Artikel: Kilin

Catatan Rinto: Kie Lin (Hokkian), Chi Lin (Mandarin) dikatakan orang Barat sebagai unicorn-nya mitologi Chinese. Kie Lin adalah salah satu dari binatang lambang mitologi Chinese selain naga dan phoenix.

Liong (Hokkian) = Long (Mandarin) = Naga
Hong (Hokkian) = Feng (Mandarin) = Phoenix

Di dalam cerita Sam Kok (Romance of Three Kingdoms), Xu Shu bertemu dengan Lui Bei dan menyarankannya untuk mencari bantuan Zhuge Liang dan Pang Tong. Ia menyebut Zhuge Liang sebagai Sleeping Dragon dan Pang Tong sebagai Blooming Phoenix.

Kie Lin Tunggangan Para Dewa
Kompas, 31 Januari 2003

Dalam legenda Cina dikenal ada binatang yang menjadi tunggangan para dewa. Binatang yang mendapat kepercayaan untuk mengantar para dewa ke mana pun mereka pergi itu bernama Kie Lin. Kie Lin ini merupakan binatang yang mewakili 18 binatang yang ada di dunia.

Selain patung batu Kie Lin, yang bisa ditemui di depan pintu masuk sebuah klenteng atau beberapa tempat lainnya, patung Kie Lin juga bisa didapati di dalam klenteng. “Seperti yang diduduki Ji Lay Nan U Fuk atau Buddha-nya orang Cina. Jadi bukan Buddha India yang biasa disebut She Cia Moni Fuk,” jelas Krisna Warih, ahli feng shui dan ngoheng peji.

Karena merupakan tunggangan dewa maka Kie Lin ini juga memiliki daya magis. Pertunjukan Kie Lin ini juga sangat langka. Di wilayah Jabotabek (Jakarta-Bogor-Tangerang dan Bekasi) saja, bisa dibilang Kie Lin ini hanya ada di Bogor seperti yang dimiliki Perguruan Gerak Badan (PGB) Bangau Putih Bogor.

“Itu pun karena Kie Lin ini dipilih ayah (Guru Besar PGB Bangau Putih Bogor, Subur Rahardja) sebagai lambang perguruan kami. Kalau tidak, mungkin Kie Lin ini tidak ada sama sekali di daerah Jabotabek,” tutur Gunawan Rahardja yang kini menggantikan kedudukan ayahnya.

Daya magis Kie Lin ini bisa terlihat bila sudah diniatkan untuk ditampilkan kepada umum. “Biasanya akan turun hujan, entah hujan deras atau gerimis, pasti akan terjadi,” ucap Virja Surja Tonowidjaja, pelatih utama Tunas Jaya Wushu yang terletak di Kelurahan Pluit, Kecamatan Penjaringan, Jakarta Utara.

Hal itu memang terjadi ketika PGB Bangau Putih Bogor, Sabtu (25/1), akan mengganti Kie Lin lama, lambang perguruan mereka, dengan Kie Lin yang baru. Hujan deras turun sebelum Kie Lin lama dan Kie Lin baru PGB Bangau Putih Bogor di bawa Ho Tek Bio (klenteng kecil) yang terletak di dekat Kebun Raya Bogor.

Sebagai binatang dewa, Kie Lin sendiri bentuknya sepintas mirip singa. Tetapi, bila dilihat secara agak mendetail maka terlihat kalau sebagian tubuh Kie Lin ini mewakili ke-18 binatang yang ada di bumi.

Seperti badannya yang merupakan badan kuda tetapi memiliki sisik ular dan sisik ikan. Buntutnya pun dari kura-kura. Keempat kakinya juga berbeda semuanya. Ada yang berupa kaki burung hong (rajawali), kaki macan, kaki kerbau, dan kaki menjangan.

