Imlek Sejati Milik Tionghoa Miskin

Sumber : Kompas, 21 Januari 2004

GUBUK berdinding bilik tipis, beratap rumbia, dengan lantai tanah berukuran 3 x 3 meter itu penuh sesak dihuni keluarga Susanto (35), orang Tionghoa yang bermukim di Tanjung Burung, Kabupaten Tangerang, Provinsi Banten.

Di dalam gubuk sangat sederhana itu tidak ada pembatas ruangan. Hanya ada sebuah “dapur” di sudut ruangan, sebuah lubang untuk jamban, dan dipan berkasur tipis tempat mereka tidur. Itulah properti milik Susanto yang berkulit gelap akibat terbakar panas Matahari saat mencari nafkah, mengayuh becak.

Susanto hanyalah salah satu warga keturunan Tionghoa yang hidup miskin di sekitar Jakarta. Cina Benteng, mereka biasa disebut. Di kawasan Tanjung Burung dan juga tempat-tempat lain pinggiran Jakarta kini bermukim ribuan warga Tionghoa yang miskin.

Dalam kemiskinan dan kesederhanaan itulah mereka akan “menikmati” malam pergantian tahun dalam sistem penanggalan Cina.

Perayaan Tahun Baru Cina bagi mereka sungguh bersahaja. Cukup pergi ke vihara di kampung bersama ribuan warga Tionghoa miskin lain. Seusai sembahyang di vihara, sering kali disediakan makanan sumbangan. Bersama-sama mereka makan hidangan mewah ala thanksgiving setahun sekali.

Kemiskinan, derita, dan kepapaan, itulah potret ribuan warga Tionghoa miskin di kawasan berjarak tempuh satu jam perjalanan dari Tangerang itu. Hal serupa tergambar di pedalaman Singkawang, Kalimantan Barat, pelosok Bangka-Belitung, pesisir Tanjung Balai, Bagan Siapi-api, hingga Riau. Bekerja serabutan, melakukan pekerjaan kasar, bahkan menjadi buruh tani adalah suratan takdir yang harus mereka jalani.

Demikian pula di sudut Jalan Malioboro, Yogyakarta, setiap hari terlihat warga Tionghoa miskin berjualan intip (kerak nasi) di pinggir jalan. Karena tidak memiliki dapur, mereka menggoreng intip di pinggir jalanyang juga menjadi tempat berjualan.

Seperti Susanto, warga Tionghoa miskin di Yogyakarta, tinggal di perkampungan gubuk papan selebar dua atau tiga meter di belakang Jalan Malioboro yang gemerlap. Jangankan bicara soal perayaan Imlek, dapat menyambung hidup saja sudah merupakan hal yang mereka syukuri.

Permukiman warga Tionghoa miskin sungguh kontras dibandingkan dengan suasana Chinatown di Jakarta Kota, Surabaya (Jawa Timur), Semarang (Jawa Tengah), Medan (Sumatera Utara), Makassar (Sulawesi Selatan), dan Pontianak (Kalimantan Barat). Jangankan berbaju baru, untuk menyambung hidup pun mereka hanya bertahan sehari demi sehari.

“Saya menarik becak setiap hari. Penghasilan paling besar Rp 20.000, yang habis untuk makan,” kata Susanto. Dia seorang diri mencari nafkah karena istrinya tidak punya pekerjaan.

Kemiskinan membuat seorang anaknya putus sekolah di usia sekolah lanjutan tingkat pertama. Sedangkan tiga anaknya yang lain masih bersekolah, tetapi juga tidak pasti apakah bisa bertahan. Meski demikian, mereka tetap bersatu sebagai keluarga yang saling menyayangi dalam merayakan Imlek.

MESKI dililit kemiskinan, masyarakat Tionghoa marjinal sungguh menghayati arti perayaan Imlek. Eddy Prabowo Witanto yang lama meneliti masyarakat Tionghoa miskin di Bangka-Belitung, Tangerang, dan Singkawang mengatakan, perayaan Imlek di kawasan tersebut sangat orisinal serta menyentuh perasaan.

“Dalam kemiskinan, sangat terasa suasana kekeluargaan di antara mereka. Pengucapan syukur dalam sembahyang bersama, reuni keluarga, dan menghormati sanak keluarga sungguh dihayati kalangan Tionghoa miskin,” tutur Eddy.

