry »


Menuju Indonesia Maju yang Inklusif

October 12, 2006

Minggu, 15 Februari 2004

Menghilangkan Semua Praktik Diskriminasi
   Tulisan ini diilhami judul disertasi Fuad Hasan beberapa dekade silam, yaitu Kita dan Kami, yang sesungguhnya merupakan persoalan krusial bangsa ini sekarang dan dalam menuju masa depan. Kita dan kami adalah kata ganti orang kedua jamak yang cukup unik dalam bahasa Indonesia.
   Dalam bahasa asing seperti Inggris atau Prancis, kedua kata ganti tersebut diwakili dengan we atau nous. Padahal, kita adalah kata ganti yang inklusif dan kami adalah kata ganti yang eksklusif. Orang asing yang belajar bahasa Indonesia sering tertukar dalam menggunakan kata kita dan kami itu.

Read the rest of this entry »


Adat Pernikahan

October 11, 2006

Sumber : Jelajah Vol 3 Tahun 1999

Masyarakat Tionghoa di Indonesia adalah masyarakat patrilinial yang terdiri atas marga / suku yang tidak terikat secara geometris dan teritorial, yang selanjutnya telah menjadi satu dengan suku-suku lain di Indonesia. Mereka kebanyakan masih membawa dan mempercayai adat leluhurnya. Tulisan ini membahas dua upacara adat yang cukup dominan dalam kehidupan yaitu tentang adat pernikahan dan adat kematian (editor: adat kematian ada di posting terpisah).

Read the rest of this entry »


Sejarah dan Makna Tiong Chiu

October 10, 2006

Kamis, 05 Oktober 2006 – oleh Anly Cenggana SH *)
Depresi Sosial Budaya Tionghoa
     Perkataan Tiong Chiu berasar dari kata Tiong berarti tengah dan Chiu berarti musim rontok, jadi boleh dikatakan sebutan Tiong Chiu arti secara harafiah berarti pertengahan musim rontok. Namun demikian masyarakat lebih kenal dengan sembahyang Tiong Chiu Pia sebenarnya penyebutan ini tidak tepat/salah kaprah namun kenyataan dalam kebiasaan masyarakat tetap demikian.
     Perayaan sembahyang kue bulan tahunan setiap tanggal 15 bulan delapan kalender Imlek, untuk tahun ini memasuki tahun Imlek ke 2557 tanggalan masehi jatuh pada tanggal 6 Oktober 2006. Pada hari itulah bulan paling bulat dan paling terang sepanjang tahun, karena pada hari itu jarak bulan dengan bumi dan bentuk kue yang bulat melambangkan terangnya bulan menyinari bumi.

Read the rest of this entry »


How did ancient Chinese distill spirits?

September 30, 2006

As early as 3000 years ago, ancient Chinese created a raw material called distiller’s yeast, which could be used to make a very fragrant spirit with a lingering aftertaste. For thousands of years, distiller’s yeast has been a part of the recipe for Chinese spirits. Today, very few Chinese people know how their ancestors distilled this liquor.

Read the rest of this entry »


Sun Go Kong = Hanoman?

September 22, 2006

Menjawab pertanyaan satu teman di sini, saya akan berusaha menyajikan informasi dari sudut budaya sastra. Bila ada teman yang dapat menambah dari aspek agama atau kepercayaan dipersilahkan sekali. Mohon koreksinya bila ada yang salah pada rangkuman saya di bawah.

Read the rest of this entry »


Huiling Mausoleum and Zhuge Liang Memorial Temple of the Three Kingdoms (220-280)

September 21, 2006

Inside Zhuge Liang Memorial Temple in Chengdu, Sichuan Province, there are a couple of facing couplets, the one on the right reads “Recall that I went for a walk to the east of Jingting Pavilion” while, to the left, “Emperor Liu and Prime Minister Zhuge worshipped in the same temple,” excerpts from the poem Song of Old Cypress written by the Tang Dynasty poet Du Fu (712-770) in depicting the close relationship between Zhuge Liang (181-234) and Liu Bei (161-223). The closeness extended to death as their temples were built close together and nearly identical. Thus, this introduction to Liu Bei’s Huiling Mausoleum and temple also introduces the Zhuge Liang Memorial Temple.

Read the rest of this entry »


Weiqi in Chinese Culture

September 21, 2006

Weiqi is the Chinese name for the classic board game usually known in English as Go (from the Japanese igo). The game has a long history in China, certainly predating Chess in any of its versions. It has never been as popular in terms of mass support as xiangqi (Chinese Chess), which continues to be the game particularly of the overseas Chinese; but it was always favoured by the scholar class. In recent years professional players have emerged in China able to challenge the top Japanese masters, and from about 1970 onwards a corresponding public interest in weiqi has grown in mainland China; there are also some professionals in Taiwan.

Read the rest of this entry »


History of Weiqi

September 21, 2006

Nobody knows for sure when Weiqi (Go) was invented. According to the legend, Emperor Yao (2357-2255 B.C.) invented Weiqi to enlighten his son Dan Zhu. It was also recorded that Shun’s son Shang Jun was not bright and Shun (2255-2205 B.C.) invented Weiqi to teach him. The Encyclopedia Britannica records that it was invented in China in 2306 B.C. (Encyclopedia Americana, 2300 B.C.).

Read the rest of this entry »


Common Go/Weiqi Terms

September 21, 2006

A list of commonly used Go/weiqi Terms.

Weiqi/Go Board

  • Aji — A weakness that is left behind in the opponent’s position. Typically it can be exploited in more than one way.
  • Atari — The state of a stone or unit that has only one liberty.
  • Capturing race — See Semeai.
  • Chain — A group of stones that are directly adjacent along the lines of the board. Also string.
  • Connection — Joining stones along the lines of the board, or making it possible for them to be joined, even if the opponent plays first.
  • Cut — A move which separates two or more of a player’s stones by occupying a point adjacent to them.
  • Dame — 1) An empty point adjacent to a stone; 2) a neutral point between the established Black and White positions.
  • Damezumari — Inability to play at a tactically desirable point due to lack of dame.
  • Death — A group is dead when its owner cannot, playing first with correct play, make it live with two eyes or in seki or make a ko for life, given accurate play by the opponent.

    Read the rest of this entry »


How to Play Go (Weiqi) - Lesson 10 (End)

September 21, 2006

Lesson 10: Capturing Races

10.1 Introduction

A capturing race occurs when black surrounds a white group, but is itself partially or wholly surrounded by white, and neither surrounded group is alive by itself. The idea of the capturing race is actually implicitly brought out in many of the earlier lessons, especially in section 2.4, titled “Seki”. Generally, there are three possible outcomes from a capturing race:

Read the rest of this entry »