Kedua matanya yakni mata kepiting, dengan telinga mewakili telinga kelinci serta bertaring macan. Sedangkan jenggot dan mulutnya merupakan mulut singa serta pipinya pipi naga. Kie Lin ini juga memiliki tanduk bercabang dua yang merupakan tanduk rusa.

“Warna Kie Lin biasa diambil dari salah satu warna lima unsur yang ada di bumi,” kata Gunawan. “Bisa hijau yang merupakan unsur langit atau organ paru-paru dalam tubuh manusia. Bisa juga warna biru (air/tenggorokan), merah (bumi/dubur), kuning (alam/jantung) dan oranye (gunung/perut). Kebetulan yang dipilih perguruan kami itu warna hijau,” jelas anak keempat almarhum Subur Rahardja.

Berat Kie Lin ini biasa antara tujuh sampai delapan kilogram dengan panjang badannya sekitar 156 sentimeter. Tetapi, dengan kemajuan teknologi Kie Lin pun kini semakin ringan. “Sekarang beratnya antara tiga sampai lima kilogram saja,” kata Surja.

Sekali pun beratnya berkurang, tetap saja mereka yang ingin memainkan Kie Lin harus menguasai ilmu silat. “Sebenarnya bisa saja dimainkan oleh orang awam. Tetapi, karena beratnya tentu yang memainkannya pun harus kuat dan gesit. Sehingga, bisa tahan lama mainnya serta indah gerakannya,” ucap Surja yang juga pelatih Pelatnas Wushu.

“Tetapi, kalau di tempat kami, sudah dipilih suhu masing-masing pasangannya. Setiap pasang akan memainkan Kie Lin dengan jurus yang berbeda. Ada yang membawakan dengan jurus empat penjuru atau jurus bulan purnama,” kata Peter, pemuda Kelurahan Lebak Pasar, Kecamatan Bogor Tengah, yang sudah berguru di PGB Bangau Putih Bogor sejak empat tahun lalu.

Cuma, memang berbeda, tambah Peter. “Kalau latihan itu bisanya kami cuma tahan lima menit saja. Tetapi, kalau sedang pertunjukan seperti ini bisa bertahan sepuluh sampai dua puluh menit tanpa terasa lelah. Entah itu karena kami ditonton atau karena memang sudah mendapat hu (jimat) setelah didoakan di klenteng.”

Memang, sebelum melakukan pertunjukan, Kie Lin lebih dulu harus disembahyangkan di klenteng. Baru setelah itu, sang Biku akan menempelkan hu di kepala Kie Lin.

KIE Lin ini bisa dibuat sendiri atau bisa juga dibeli. “Kalau dibuat sendiri biayanya hanya sekitar Rp 1,5 juta sampai Rp 3 juta saja. Tetapi, kalau beli, ya bisa sampai Rp 10 juta,” jelas Peter.

“Tetapi, kalau beli Kie Lin impor harganya bisa sampai Rp 20 juta-an. Biasa kita beli dari Malaysia dan dikirim lewat Singapura. Walau mahal, tetapi sudah lengkap dengan tambur besar-kecil berikut simbal besar-kecilnya,” tambah Surja.

Kie Lin PGB Bangau Putih Bogor yang baru menurut Peter dibuat bersama seorang rekannya yang juga murid PGB Bangau Putih Bogor dalam waktu satu tahun. “Kerangka bagian kepalanya dibikin dari bambu.”

Selain sukar, pembuatan bagian kepala itulah yang paling lama. “Karena akan makan waktu delapan bulan sendiri. Sedangkan untuk membuat badannya tidak begitu sulit,” ujar Peter.

Begitu pula dengan tamburnya, PGB Bangau Putih Bogor juga membuatnya sendiri. “Di sini, yang biasa menangani semua hal yang berhubungan dengan seni, ya Peter itu,” ucap Guru Besar PGB Bangau Putih Bogor.

