Kunjungan Bersejarah Clinton Ke Laos

Budaya-Tionghoa.Net | Dalam sebuah langkah historis , Menteri Luar Negeri AS Hilary Clinton mengunjungi Vientiane, ibukota Laos, pada Rabu untuk memperbaiki hubungan dan untuk memulai pembicaraan pada topik utama.

Kunjungan ini menandai untuk pertama kalinya seorang Mentri Luar Negeri Amerika Serikat mengunjungi negara itu sejak tahun 1955, ketika perang saudara Laos berlangsung dan faksi royalis yang didukung AS masih berkuasa. Pemerintah komunis saat ini berkuasa sejak tahun 1975.

Selama kunjungannya yang singkatselama  empat jam, Clinton bertemu dengan Menteri Luar Negeri Laos Thongloun Sisoulith, diikuti oleh Perdana Menteri Thongsing Thammavong. Selama diskusi, kedua pihak berkomitmen untuk semakin memperkuat hubungan mereka, menurut siaran pers dari Departemen Luar Negeri Laos.

Kedua belah pihak juga berkomitmen untuk melanjutkan pencarian untuk sisa-sisa tentara AS yang hilang, dan untuk bom yang tidak meledak (UXO) yang dijatuhkan selama Perang Vietnam.

Kontaminasi UXO adalah masalah  utama untuk Laos, yang mencakup daerah yang luas sehingga banyak lahan tidak dapat digunakan dan terkadang membunuh dan membuat cacat seumur hidup  mereka yang secara tidak sengaja melintasi  itu.

Pembicaraan antara Clinton dan pemerintah Laos terfokus pada bagian ASEAN  yang mencakup kerjasama regional,Laos melangkah maju menuju Millenium Development Goals dan kedua negara berkomitmen untuk menyelesaikan sisa masalah yang ditimbulkan oleh perang.

Millenium Development Goals adalah sembilan  sasaran yang menargetkan berbagai indikator pembangunan penting di negeri ini, pada tahun 2015. Beberapa telah diidentifikasi oleh pemerintah sebagai off-track untuk  dicapai.

Harapan Laos untuk menjadi anggota  Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) akhir tahun ini juga dibahas. Delegasi Laos  mengucapkan terima kasih kepada Clinton atas dukungan pemerintah-nya .

Setelah pertemuannya dengan Sisoulith dan Thammavong, Clinton melakukan tur keliling di pusat Cooperative Orthotics and Prosthetics Enterprise (COPE) . Di sini Clinton melihat dampak UXO dengan matanya sendiri. Fasilitas tersebut digunakan untuk merehabilitasi mereka yang telah cacat oleh UXO. Pemerintah AS telah aktif dalam membantu Laos untuk menghapus UXO dan telah  menyumbangkan 68 juta USD  sejak 1993.

Clinton juga mengunjungi Ho Phra Keo Museum, salah satu kuil tertua dan terbaik diawetkan di kota Vientiane. Di sini Clinton  mengumumkan bahwa tambahan dana 200.000 USD  baru saja disetujui untuk pelestarian Wat  Xieng Thong  , sebuah kuil  World Heritage di kota Luang Prabang, sebagai bagian dari program Ambassadors Fund for Cultural Preservation.

Clinton diundang untuk mengunjungi Laos, sebagai pertukaran kunjungan  Sisoulith ke Washington pada tahun 2010. Clinton terbang ke Vientiane dari Vietnam pada Rabu, dan kemudian berangkat ke Kamboja, sebagai bagian dari tur delapan negara di seluruh dunia. (Sumber : Xinhua )

Budaya-Tionghoa.Net | Facebook Group Tionghoa Bersatu