Etnohistorikal Tiongkok : Hui , Panthay , Dungan

Budaya-Tionghoa.Net| Masyarakat Hui [Huizu 回族] adalah grup minoritas terbesar kedua yang tersebar di Tiongkok. Mereka juga dikenal sebagai Huihui, Huizo , Panthay , Dungan ,Dungane, Donggan-ren , Tung-an , Mumin , Jiaomen, Zhongyuan-ren, Lao Hui Hui , Lao Khuei Khuei , Huijiaren.[1] Hui adalah grup Muslim paling tua diantara 10 grup Muslim di Tiongkok dan dapat ditemukan disetiap provinsi. Walau demikian populasi mereka terkonsentrasi pada di Linxia Hui Autonomous Prefecture di barat kota Lanzhou , Provinsi Gansu dan Ningxia Hui Autonomous Region [yang sampai tahun 1958 masih menjadi bagian dari provinsi Gansu]. Statistik populasi Hui di Tiongkok berjumlah 7.22 juta [1982] dan bertambah 19.04% menjadi  8.6 juta [1990] selama delapan tahun. | Continue Reading

Serial Drama Korea Dongyi & Budaya Tionghoa

Serial Drama Dongyi 동이  menyusul  kesuksesan Drama Dae Janggeum yang diterima secara luas diluar Korea Selatan itu sendiri. Dongyi disiarkan oleh Munhwa Broadcasting Corporation atau MBC pada tahun 2010 dan juga disiarkan oleh stasiun televisi Indosiar di Indonesia .  Drama ini cukup menarik dengan menghadirkan intrik-intrik politik dimasa Dinasti Joseon atau tepatnya dimasa Yi Sun (1661-1720) atau lebih dikenal sebagai Raja Sukjong(1674-1720). Drama ini juga menunjukkan pengaruh Budaya Tionghoa yang kuat di Korea. Continue Reading

Etnohistorikal Tiongkok : Yugur

Yugur atau Yugu Zu 裕固族 , adalah salah satu dari grup minoritas paling sedikit populasinya yang diakui pemerintah Republik Rakyat Tiongkok. Dalam sensus ditahun 1990 , populasi Yugur sebanyak 12997 jiwa dan 13719 di sensus tahun 2000. Diperkirakan 90% orang Yugur terdapat di daerah otonomi Sunan Yugur atau Sunan Yuguzu Zizhixian 肃南裕固族自治县, di provinsi Gansu. Kawasan ini seluas 20 ribu kilometer persegi. Continue Reading

Simbol Tionghoa : 燕 Yan- Burung Layang-layang

Di Tiongkok maupun di kawasan empat musim seperti di Eropa , burung layang-layang menjadi pertanda musim semi.Kepercayaan populer adalah bahwa setiap musim semi , burung layang-layang kembali dari tempat persembunyian mereka di laut dimana mereka menghabiskan musim dingin sebagai — kerang. Kedatangan burung yan di musim semi (chun) menjadi pertanda baik dan keburuntungan. Gambar burung ini bermakna datangnya kabar baik .Continue Reading

Tata Cara Yang Lazim Dalam Berbahasa

Dialek, bahasa daerah perlu di lestarikan, karena membawa budaya yang sangat berharga bagi bangsa ybs, kadang-kadang bagi dunia internasional.

Di Tiongkok, bahasa yang sudah musnah, bahasa Mancu misalnya, dipelajari lagi oleh para ahli, satu dua orang tua yang masih bisa bicara bahasa Mancu, direkam pembicaraannya demi melestarikan jangan sampai bahasa itu musnah.

Bangsa / suku yang punya bahasa tapi tak punya tulisan, atau tulisannya tak sempurna, dibantu pemerintah untuk diperbaiki, yang tak punya huruf dibuatkan huruf baru, agar bahasanya bisa dituliskan.

Untuk mempercepat mereka mempelajarinya, biasanya dibuatkan dengan ejaan Latin. Salah satu contoh, adalah daerah yang belum lama saya kunjungi, Wilayah Otonomi (setingkat propinsi) Bangsa Zhuang Guangxi.

