Wilfredo Lam (1902-1982) : Tionghua-Kuba & Pelukis Dunia

 

Wifredo Oscar de la Concepción Lam y Castilla atau Wilfredo Lam adalah pelukis Tionghua-Kuba yang paling terkenal dan karya lukisannya sampai dipajang di museum Guggenheim , New York. [Lihat tulisan “Jendral Tionghoa dalam Revolusi Kuba” ]

Dia dilahirkan pada tanggal 8 Desember 1902 di Sagua la Grande , Cuba. Di tahun 1916 , keluarganya pindah ke Havana.  Sejak awal dekade 20an , Wilfredo Lam memamerkan karyanya di Salón de la Asociación de Pintores y Escultores , Havana.  | Continue Reading 

 

Puisi Alam [4] : Sanjak Dinasti Qing | Qi Dajun , Chan Shenxing , Zheng Xie , Yuan Mei , Wu Xilin , Kang Youwei ,

Budaya-Tionghoa.Net | Setelah mengalami perkembangan yang agak suram pada Dinasti Yuan dan Ming, dunia Sanjak kembali bangkit pada Dinasti Qing, bermunculanlah penyair2 berbakat, dengan ragam warna dan gaya, jumlah penyair maupun jumlah puisi yang dihasilkan malah melebih dinasti Tang, meskipun tidak mencuatkan tokoh2 empu sekelas Li Bai dan Dufu, mutu sanjak Qing tak boleh diabaikan, Dinasti ini banyak melahirkan penyair2 berwatak dengan kemampuan yang hampir setara. Dalam sanjak alam, mereka berhasil mensintesakan kekuatan Sanjak Dinasti Tang dan Song. Continue Reading

KangYouwei

Resensi Buku : Chinese Houses – Knapp & Ong

Berbicara mengenai buku karya Ronald G Knapp yang berjudul “Chinese Houses”  memang bisa dikatakan sebuah buku yang bagus. Paling tidak seharusnya kita baca semua buku karya Knapp. Membaca buku Knapp, khususnya bagian “A Millionaire’s Home: Kang family manor, Henan Province” dan “A Grand Qing Manor and A Simple Ming Courtyard House: Qiao Family Manor and Ding Family Village, Shanxi Province” mungkin akan terasa biasa saja. Tetapi akan lain rasanya apabila kita sudah menonton film Zhang Yimou berjudul “Da Hong Deng Long Gao Gao Gua” alias “Raise the Red Lantern”. Di situ baru kita bisa rasakan bagaimana sebuah massa bangunan bisa “hidup”, dan silakan datang ke Pingyao (Provinsi Shanxi) untuk menyaksikan sendiri bangunan itu. Continue Reading

Mao Zedong Dan Budaya Klasik

Saat berdiskusi mengenai ketua Mao, banyak orang yg menyebut dia sbg tokoh progesif yang anti segala budaya kuno. Berhubung dia selalu meneriakkan mengganyang yang lama menyambut yang baru! Padahal, kenyataan sesungguhnya tidak persis seperti itu. Seperti halnya para tokoh revolusi generasi pertama yang lain, Mao bukan sekedar seorang politikus, tapi juga seorang cendekia. Continue Reading

Film : The Last Tycoon

Budaya-Tionghoa.Net| Produser film Andrew Lau (Legend of the Fist: The Return of Chen Zhen) kembali dengan karya terbarunya , The Last Tycon yang disutradarai oleh sutradara kawakan , Wong Jing (City Hunter)  .

Film ini berlatar kota Shanghai tahun 1930an dan pertarungan kekuasaan diantara figur-figur pemimpin lokal yang tentunya bakal diwarnai banyak adegan baku tembak.

Huang Xiaoming ini punya kesempatan besar bertemu idolanya , Chow Yun-fat yang sudah digandrungi Huang sejak remaja. .

Chow dan Huang sepertinya akan memerankan figur historis Due Yue-sheng , seorang gangster Shanghai yang punya hubungan dekat dengan Chiang Kai-shek dan merupakan pendukung utama Kuo Min Tang (KMT) .

