Cerita tentang Bangsa Perantau (1) : Asimilasi, Pencinaan Kembali, dan Pengakuan

Cerita tentang Bangsa Perantau (1) : Asimilasi, Pencinaan Kembali, dan Pengakuan
Jakarta, KCM 

Minggu-minggu terakhir ini, sejumlah kota-kota besar di Indonesia ‘memerah’ oleh kain-kain dan lampion-lampion. Pusat-pusat perbelanjaan, hotel, dan restoran seperti berganti busana, menghiasi diri dengan nuansa merah. Tahun baru Imlek. Sekarang, perayaannya sama meriahnya dengan perayaan Lebaran dan Natal. Ini adalah tahun kelima sejak pemerintah Indonesia memberikan kebebasan kepada masyarakat Tionghoa di Indonesia untuk merayakan hari besar adat istiadat mereka.  

Warna merah seperti menjadi simbol kebebasan bagi bangsa perantau ini yang selama berabad-abad bergulat mencari bentuknya sebagai sebuah entitas di negeri orang. Melongok kembali perjalanan orang-orang Tionghoa di bumi Nusantara dan kontribusi mereka pada sejumlah kebudayaan yang sekarang ini kita sebut sebagai budaya lokal, sungguh mereka tidak bisa disebut sebagai sebuah bangsa ‘lain’ di negeri ini.  

Apa yang kita kenal selama ini sebagai kebudayaan lokal masyarakat Indonesia, banyak yang awalnya adalah kebudayaan Cina. Bangsa Cina, dalam sejarah, memiliki peran dalam mentransformasikan sejumlah teknik dalam kehidupan sehari-hari yang kini melebur, dikembangkan, dan menjadi identitas masyarakat setempat. 

Salah satu hal yang tersisa dan melekat pada mereka sekaligus yang menegaskan identitas mereka sebagai orang Tionghoa adalah perayaan Imlek. Menarik sekali, menyusuri lorong-lorong masa lalu dan melihat pergulatan anak cucu dari negeri Cina ini berinteraksi di negeri Nusantara sampai dengan titik   sejarahnya yang ‘memerah’ seperti sekarang.

Tulisan ini dibagi menjadi dua. Bagian pertama mencoba menyusuri sejarah kedatangan orang-orang Tionghoa dan pergumulan asimiliasi yang terjadi dengan masyarakat setempat. Tulisan kedua mencoba melihat warisan apa saja yang diberikan oleh masyarakat Tionghoa yang sekarang menjadi milik masyarakat Indonesia. 

O, iya, sebelum lupa, Xin nian kuaile (Selamat tahun baru), gong xi fa cai (Semoga tambah kaya).  
***
Tidak ada catatan yang jelas tentang kapan bangsa Cina pertama kali bersentuhan dengan Nusantara. Dalam sumber-sumber Cina disebutkan bangsa Cina telah mengenal Jawa sejak awal abad pertama Masehi. Hal tersebut ditunjukkan oleh catatan Cina tentang terdamparnya pendeta Buddha Fa Hsien (Fa Hian/ Faxian) di sebuah pulau yang bernama ‘Ya-wa-di’. Disebutkan, pendeta Fa Hsien tinggal di situ selama lima bulan setelah berlayar selama 90 hari dalam perjalanan dari Sri Langka ke Kanton pada tahun 414 M. Ya-wa-di adalah transliterasi Cina dan toponim Jawadwipa-sebutan Jawa dalam teks Sanskerta.

Selain itu, sejumlah benda prasejarah yang ditemukan di Indonesia menunjukkan terjadinya interaksi bangsa Cina dengan Nusantara. Berbagai kapak batu zaman neolithikum yang ditemukan memiliki persamaan dengan kapak batu giok atau Zamrud yang ditemukan di Tiongkok dan berasal dari jaman yang sama.  

Temuan-temuan itu menunjukkan bahwa hubungan lalu lintas pelayaran antara orang Tionghoa dari Tiongkok dengan Nusantara telah berlangsung sejak jaman baheula. Baru pada zaman kerajaan Airlangga yaitu Tuban, Gresik, Jepara, Lasem, dan Banten, dapat dibuktikan adanya berbagai koloni Tionghoa. Masih menurut catatan yang ada, orang-orang Tionghoa mulai berdatangan ke Indonesia pada abad ke-9, yaitu pada jaman Dinasti Tang untuk berdagang dan mencari kehidupan baru.  