Kalau anda ke sana,bisa melihat, nama jalan sering ditulis dalam dua huruf, huruf Tionghoa dan huruf Zhuang (huruf Latin), misalnya naih, adalah nenek dari ayah. Lihat sebetulnya masih ada kaitan dengan Mandarin, dalam Mandarin nenek dari ayah adalah nainai. Continue Reading

Es Shanghai

Hai, apakabar? Sudah makan Es Shanghai? Persisnya kemarin itu saya cari resep Es Shanghai, minta tolong bung Google, eh, dikasih link ke artikel ttg asal-usul Es Shanghai, yang ternyata pernah muncul di milis kita ini. Saya kira, es Shanghai itu bukanlah dinamakan ‘Shanghai’ sebagaimana digambarkan oleh Bung Yan, seolah-olah ada kaitannya dengan pembumi- hangusan kota Shanghai di jaman perang dengan Jepang dulu.

Es Shanghai, kalau anda lihat resepnya, tidaklah memakai saus coklat atau susu coklat sebagai campuran sirupnya, yang berwarna merah, coklat, kehitaman seperti penggambaran kebakaran dalam pembumihangusan.

Walau banyak variasi isinya, es Shanghai hanya memakai sirup merah (dengan warna merah pinkish–agak pink, fuchia) dan susu kental manis yang putih. Juga, jarang yang memakai biskuit(?) wafer sebagai variasinya (yang digambarkan seolah-olah melambangkan bangunan yang terba- kar). Bahkan, banyak yang menduga, es Shanghai itu adalah penemuan orang-orang Indonesia, di Shanghai sendiri tidak ada menu ini. Continue Reading

Etnohistorikal Tiongkok : Yakut

Photo : http://ebuff.hrt.hr/

Budaya-Tionghua.Net | Orang Yakut sering menyebut diri sebagai Sakha atau Saka . Dalam sejarah mereka dikenal sebagai Tungus , Jekos , Urangkhai Sakha. Mereka merupakan salah satu grup etnik di Siberia. Populasi Yakut berkembang dari 296 ribu orang [1970] , 328 ribu orang [1979] dan 400 ribu orang [1990].Sebagian besar dari mereka tinggal di otonomi khusus di Russia. Bahasa Yakut merupakan cabang dari bahasa Turkic walaupun perbendarahaan katanya terpengaruh oleh kebudayaan Mongol dan Tungus. Continue reading

Qi Qiao Ban (Tangram Puzzle)

Budaya-Tionghoa.Net |Tangram atau qi qiao ban adalah puzzle yang berasal dari Tiongkok. Qi qiao ban ini jika diterjemahkan kedalam bahasa Indonesia adalah tujuh kepingan pintar. Satu set  terdiri dari tujuh keping yang disebut tan. Tujuh keping ini terdiri dari dua segitiga besar , dua segitiga kecil , satu segitiga ukuran sedang , satu persegi panjang dan satu jajaran genjang.Dengan satu set tangram ini kita dapat membuat berbagai bentuk dari binatang , burung , orang , perahu , dan ribuan sampai puluhan kontingensi bentuk.

Aturan penggunaannya adalah kita harus menggunakan seluruh kepingan , saling bersentuhan dan tidak boleh tumpang tindih. Permainan ini mengasah kreativitas dan tidak semudah yang dilihat pada pandangan pertama. Dibutuhkan kesabaran untuk menyelesaikan setiap bentuk. Kita bisa membuat sendiri kepingan-kepingan itu atau membelinya jika tersedia di toko permainan. Saya kebetulan membuatnya dalam 3D photography sederhana untuk ilustrasi qi qiao ban . Seseorang yang berlari untuk bersiap-siap melompat diudara dengan susunan orang-orangan yang disusun dari tujuh keping qi qiao ban. (Gambar 1)

Continue Reading

Kaitan Antara Yuanxiao Dengan Dongfang Shuo

Photo : Philo Vivero

Budaya-Tionghoa.Net | Yuanxiao secara umum dianggap pesta lentera rakyat dan pesta lentera ini sebenarnya berasal dari dinasti Han. Arti kata Yuanxiao sebenarnya adalah bulan purnama di bulan pertama, Dan arti kata Yuanxiao adalah perayaan menyambut bulan purnama dibulan pertama. Jika dikaitkan dengan Dongfang Shuo, sebenarnya itu adalah legenda rakyat. Dalam satu peristiwa Dong melihat satu gadis pelayan istana yang hendak bunuh diri. Gadis itu bernama Yuan Xiao yang putus asa karena sejak masuk istana tidak bisa mudik untuk berkimpul dengan keluarganya.

