Zhou Fuyuan | Puisi alam tidak hanya digubah dalam bentuk Sanjak, juga dalam bentuk Syair. Bentuk Syair dimulai ada pada dinasti Tang, berkembang pada masa Lima dinasti, dan mencapai puncak perkembangannya pada dinasti Song. Karena mengacu pada melodi nyanyian, struktur syair sangat bervariasi, panjang pendek tak menentu, gayanya pun beraneka ragam. Tidak seperti dalam sanjak, jumlah kata dalam larik sebuah syair, umumnya tidaklah sama. karena umumnya syair memiliki bentuk yang lebih panjang dibanding sanjak, Pola pengungkapannya bertahap, cara bertuturnya lebih intens, sesuai untuk mencurahkan perasaan. Dibandingkan bahasa sanjak yang deskriptif, bahasa syair lebih sugestif. Pada awal perkembangannya, Syair alam umumnya pendek2, demikian juga dengan syair alam dinasti Song, obyek alam yang digarap juga obyek yang dekat, suasananya terasa intim. kehadiran subyek penyair sangat terasakan. kita bisa melihat dari beberapa contoh syair dinasti Tang dan Song di bawah ini ||| Continue Reading
Tag Archives: Dinasti Tang
Sanjak Dinasti Tang – Batu Permata di Puncak Mahkota
Zhou Fuyuan | Setelah melewati masa Dinasti Sui (581-618M) yang singkat , puisi klasik mencapai puncaknya pada masa Dinasti Tang (618-907M). Bila puisi adalah mahkota sastra klasik Tiongkok , maka Sanjak Tang adalah batu permata di puncak mahkota .
Mulai masa ini , bentuk puisi menjadi baku , teknik penulisannya semakin matang , tema tambah beragam , pemilihan kata lebih peka, muatan rasa lebih dalam . Pada Dinasti Tang dibagi menjadi empat periode , yakni Tang Awal , Tang Jaya , Tang Tengah dan Tang Akhir.
Periode Awal adalah masa persiapan , diawali oleh “Empat Kampiun” : Wang Bo 王勃 (649-676M), Luo Binwang 骆宾王 (640-684M), Yang Dong dan Lu Zhaolin. Serta dimatangkan Chen Zh’iang, yang membabat habis sisa pengaruh puisi istana dinasti selatan yang buruk. Dengan gaya lugas , Chen mendorong perkembangan puisi ke arah yang lebih maskulin.
Periode kedua boleh dikata sebagai zaman emas puisi, begitu banyak penyair hebat yang bermunculan. Periode ini diwakili oleh Li Bai 李白 (701-762M) dengan aliran romantik ekspresionisnya, Du Fu 杜甫 (712-770M) dengan realisme sosialnya , Wang Wei 王维 (699-759M) dan Meng Haoran 孟浩然 (c 691-740M)dengan puisi alam, Cen Can (715-770M), Gao Shi 高適 (?-765M) dan Wang Chang Ling 王昌龄(698-756M) dengan puisi perbatasan , serta Li Qi 李颀 (690-751M)dengan tema musik dan balada. Terutama dua penyair , Li Bai dan Du Fu merupakan tonggak penting dari puisi klasik. Di tangan mereka puisi klasik mencapai bentuk yang sempurna dan sangat mempengaruhi perkembangan zaman-zaman sesudahnya……………READ MORE
Seorang Intelektual Li Bo – Analisa Dunia Materi & Dunia Fenomenal
Dr Han Hwie Song | Pada waktu aku beberapa tahun yang lalu datang ke Surabaya dan diminta untuk berbicara mengenai riwayat orang-orang Tionghoa Indonesia, aku bertemu dengan teman-temanku lama yang tidak aku sangka sebelumnya. Mereka ada yang datang dari Hongkong, Beijing, Australia dan tentunya dari Surabaya waktu mudaku. Mereka ada yang menjadi pedagang, pegawai bank, direktur pabrik, aktivis masyarakat, konsultan, dokter, insinyur, ahli ekonomi dan lain lain . Kami sangat gembira dan membicarakan pengalaman kita masing-masing, dari Tempo Doeloe, sekarang dan bagaimana pandangan mereka mengenai hari depan kita.
Pada suatu waktu makan siang, ada seorang teman yang berkata pada kami seperti kebiasaan dalam pertemuan yang tidak disangka dari teman yang lama dan terpencar diseluruh dunia, dan berkata: “dunia ini seluas daun kelor.” Aku lalu bicara untuk meramaikan suasana suatu cerita figuratif pada mereka yang isinya sebagai yang aku tulis dibawah ini.
Di Jaman Dinasti Tang dinasti hidup seorang yang bernama Li Bo, seorang intelektual yang luar biasa banyaknya buku yang beliau baca. Li Bo kalau mempunyai uang kebanyakan digunakan untuk membeli buku. Buku-buku itu dibacanya begitu banyaknya dan pengetahuan umumnya sangat tinggi. Nama Li Bo begitu tenar tentang hobby membaca buku dan banyak orang di Tiongkok di jamannya menamakan beliau dengan julukan “Sepuluh Ribu Buku Li Bo.”
Pada satu hari Li Bo berbicara dengan seorang Taois, temannya yang juga banyak membaca buku-buku, tetapi terutama mengenai kesehatan jiwa manusia untuk menghadapi tantangan kehidupan yang kompleks. Mereka membicarakan persoalan kehidupan, kemasyarakatan dan kejadian-kejadian di dunia. Temannya berkata padanya: “Daun kelor ada di dunia, tetapi dunia juga berada di daun kelor.” Li Bo menjawab dengan tertawa: “Ungkapan yang pertama aku tanpa ragu-ragu menyetujuinya, tetapi ungkapan kedua apakah ini suatu ungkapan belaka yang tidak mempunyai arti apa-apa?” Temannya menjawab dengan menepuk-nepuk bahu Li Bo dan berkata: ”Orang di dunia ini menamakan Anda, Sepuluh Ribu Buku Li Bo, kan tidak berarti bahwa sepuluh ribu buku itu berada di kepala Anda yang kecil ini?” Mereka berdua ketawa dan meneruskan pembicaraan dengan menikmati minum teh…….READ MORE