Sebagai contoh, di Dusun Puput, Kecamatan Jebus, Bangka, perayaan Imlek sungguh terasa meski berlangsung dalam kesederhanaan. Warga Tionghoa yang umumnya merantau ke Jakarta beramai-ramai pulang kampung dengan menumpang kapal.

Setiba di Bangka, mereka bergotong-royong mencarter minibus yang segera dipenuhi penumpang hingga berjejal ke atap tak ubahnya warga mudik Lebaran di Jawa. Saat tiba di desa, terjadi pertemuan yang mengharukan. Peluk cium terlihat di tengah permukiman miskin berdinding bambu yang dicat dengan kapur seadanya.

Selama dua hari menjelang Tahun Baru, pelbagai adat tradisi betul-betul dilaksanakan masyarakat Tionghoa miskin dengan saksama. Mereka menyapu rumah, memasang kertas merah dengan puisi (duilian), makan malam bersama, dan berbagai tradisi seperti di daratan Tiongkok. Sungguh menarik untuk diikuti meski dilakukan dalam kesederhanaan.

Malam Imlek dilalui dengan perayaan barongsai dan long atau liong dalam dialek Hokkian. Seluruh masyarakat berkumpul dalam perayaan ini termasuk warga Melayu atau Dayak, seperti terjadi di Kalimantan Barat.

Kemudian, acara puncak berlangsung pada hari Tahun Baru, keluarga bersembahyang bersama. Kaum muda berpakaian baru meski bukan busana bermerek, mengucapkan selamat tahun baru kepada orangtua, leluhur, dan sanak keluarga yang lebih tua. Silaturahmi pun berlangsung di tengah jalanan kampung- yang kerap becek akibat hujan pada Tahun Baru Imlek.

Inilah makna Tahun Baru sejati, yakni ritual dan reuni keluarga. Menurut Eddy, jika ingin perayaan Imlek yang sejati, datanglah ke permukiman masyarakat Tionghoa miskin. Di seantero kota besar sudah terjadi pergeseran makna perayaan Imlek, yakni menjadi ajang foya-foya dan pameran kemewahan. Bahkan, ada paket pesta yang menelan biaya ratusan juta rupiah!

Perayaan Imlek ala masyarakat Tionghoa miskin sungguh bertolak belakang dengan stereotip etnis Tionghoa yang kaya raya serba berkecukupan. Bahkan sering kali etnis Tionghoa diasosiasikan dengan perilaku konglomerat hitam yang bersama pejabat militer-sipil menggarong uang negara.

Tahun Baru Imlek sejati justru ada di balik kemiskinan dan kesederhanaan. Apalagi, lanjut Eddy, yang meneliti permukiman Tionghoa di Indonesia, 65 hingga 70 persen masyarakat Tionghoa di Indonesia berasal dari kelas marjinal alias miskin papa!(Iwan Santosa/ Vinsencia Hanny)

5 thoughts on “Imlek Sejati Milik Tionghoa Miskin

  1. perayaan imlek merupakan suatu tradisi atau kebudayaan suku cina yang mana tidak membedakan adanya golongan kaya dan miskin.Karena pengaruh lingkungan yang ditempati, situasi serta kondisi ekonomi yang berbeda-beda,sehingga mempengaruhi cara perayaannya. Namun pada dasarnya semuanya sama,yaitu menjalankan tradisi dan kebudayaan yang merupakan suatu harta atau kekayaan bagi suku cina.

  2. Too my kakak Khoo Salma,
    Ni hao. I miss this beloved couple Lubis-Nasution of Penang.
    I hope you two doing just fine. Thanks to read my article.
    Eddy Prabowo currently taking a lecture position in Beijing.
    I still in touch with him.
    Best Regards
    Iwan Ong

  3. Luar Biasa, sangat bermanfaat dan membuka wawasan sekali artikel ini, betul pak memang masyarakat Tionghoa yang miskin dalam merayakan imlek jumlahnya sangat banyak apabila dibandingkan dengan yang kaya, dan untuk di daerah Tangerang pemukiman mereka berada di daerah sekitar Legok, Curug, Cukanggalih, Sewan, Cisoka dll, untuk para pemuda-pemudi Tionghoa khususnya cintailah dan pahamilah tradisi dan budaya Tionghoa.
    Kamsia
    Wira Yap – Tangerang

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s