Menyelidiki Kematian Hitler Menurut Ziweidoushu

ZIWEIDOUSHU HITLER PADA TAHUN 1945

A.Dekade
Memasuki usia 56 tahun. Jadi Sektor penyakit menjadi sektor jiwa dekade. Kebetulan sektor jiwa dekade ini duduk pada Bingyin. Bintang transformasinya adalah sebagai berikut:
• Tiantong menjadi hualu
• Tianji menjadi huaquan (penyakit dekade).
• Wenchang menjadi huake
• Lianzhen menjadi huaji

Kebetulan pada saat itu juga, sektor jiwa dekade ditempati oleh Lianzhen yang menjadi huaji, sehingga merupakan pertanda kemalangan. Sektor penyakit dekade dimasuki Tianji menjadi huaquan. Tianji di sektor penyakit menandakan penyakit liver dan syaraf. Pada kenyataannya Hitler pada akhir-akhir hidupnya menerima penyakit parkinson; yakni tangannya suka bergetar. Bintang Tuoluo putaran ada di Chen, yang kini menjadi sektor Batin. Bintang Qinyang putaran ada di Wu yang menyoroti sektor jiwa.

Continue Reading

Advertisements

Hak Hak Alam

Photo Credit : transitionconsciousness.wordpress.com

Budaya-Tionghoa.Net | Pandangan dunia modern dewasa ini dipengaruhi oleh filsafat Materialisme Descartes dan pemikir-pemikir Materialisme seperti Newton, Bacon. Dan pengertian terhadap alam adalah mekanik dan menurut Bacon tujuan ilmu pengetahuan adalah untuk eksploitasi alam yang kemudian diperparah oleh Kapitalisme yang menganggap alam adalah untuk dieksploitasi demi kapital sehingga melahirkan kerusakan alam secara luas dan parah. Alam bukanlah sesuatu yang agung tapi lebih dari seonggok barang yang mekanik dan manusia yang berkuasa atas alam itu. Karena itu pada tahun 1970an lahir Ekologi sebagai jawaban atas kerusakan alam ini dan banyak aliran Ekologi seperti Antroposentrisme, Biosentrisme dan lain-lain.

Konsep alam sebagai benda itu merupakan pandangan barat yang berbeda dengan timur, di mana dalam konsep timur seperti dalam Taoisme, semua adalah bagian dari Tao sehingga memiliki jejaring yang berkesinambungan dan berkesambungan, alam harus dihargai, disetarakan dan anjuran hidup alamiah selaras dengan alam, seperti halnya Spinoza tentang alam dan semua yang ada itu tercipta dari alam dan alam itu sendiri adalah bagian dari kita semua dan kita semua adalah bagian dari alam, ini memiliki kemiripan dengan Daode Jing yang merupakan dasar dari Taoisme, ini serupa dengan pengertian Ekosentrisme dimana manusia dengan segala sesuatu, baik yang bersifat biosfer dan abiosfer itu setara. Seandainya alam dapat berbicara, tentunya cara berbicara berbeda dengan manusia. Alam berbicara melalui dampak kerusakan yang dibuat manusia atau dengan berubahnya siklus alam yang menjadi tidak karuan, alam tidak perlu berbicara dengan bahasa manusia, karena itulah alam. Bukan dengan membahas percakapan dalam bentuk bahasa seperti apa yang dilakukan manusia, alam sendiri berbicara dengan bahasa alam itu sendiri, seperti dalam Zen, “Rasakan angin sepoi yang berbicara”. Amat sulit bagi manusia yang berpikiran rasional untuk menerima alam itu bercakap-cakap karena hal itu sulit dibuktikan dengan logika tapi bisa dilakukan melalui intuisi, karena itulah yang membedakan antara konsep timur dan barat saat memandang alam.

