Dicari, Imlek Bangsa Indonesia

oleh: P Agung Wijayanto

   Beberapa tahun lalu, pemerintah Indonesia menyatakan, perayaan Imlek sebagai hari libur nasional. Sejak itu menjamur berbagai model perayaan Imlek yang ditawarkan berbagai kalangan, terutama dunia perdagangan.
   Sekarang pun ada banyak anggota masyarakat Indonesia yang dengan penuh semangat merayakan Imlek. Mereka yang tidak merayakan Imlek pun tidak terlalu dirugikan, paling tidak bisa menikmati kesempatan berlibur pada hari raya itu.
   Penekanan perayaan Imlek tanpa memerhatikan konteks Indonesia akan menyebabkan irrelevansi perayaan itu bagi sebagian besar masyarakat Indonesia. Misalnya, Imlek ditekankan sebagai perayaan musim semi. Indonesia tidak mengenal adanya empat musim. Karena itu, pemasangan pernik-pernik lambang musim semi tidak akan banyak menolong penghayatan perayaan Imlek.
   Dalam konteks masyarakat Indonesia yang plural, penekanan secara berlebihan perayaan Imlek akan dapat meninggalkan permasalahan yang dapat membahayakan keutuhan bangsa.

   Namun, pelarangan atau pengendalian berlebihan atas praktik perayaan Imlek di Indonesia akan merupakan langkah mundur dari usaha perwujudan nilai reformasi yang telah diperjuangkan bersama.
   Daripada membuat permasalahan yang tidak perlu, akan jauh lebih bermanfaat bila bangsa Indonesia mulai mencari dan menemukan hal-hal penting dan layak untuk dirayakan bersama pada setiap hari libur nasional yang dimiliki, termasuk makna spiritual Imlek.
   Pada gilirannya, demi kepentingan bersama, perkembangan perayaan Imlek perlu dicermati bersama. Pertanyaannya, perayaan Imlek macam apa yang perlu dikembangkan bangsa Indonesia? Ini menjadi relevan untuk dijawab.

