Kartini & Budaya Tionghoa

Budaya-Tionghoa.Net | Kartini , nama yang sering kita dengar sedari duduk di bangku sekolah. Hari kelahirannya pada tanggal 21 April di tahun 1879 diperingati sebagai Hari Kartini. Kartini menulis surat-surat dalam lima tahun terakhir kehidupannya. Surat-suratnya itu dikumpulkan oleh Abendanon menjadi “Door Duisternis To Licht” atau dalam bahasa Indonesia lebih dikenal dengan “Habis Gelap Terbitlah Terang”.

Seperti mungkin yang kita sering baca di beberapa jurnal vegetarian bahwa salah satu pahlawan nasional kita, R.A.Kartini adalah seorang vegetarian. Namun tidak banyak dari kita yang mengetahui latar belakang beliau bervegetarian.[1]

Dalam buku “Tionghoa dalam Pusaran Politik” , yang ditulis oleh Benny G.Setiono , disebutkan : Mengenai Kartini ada satu hal menarik yang jarang dikemukakan pada publik. Dalam surat yang dikirim oleh R.A.Kartini pada 27 Oktober 1902 kepada nyonya R.M.Abendanon-Mandri seperti yang dimuat dalam buku Door Duisternis to Licht, Kartini mengaku bahwa dirinya adalah “anak Buddha” karena kepercayaannya kepada Kongco Welahan (dekat Kudus), tempat berziarah berbagai macam bangsa seperti gunung Kawi di dekat Malang. || Continue Reading

One thought on “Kartini & Budaya Tionghoa

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s