Kita tidak pernah mau menyatukan diri dengan alam, memisahkan alam sebagai “the outsider” dari manusia yang berbeda dan berhak berkuasa atas alam seperti dalam pandangan Antroposentrisme yang beranggapan bahwa manusia sebagai pusat dan tujuan tindakan ekologis yang terpengaruh oleh Antropologi Kristiani, Aristoteles dan filsafat modern yang beranggapan bahwa manusia sebagai the free and rational being. Dalam hal ini, mungkin seorang penganut Politeisme jauh lebih menghargai alam karena mereka bisa dengan sujud menghargai sebatang pohon sedangkan menurut kaum rasional itu adalah hal yang absurd karena pohon tidaklah lebih tinggi bahkan lebih rendah dibanding manusia. Saat orang mentertawakan Zhuang Zi yang mengatakan sekelompok ikan berenang dan bahagia, orang itu berargumen bahwa Zhuang Zi bukan ikan sehingga tidak tahu apakah ikan senang atau tidak. Pandangan itu secara logika adalah benar, tapi jika menyadari bahwa manusia memiliki hubungan jejaring tersembunyi dengan segala sesuatu yang ada, maka Zhuang Zi bisa merasakan ikan itu bahagia karena ikan itu adalah bagian dari alam, saat mengatakan itu bisa dikatakan Zhuang Zi sedang bersatu dengan alam. Sama seperti halnya manusia memilah-milah system syaraf yang kompleks antara manusia dengan kecoa, sehingga beranggapan bahwa manusia jauh lebih tinggi dari kecoa karena manusia bisa berpikir, ini adalah pandangan Antropsentrisme yang beranggapan bahwa manusia memiliki kuasa terhadap apapun yang ada disekitarnya karena manusia lebih unggul padahal rasa keunggulan memberikan bencana bagi alam dan manusia sebagai bagian dari alam itu sendiri akan merasakan dampaknya.

Continue Reading

Gunung dan Air山水 Sebagai Dasar Fengshui

Orang sering mengasosiasikan fengshui[1] sebagai cara menata rumah sehingga melahirkan rejeki, ketenangan dan kesehatan. Dalam melihat fengshui juga yang digunakan adalah papan kompas dan melihat aliran qi, dimana salah satu metode adalah menggunakan arah duduk dan arah hadap dengan penggunaan system penghitungan tahun, seperti misalnya yang digunakan dalam metode Feixing.

Salah satu dasar yang menjadi acuan fengshui adalah gunung dan air, dimana ini terkait dengan peradaban purba. Salah satu bencana alam yang sering menimpa masyarakat purba adalah banjir. Dengan adanya bencana banjir, akan mendorong masyarakat Tiongkok purba mencari cara mengatasi banjir itu. Salah satunya adalah dengan mencari lokasi yang aman dari banjir itu. Walau demikian, cara-cara mengatasi banjir itu dalam masyarakat Tiongkok purba dibalut dengan mitos, karena itu perlu dipahami terlebih dahulu bagaimana mitos Tiongkok dalam menghadapi bencana alam terutama banjir, sehingga lebih bisa memahami mengapa lahirnya fengshui sebagai bagian dari lima ilmu 五术.[2]

Dalam tulisan ini, penulis tidak akan terlalu membahas tentang ilmu-ilmu yang terkait dengan fengshui, tapi akan menekankan pada konsep air dan gunung yang akan melandasi pandangan fengshui hingga saat ini.Untuk itu penulis akan mencoba memaparkan pandangan purba tentang banjir dan pengaruhnya pada fengshui dan mitos bangsa Tionghoa untuk mengatasi banjir agar bisa memahami kenapa gunung dan air menjadi penting.

Sejak adanya manusia, tidak dapat terlepas dari bunda bumi. Sandang pangan manusia tidak dapat terlepas dari bunda bumi. Tidak perduli jaman purba , sekarang maupun akan datang manusia tidak dapat terlepas dari bumi/tanah yang dipijaknya.[3]

土者,氣之母,有土斯有氣[4] ( Tanah adalah bunda dari qi, adanya tanah maka ada qi )

Continue Reading

Kwa Geok Choo (1920-2010) : Menara Kekuatan Bagi Lee Kuan Yew

Photo : Lee Kuan Yew & Kwa Geok Choo , channelnewsasia.com

Budaya-Tionghoa.Net |   Kwa Geok Choo merupakan istri dari figure terkemuka Singapura , Lee Kuan Yew. Kwa GC dilahirkan pada 21 Desember 1920 ,  merupakan putri  dari Kwa Siew Tee , general manager Oversea-Chinese Banking Corporation (1935-1945) .Kwa menempuh kuliah di sekolah perempuan Methodist di Singapura. Setelah lulus Kwa melanjutkan pendidikan di Raffles College di bidang seni dan lulus pada tahun 1947.

