Kontroversi Pemimpin Hong Kong Baru Yang Berpidato Dalam Mandarin

Budaya-Tionghoa.Net | Pemimpin Hong Kong yang baru , Leung Chun Ying menimbulkan kontroversi setelah menyampaikan pidato pelantikan dalam bahasa Mandarin , bukan dalam dialek lokal Cantonese yang digunakan mayoritas warga Hong Kong.

Selama sekian dekade , Partai Komunis Tiongkok telah mempromosikan bahasa Mandarin sebagai bahasa resmi negara dan sebuah cara untuk mempersatukan negara yang punya beragam dialek lokal.  Namun mantan koloni Inggris ini masih mandiri dan telah lama mengekspor budaya ke mainland , termasuk drama TV dan Cantopop.

Dalam pelantikan sebelumnya , para pemimpin lainnya berbicara dalam Cantonese serta Mandarin , termasuk yang terakhir di tahun 2007 , ketika Donald Tsang dilantik dan menggunakan bahasa Cantonese dalam pidato pelantikannya.

Meskipun pilihan bahasa yang digunakan oleh Leung membuat sebagian pihak “mengangkat alis” , termasuk saran online bahwa pilihan linguistic Leung ada sebuah kowtow kepada Beijing. Ilmuwan politik , Linda Li mengatakan bahwa langkah itu bisa dimengerti , jika tidak biasa. “Ini kesempatan besar,” kata Li . “Mungkin dia melakukannya karena dia tahu bahwa acara tersebut akan disiarkan diseluruh Tiongkok , sehingga audiens utamanya adalah diluar Hong Kong.”

Bahasa telah lama menjadi perhatian utama tatkala hubungan antara Hong Kong dan mainland bermasalah , seperti penggunaan karakter simplified pada produk Giordano daripada penggunaan karakter tradisional yang umum digunakan di Hong Kong dan Taiwan. Meskipun kontroversi bahasa cepat terpacu di Hong Kong , dimana orang menjadi sensitif terhadap tanda-tanda menguatnya pengaruh mainland. Mrs Li memperingatkan bahwa jangan tergesa-gesa dalam membaca pilihan Leung.

“Tentu saja pilihan bahasa dapat mencerminkan sesuatu, tetapi kita harus bijaksana,” kata Li menambahkan,”Terkadang pemimpin kita memang ingin menyampaikan bahwa ybs dapat berbicara dalam bahasa Mandarin, mengingat kemampuan Leung dalam bahasa Mandarin lebih kuat dari pada pendahulunya. Terlatih sebagai surveyor , Leung banyak menghabiskan waktu di mainland di awal karirnya , sejak tahun 70an.

Inggris telah lama menjadi bahasa utama kedua di Hong Kong, tetapi sensus tahun ini menunjukkan bahwa bahasa Mandarin melampaui Inggris untuk pertama kalinya.

Sumber : (Te Ping Chen , Wall Street Journal)