Sedikit Pemikiran atas anggapan “Euforia Sekejap Atas Kebudayaan Tionghoa” – by RJ

Zaman reformasi mendatangkan kebebasan bagi suku Tionghoa di Indonesia untuk mengenal, menggali dan melestarikan kembali kebudayaannya setelah represi dan tekanan oleh penguasa terdahulu selama lebih 3 dasawarsa. Kebudayaan Tionghoa yang dimaksud di sini tentu adalah kebudayaan Tionghoa yang sesuai dalam lingkup kebudayaan nasional Indonesia, bukan kebudayaan asli yang harus primordial dari Mainland China, Taiwan, HK atau Macau yang dianggap merupakan tanah leluhur, juga bukan harus bertindak dan berbudaya sebagai mereka. Kebudayaan Tionghoa Indonesia tentu unik dan lain daripada kebudayaan orang Tionghoa di negara asal maupun negara lainnya.

Kebebasan melaksanakan kebudayaan Tionghoa tadi menimbulkan euforia terutama dari suku Tionghoa yang antusias akan kembali hidupnya kebudayaan Tionghoa yang telah lama lenyap. Ini lumrah saja karena kebudayaan Tionghoa terlanjur dianggap dan didoktrin sebagai kebudayaan asing bagi masyarakat Indonesia dan tidak sesuai dengan kebudayaan Indonesia.Ironisnya, banyak dari kita sebagai generasi muda yang mengaku berdarah Tionghoa juga berpikiran seperti itu dan merasa tidak memiliki kebudayaan Tionghoa tadi. Ini terutama adalah orang2 pendukung asimilasi paksa yang beranggapan bahwa kebudayaan Tionghoa harus dibuang jauh2 untuk dapat hidup sebagai seorang Indonesia.

Banyak dari generasi muda Tionghoa ataupun golongan pendukung asimilasi paksa tadi menyikapi dengan sinis kebebasan pelaksanaan kebudayaan Tionghoa setelah zaman reformasi dan tingginya antusias masyarakat atas kebudayaan Tionghoa yang terasa baru dan menarik itu. Mereka menyebutnya sebagai “euforia sesaat yang tak akan bertahan lama”. Tidak ada yang perlu digembirakan menurut mereka.

Sekilas nampaknya ini adalah pandangan sinis bagi para pendukung pengenalan dan pelestarian kebudayaan Tionghoa. Namun bagi saya tidaklah demikian. Bagi saya, bila pada suatu saat, antusias masyarakat mulai menurun pada hal2 yang berbau ke-Tionghoa-an dan kebudayaannya, maka ini adalah pertanda bagus. Ini adalah pertanda bahwa kebudayaan Tionghoatelah dapat diterima sebagai bagian dari kebudayaan nasional Indonesia dan bukan sebagai satu kebudayaan asing. Ini berarti kebudayaan nasional Indonesia bertambah kaya dengan masuknya satu kebudayaan suku Tionghoa dalam kehidupan berbudaya masyarakat Indonesia.

Bukankah fenomena ini sama saja dengan tidak asingnya masyarakat Indonesia dengan budaya perayaan Lebaran, Natal ataupun Valentine padahal itu bukan kebudayaan asli Indonesia?Bukankah juga sama saja dengan ketidakasingan masyarakat Indonesia kepada upacara-upacara adat berbagai suku di Indonesia? Indonesia baru ada setelah tahun 1945 dan maka dari itu, seluruh kebudayaan yang ada di dalam Indonesia sebelum pembentukannya harus menjadi bagian integral dari kebudayaan nasional Indonesia dan termasuklah di dalamnya kebudayaan Tionghoa.

Rinto Jiang

One thought on “Sedikit Pemikiran atas anggapan “Euforia Sekejap Atas Kebudayaan Tionghoa” – by RJ

  1. Pelarangan arak arakan Liong dan samsie di Pontianak oleh Wali Kota Pontianak Buchary A Rahman yang mengeluarkan SK No. 127 tahun 2008 tentang Jual Beli, Pemasangan Petasan dan Pelaksanaan Arakan Naga, Barongsai Dalam Wilayah Kota Pontianak, sangat mengusik pikiran saya, inikah akhir dari Euforia Kebudayaan Tionghoa?

