Keragaman dalam Damai

Kompas, Kamis, 28 Juli 2005
Oleh: Andreas Yumarma
   Pertemuan interfaith di Bali menarik disimak pesannya bagi kebersamaan dan kedamaian. Hal ini disebabkan bukan karena tragedi kekerasan terhadap Ahmadiyah di Bogor atau konflik bernuansa agama di berbagai negeri, tetapi lebih karena keparahan mindset warga yang kian kehilangan rasa kemanusiaan dan keterlibatan ikut merasakan kesusahan orang.
   Penghayatan kehidupan agama dan keyakinan, entah itu lima agama besar yang diakui di negeri ini atau aliran-aliran kepercayaan dan keyakinan, ternyata belum mampu mengubah arah egosentrisme menjadi altruisme. Kesalehan dan kesosialan semu tidak jarang menjelma menjadi kesombongan rohani yang ternyata masih berfokus pada diri sendiri.

   Perbedaan agama dan kepercayaan sebenarnya merupakan kewajaran yang sebaiknya disikapi dengan kearifan. Keperbedaan merupakan keharusan yang menegaskan identitas kenyataan. Terhadap perbedaan jalan dan penghayatan keyakinan diekspresikan bermacam-macam oleh pemimpin agama dan kepercayaan.
   Seorang pastor memberi ungkapan kearifan, Ada banyak jalan menuju ke Roma. Seorang saleh yang disebut Sanyasin di India melukiskan kearifan aneka jalan keyakinan dengan ungkapan, Keunikan sungai-sungai yang berbeda di seluruh negeri akhirnya bermuara ke satu samudra luas. Seorang Sufi menyampaikan kearifan tentang keragaman jalan penghayatan akan Tuhan dengan ungkapan, Ada aneka rute pendakian gunung yang bisa dilalui, masing-masing memberi impresi keindahan tersendiri. Namun hanya ada satu puncak gunung di mana orang mengalami keagungan dan rasa kereligiusan meski ditempuh lewat aneka rute pendakian.
   Seorang guru Zen melukiskan keperbedaan sebagai alami yang menciptakan keindahan. Para murid disuruh menatap warna- warna pelangi yang saling berbeda tetapi dalam kesatuan menciptakan keindahan. Seorang guru Matematika mengajarkan angka 1, 2, 3, dan seterusnya sebagai angka-angka yang berbeda, tetapi semua merupakan bilangan yang dipakai guna menambah pengertian dan pengetahuan.

Indikatif dan imperatif
   Kenyataan keragaman dan pluralitas pernah ditunjukkan para bijak pendahulu kita. Inilah yang dimaksudkan dengan sifat indikatif yang perlu disadari. Karena itu, pluralitas hidup bersama dalam damai sebenarnya bukan utopia karena nenek moyang kita pernah mewujudkannya. Kenyataan perbedaan dalam damai masih dikibarkan lambang negara Garuda Pancasila yang membawa terbang di kakinya spanduk Bhinneka Tunggal Ika.
   Empu Tantular, yang mengabadikan pesan perenial Bhinneka Tunggal Ika, perlu digali pemikiran dan spirit dasarnya. Melupakan aspek sejarah yang bersifat indikatif sama dengan menceburkan diri dan membiarkan generasi masa depan melompat ke jurang. Karena itu, kesadaran bahwa masyarakat kita multietnik dan multikultur harus ditanamkan dalam proses pendidikan sejak dini.
   Apa yang ditunjukkan oleh pengalaman dan sejarah ternyata tidak berhenti. Karena itu, harus ada sifat imperatif yang terus disuarakan. Keragaman dalam kedamaian merupakan usaha yang tak pernah boleh berhenti.
   Mengupayakan keragaman dalam damai merupakan panggilan alamiah hidup bersama jika toleransi dan damai mau dikembangkan. Aspek imperatif ini menjadi jalan kultural bagi pembentukan watak dan kehendak anak-anak bangsa. Landasan filosofi dan kultural dari sifat imperatif ini amat diperlukan.
   Misalnya, konsep manusia sedulur papat lima pancer (budaya Jawa), yaitu hakikatnya manusia disertai saudara empat: amarah, aluamah (nafsu makan), mutmainah (ketenangan), dan sufiah (keinginan). Pribadi manusia menjadi pusat dan kendali keempat energi dasar yang menyertainya. Konsep monopluralisme manusia seperti ini dapat menjadi landasan imperatif usaha-usaha menciptakan keragaman dalam damai dan koeksistensi aneka keyakinan dalam jiwa toleransi dan saling penghormatan.