SEPERTI Kie Lin, Liong atau Naga juga dipercaya sebagai hewan tunggangan para dewa. Kalau Kie Lin biasa dipergunakan Ji Lai Nan U Fuk, maka Liong biasa digunakan Dewi Kwan Iem atau Dewi Welas Asih.

Dalam hikayat Cina kuno yang kadang masih dipercaya para penganut Sam Kaw, dikisahkan bahwa dulu kala ada Ta Lu Wang (Raja Langit) yang memiliki sembilan anak. Kesembilan Liong itu kemudian diutus ke bumi. Enam Liong diminta menjaga ke enam benua yang ada di bumi dan tiga lainnya menjaga ke tiga samudera yang ada.

“Itu sebabnya kalau kemudian terjadi gempa atau letusan gunung berapi itu tidak lain disebabkan oleh bergeraknya Liong di tempat bersangkutan,” kata Krisna yang tinggal di bilangan Kelapa Gading, Jakarta Utara.

Prosesi Liong sebelum dimainkan pun tidak berbeda dengan prosesi Kie Lin. Hanya pemainnya saja yang jauh lebih banyak Liong dibandingkan pemain Kie Lin. Untuk memainkan Liong sepanjang apa pun biasanya dilakukan dalam jumlah yang ganjil. Liong dalam ukuran normal itu panjangnya mencapai 20 meter.

Bagian kepalanya itu beratnya bisa sampai 15 kilogram. “Dahulu kerangka kepalanya dibuat dari rotan, makanya berat sekali. Tetapi, sekarang bisa juga dibuat dari rautan bambu dan dengan kertas yang lebih tipis, jadi beratnya pun semakin berkurang antara 10 sampai 12 kilogram saja,” jelas Surja.

Saat memainkannya pun biasa. Kalau pemain Liong bertemu dengan yang memainkan Kie Lin maka yang memainkan Kie Lin harus memberi hormat kepada Liong. “Sebab, dari umurnya Liong jauh lebih tua dari pada Kie Lin. Cuma, sekarang ini tata aturan tersebut sudah tidak diketahui anak-anak muda yang memainkan Kie Lin. Makanya sering terjadi pemain Kie Lin-nya berjatuhan karena memang masih ada daya magis-nya tadi,” kata Surja.

Seharusnya, tambahnya, hal ini bisa dimanfaatkan juga untuk mendatangkan hujan. “Apa lagi seperti kemarau yang kita alami baru lalu merupakan kemarau panjang. Rasanya bila hal tersebut benar-benar dapat bermanfaat untuk masyarakat sekitar, kan bisa saja dimainkan Kie Lin atau Liong yang ada di kelenteng setempat.”

WALAU sama-sama merupakan kendaraan para dewa tetapi Kie Lin dan Liong jarang bisa dijumpai muncul bersamaan. Sebab, kemunculan Kie Lin itu hanya pada waktu tertentu saja.

Sedangkan kehadiran Liong dapat kita saksikan menjelang dan selama Sin Cia (tahun baru Cina). Saat muncul pada perayaan Sin Cia itu Liong bersama-sama dengan Barongsai. “Kehadiran Liong maupun Barongsai saat itu tidak lain untuk membantu manusia mengusir arwah jahat yang berada di dalam rumah maupun di daerah tempat tinggal mereka,” kata Surja.

Apa pun bentuknya, tentu kesempatan untuk memanfaatkan Kie Lin maupun Liong sangat terbuka bagi siapa pun. Selain bisa membantu sektor pariwisata, yang tengah terpuruk, juga bisa membantu petani kita yang tergantung pada hujan. Pintu sudah terbuka tinggal bagaimana keduanya saling menghilangkan rasa curiga yang masih ada di antara mereka.
Karena, bagaimanapun budaya Cina adalah bagian dari budaya dunia yang akan tetap hidup.

Sin Cun Kiong Hi… (KORANO NICOLASH LMS)

One thought on “Artikel: Kilin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s