Dong berusaha menolong gadis itu dengan membuka layanan ramalan di jalanan ibukota Chang An (Xi’an ) . Tokoh populer seperti Dong bisa menarik massa untuk antri , dan setiap ramalan hasilnya adalah tanggal 16 bulan 1 , tubuh terbakar. Rakyat menjadi geger dan Dong berkata bahwa pada tanggal 13 malam , Dewa Api akan mengirimkan utusan untuk membakar ibukota . Dong kemudian berkata lagi,”Saya akan menyerahkan apa yang telah saya catat atas perkataan Mereka kepada kalian, kalian harus menyerahkan kepada kaisar dan kaisar harus berpikir bagaimana caranya mengatasi bencana ini.” Setelah itu Dong langsung melemparkan selembar kertas merah dan rakyat mengambilnya.

Rakyat kota Chang An berbondong-bondong menyerahkan tulisan itu kepada kaisar Han Wudi. Kaisar menerima kertas itu dan ia terkejut membaca tulisan yang berisi,” Kota Chang An dalam bencana, api membakar istana, api tanggal 15, menyala membara di malam Xiao.”Kaisar kemudian mencari Dong yang terkenal banyak akal dan berpengetahuan luas untuk mencari jalan keluar dari bencana yang akan menimpanya.

Dong kemudian menjawab bahwa Dewa Api sangat gemar tangyuan (onde) si gadis Yuan Xiao bisa diperintahkan membuat onde . Dong memberikan nasehat agar Kaisar memerintahkan si gadis pelayan dan juga rakyat untuk membuat onde pada tanggal 14 sebagai penghormatan pada Dewa Api. Dan tanggal 15 malam untuk menyalakan lampion sehingga ibukota terlihat seperti terbakar. Juga rakyat diluar gerbang kota dipersilahkan masuk untuk berkumpul menyaksikan lampion dan terhindar dari bencana.  Kaisar kemudian memerintahkan semua hal yang dianjurkan oleh Dong. Pada tanggal 15 malam, keluarga Yuanxiao datang ke ibukota dan mereka terkejut melihat ada lentera yang bertuliskan Yuanxiao, mereka berteriak memanggil Yuan Xiao, akhirnya satu keluarga bisa berkumpul.

Tentu saja bencana yang diramalkan oleh Dong tidak terjadi, karena murni rekayasa Dong, kota Chang An tidak terjadi bencana dan rakyat amat senang melihat keramaian pada malam itu, sehingga memerintahkan setiap tanggal 15 bulan 1 perayaan tersebut dilaksanakan. Secara jelas hal ini bukan kejadian sesungguhnya pada masa dinasti Han tapi cerita ini bisa dikatakan timbul pada jaman dinasti Song atau setelah dinasti Song. Kaitan perayaan dengan Dong Fangshuo sebenarnya terlalu mengada-ada karena pada masa kaisar Han Wendi ( 202 – 157 SM ) sudah diadakan. Legenda asal usul pesta lampion ada beberapa, antara lain dikaitkan dengan kaisar Han Mingdi (28 AD-75AD ) dengan agama Buddha.

Continue Reading

Kelenteng Di Jakarta [Kota] Untuk Objek Fotografi

[Foto Ilustrasi : Atap Bangunan Kiu Li Tong ]

Budaya-Tionghoa.Net | Salah seorang rekan forum bertanya mengenai objek fotografi di daerah Pancoran dan Petak Sembilan selain Toasebio , Aryamarga dan Jindeyuan , karena teman dari rekan forum tersebut sedang mencari objek fotografi yang tepat.

Pertama-tama yang musti diketahui : yang dicari sebagai obyek fotografi itu apanya ? Apa keantikan kelenteng? keunikan umat? keunikan fungsi, kimsinnya?atau malah “keanehan” bentuk kelenteng? Apakah termasuk juga vihara yang benar-benar Buddhis meskipun memiliki ornamen Tionghoa?

Klasifikasinya juga sangat banyak. Di seputaran daerah Kota ada sekitar 20 kelenteng dengan berbagai namanya, semisal Bio, I, Si, Kong dan sebagainya . Termasuk juga kelenteng pelindung marga, kelenteng sinci, kelenteng Kwan Im, Hok Tek Cheng Sin dan kelenteng-kelenteng khusus untuk tukang obat, tukang kayu, dan sebagainya. Yang saya maksud daerah kota kira-kira dari kotak imajiner sekitar Beos menuju ke Pinangsia, ke arah Glodok Pancoran, sampai ke mulut Jembatan Lima lalu ke arah Angke ke Timur menuju Pasar Ikan dan kembali ke stasiun Beos.

