Melestarikan Tradisi Melalui Kue Keranjang

PEMBUAT kue keranjang yang tetap bertahan di Kota Bogor itubernama Tjioe Tjie Siang (81) atau akrab dipanggil Iyek. Ia mengaku baru pertama kali dalam hidupnya menghadapi wartawan dan diwawancarai tentang usahanya membuat kue keranjang, melanjutkan usaha yang ditekuni almarhumah istrinya, Thung Eng Nio.

Karena itu, sebelum berbicara lebih lanjut dengan Kompas, yang menemuinya di tengah-tengah kesibukannya membantu melayani penyerahan kue keranjang kepada pelanggannya, Senin (19/1) pagi, dengan nada suara waswas dia berkata, “Apabila maksud kedatangan Bapak ini membikin susah saya, lebih baik jangan ditulis. Tetapi, bila mendatangkan kegembiraan, silakan saja ditulis.”

Tentu harus dijelaskan kepadanya bahwa ia telah ikut melestarikan kue yang muncul setahun sekali ini. Agar ketekunannya membuat kue yang hanya setahun sekali ini dilanjutkan oleh anak, cucu, dan seterusnya. Pemerintah setempat hendaknya dapat membantu Iyek bila mengalami kesulitan, bukan membebani dengan pungutan yang kemudian mengakibatkan usahanya malah tak berkembang. Sementara industri rumah tangga yang satu ini menyerap banyak tenaga kerja. Mulai dari pengumpul daun pisang, pembuat keranjang cetakan dengan desain yang selalu diperbarui setiap tahun, pekerja yang bertugas melapisi keranjang cetakan dengan daun dan plastik, pekerja yang menangani pengolahan bahan baku, sampai pendagang pengecer.

Kue keranjang ini, menurut Tjie Siang yang mengaku pernah menjadi pendidik, hanya diproduksi setahun sekali menjelang Tahun Baru Imlek. Kue ini selain menjadi makanan pada Tahun Baru Imlek juga sebagai bahan sesaji pada upacara sembahyang kepada leluhur saat perayaan Tahun Baru Imlek bagi mereka yang masih memelihara tradisi ini. Karena itu, sebagian besar kalangan etnis Tionghoa menyebut tidak lengkap bila sembahyang dan perayaan Imlek tanpa kue keranjang.

Tjie Siang menyebutkan, kue keranjang ini mulai dipergunakan sebagai sesaji pada upacara sembahyang leluhur enam hari menjelang Tahun Baru Imlek (Jie Sie Siang Ang) dan puncaknya pada malam menjelang Tahun Baru Imlek. Kue keranjang yang dijadikan sesaji sembahyang ini biasanya dipertahankan sampai Cap Go Meh (malam ke lima belas). Selanjutnya dimakan bersama-sama atau diolah dengan berbagai macam makanan.

“Kalau pembuatan kue keranjang kami ini dapat bertahan, itu semata-mata selain kualitas juga karena masih ada dari pihak keluarga yang mau melanjutkan usaha membuat kue keranjang. Dan yang tak bisa dilupakan adalah karena peran pedagang pengecer yang aktif menjajakan kepada konsumen. Tanpa mereka kue keranjang ini tak berkembang,” katanya. Ia menyebutkan, tahun ini merupakan tahun terakhir dia membantu melayani pelanggannya. Tahun depan usaha ini akan diserahkan kepada anaknya untuk melanjutkan membikin kue keranjang.

Kue keranjang asal Bogor yang sudah dikenal sejak dulu ini tanpa merek, namun beken dengan nama kue keranjang Cik Eng, yakni nama dari Thung Eng Nio yang mewarisi usaha yang dirintis oleh almarhum ayahnya, Thung Djie Bien. Pada tahun 1993, Thung Eng Nio meninggal dunia dalam usia 63 tahun. Sejak itu usahanya diteruskan oleh suaminya, Tjioe Tjie Siang, hingga sekarang. Anak mereka yang ketiga bernama Tjioe Pao Chien (51) sejak lima tahun yang lalu telah dipersiapkan untuk melanjutkan usaha pembuatan kue keranjang yang diperkirakan telah berusia sekitar 100 tahun itu. Dengan demikian, Pao Chien alias Supartono akan menjadi generasi ketiga pembuat kue tanpa label yang dikenal dengan nama kue keranjang Cik Eng ini.