Di bulan Agustus 1947 , Kwa berangkat ke Inggris dan meraih beasiswa Queen Scholarship untuk studi bidang hukum di Girton College – Cambridge University dan menjadi wanita pertama dari Malaya (Singapura ketika itu belum berdiri) yang lulus dengan memuaskan dari Cambridge. Di akhir tahun Kwa menikah dengan Lee Kuan Yew. Kwa dan Lee kembali ke Singapura melalui kapal Belanda Willem Ruys meninggalkan London pada 14 Juli 1950. Di Singapura mereka menikah kembali pada 30 September 1950. Pasangan ini dikaruniai tiga anak , Lee Hsien Loong , Lee Hsien Yang dan Lee Wei Ling.

Continue Reading

Qi Qiao Ban (Tangram Puzzle)

Budaya-Tionghoa.Net |Tangram atau qi qiao ban adalah puzzle yang berasal dari Tiongkok. Qi qiao ban ini jika diterjemahkan kedalam bahasa Indonesia adalah tujuh kepingan pintar. Satu set  terdiri dari tujuh keping yang disebut tan. Tujuh keping ini terdiri dari dua segitiga besar , dua segitiga kecil , satu segitiga ukuran sedang , satu persegi panjang dan satu jajaran genjang.Dengan satu set tangram ini kita dapat membuat berbagai bentuk dari binatang , burung , orang , perahu , dan ribuan sampai puluhan kontingensi bentuk.

Aturan penggunaannya adalah kita harus menggunakan seluruh kepingan , saling bersentuhan dan tidak boleh tumpang tindih. Permainan ini mengasah kreativitas dan tidak semudah yang dilihat pada pandangan pertama. Dibutuhkan kesabaran untuk menyelesaikan setiap bentuk. Kita bisa membuat sendiri kepingan-kepingan itu atau membelinya jika tersedia di toko permainan. Saya kebetulan membuatnya dalam 3D photography sederhana untuk ilustrasi qi qiao ban . Seseorang yang berlari untuk bersiap-siap melompat diudara dengan susunan orang-orangan yang disusun dari tujuh keping qi qiao ban. (Gambar 1)

Continue Reading

Kaitan Antara Yuanxiao Dengan Dongfang Shuo

Photo : Philo Vivero

Budaya-Tionghoa.Net | Yuanxiao secara umum dianggap pesta lentera rakyat dan pesta lentera ini sebenarnya berasal dari dinasti Han. Arti kata Yuanxiao sebenarnya adalah bulan purnama di bulan pertama, Dan arti kata Yuanxiao adalah perayaan menyambut bulan purnama dibulan pertama. Jika dikaitkan dengan Dongfang Shuo, sebenarnya itu adalah legenda rakyat. Dalam satu peristiwa Dong melihat satu gadis pelayan istana yang hendak bunuh diri. Gadis itu bernama Yuan Xiao yang putus asa karena sejak masuk istana tidak bisa mudik untuk berkimpul dengan keluarganya.

Dong berusaha menolong gadis itu dengan membuka layanan ramalan di jalanan ibukota Chang An (Xi’an ) . Tokoh populer seperti Dong bisa menarik massa untuk antri , dan setiap ramalan hasilnya adalah tanggal 16 bulan 1 , tubuh terbakar. Rakyat menjadi geger dan Dong berkata bahwa pada tanggal 13 malam , Dewa Api akan mengirimkan utusan untuk membakar ibukota . Dong kemudian berkata lagi,”Saya akan menyerahkan apa yang telah saya catat atas perkataan Mereka kepada kalian, kalian harus menyerahkan kepada kaisar dan kaisar harus berpikir bagaimana caranya mengatasi bencana ini.” Setelah itu Dong langsung melemparkan selembar kertas merah dan rakyat mengambilnya.