Asimilasi 
Di Indonesia, sejak awal abad pertama Masehi, interaksi antara orang Cina dengan masyarakat pribumi berlangsung selama berabad-abad. Unsur-unsur Cina melebur dengan unsur-unsur lainnya. Mereka hidup membaur dan membawa kebudayaan masing-masing.  

Orang Tionghoa hidup dengan berdagang, bertani, dan menjadi tukang. Umumnya, mereka tidak membawa isteri dari Tiongkok. Mereka mengawini perempuan Jawa atau Melayu, atau membeli budak untuk dijadikan gundik atau isteri. Pada zaman itu, ada aturan perempuan dilarang pergi ke luar Tiongkok.  

Sejarawan Prancis, Prof Dr Denys Lombard, dalam bukunya “Nusa Jawa: Silang Budaya” menyebut, asimilasi kebudayaan Cina dan kebudayaan-kebudayaan lain di Nusantara berlangsung sangat mulus dan alami. Jawa, sebelum masa kolonialisme Belanda, adalah ruang yang reseptif bagi terjadinya perjumpaan kebudayaan dari berbagai negeri. “Sulit menelusuri sejarah kelompok-kelompok Cina yang pertama,” tulis Lombard.  

Pencinaan kembali   
Proses asimilasi bangsa Cina dengan masyarakat setempat yang berjalan begitu natur selama berabad-abad tersendat, kalau tidak ingin dibilang putus, memasuki paruh pertama abad ke-18 dan awal abad ke-19. Pada abad ini, identitas kecinaan di tanah Jawa mulai muncul. Situasi ekonomi dan politik di daratan Tiongkok, meningkatnya arus pelayaran sebagai akibat dari dibukanya terusan Suez di pertengahan abad ke-19,   dan mulai berkuasanya Belanda atas tanah Hindia membuat bangsa Cina mengalami fase pencinaan kembali.  

Lombard mencatat tiga peristiwa penting di atas sebagai faktor yang sangat mempengaruhi dialektika budaya masyarakat Cina di tanah Jawa. Pertama, memburuknya situasi perekonomian Cina di penghujung kekuasaan dinasti Qing pada akhir abad 19. Pertanian di Cina mandeg dan tidak mampu lagi memenuhi kebutuhan pangan penduduk yang semakin banyak jumlahnya.  

Pada waktu yang bersamaan, pemerintah Hindia Belanda membuka tambang-tambang baru yang memerlukan tenaga kerja yang banyak. Memburuknya situasi ekonomi di negeri sendiri mendorong bangsa Cina berbondong-bondong datang ke Hindia Belanda. Pada awal abad 19, jumlah orang Cina yang menetap di Batavia berjumlah 100.000 dan berkembang menjadi 500.000 pada akhir abad ke 19.  

Bisa dipahami kemudian jika meningkatnya jumlah masyarakat Cina dan pengelompokan suku bangsa yang dilakukan Belanda meningkatkan kesadaran akan identitas mereka sebagai kelompok tersendiri. Di pihak lain, kehadiran mereka pun tidak diterima baik oleh masyarakat setempat. Mereka pun mengembangkan kebudayaan mereka sendiri sebagai sebuah bangsa. Kelenteng tumbuh berpuluh-puluh selama beberapa dasarwarsa menjadi simbol identitas budaya. Kelenteng juga menjadi tempat pertemuan atau klub.

Perkembangan kedua yang menjadi faktor terjadinya pencinaan kembali, menurut Lombard, adalah dibukanya terusan Suez pada tahun 1865. Jalur baru yang dibuka ini meningkatkan emigrasi besar-besaran    wanita-wanita Cina. Ada yang berlayar ke Hindia Belanda dengan paksaan. Mereka terutama gadis-gadis malang yang diculik dan dikirim ke rumah-rumah pelacuran di Laut Cina Selatan. Ada pula yang beremigrasi karena menghindari kawin paksa. Namun, dorongan utama emigrasi adalah kesulitan hidup yang mereka alami di negeri asalnya.  