KUE keranjang Cik Eng ini dikemas dalam bungkus plastik dan daun pisang. Untuk yang dibungkus dengan daun pisang dijual Rp 10.000 per kilogram, sedangkan yang dibungkus plastik seharga Rp 9.000 per kilogram. Kue keranjang ini dibuat dua dan tiga bungkus per kilogram. Selain itu, di situ juga dibuat kue keranjang bertingkat berdasarkan pesanan. Menurut tradisi, semakin tinggi tingkatnya, semakin besar bakti dan pahala yang akan diperoleh.

Supartono kepada Kompas menyebutkan, sejak tahun ini dia tak lagi jualan kelontong, tetapi tenaganya sepenuhnya dicurahkan pada kegiatan pembuatan kue keranjang. Sejak lima tahun yang lalu, dia telah mendampingi ayahnya dalam kegiatan membuat kue keranjang yang hanya diproduksi setahun sekali.

Tenaga kerja yang terlibat dalam pembuatan kue keranjang ini lebih dari 50 orang. Mereka mulai dari menggiling ketan agar lembut, memanggang daun pisang agar lemas dan mudah dilipat-lipat, membungkus keranjang cetakan dengan daun pisang dan plastik, mengaduk bahan baku, mengisi bahan ke keranjang, lalu dikukus hingga matang. Kegiatan dimulai pukul 17.00 sampai pukul 09.00 pagi. “Karyawan bagian mengukus ini bekerja lembur untuk mengejar pesanan,” kata Supartono.

Supartono mengungkapkan pula, kue keranjang dengan nama ibunya ini bukan hanya dikenal di daerah Bogor saja, tetapi juga sudah diekspor ke Hongkong, Malaysia, dan Singapura.

“Bukan saya yang mengekspor langsung, tetapi oleh eksportir makanan di Jakarta yang memesan secara khusus ukuran satu kilogram sebungkus,” kata Supartono seraya menyebutkan produksi kue keranjang tahun ini sekitar 10 ton. Dari sejumlah itu, sekitar dua ton diekspor. Pembuatan kue dilaksanakan sebulan sebelum Tahun Baru Imlek.

Kue keranjang Cik Eng, menurut Supartono, mempunyai ciri sendiri yang berbeda dengan produksi luar Bogor yang masuk di Kota Bogor seperti tampak dijual di toko-toko. Meski tanpa merek, kue keranjang Cik Eng dapat dikenali lewat bagian atas pembungkusnya yang dibuat secara khusus sehingga menjadi ciri tersendiri, yakni “dikonde” dan daya tahan kue keranjang Cik Eng yang mencapai setahun.

Menurut Tjie Siang, kue keranjang yang diproduksi setahun sekali ini lebih diutamakan turut melestarikan tradisi kalangan etnis Tionghoa daripada meraup untung. “Keuntungan besar yang kami raih adalah mampu melestarikan tradisi. Selain itu memberi rezeki kepada pengecer dan pekerja yang menjadi tulang punggung pembuatan dan peredaran kue keranjang,” kata Tjie Siang yang bersama keluarga dan karyawan lainnya pekan ini berusaha keras menyelesaikan pesanan pelanggannya menjelang Tahun Baru Imlek tanggal 22 Januari. (FX Puniman)

Sumber : Kompas

posted by Rinto Jiang

http://groups.yahoo.com/group/budaya_tionghua/message/1810

4 thoughts on “Melestarikan Tradisi Melalui Kue Keranjang

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s