Imlek 2558 – Sepiring Nasi di Meja Abu Leluhur

oleh: Iwan santosa

   Sesaji lengkap berupa daging, buah, penganan dan arak di meja abu menjelang Imlek merupakan kewajiban keluarga Tionghoa sebagai bakti kepada leluhur. Namun, hanya sepiring nasi, sate dari tetangga dan air yang bisa disediakan Encek Ouw Ceng Lim (74) di meja abu.
   Separuh rumah sewaan termasuk meja abu, terapung di atas susunan papan di atas genangan akibat banjir Kali Angke. Untuk menghadap leluhur, dia harus berdiri nyaris menyentuh genting di bagian belakang rumah yang masih terendam air.
Padahal sebelumnya, setiap sembahyang Imlek, persembahan lengkap selalu diusahakan oleh keluarga miskin itu.
   “Tiga hari lagi Sin Cia (Tahun Baru dalam dialek Hokkian-Red) kami tidak punya uang. Semua terendam banjir. Paling tidak saya masih bisa persembahkan nasi dan air di meja abu. Untuk jalan ke wihara saya sudah tidak kuat,” ujar Encek Ceng Lim yang tinggal bersama isteri, anak lelaki dan lima cucu perempuan di Gang Berdikari, Kelurahan Kapuk, Kecamatan Cengkareng, sejak tahun 1965.
   Ceng Lim kelahiran Cikupa. Tangerang mengenang, sebelum banjir 2007 menghantam pemukiman di Kapuk-yang banyak dihuni warga Tionghoa Benteng-dia selalu mendoakan almarhum ayahnya Ouw Ceng Lam yang meninggal tahun 1970-an dan bersemangat menyambut tahun baru.

   Semua berubah ketika banjir mendera. Kala itu Hio Lo (tempat memasang dupa-red) dan foto almarhum ayahnya menjadi benda pertama yang diselamatkan Encek Ceng Lim. Selanjutnya, berhari-hari di pengungsian membuat mereka kehilangan segalanya.
   Kini, Kakek yang buta huruf itu hanya berharap bisa berkumpul di Tahun Baru bersama seluruh keluarga. Awal mula kemiskinan mendera dirinya hadir seiring lenyapnya perkebunan di barat Jakarta hingga Tangerang.
   Di rumah pasangan Encek Ceng Lim dan Encim Thio Cek Poi (70), Lisa cucunya baru saja pulang dari SD Inpres. Para cucu Ceng Lim bersekolah gratis karena ketiadaan biaya.
   Meski miskin, mereka tetap bersatu menyongsong kerasnya kehidupan Jakarta. Setiap hari, Ouw Cin An (43) anak lelaki Encek Ceng Lim menjadi montir serabutan dan setiap bulan menghasilkan uang Rp 250.000 hingga Rp 300.000 per bulan. Penghasilan dihemat sedemikian rupa digunakan untuk membayar sewa rumah papan Rp 1 juta per tahun ukuran 5 x 3 meter milik Mak Menot seorang Betawi asli.
   Sinolog Eddie Prabowo Witanto yang kini mengajar di Beijing membenarkan, di masa silam kawasan tersebut merupakan daerah perkebunan hingga benteng Belanda di tepi Sungai Cisadane dan menjadi hunian komunitas yang kini dikenal sebagai Tionghoa Benteng.
   Konsentrasi masyarakat Tionghoa marjinal di wilayah Kapuk semakin berkembang seiring pergolakan pada masa Revolusi Kemerdekaan di saat terjadi konflik Belanda dan Pejuang. “Akibat pembunuhan warga Tionghoa di kawasan Tangerang semasa revolusi mengakibatkan migrasi ke kawasan Kapuk dan Angke meningkat,” ujar Eddie.

Pantang Menyerah
   Meski didera kemiskinan, mereka pantang menyerah pada kerasnya kehidupan. Semisal Encim Ang Es Nio (77) yang hidup sebatang kara memilih berjualan kopi dengan penghasilan Rp 15.000-Rp 20.000 per minggu.
“Saya bayar kontrakan sama bang Udin Rp 100 ribu per bulan. Untuk mandi dan kakus numpang di rumah dia. Kalau beras untuk makan terkadang ada yang bantu dari wihara,” ujar Es Nio warga Kapuk di Gang Taniwan RT 09 RW 05. Hidup pun harus sangat berhemat. Setiap hari sepiring nasi putih menjadi bekal cukup dua kali makan setiap hari.
   Demikian pula Encim Lau Ie Yong (69) warga Gang Taniwan di RT 10 RW 05 yang mengalami sakit persendian, tetap menjadi buruh cuci, setrika dan mengepel dengan upah Rp 150 ribu per bulan. Sebagai pekerjaan tambahan, dia membungkus cotton bud (korek kuping berujung kapas-red) dengan upah setiap selosin isi 100 batang setiap pak sebesar Rp 200 saja!
“Saya masih pingin kerja cuci di rumah tangga lain supaya bisa dapat Rp 300 ribu. Tetapi dilarang anak-anak karena dianggap sudah tua,” ujar Encim Ie Yong yang setiap minggu menyisihkan penghasilan untuk berderma di sebuah wihara di Taman Duta Mas, Jelambar.
   Kedua encim itu sedang disibukan dengan persiapan Imlek secara sederhana dan membersihkan rumah selepas banjir.
Kesetiaan pada tradisi menjadi semangat hidup mereka di usia lanjut di tengah kemiskinan
Encim Lim Kam Nio (78) yang hidup ditemani beberapa cucu setiap pekan dengan tertatih-tatih berjalan satu kilometer lebih ke wihara di Jelambar. Warga RT 007 RW 06 Jalan M Jelambar Aladin kini sedang bergulat dengan diare selepas banjir yang merendam rumah papan tanpa aliran listrik.
Dia pun harus berhemat, selepas kebangkrutan seorang putra yang menjadi penjual baso keliling. Kini kiriman uang dari putri di Sukabumi, Jawa Barat menjadi andalan untuk hidup dengan sepiring nasi putih untuk makan tiap hari dan lauk potongan tulang ayam serta sepotong tahu sebagai lauk.