Bisa ditebak, kehadiran wanita Cina dalam jumlah besar itu berpengaruh sangat besar dalam proses perkawinan. Lelaki-lelaki Cina yang sebelumnya tidak mempunyai pilihan lain selain mengawini wanita pribumi, kemudian cenderung mengambil wanita satu negeri sebagai isteri. Asimilasi yang sebelumnya terjadi karena proses perkawinan campur terhenti dan pencinaan terjadi melalui rumah tangga.

Perkembangan ketiga, masih menurut Lombard, bersifat lebih politis, yaitu berkaitan dengan perkembangan situasi di Cina sendiri. Pergolakan anti Manchuria dan bangkitnya nasionalisme Cina membangkitkan pula semangat identitas sebagai bangsa di perantauan. Mulai meredupnya era kedinastian dan proklamasi republik yang dideklarasikan oleh Dr Sun Yat Sen menumbuhkan semangat nasionalisme kaum perantauan. Terbitnya semangat nasionalisme ini kemudian semakin dibangkitkan dengan ekspansi yang dilakukan Jepang di daratan Cina.  

Kegamangan dan asimilasi paksa
Entitas yang mulai tumbuh sebagai sebuah bangsa mendadak menjadi gamang ketika Perang Dunia II berakhir. Berakhirnya rezim kolonial dan lahirnya Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) sontak membuat orang bertanya tentang status kelompok masyarakat mereka yang sejak zaman kolonial terbiasa membentuk kelompok tersendiri. Dalam perkembangan republik ini, identitas Cina menjadi baju panas untuk dikenakan.  

Pasca kemerdekaan Indonesia, asimilasi yang tehenti di zaman kolonial coba diteruskan. Namun proses asimilasi yang dilakukan menjadi sesuatu yang dipaksakan dan banyak dirasakan sebagai pemerkosaan hak asasi. Asimilasi adalah Indonesianisasi. Atas nama asimilasi tersebut pemerintahan pertama Republik Indonesia mengeluarkan peraturan penggantian nama. Tidak hanya soal  nama, pada tahun 1967 rezim Orde Baru mengeluarkan Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 14 Tahun 1967 yang melarang perayaan-perayaan pesta agama dan adat istiadat Cina. Begitulah, selama 32 tahun identitas kecinaan menjadi sesuatu yang tabu untuk ditunjukkan.  

Pengakuan
Jaman toh berubah, rezim Soeharto jatuh pada tahun 1998. Pasca kerusuhan Mei 1998 bermacam-macam kelonggaran diberikan kepada komunitas Cina. Seiring dengan tuntutan reformasi, mereka mulai merasakan kebebasan baik dalam soal memilih maupun mendirikan partai. Koran-koran mulai ramai dipenuhi iklan kursus bahasa Mandarin. Sejumlah lowongan kerja bahkan mencari kandidat yang menguasai bahasa Mandarin. Kesenian barongsai yang sekian lama dimainkan pada komunitas terbatas sekarang dapat tampil di depan publik, bahkan di sejumlah pusat perbelanjaan. Barongsai yang dulu menjadi simbol represi sekarang menjadi simbol kebebasan.
 
Eksistensi masyarakat Tionghoa semakin diakui setelah Presiden Abdurrahman Wahid mengeluarkan Keputusan Presiden Nomor 6 Tahun 2000 tentang pencabutan Inpres No 14 Tahun 1967. Pengakuan bahwa masyarakat Cina adalah bagian dari bangsa ini sepertinya menjadi paripurna setelah Presiden Megawati Soekarnoputri menetapkan Hari Raya Imlek dalam daftar tanggal merah almanak Indonesia

***

Di luar negerinya sendiri, masyarakat Cina tidak hanya ada di Indonesia. Penyebaran orang Cina ke seluruh dunia yang memuncak pada akhir abad 19 dan 20 mencakupi wilayah yang sangat luas. Bencana alam dan gejolak politik yang melahirkan perang tak berkesudahan di daratan Tiongkok menyebabkan banyak orang Tionghoa meninggalkan negerinya berbekal nekat dengan bundalan kain seadanya menjajaki nasib baru di negeri orang. Jutaan orang Tionghoa menyebar mulai dari Asia Tenggara seperti Filipina, Vietnam, Thailand, Burma, Kamboja, Malaysia, Singapura, Indonesia, sampai Mauritius, Afrika Selatan, Eropa, Amerika Utara, Amerika Selatan, Kepulauan Pasifik, dan sebagainya.