Rakyat kota Chang An berbondong-bondong menyerahkan tulisan itu kepada kaisar Han Wudi. Kaisar menerima kertas itu dan ia terkejut membaca tulisan yang berisi,” Kota Chang An dalam bencana, api membakar istana, api tanggal 15, menyala membara di malam Xiao.”Kaisar kemudian mencari Dong yang terkenal banyak akal dan berpengetahuan luas untuk mencari jalan keluar dari bencana yang akan menimpanya.

Dong kemudian menjawab bahwa Dewa Api sangat gemar tangyuan (onde) si gadis Yuan Xiao bisa diperintahkan membuat onde . Dong memberikan nasehat agar Kaisar memerintahkan si gadis pelayan dan juga rakyat untuk membuat onde pada tanggal 14 sebagai penghormatan pada Dewa Api. Dan tanggal 15 malam untuk menyalakan lampion sehingga ibukota terlihat seperti terbakar. Juga rakyat diluar gerbang kota dipersilahkan masuk untuk berkumpul menyaksikan lampion dan terhindar dari bencana.  Kaisar kemudian memerintahkan semua hal yang dianjurkan oleh Dong. Pada tanggal 15 malam, keluarga Yuanxiao datang ke ibukota dan mereka terkejut melihat ada lentera yang bertuliskan Yuanxiao, mereka berteriak memanggil Yuan Xiao, akhirnya satu keluarga bisa berkumpul.

Tentu saja bencana yang diramalkan oleh Dong tidak terjadi, karena murni rekayasa Dong, kota Chang An tidak terjadi bencana dan rakyat amat senang melihat keramaian pada malam itu, sehingga memerintahkan setiap tanggal 15 bulan 1 perayaan tersebut dilaksanakan. Secara jelas hal ini bukan kejadian sesungguhnya pada masa dinasti Han tapi cerita ini bisa dikatakan timbul pada jaman dinasti Song atau setelah dinasti Song. Kaitan perayaan dengan Dong Fangshuo sebenarnya terlalu mengada-ada karena pada masa kaisar Han Wendi ( 202 – 157 SM ) sudah diadakan. Legenda asal usul pesta lampion ada beberapa, antara lain dikaitkan dengan kaisar Han Mingdi (28 AD-75AD ) dengan agama Buddha.

Continue Reading

Silsilah Tionghoa Jose Rizal [1] – Domingo Lam-co / Ke Yinan

Budaya-Tionghoa.Net |  Domingo Lam-co ( Ke Yinan  ) seorang imigran Tionghoa yang menempuh perjalanan dari Jinjiang , Quanzhou ke Filipina di pertengahan abad 17. Quanzhou adalah daerah dimana Jesuit  (kemudian Dominican) masuk ke Tiongkok untuk misi penyebaran agama. Lam-co dikenal diantara masyarakat setempat yang kemudian tinggal bersamanya di Binan-Filipina sebagai figur pemimpin.

Lam-co dibaptis di gereja Parian di San Gabriel di suatu hari Minggu di bulan  Juni 1697. Nama kedua orang tuanya adalah Siang-co dan Zun-nio. Catatan baptis ini masih dapat dilihat di catatan di gereja tersebut di San Gabriel. Segera setelah Lam-co datang ke Manila kemudian Lam-co tinggal di Binan. Lam-co berpengaruh dalam pembangunan Tubigan barrio, salah satu bagian terkaya dalam tanah perkebunan yang besar. Isterinya bernama Inez de la Rosa. Mereka menikah di gereja yang sama saat Lam-co dibaptis 13 tahun sebelumnya.

Diantara Tionghua Filipino , arti sebuah nama sangat penting demikian juga alasan pemberian nama dari orang tua terhadap anaknya. Domingo Lam-co  memberikan nama anaknya satu terjemahan Spanyol dari nama Tionghua , Sangley , Mercado dan Merchant bermakna sama. Fransisco Mercado

Silsilah Tionghoa Jose Rizal

1. Domingo Lamco (Ke Yinan / Kho Gi-lam)
2. Francisco Mercado (Kakek Buyut)
3. Juan Mercado  (Kakek)
4. Francisco Engracio Mercado (Ayah)
5. Jose Rizal