Di Jakarta sendiri, ada beberapa kelompok daerah kelenteng (yang dibangun sebelum era orde baru, termasuk yang hancur atau dijarah di tahun 1967 dan 1998). Saya kecualikan vihara (budhis) dengan model Tionghoa yang dibangun belakangan dan biasanya cirinya adalah bertingkat, modern dengan sedikit arsitektur Tionghoa dan adanya patung Kuan Im dan hiolo baru.

Continue Reading

Di Zi Gui 弟子規 Pedoman Menjadi Murid Dan Manusia Yang Baik

 

 

 

敬天地
拜祖先
礼神明

 

Hendri Irawan | 弟 子規  Dì Zǐ Guī, secara harafiah berarti pedoman hidup seorang murid yang baik. Penulis memilih untuk menafsirkan dan menyadurnya dengan judul PEDOMAN HIDUP BERBUDI  PEKERTI dikarenakan pedoman hidup ini berlaku universal dan yang dimaksud dengan murid sebenarnya adalah semua manusia yang mau belajar demi memperbaiki kualitas diri.

Pedoman ini ditulis oleh seorang sarjana bernama 李毓秀 Lǐ Yùxiù. Beliau hidup di periode 康熙 Kāngxī (1662-1723 CE) dinasti 清 Qīng. Awalnya tulisan ini diberi nama 訓蒙文 Xùn Méng Wén artinya Tulisan Untuk Mendidik Anak. Kemudian oleh賈存仁Jiǎ Cúnrén direvisi dan dirubah namanya menjadi 弟子規  Dì Zǐ Guī.

Walau pedoman ini lebih banyak diajarkan ke anak-anak, isinya sebenarnya bersifat universal. Dan justru manusia dewasa juga patut membacanya. Karena manusia semakin dewasa maka tingkah lakunya semakin menyimpang akibat dari pengaruh lingkungan dan pendidikan yang diterima. Continue reading

Asal Mula Vegetarian Di Tiongkok

Xuan Tong | Banyak yang beranggapan bahwa vegetarian dikalangan orang Tionghoa adalah pengaruh Buddhism. Hal ini sebagian ada benarnya.Buddhism Theravada sebenarnya tidak mengenal vegetarian dan para bhiksu Mahayana pada saat berpindapata tidak ada keharusan menjadi seorang vegetarian , hal ini disebabkan bhiksu itu harus memakan makanan yang diberikan termasuk jika ada yang memberikan makanan berjiwa.

Walau ada anjuran dalam kitab-kitab Mahayana untuk umat Buddha Mahayana menjadi vegetarian tapi itu terkait dengan sila tidak membunuh serta praktek sifat welas asih.Jika ditilik dari sudut pandang sejarah , umat Buddhist Tiongkok menjadi vegetarian karena anjuran kaisar Liang WuDi (cat: dinasti Utara -Selatan , dinasti Liang selatan 502-557 SM) dan menjadi hal yang umum.Untuk uparaca ritual persembahan yang menggunakan binatang digantikan dengan Qu ôð atau ragi. Bisa dikatakan pada masa itu kebiasaan vegetarian meluas ,hampir setiap vihara menyediakan makanan vegetarian.

Apakah vegetarian itu murni pengaruh Buddhism ? Ternyata sejarah membuktikan bukan pengaruh dari Buddhism.Dalam kitab MengZi disebut ZhaiJie Õ«½ä yang juga tidak memakan …..READ MORE

Ling Lun , Legenda Musik Klasik Tiongkok

Budaya-Tionghoa.Net | Ling Lun adalah bawahan Huangdi dan merupakan seorang pahlawan kultural yang menciptakan musik [1]  dan berbagai instrumen musik. Ada sejumlah mitos yang menjelaskan bagaimana musik dan instrumen musik ditemukan dalam berbagai tulisan klasik seperti Shiben [The Origin of Hereditary Families] , Lushi Chunqiu [Annals of Master Lu ] dan Fengsu Tongyi [Popular Custom and Traditions].

Continue Reading

Confucius : Tentang Pemerintahan Yang Baik

Hengky. S| Terdapat tiga hal yang dapat kita jadikan pedoman dalam instropeksi diri setiap harinya. Yang pertama adalah, apakah kita telah berusaha secara optimal untuk orang lain; kedua, apakah kita telah membina suatu hubungan kepercayaan yang baik dengan teman kita; dan yang ketiga adalah, apakah kita telah melaksanakan dengan baik apa yang telah diajarkan oleh guru kita? Ketiga pertanyaan instropeksi tersebut berkaitan dengan sifat Kesetiaan [Cung], Kepercayaan [Hsin], dan Bhakti [Hsiao]. Continue reading