Migrasi yang diikuti kolonisasi selama berabad-abad memperluas pemukiman dan kebudayaan orang Tionghoa. Keberadaan mereka di setiap jengkal belahan dunia merupakan produk sejarah. Jumlahnya mencapai puluhan juta orang.   Kehadiran mereka tidak dapat diabaikan. Mereka menjadi entitas yang tidak dapat dipisahkan dari suatu bangsa di negara yang dihuninya, termasuk Indonesia.

 ——————————

Cerita tentang Bangsa Perantau (2) :Warisan dari Negeri Seberang

Seperti dikisahkan dalam tulisan sebelumnya, interaksi masyarakat Nusantara,  khususnya Jawa, dengan bangsa Cina terjadi sejak awal abad pertama Masehi. Dalam perjalanan sejarah, interaksi yang berlangsung selama berabad-abad menyebabkan sejumlah budaya Cina meresap dalam kebudayaan dan kehidupan sehari-hari orang Jawa.  

Tak pelak, masyarakat Cina memainkan peran yang sangat penting dalam perkembangan budaya di Jawa. Bahkan, sejumlah identitas budaya yang saat ini dikenal menunjukkan kekhasan satu kelompok masyarakat Jawa, awalnya adalah milik orang Cina.  

Mari kita tengok Pulau Madura. Apa yang khas dari sana? Mendengar kata Madura, terlintas di benak kita sosok lelaki berkumis tebal mengenakan celana gombrong berwarna hitam dan baju tanpa krah yang berwarna sama. Pakaian itu sekarang ini menjadi identitas orang Madura. Apakah orang Madura memang sengaja menciptakan pakaian itu? Pakaian itu adalah pakaian orang Kanton. Orang Cina memperkenalkannya ke tanah Jawa.  

Masyarakat Nusantara, sebelumnya, tidak memiliki tradisi pakaian yang dijahit. Relief-relief pada kaki candi-candi Hindu-Jawa termasuk pada candi dari zaman Majapahit membuktikan bahwa manusia dari kedua zaman itu hanya mengenal kain lipat (selubung).

Pakaian pas hasil jahitan muncul di Nusantara pada abad ke-15 sampai 16 seiring dengan arus perdagangan bangsa Cina yang membawa kelengkapan wajib dalam membuat pakaian jahit, yaitu jarum dan benang.  

Selanjutnya, tradisi berpakaian tidak bisa dilepaskan dengan tradisi menyetrika. Kata setrika dalam bahasa Indonesia untuk menyebut kegiatan menggosok pakaian dengan lempengan besi panas untuk menghaluskan pakaian berasal dari bahasa Belanda strijken. Namun, apakah tradisi ini pertama kali dibawa oleh bangsa Belanda?  

Sejarawan Prancis terkemuka Prof. Dr . Denys Lombard dalam bukunya “Nusa Jawa: Silang Budaya“, menelusuri, tradisi menyetrika diperkenalkan ke bumi ini oleh masyarakat Cina. Sebelum kata setrika populer digunakan, orang Melayu menyebutnya utau. Kata ini dapat dilihat pada kamus A Malay-English Dictionary Romanised karangan R. J. Wilkinson. Kata utau berasal dari bahasa Cina yuntou. Menurut Lombard, ini menunjukkan bahwa orang Melayu mengenal tradisi yang tak terpisahkan dari kehidupan kita sekarang ini dari orang Cina.  

Selanjutnya, di luar urusan pakaian, Indonesia dikenal sebagai negara agraris. Pada zaman Soeharto, Indonesia sukses sebagai negara swasembada beras, bahkan mampu menjual beras ke negara-negara lain. Bila kita pergi ke desa, indah rasanya melihat deretan tanaman padi yang menguning dan berbaris rapi. Memandang hamparan sawah yang subur, nampaknya kita juga pantas mengucapkan terima kasih kepada masyarakat Cina abad ke 19.  

Bangsa Cina memang bukan pemegang monopoli dalam urusan makanan pokok orang Indonesia ini. Namun, mereka memainkan peran penting dalam menggerakkan dan mendorong bangsa Jawa serta memperkenalkan teknik-teknik pertanian. Umumnya, produk pertanian dari daerah Batavia berasal dari negeri Cina. Pada zaman kolonialisme Belanda di abad ke 17, usaha-usaha pertanian banyak dipegang oleh masyarakat Cina. Orang-orang Jawa diangkat menjadi pekerja untuk mengolah tanah.