Contine Reading

Wang Shu : Pemenang Pritzker Architecture Prize 2012

Budaya-Tionghoa.Net | Awal tahun ini tepatnya , pada akhir bulan Februari , Thomas J Pritzker , ketua yayasan Hyatt yang mensponsori penghargaan tersebut mengumumkan bahwa Wang Shu menjadi pemenang penghargaan arsitektur Pritzker. Upacara resmi penyerahan penghargaan arsitektur Pritzker,  diadakan di Beijing pada 25 Mei dimana Wang Shu akan menerima hadian 100 ribu USD dan sebuah medali perunggu.  Fakta bahwa seorang arsitek dari Tiongkok terpilih oleh dewan juri , menggambarkan langkah signifikan dan peran Tiongkok yang akan memainkan ideal perkembangan arsitektural menurut Thomas Pritzker .  Continue reading

Justin Lin Yifu : Ekonom Top Dunia

 

Photo Credit : Bdwgast ,
“Justin Lin bersama istrinya di Frankfurt Bookfair 2009”

Budaya-Tionghoa.Net | Justin Lin adalah seorang top ekonom dunia yang menjadi chief economists Bank Dunia untuk masa bakti 2008-2012. Justin Lin Yi-Fu 林正义 kelahiran 15 Oktober 1952 di Yilan Taiwan. Di tahun 1971 dia masuk kampus bergengsi di Taiwan , National Taiwan University . Kemudian Lin masuk ROC Military Academy dan lulus pada tahun 1975. Lin melanjutkan studi dengan beasiswa militer  di National  Chengchi University , Taipei , Taiwan . Setelah menerima MBA pada tahun 1978 , Lin kembali ke dinas militer dan ditempatkan di Quemoy.

Perubahan penting dalam hidupnya terjadi ketika sebagai seorang kapten di militer Taiwan , Lin desersi dan menyeberang ke mainland Tiongkok. Lin berenang sejauh 2.3 km dengan bantuan dua bola basket dari Kinmen ke wilayah selatan Fujian pada 16 Mei 1979. Dia meninggalkan istri dan anaknya masih berada di Taiwan . Kenekatan Lin kembali ke mainland ini sudah diperhitungkan Lin berdasarkan pemahaman kultural , politik , ekonomi dan historis , kembali ke mainland merupakan pilihan optimal. (The Weekly Standard , 14 Februari 2008). Pihak militer Taiwan pertama kali menganggap Lin sebagai orang hilang . Istri dan keluarganya mendapatkan kompensasi 31 ribu USD dari pemerintah Taiwan.

Justin Lin Yi Fu yang pada tanggal 4 Februari 2008 diangkat menjadi top ekonom Bank Dunia di Washington ( NRC , 5 Februari 2008) , yang tentu merupakan satu bank yang berpengaruh besar didunia. Presiden dari Bank Dunia Robert Zoelick mengatakan bahwa Justin Lin merupakan kombinasi yang unik dari pengalaman dan kepandaian. Justin Lin  adalah pakar dalam bidang perkembangan ekonomi dan Dengan pengangkatan Justin Lin Yi-Fu (55) menjadi ekonom kepala dari Bank dunia merupakan satu tindakan yang penting. Dia bukan hanya orang Tionghoa yang pertama mendapatakan fungsi ini, tetapi juga adalah orang pertama dari negara berkembang yang mendapatkan fungsi ini. Lin dianggap sebagai kandidat kuat peraih Nobel Ekonomi ( Taipei Times 7 Februari 2008)

Continue Reading

Kelenteng Di Jakarta [Kota] Untuk Objek Fotografi

[Foto Ilustrasi : Atap Bangunan Kiu Li Tong ]

Budaya-Tionghoa.Net | Salah seorang rekan forum bertanya mengenai objek fotografi di daerah Pancoran dan Petak Sembilan selain Toasebio , Aryamarga dan Jindeyuan , karena teman dari rekan forum tersebut sedang mencari objek fotografi yang tepat.

Pertama-tama yang musti diketahui : yang dicari sebagai obyek fotografi itu apanya ? Apa keantikan kelenteng? keunikan umat? keunikan fungsi, kimsinnya?atau malah “keanehan” bentuk kelenteng? Apakah termasuk juga vihara yang benar-benar Buddhis meskipun memiliki ornamen Tionghoa?