    Terlepas latar belakang politik dan sosial di Kota Pontianak, nampaknya ada hal yang perlu menjadi perenungan kita bersama.

    Kebudayaan Tionghoa pada dasarnya sarat dengan spiritualisme yang di symbolkan dengan berbagai seni dan keindahan, bagi yang meresapi tidak mungkin terjebak pada lahiriah yang nampak, ia akan masuk kedimensi lain, dimensi batin, rasa dan spiritual.
    Berbeda dengan yang kurang bisa memahami hakekat kebudayaan Tionghoa, pastilah ia akan terjebak pada gebyar lahiriah, keindahan bentuk dan warna yang memang sedap dipandang. Pendek kata hedonisme akan mendapat pupuk yang cocok, disinilah euforia kebudayaan bermuara.

    Jadi kebudayaan Tionghoa tanpa didasari spiritualisme (hakekat yang terkandung di dalamnya) maka akan sulit dibedakan dengan kemewahan.

    Contoh , Liong – samsie atau sekarang orang menyebut dengan naga – barongsai, pada dasarnya kesenian ini adalah bagian dari ritual dan banyak mengandung filosofi yang bernilai tinggi. Namun, ditangan orang yang kurang faham, ia sekedar hiburan, sekedar ketrampilan, sekedar akrobatik dan -payahnya- sekedar profesi untuk mendapatkan uang. Dan -sedihnya- sebagian besar komunitas Tionghoa terhegemonik dengan padangan yang menyederhanakan kebudayaan ini.
    Bahkan, tidak kecil jumlahnya, komunitas Tionghoa sendiri sangat menentang apresiasi budaya Tionghoa yang dilandasi spiritual ini, mereka akan memandang sebagai paganisme, menyembah roh, memuja setan dan bertentangan dengan keimanan “agama” mereka.

    Nah, jadilah kebudayaan Tionghoa, dari dalam (komunitas Tionghoa) dan dari luar (komunitas non Tionghoa) dimaknai sebagai salah satu bentuk hedonisme semata.
    Padahal, hedonisme dalam bentuk apapun, dilakukan oleh siapapun hanya akan menghasilkan kebanggaan semu, identitas semua dan kepuasan semu. ia hanya bersifat fisik, tanpa isi. Hedonisme cepat atau lambat akan menui kedengkian, rasa iri dan perasaan tidak senang bagi yang melihat, yang tidak terlibat.

    Sebab budaya hedonisme tidak menghasilkan wisdom, melainkan ketamakan, intoleransi (tidak menimbang rasa), dan asosial.
    Berbeda dengan budaya berbasis spritualisme, ia akan menghasilkan kepekaan atas penderitaan orang lain, kehendak berkorban untuk kebahagiaan orang lain, rasa mudah memaafkan dan penghargaan terhadap universalisme, sebab ia akan matang secara budaya dan matang secara sosial.

    Saya menyakini bahwa Kebudayaan Tionghoa pada dasarnya adalah mekanisme sosial yang bertujuan untuk mewujudkan kehidupan bermasyarakat yang harmonis, mencetak manusia yang bijaksana dalam kehidupannya.

    Kalau tidak, maka perlu kita tinjau kembali bagaimana proses kebudayaan itu berlangsung. Kalau prosesnya benar, maka kebudayaan Tionghoa niscaya tidak hanya milik komunitas Tionghoa sendiri, melainkan milik atau kekayaan umat manusia.

    Lho. ini bukan utopia, ini sudah menjadi realita dalam masyaralat kita (Indonesia), misalnya dalam soal musik, makanan/kuliner, ilmu beladiri, arsitektur, adat istiadat dan kepercyaan, bahkan dalam agama Islam ada nasehat yang sangat terkenal : carilah ilmu sampai ke negeri China.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s