Diskriminasi Terstruktur
   Demi hormat pada leluhur, mereka mengalami bagian terburuk dari hidup: diskriminasi. Ambillah contoh, Li Ai Seng (49) warga Gang Berdikari, Kapuk. Meski sudah beranak pinak di Indonesia dia tidak memiliki surat kependudukan lengkap bagi dirinya dan tujuh anggota keluarga.
“Saya hanya punya Kartu Keluarga. Akte Kelahiran buat anak-anak tidak ada karena dipersulit,” ujar dia.
Ai Siang seorang aktivis Budhis mengakui, ratusan anak asuh Tionghoa miskin memiliki kesulitan memperoleh dokumen kependudukan. Praktis ribuan generasi muda Tionghoa Benteng tidak akan mampu mengentaskan diri dari kemiskinan. Tanpa identitas kependudukan, mereka tidak akan bisa memenuhi syarat administrasi menempuh pendidikan hingga perguruan tinggi.
   Mantan Presiden Abdurrahman Wahid menegaskan, esensi Imlek adalah kebersamaan sebagai anak bangsa dan pemerataan dalam kesejahteraan. Pengakuan hak sebagai manusia dan warganegara tentu menjadi hadiah terindah bagi Encek Ceng Lim dan sesama warga Tionghoa Benteng sebagai bagian terbesar komunitas Tionghoa yang sejatinya hidup di garis kemiskinan.

KOMPAS – Sabtu, 17 Februari 2007

4 thoughts on “Imlek 2558 – Sepiring Nasi di Meja Abu Leluhur

  1. Saya cuman bisa memhimbau untuk orang2 keturunan yg mampu untuk menyekolahkan anak2nya di LN, sesudah sukses buatlah yayasan yg memberi beasiswa untuk anak2 keturunan yg kurang mampu dan membuat yayasan untuk membantu orang2 keturunan yg tua2, doakan agar harapanku bisa tercapai …..

  2. Kemiskinan adalah dosa dan kriminalitas negara tehadap warga negaranya. Tidak peduli pribumi atau non-pribumi. Yang menjadi permasalahan budaya diskriminasi itu telah mendarah daging di beberapa anak bangsa, terutama jajaran birokrasi. Keseriusan politik tanpa disertai denga aturan yang jelas dan tegas akan sulit menghapus diskriminasi itu sendiri. Idealnya negara berdiri diatas kepentingan semua golongan, dalam konteks ini adalah kepentingan anak-anak bangsanya, putra putri pertiwi, selama kepentingan itu sejalan dengan jiwa Dasar Negara.
    Apakah mereka memang menolak kehadiran saudara-saudaranya yang non-pribumi, atau hanya sekedar motif ekonomi.
    Biarlah kita semua belajar untuk memulainya, agar kita dapat hidup berbangsa dan bernegara dengan terhormat dan bermartabat, berdiri dengan tegak dan BANGGA sebagai ANAK-ANAK INDONESIA di bawah Sang Saka MERAH PUTIH, dalam balutan semangat dan jiwa NEGARA KESATUAN REPUBLIK INDONESIA.

  3. dari komentarnya saudara Afun, menggambarkan bahwa etnis cina memang ekslusif, mementingkan diri sendiri, dengan menghalalkan segala cara dalam meraih sesuatu. Kalau tdk percaya, datanglah, ke kota2 yg banyak warga cina, seperti Pontianak, Singkawang, Bagansiapi-Api, Medan, mana peduli dia dengan kaum pribumi yg tdk menuntungkan dia secara pribadi. Seandainya mau mati pun mereka tdk peduli

  4. buat saudara MOMON,saya adl org pontianak asli,tinggal dan besar disana.Saudara Momon kalo tdk mengerti jangan asal bicara.Kita di pontianak selalu hidup rukun dan membantu diantara pribumi non pribumi,kita juga tdk menghalalkan segala cara utk berhasil melainkan saling bantu membantu dan menguntungkan bagi kedua pihak.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s