Klasifikasinya juga sangat banyak. Di seputaran daerah Kota ada sekitar 20 kelenteng dengan berbagai namanya, semisal Bio, I, Si, Kong dan sebagainya . Termasuk juga kelenteng pelindung marga, kelenteng sinci, kelenteng Kwan Im, Hok Tek Cheng Sin dan kelenteng-kelenteng khusus untuk tukang obat, tukang kayu, dan sebagainya. Yang saya maksud daerah kota kira-kira dari kotak imajiner sekitar Beos menuju ke Pinangsia, ke arah Glodok Pancoran, sampai ke mulut Jembatan Lima lalu ke arah Angke ke Timur menuju Pasar Ikan dan kembali ke stasiun Beos.

Di Jakarta sendiri, ada beberapa kelompok daerah kelenteng (yang dibangun sebelum era orde baru, termasuk yang hancur atau dijarah di tahun 1967 dan 1998). Saya kecualikan vihara (budhis) dengan model Tionghoa yang dibangun belakangan dan biasanya cirinya adalah bertingkat, modern dengan sedikit arsitektur Tionghoa dan adanya patung Kuan Im dan hiolo baru.

Continue Reading

Film : “Double Exposure” (2012)

Budaya-Tionghoa.Net |  Li Yu menggarap Double Exposure yang dibintangi oleh Fan Bingbing , Joan Chen dan Huo Siyan.  Fan Bingbing berperan sebagai protagonist Song Qi  , seorang konsultan “oplas” (plastic surgery) yang menemukan kenyataan bahwa kekasihnya , Liu Dong (Feng Shaofeng) berselingkuh dengan sahabat baiknya , Xiaoxi (Huo Siyan) .

Kemudian Xiaoxi menghilang dan Song Qi terseret dalam kasus pembunuhan. Xiaoxi kemudian muncul dalam impian Song Qi dan membawa Song kedalam penyesalan dan rasa bersalah. Ada rahasia besar yang mendekat kepada Song Qi yang berkaitan dengan hubungan percintaannya dan juga impiannya dalam satu perjalanan misterius yang harus dihadapi oleh Song Qi untuk pencarian sisi kehidupan yang telah hilang dari dirinya.

Li Yu menulis script untuk film ini dalam empat bulan . (China Daily , 21 September 2012)  Banyak sisi menarik yang diangkat Li Yu di masyarakat modern ini . Misalkan operasi plastik (plastic surgery) yang sedang marak untuk membentuk kecantikan artificial . Li Yu mempertanyakan kenapa orang-orang memakai topeng ketika mereka sudah memiliki wajah .

Continue Reading

 

 

Changde – Kota Dengan Tembok Seni

Budaya-Tionghoa.Net | Kota Changde yang terletak di bagian barat laut Provinsi Hunan, Tiongkok Tengah adalah sebuah kota budaya yang bersejarah lebih dua ribu tahun. Untuk memperagakan budaya yang dimiliki, kota tersebut pada tahun 1990-an telah membangun Tembok Seni Syair, Kaligrafi, Lukisan dan Ukiran yang paling panjang di dunia. Kini tembok seni tersebut sudah tercantum dalam catatan Guinness Sedunia.

Pembangunan Tembok Seni Changde dimulai pada tahun 1991 dan selesai pada tahun 2000. Tembok itu dibangun di tanggul penahan banjir tepi utara Sungai Yuanjiang yang mengalir melintasi kota Changde.

Pada tembok granit sepanjang 3 kilometer itu terukir lebih 1.200 syair terkenal dari berbagai zaman di Tiongkok dan dunia.

Syair-syair itu terlebih dulu dituliskan dengan tangan oleh 900 ahli kaligrafi terkenal di Tiongkok, kemudia diukirkan di atas batu granit oleh tukang. Selain itu, pada tembok seni itu diukirkan 43 lukisan ukir batu ukuran besar yang isinya sesuai dengan syair-syair tersebut.

Lukisan-lukisan itu juga karya pelukis terkenal Tiongkok zaman sekarang. Setelah diadakan pembuktian berulang-ulang, tembok itu pada tahun 2000 dicantumkan dalam catatan Geneese Sedunia sebagai “Tembok Seni Syair, Kaligrafi, Lukisan dan Ukiran Yang Terpanjang di Dunia”.

