Tiongkok Mempererat Hubungannya Dengan Afrika Melalui Pinjaman 20 Miliar USD

Budaya-Tionghoa.Net | Presiden Hu Jintao mengatakan pada hari  Kamis lalu bahwa Tiongkok akan memberi pinjaman sebesar 20 miliar USD kepada pemerintah Afrika untuk infrastruktur dan agrikultur dalam tiga tahun kedepan , dalam sebuah pidato pertemuan dengan para pemimpin Afrika. (Xinhua , 20 Juli)


Tetapi ikatan antara Beijing dan Afrika lebih dari sekedar pinjaman. Di tahun 2011 , volume perdagangan antara Tiongkok dan Afrika mencapai 166.3 miliar USD  atau sekitar tiga kali lipat dari tahun 2006. Investasi langsung ke Afrika secara kumulatif juga melampaui 15 miliar USD dan proyek investasinya mencakup 50 negara Afrika.
Kawasan Afrika adalah kawasan energi dan mineral yang berlimpah ruah . Bantuan Tiongkok kepada Afrika berkembang dengan cepat dalam satu dekade terakhir di benua yang menjadi sumber utama minyak dari Sudan dan Angola , tembaga dari Zambia dan Republik Demokratik Kongo.
Tiongkok mendapat kritikan karena menawarkan bantuannya tanpa mengkondisikan dengan hak asasi manusia atau pemerintahan , terutama dalam kasus Presiden Omar Hassan al-Bashir di Sudan menurut laporan New York Times. Disisi lain proyek2nya seperti jaringan jalan , pipa saluran dan pelabuhan dinilai berfokus pada kondisi yang menguntungkan industri ekstraktif Tiongkok , bukan rakyat Afrika , menurut sebuah kritikDisisi lain , Presiden Afrika Selatan , Jacob Zuma , memuji pendekatan Tiongkok . Dibandingkan dengan Eropa , lanjut Zuma , kawasan Afrika lebih senang hubungannya dengan Tiongkok dimana hubungan dibangun sejajar dan kesepakatan didasari hubungan yang menguntungkan kedua pihak .

Dalam pidatonya , Hu Jintao mengatakan bahwa Tiongkok akan melatih 30 ribu orang Afrika dan menawarkan 18 ribu beasiswa dan mengirip 1500 personil medis ke Afrika. Tiongkok juga akan mendorong program peningkatan untuk air minum dan perlindungan hutan.

Tak kurang juga yang  mempermasalahkan bahwa bantuan yang dijanjikan Hu tidak jelas , tidak transparan dan terdokumentasikan dengan baik menurut New York Times . Yun Sun ,  seorang pakar kebijakan asing di sebuah grup riset di Washington  mengatakan bahwa jumlah akurat yang diberikan Tiongkok sukar didapat karena perbedaan standar barat dalam soal bantuan.

Tiongkok bisa saja mengatakan membangun sebuah jaringan jalan dan insfrastruktur yang menguntungkan rakyat di negara yang menerima bantuan , Yun Sun berkata , tetapi tujuan utamanya adalah untuk memperkuat legitimasi pemerintah dan mendapatkan sumber daya alam.

Sebaliknya Gebeyehu Ganga Gayito, seorang mentri Ethiopia di kedubesnya di Beijing , mengatakan bahwa dia gembaira melihat negaranya mendapat benefit dari investasi Tiongkok seperti yang diberitakan Xinhua.

“Lihatlah setiap penjuru Ethiopia , infrastruktur termasuk rumah sakit dan kereta api . Anda akan melihat bagaimana kami mendapat benefit dari investasi Tiongkok ,” katanya

Saat ini , semua dari 30 negara terbelakang di Afrika mempunyai ikatan diplomatik dengan Tiongkok dan menikmati zero tariff untuk 60% ekspor mereka ke Tiongkok.

Pengalaman Tiongkok tidak berlangsung mulus di Afrika dalam tahun-tahun terakhir. Aliran minyak dari Sudan berhenti karena ketegangan antara Sudan dan Sudan Selatan , yang merdeka pada bulan Juli 2011. Tiongkok menarik para insinyurnya dari ladang minyak di Sudan Selatan dan infrastruktur yang dibangun Tiongkok seperti saluran pipa dari ladang menuju pelabuhan.

Di Libia , Tiongkok  menjadi pendukung Qaddafi sejak lama , dan sejak revolusi dan kematian Qaddafi , pemimpin yang baru gagal untuk menghormati kontrak-kontrak Tiongkok.(Sumber : New York Times, Xinhua )

Budaya-Tionghoa.Net | Facebook Group Tionghoa Bersatu