Makna spiritual Imlek
   Perayaan Imlek yang dirayakan oleh berbagai bangsa (China, Jepang, Korea, Vietnam, dan lainnya) selama berabad-abad menyediakan makna spiritual yang amat kaya, bahkan mampu berperan dalam menyatukan mereka dalam semangat hidup yang sama.
   Mengingat Imlek bukan perayaan keagamaan, maka “makna spiritual” perayaan Imlek tidak pertama-tama digali dalam ajaran agama tertentu. Semula, Imlek merupakan perayaan petani. Makna spiritual Imlek perlu digali dari pengalaman kehidupan dan dunia makna yang berkembang di antara kaum petani. Dalam perjalanan waktu, Imlek juga dirayakan oleh masyarakat yang bukan dari golongan petani. Karena itu, tidaklah mencukupi pemaknaan spiritual Imlek hanya dibatasi dari dunia pertanian.
Beberapa makna spiritual yang pantas dikedepankan, antara lain:
   Pertama, kasih sebagai faktor pemersatu kehidupan. Imlek memperlihatkan pengalaman perjumpaan para petani dengan realitas kehidupan yang ada di sekitarnya. Bagi petani, realitas di dunia ini disatukan, disemangati, ditumbuhkan oleh kasih. Karena itu, mereka menemukan dan menggunakan berbagai macam barang, tanaman, atau binatang yang ada di lingkungan mereka untuk menunjukkan pengalaman kasih yang menghidupkan itu. Mereka mengungkapkan harapan kehidupan yang lebih berkualitas dengan menggunakan obyek-obyek itu. Misalnya, ikan dipandang sebagai lambang kelimpahan berkat kasih yang menghidupkan. Dengan memasang gambar ikan atau memakan ikan, mereka mengharap datangnya kelimpahan itu.
   Kedua, Imlek merupakan perayaan pengalaman kasih yang membahagiakan dan terbagikan kepada sesama. Bagi petani, kasih yang membahagiakan itu mereka terima dari kemurahan alam. Karena itu, mereka pun harus belajar bermurah hati kepada sesama. Kasih yang membahagiakan itu layak untuk dinikmati dalam kebersamaan dengan yang lain, dalam semangat solider kepada sesama, terutama yang lemah, miskin, dan papa.
Warna dasar perayaan Imlek adalah merah, yang berarti kebahagiaan dan semangat hidup. Sebagaimana darah dalam nadi, pengalaman hidup yang penuh semangat dan membahagiakan itu harus mengalir dan meresapi berbagai bagian tubuh untuk kehidupan yang lebih baik. Dalam perayaan Imlek, dibagikan kepada anak-anak, orang-orang miskin, sederhana, dan papa, hal-hal yang dapat membahagiakan mereka: uang, makanan, hadiah, atau berbagai bentuk bantuan lain. Dengan berbagi kebahagiaan, kasih yang berlimpah itu diharapkan dapat semakin merasuki berbagai sektor kehidupan mereka dan akhirnya akan memberikan kebahagiaan lebih besar lagi.
   Ketiga, pengalaman kasih dimulai di keluarga. Inti kasih itu tidak terletak dalam banyaknya kata-kata, tetapi dalam tindakan untuk saling memberikan diri kepada subyek yang dikasihi. Kemampuan mengasihi seperti ini disadari oleh para petani dan nonpetani, berawal di dalam keluarga. Pusat perayaan Imlek terletak pada kesediaan seluruh anggota keluarga untuk berkumpul bersama, meninggalkan kepentingan diri, dan berbagi pengalaman kasih dalam keluarga. Puncak perayaan itu diungkapkan dengan kesediaan makan bersama, saling menghormati, bercerita pengalaman hidup yang membahagiakan, mengampuni, berbagi rezeki, menyampaikan salam berupa doa atau harapan untuk hidup lebih baik, dan sebagainya.
   Keempat, Imlek adalah perayaan kebebasan yang inklusif. Kesederhanaan alam pikiran petani tidak banyak memberi tempat pada rumitnya aturan yang harus ditaati. Pada dasarnya Imlek tidak memiliki aturan baku. Seandainya ada, peraturan itu amat umum, tidak menyertakan hukuman bagi pelanggarnya. Dengan demikian, dunia tidak mengenal adanya model tunggal perayaan Imlek. Setiap pribadi, keluarga, atau kelompok masyarakat apa pun, diizinkan merayakan Imlek dengan segala kemampuan, keterbatasan, latar belakang, simbol, dan sistem pemaknaan masing-masing. Kebebasan seperti ini menjadikan Imlek perayaan yang inklusif karena tidak mengeliminasi siapa pun untuk tidak diizinkan merayakannya.

Disesuaikan kondisi bangsa
   Perayaan Imlek yang terlalu mengedepankan sisi glamor dan konsumerisme, mengkhianati makna spiritual yang dijunjung tinggi dalam perayaan Imlek dan akan melukai perasaan banyak orang yang masih hidup dalam kemiskinan. Perayaan semacam itu akan berujung pada eksklusivisme, bukan inklusivitas. Penjiplakan perayaan Imlek dari bangsa lain tanpa memerhatikan suasana batin dan kerohanian yang ada di Indonesia, pada gilirannya dapat menjadi bumerang bagi perkembangan bangsa Indonesia.
   Sebaliknya, pengaturan ketat terhadap praktik perayaan Imlek atau penekanan satu model Imlek sebagai warisan kebudayaan bangsa tertentu sama-sama mengkhianati nilai kebebasan yang inklusif yang ditawarkan oleh Imlek.
   Pemahaman mendalam terhadap kekayaan makna spiritual yang terkandung dalam perayaan Imlek diharapkan mampu memberi inspirasi bagi bangsa Indonesia untuk dapat menemukan sendiri model perayaan Imlek yang sesuai nilai-nilai kasih dan kehidupan yang dihayati bangsa Indonesia.
Penemuan model perayaan Imlek yang lebih sesuai dengan konteks kehidupan bangsa Indonesia merupakan pekerjaan bersama yang pantas untuk segera dimulai.
Semoga hari libur nasional Imlek juga dapat menjadi saat yang reflektif dan kreatif bagi penemuan langkah penyelesaian krisis bangsa Indonesia yang sudah berlangsung lama. Gong xi xin nian. Wan shi ru yi.