Kearifan cara berpikir lokal
   Saat ini kearifan lokal kurang dikenal oleh anak-anak bangsa. Penyebabnya, cara berpikir analitik Barat telah diserap oleh generasi ke generasi tanpa strategi budaya yang mengilhami. Ditambah, proses pendidikan dari pendidikan dasar sampai pendidikan tinggi cenderung didominasi disiplin ilmu-ilmu pasti. Bidang budaya, sastra, dan seni yang menawarkan kearifan kurang mendapat perhatian lebih memadai.
   Bahasa matematik abstrak seperti itu yang diagungkan, sementara bahasa abstrak dalam seni, budaya, dan sastra menawarkan bahasa simbolik yang amat berguna untuk mengasah rasa-merasa, membangun toleransi dan kebersamaan damai.
   Bahasa simbolik imaginatif amat bermanfaat guna mendasari koeksistensi keragaman dalam damai. Mengapa? Kearifan lokal mengajarkan, Allah itu mahabesar, tidak terbatas dan tidak bisa digambarkan (tan kena kinaya apa). Pembicaraan tentang Allah, agama karenanya selalu menggunakan bahasa simbolik. Inilah salah satu kunci koeksistensi agama dan keyakinan dalam damai.
   Melalui kearifan bahasa simbolik imaginatif ini cara berpikir anak bangsa akan dibiasakan mampu menerobos kata-kata untuk sampai pada entitas sebenarnya. Dalam latar belakang tiap budaya, tiap kata mencipta bentuk-bentuk tertentu dalam pikiran kita.
   Proses pemahaman tidak terhenti pada yang artifisial, tetapi ada kearifan terbiasa berefleksi melampaui yang fisik (wadhak) dan hurufiah kelihatan (kasatmata) sampai pada inti, roh atau jiwa suatu realitas.
   Istilah neti-neti (bukan ini, bukan itu) dalam falsafah Hindu kuno membawa sikap keterbukaan pada perbedaan pemahaman.
   Kearifan lokal seperti itu perlu dipahami jiwanya dan diekspresikan kembali dalam bentuk-bentuk baru di zamannya. Di sini ada kontinuitas dan diskontinuitas. Ada nilai luhur yang terus dibawa sekaligus perlu diperbarui dalam ekspresi.
   Sejalan dengan itu, kembali kepada sifat indikatif, kearifan bahasa imaginatif harus disertai dengan sifat imperatif untuk penggalian kembali dan pencarian ekspresi kearifan baru seturut dengan keunikan generasi.

Andreas Yumarma Pendidik, Cross-cultural Psychology, Inter-religious Studies, Pengembang Easter Philosophy, Anggota International Society for Philosophers, UK
http://groups.yahoo.com/group/budaya_tionghua/message/13646 posted by Jeritan Bisu

One thought on “Keragaman dalam Damai

  1. keraman adalah sesuatu yng pasti dan akan terus hidup dalam diri manusia karena itu sunnatullah.. konrat dasar manusia untk siap dalam perbedaan ras, suku, agama, tapi satu dalam humanitas…………
    gur dur telah ,menempatkan pondasi itu dalam tradisi masyarakat muslim indonesia dengan kalangan agamawan lain…..
    menurutnya pluralisme adalah modal awal kita membangun bangsa

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s