Prasasti Jawa-China di Keraton Yogyakarta

     HANYA karena beda tafsir dalam membaca catatan sejarah, sejak dua bulan lalu antara China dan Jepang terjadi perselisihan yang masih juga tetap belum terpulihkan.
Meski pemerintah di Beijing terlihat menahan diri, tetapi untuk sebagian masyarakat China, kekejaman saat pendudukan Jepang agaknya sulit dihapuskan dari ingatan. Karena itu, setiap kali muncul ingatan terhadap masa penyerbuan pasukan Jepang ke China pada pra-Perang Dunia II muncul, seperti membangkitkan kembali naga tidur.

     Dampaknya, sebagaimana kita lihat bersama, aksi perusakan terhadap milik Jepang di China kembali terjadi.
“…dan setiap kali berita-berita semacam itu muncul, ingatan saya juga langsung kembali kepada isi Prasasti China di Keraton Yogyakarta,” kata Bernie Liem, seorang guru Bahasa Jerman di Yogyakarta. Prasasti itu berupa batu hitam setinggi satu meter dengan lebar 80 sentimeter yang kini berdiri di depan Tepas Hapitopuro, belakang Bangsal Trajumas, di tengah Keraton Yogyakarta. Satu sisi batu kenangan ini berisi lima bait tembang Kinanthi dalam huruf Jawa, sisi lain terjemahan bebas dalam aksara China.
     Meskipun hanya sebuah batu hitam sederhana, prasasti unik di Keraton Yogyakarta ini memiliki perjalanan panjang, timbul tenggelam selama beberapa tahun, saksi sejarah sekaligus mengandung catatan mengait dengan suasana kehidupan masyarakat China, Jepang, Belanda, Jawa, dan Indonesia.
     Prasasti tersebut mencantumkan tahun China Min-kuo 29, bulan 3 hari 18 dilengkapi candrasengkala (penanggalan tahun bulan) berbunyi, Jalma Wahana Dirada Hing Wungkulan. Kalimat itu mempunyai arti “manusia naik gajah di atas benda bundar” atau tahun Jawa 1871.
     Catatan menunjukkan, batu asli prasasti didatangkan dari daratan China pada sekitar tahun 1940. Hanya saja mengalami kelambatan sampai di Yogyakarta karena prosesnya langsung tersendat, sebab secara tiba-tiba pasukan Jepang menyerbu China.
     Pemrakarsa pembuatan prasasti adalah delapan warga keturunan China di bawah pimpinan Lie Ngo An, kapten (ketua) masyarakat China di Yogyakarta.
“Isinya ucapan terima kasih dari masyarakat China kepada Sultan yang telah melindungi mereka sehingga mereka bisa hidup tenang dan sejahtera tinggal di Yogya,” kata Bernie, menantu Ir Liem Ing Hwie, salah seorang di antara pemrakarsa prasasti.
     Sudah sejak abad X masyarakat China datang dan menetap di Jawa. Seusai perang suksesi yang diakhiri dengan perjanjian Giyanti tahun 1755 dengan membagi Kerajaan Mataram dalam Keraton Surakarta di bawah pimpinan Sunan dan Yogyakarta dipimpin Sultan, secara otomatis warga keturunan China juga ikut terbagi dua. Sebagian tinggal di Solo (sebutan populer untuk Surakarta), sedangkan yang lain menetap di Yogyakarta. Adakah perbedaan dalam pengalaman mereka?
     Harry Tjan yang dilahirkan di Yogyakarta melukiskan, “Dilihat dari letak daerahnya saja jelas, Solo lebih terbuka, wilayah sekitarnya subur, maka bisnis bisa lebih lancar sehingga kehidupan masyarakat juga lebih makmur. Oleh karena itu, pengusaha besar lebih banyak muncul dari Solo. Pada sisi lain, wilayah Yogya kurang subur, lokasinya terpencil maka praktis dari sana juga enggak bisa muncul pengusaha besar, umumnya di Yogya lantas lebih senang terjun kepada kegiatan nonbisnis.”
     Kata-kata Harry Tjan ada benarnya. Banyak pengusaha muncul dari Solo, tetapi bisnisnya berkembang ke tingkat nasional, bahkan internasional. Semisal Konimex, Air Mancur, Sritex, dan Batik Keris. Sebuah prestasi yang tidak dimiliki masyarakat keturunan China di Yogyakarta.
     Hasil penelitian Didi Kwartanada, sejarawan asal Yogyakarta sekaligus kandidat doktor di National University of Singapore, menyatakan, peran Sultan HB IX kepada komunitas keturunan China di Yogyakarta sangat besar. “Menjelang masuknya tentara Jepang, Sultan selalu melibatkan warga China dalam segala pembicaraan. Juga berkat campur tangan Sultan, orang China di Yogya terluput dari aksi kekerasan fisik dan perampokan….”
     JARAK antara Yogya dan Solo hanya terpisahkan tidak lebih dari 60 kilometer. Tetapi secara kultural, sejak Perjanjian Giyanti, by design penguasa kolonial yang selalu tidak senang kalau masyarakatnya bersatu dan sulit dikuasai, membikin antara Yogyakarta dan Solo saling bertentangan. Mulai dari cara berbusana sampai larangan tak tertulis, menikah antarmasyarakat kedua kota.
     Meski sepintas tampak sepele, ternyata dampaknya berlanjut ke bidang lain. Tidak hanya masyarakat kedua kota tersebut “tidak” pernah (bisa) serasi, tetapi pengalaman sejarahnya kemudian berlainan.
     Semasa perang kemerdekaan Indonesia, masyarakat Solo berhasil memanfaatkan peluang untuk menghapus pemerintahan swapraja. Sementara di Yogyakarta, masyarakatnya mempertahankan swapraja sehingga akhirnya bisa memperoleh status daerah istimewa.
     Di tahun 1966, menyusul gagalnya pemberontakan G30S, banyak pendukung PKI di Solo, yang dituduh terlibat perebutan kekuasaan, hilang tak menentu nasibnya. Sedangkan di Yogyakarta sama tidak ada ke-“hilang”-an serupa. Dan pertengahan Mei 1998, ketika kerusuhan massal membakar Jakarta yang juga menghanguskan Solo, di Yogyakarta huru-hara seperti itu tidak terjadi. Bahkan, kalau di Yogyakarta kini hanya ada satu sultan, yaitu HB X, di Solo dua orang sama-sama menyatakan diri Paku Buwono XIII. Bagaimana mungkin?
“… mangkya kinertyeng sela mrih , enget salami-laminya, rat raya masih lestari, ” begitu isi bait terakhir dalam tembang Kinanthi pada batu prasasti dwibahasa di Keraton Yogyakarta. Bernie Liem menjelaskan terjemahan bebasnya, sebagaimana tertulis dalam aksara China, “…maka kami lantas memahat batu peringatan ini, dengan maksud ingin mengucapkan terima kasih untuk selama-lamanya.”