P Agung Wijayanto-Pengajar Agama dan Kebudayaan Timur Program Studi S2 Ilmu Religi dan Budaya Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta
source: KOMPAS – Sabtu, 17 Februari 2007
posted by HKSIS

8 thoughts on “Dicari, Imlek Bangsa Indonesia

  1. saya sependapat dengan anda mengenai perayaan imlek yang harusnya didasari kepada semangat cinta kasih, seperti orang pacaran pan kudu memberi kepada pacarnya, dan seperti pepatah di tiongkok yang bunyinya kurang lebih adalah apa yang bisa kamu berikan kepada bangsa dan negara dan jangan kamu meminta apa yang negara bisa berikan kepada kamu.
    mengenai perayaan imlek yang gelamor dan mewah seperti adanya pesta yang berlebihan adalah perbuatan yang boros dan tidak sesuai dengan semangat etnis tionghoa.

  2. semoga imlek mendapatkan posisinya sebagai wahana merawat tradisi dan mengajarkan kebajikan. bukan melulu ajang pesta dan dimanfaatkan oleh dorongan konsumerisme.

  3. masih seperti air keluar dari sumbatan yaa.. kenceng banget alirannya. menjadi glamour , konsumerisme dsbnya… semoga ke depan keramaian perayaan imlek akan lebih mereda dan lebih menemukan salurannya yang terindah di rasa seluruh indonesia kita..

    saya setuju dicari imlek bangsa indonesia,
    mari dengan imlek menjadi indonesia sejati :D

  4. Anda tidak akan menyangka sama sekali bahwa kelak anda akan tertekan dengan agama dan keyakinan anda!

    Pelaksanaan syariat Islam di Indonesia sudah mulai diberlakukan dimana-mana, dan kekerasan dengan membawa nama agama telah menjadi alat paling ampuh di negara kita…

    Sedih…semoga Imlek versi Indonesia ini tidak akan menjadi hampa…

  5. Imlek jelas PERAYAAN KEAGAMAAN atas rasa
    syukurnya kepada PENCIPTA
    anda juga bisa lihat sendiri betapa banyak
    tgl2 sembayang agama tsb dgn kalender Chinese tsb
    kalo bukan mereka maka tradisi ini
    sudah mati/enggak ada yg nerusin

    namun seiring waktu dan jaman, siapa saja boleh
    kok ikut merayakannya namun dgn konteks
    yg berbeda dgn tujuan kebersamaan
    yg dirayakan dgn penuh sukacita
    jadi kegembiraan tsb bisa dirasakan siapa saja
    geto lho dan disatu sisi orang yg merayakan keagamaan
    juga dpt melaksanakan ritual ibadahnya tanpa rasa takut
    pencekalan
    semoga bisa menjadi pencerahan

  6. setuju kl perayaan keagamaan.. (hati kecil kita mengetahuinya)
    kl ada yg menyatakan bukan perayaan keagamaan pastilah karena dia menjadi ‘cina bingung’ yaitu kebingungan budaya krn setiap agama selalu membawa budaya untuk penyebarannya dan itu berevolusi sehingga menyatu

    paparan diatas bisa DEMI persatuan tionghoa masa skr..
    bisa jg DEMI mempertahankan eksistensi AGAR TAK KEHILANGAN UMAT POTENSIALnya…!!!(lagi2 hati kecil kita mengetahuinya khan?!)
    sekali lagi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s