Orang-orang Tionghoa di Banten dibawah pimpinan Souw Beng Kong mengajarkan petani-petani setempat untuk menanam padi di sawah-sawah berpetak dengan menggunakan pematang dan membajak serta mengairinya. Sebelumnya, para petani tersebut hanya menanam padi   di ladang. Hasilnya jauh lebih sedikit ketimbang menanam padi dengan cara baru ini.  

Selain mengajari teknik menanam, Lombard menelusuri, tahun 1750 orang-orang Cina memperkenalkan alat penyosoh padi dengan menggunakan dua tiga ekor sapi.  Dengan alat ini, petani dapat mengolah 500 ton padi sehari. Sebelumnya, sistem tradisional, menumbuk dalam lesung, cuma menghasilkan 100 ton padi sehari.

Lebih jauh, tanaman lain yang pantas disebut berkaitan dengan peran orang Cina adalah tanaman sumber protein yaitu kacang hijau. Kacang hijau dibawa dan dibudidayakan oleh masyarakat Cina petani bersamaan dengan kacang tanah. Sampai sekarang produk olahan kacang hijau masih menggunakan nama Cina: tauge (kecambah), tahu, taoci (yang digunakan sebagai bumbu). Salah satu stereotip makanan khas Indonesia yaitu tahu yang diolah dari kacang kedelai, aha!, bercikal-bakal dari negeri seberang. Orang Cina sepertinya tidak memiliki ikatan lagi ketika kita menyebut makanan tahu.

Bangsa Cina memang dikenal luas dalam hal selera makanannya. Kepopuleran masakan Cina di Indonesia tampaknya hanya diungguli oleh masakan Padang.
Dalam banyak hal, sejumlah makanan Cina telah melebur menjadi identitas Indonesia. 

Di Jakarta, rasanya tidak ada satu pun gang yang tidak dilewati oleh tukang bakso. Menjajakan bakso menjadi salah satu identitas profesi yang khas bagi masyarakat urban Jakarta. Makanan yang terdiri dari campuran mie dan bulatan daging giling dicampur tepung dan berkuah itu asalnya dari Cina. Semua makanan di Indonesia yang menggunakan bahan pokok mie berasal dari Cina.   Namun sekarang, ada bakso yang dikenalkan sebagai bakso khas Wonogiri.  

Demikian halnya dengan soto. Makanan yang asalnya juga khas Cina ini telah menjadi bagian dari makanan masyarakat Indonesia. Dengan menyesuaikan olahan bumbu agar pas dengan lidah orang Indonesia, lahirlah kemudian Soto Semarang, Soto Kudus, Soto Madura, Soto Bangkong, dan sebagainya.  

Daftar warisan bangsa Cina dalam lapisan kebudayaan Indonesia, khususnya Jawa, masih demikian panjang untuk diuraikan. Mulai dari tanaman, pengolahan tebu, gula, arsitektur, sampai sejumlah ritual keagamaan dan kebiasaan sehari-hari   yang menyusup demikian halus.  

Sebut saja yang terakhir, kalau kita mengunjungi mesjid-mesjid di negara-negara Timur Tengah, termasuk Arab Saudi, kita tidak aka menemukan bedug yang menandakan azan lima waktu. Demikian pula, kita tidak akan menemukan model pesantren seperti yang terdapat di Jawa.  

Pula halnya dengan tradisi bulan puasa Ramadhan dan Idul Fitri. Hanya di Indonesia orang   menyalakan petasan selama masa itu. Ketiga hal tersebut jelas sangat dipengaruhi oleh budaya Tiongkok. (Heru Margianto)

 

3 thoughts on “Cerita tentang Bangsa Perantau (1) : Asimilasi, Pencinaan Kembali, dan Pengakuan

  1. maaf, mendesak, bisa tidak tolong kirimi email ttg essay ini, misalnya apakah essay ini terpublish sebelumnya di media cetak atau apa, saya butuh buat skripsi, mau saya cantumkan dalam daftar pustaka. terima kasih…

  2. apakah ada kaitannya dengan penamaan beberapa sub suku di sulawesi selatan dang pencantuman tang di belakang nama mereka,…ex,.muhammad tang,indo tang,bunga tang

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s