Continue Reading

Dr. Kwa Tjoan Sioe (1893-1948) : Pendiri RS Husada

Photo : Rumah sakit yang didirikan Kwa Tjoan Sioe
akperhusada.ac.id

Budaya-Tionghoa.Net |  Kwa Tjoan Sioe (Ke Chuanshou ) dilahirkan di Salatiga pada tahun 1893 . Dia menempuh pendidikan di ELS – Salatiga . Di tahun 1908 dia masuk HBS Semarang . Di tahun 1913 Kwa berangkat ke Belanda untuk studi dibidang medis dan lulus pada tahun 1920. Selain itu selama setahun Kwa studi di Colonial Institute – Amsterdam dibidang spesialisasi penyakit di iklim tropis.

Kembali ke Hindia Belanda , Kwa berkerja di General Hospital – Jakarta , kemudian Instituut Pasteur – Jakarta. Mulai tahun 1922 , Kwa mulai praktek sendiri sebagai dokter.  Di tahun 1924 Kwa bersama Ang Yan Goan  mendirikan Rumah Sakit Jang Seng Ie dan menjadi direktur pertama . Pada masa revolusi kemerdekaan , rumah sakit ini mempunyai unit palang merah Jang Seng Ie . Kelak nama rumah sakit ini berubah menjadi Rumah Sakit Husada.

Continue Reading

Ciong Dalam Aplikasinya

Ciong Dalam Aplikasinya

Ivan Taniputera  | Karena mendekati tahun baru Imlek saya bermaksud menulis artikel ini. Banyak orang menanyakan pada tahun ini, shio apa saja yang ciong. Sebagai informasi, apa yang dimaksud shio sebenarnya adalah cabang bumi tahun yang berlangsung.

• Cabang bumi Zi adalah shio tikus.
• Cabang bumi Chou adalah shio kerbau.
• Cabang bumi Yin adalah shio harimau.
• Cabang bumi Mao adalah shio kelinci.
• Cabang bumi Chen adalah shio naga.
• Cabang bumi Si adalah shio ular.
• Cabang bumi Wu adalah shio kuda.
• Cabang bumi Wei adalah shio kambing.
• Cabang bumi Shen adalah shio kera.
• Cabang bumi You adalah shio ayam.
• Cabang bumi Xu adalah shio anjing.
• Cabang bumi Hai adalah shio babi.

Demikianlah hubungan shio dengan cabang bumi. Cara penghitungan dan teori ciong ini ada bermacam-macam. Salah satunya adalah dengan memperhitungkan kedudukan antara cabang bumi tahun kelahiran. Continue reading

Di Zi Gui 弟子規 Pedoman Menjadi Murid Dan Manusia Yang Baik

 

 

 

敬天地
拜祖先
礼神明

 

Hendri Irawan | 弟 子規  Dì Zǐ Guī, secara harafiah berarti pedoman hidup seorang murid yang baik. Penulis memilih untuk menafsirkan dan menyadurnya dengan judul PEDOMAN HIDUP BERBUDI  PEKERTI dikarenakan pedoman hidup ini berlaku universal dan yang dimaksud dengan murid sebenarnya adalah semua manusia yang mau belajar demi memperbaiki kualitas diri.

Pedoman ini ditulis oleh seorang sarjana bernama 李毓秀 Lǐ Yùxiù. Beliau hidup di periode 康熙 Kāngxī (1662-1723 CE) dinasti 清 Qīng. Awalnya tulisan ini diberi nama 訓蒙文 Xùn Méng Wén artinya Tulisan Untuk Mendidik Anak. Kemudian oleh賈存仁Jiǎ Cúnrén direvisi dan dirubah namanya menjadi 弟子規  Dì Zǐ Guī.

Walau pedoman ini lebih banyak diajarkan ke anak-anak, isinya sebenarnya bersifat universal. Dan justru manusia dewasa juga patut membacanya. Karena manusia semakin dewasa maka tingkah lakunya semakin menyimpang akibat dari pengaruh lingkungan dan pendidikan yang diterima. Continue reading