Kepada siapa?
     “…Kepada Sultan Yogya, sebab terbukti beliau mampu melindungi seluruh warganya,” kata Bernie Liem, perempuan asal Semarang yang menikah dengan mendiang Paul Suleman, anak Liem Ing Hwie.
     PRASASTI di Keraton Yogyakarta dirancang masyarakat keturunan China setempat sebagai ucapan terima kasih kepada Sultan. Semula mereka ingin menyampaikan ucapan tersebut saat penobatan Sultan Hamengku Buwono IX tanggal 18 Maret 1940. Oleh karena itu, prasasti tersebut memakai kalimat penunjuk catatan tahun Jawa 1871 atau tahun Masehi 1940, tahun penobatan Sultan Hamengku Buwono IX.
     Delapan orang pemrakarsanya, Lie Ngo An, kapten warga masyarakat China; kemudian Dr Sim Kie Ay, Ir Liem Ing Hwie, ketua perkumpulan sosial yang nantinya diangkat menjadi anggota Dewan Pertimbangan Agung; Lie Gwan Ho, pemilik toko jam, tiga orang pedagang; Tan Ko Liat, Sie Kee Tjie dan Tio Poo Kia, serta Oen Tjoen Hok, pemilik Restoran Oen.
     Tidak lama setelah Sultan Hamengku Buwono IX naik takhta, pasukan Jepang-setelah menduduki sebagian China-langsung menyerbu ke selatan dan sampai di Yogyakarta. Upacara penyerahan prasasti tidak bisa dilakukan. Apalagi sesudah tiga setengah tahun masa pendudukan Jepang disusul Proklamasi Kemerdekaan RI diikuti perang kemerdekaan. Akibatnya, kado ucapan terima kasih dari masyarakat keturunan China di Yogyakarta tersebut tertunda diserahkan dan tetap tersimpan di rumah Liem Ing Hwie.
     Bernie Liem menjelaskan, “Akhir tahun 1951 mertua saya menghadap ke keraton, mengingatkan tentang prasasti yang dulu ingin diserahkan oleh warga keturunan China. Sultan setuju dan memberikan kesempatan tanggal 18 Maret 1952, tanggal peringatan beliau naik takhta.”
     Maka, pada tanggal tersebut di atas, setelah tertunda selama 12 tahun, Sultan Yogyakarta berkenan menerima penyerahan prasasti dari warga China termaksud.
     Saat upacara berlangsung, dari delapan pemrakarsanya, hanya lima orang bisa hadir, tiga lainnya telanjur meninggal, seperti tampak pada dokumentasi yang menyertai tulisan ini.
     Kisah perjalanan prasasti dwibahasa, Jawa China di Keraton Yogyakarta, ungkapan terima kasih kepada penyelenggara pemerintahan yang bijaksana. (Julius Pour)

http://groups.yahoo.com/group/budaya_tionghua/message/12333
http://kompas.com/kompas-cetak/0505/14/daerah/1747172.htm

4 thoughts on “Prasasti Jawa-China di Keraton Yogyakarta

  1. Assalamu’alaikum Wr.Wb.
    Saya tertarik pada Prasasti ini, namun yang pernah saya temukan hanya di Kompleks Masjid Rotowijayan (Keben). Alangkah baiknya kalau situs ini juga memuat Foto Prasasti-Prasasti tersebut berikut salinan dari huruf Jawa ke huruf internasional dan disertai juga artinya.
    Terima kasih
    Wassalamu’alaikum Wr.Wb.

  2. Oh, ya. maaf saya juga ingin sekali mengetahui tentang riwayat Pangeran Setadiningrat (seorang keturunan Tiong Hoa yang berjasa kepada RI dan kemudian dianugerahi gelar bangsawan keraton. Terima kasih.

  3. sebetulnya dari judulnya menarik, tapi penulisannya kurang ringkas dan penyusunannya agak membingungkan.saya harus membacanya berulang kali. ohya, saya setuju dengan saudara bambang purwantoro yang menyatakan agar sebaiknya dimuat foto2 prasasti yang dimaksudkan.
    saya juga usul agar foto2 yang ditampilkan diberi penjelasan mengenai nilai filosofisnya sehingga menambah nilai keindahan dari gambar2 yang ditampilkan diwebsite ini ketika kita menikmatinya, karena saya yakin sekali budaya tionghoa mempunyai kedalaman dan nilai estetika yang tinggi dalam bidang yang satu ini.

    salam hormat saya,

    yasinta

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s