Continue Reading

Wang Shu : Pemenang Pritzker Architecture Prize 2012

Budaya-Tionghoa.Net | Awal tahun ini tepatnya , pada akhir bulan Februari , Thomas J Pritzker , ketua yayasan Hyatt yang mensponsori penghargaan tersebut mengumumkan bahwa Wang Shu menjadi pemenang penghargaan arsitektur Pritzker. Upacara resmi penyerahan penghargaan arsitektur Pritzker,  diadakan di Beijing pada 25 Mei dimana Wang Shu akan menerima hadian 100 ribu USD dan sebuah medali perunggu.  Fakta bahwa seorang arsitek dari Tiongkok terpilih oleh dewan juri , menggambarkan langkah signifikan dan peran Tiongkok yang akan memainkan ideal perkembangan arsitektural menurut Thomas Pritzker .  Continue reading

Kelenteng Di Jakarta [Kota] Untuk Objek Fotografi

[Foto Ilustrasi : Atap Bangunan Kiu Li Tong ]

Budaya-Tionghoa.Net | Salah seorang rekan forum bertanya mengenai objek fotografi di daerah Pancoran dan Petak Sembilan selain Toasebio , Aryamarga dan Jindeyuan , karena teman dari rekan forum tersebut sedang mencari objek fotografi yang tepat.

Pertama-tama yang musti diketahui : yang dicari sebagai obyek fotografi itu apanya ? Apa keantikan kelenteng? keunikan umat? keunikan fungsi, kimsinnya?atau malah “keanehan” bentuk kelenteng? Apakah termasuk juga vihara yang benar-benar Buddhis meskipun memiliki ornamen Tionghoa?

Klasifikasinya juga sangat banyak. Di seputaran daerah Kota ada sekitar 20 kelenteng dengan berbagai namanya, semisal Bio, I, Si, Kong dan sebagainya . Termasuk juga kelenteng pelindung marga, kelenteng sinci, kelenteng Kwan Im, Hok Tek Cheng Sin dan kelenteng-kelenteng khusus untuk tukang obat, tukang kayu, dan sebagainya. Yang saya maksud daerah kota kira-kira dari kotak imajiner sekitar Beos menuju ke Pinangsia, ke arah Glodok Pancoran, sampai ke mulut Jembatan Lima lalu ke arah Angke ke Timur menuju Pasar Ikan dan kembali ke stasiun Beos.

Di Jakarta sendiri, ada beberapa kelompok daerah kelenteng (yang dibangun sebelum era orde baru, termasuk yang hancur atau dijarah di tahun 1967 dan 1998). Saya kecualikan vihara (budhis) dengan model Tionghoa yang dibangun belakangan dan biasanya cirinya adalah bertingkat, modern dengan sedikit arsitektur Tionghoa dan adanya patung Kuan Im dan hiolo baru.

Continue Reading

Film : “Double Exposure” (2012)

Budaya-Tionghoa.Net |  Li Yu menggarap Double Exposure yang dibintangi oleh Fan Bingbing , Joan Chen dan Huo Siyan.  Fan Bingbing berperan sebagai protagonist Song Qi  , seorang konsultan “oplas” (plastic surgery) yang menemukan kenyataan bahwa kekasihnya , Liu Dong (Feng Shaofeng) berselingkuh dengan sahabat baiknya , Xiaoxi (Huo Siyan) .

Kemudian Xiaoxi menghilang dan Song Qi terseret dalam kasus pembunuhan. Xiaoxi kemudian muncul dalam impian Song Qi dan membawa Song kedalam penyesalan dan rasa bersalah. Ada rahasia besar yang mendekat kepada Song Qi yang berkaitan dengan hubungan percintaannya dan juga impiannya dalam satu perjalanan misterius yang harus dihadapi oleh Song Qi untuk pencarian sisi kehidupan yang telah hilang dari dirinya.

Li Yu menulis script untuk film ini dalam empat bulan . (China Daily , 21 September 2012)  Banyak sisi menarik yang diangkat Li Yu di masyarakat modern ini . Misalkan operasi plastik (plastic surgery) yang sedang marak untuk membentuk kecantikan artificial . Li Yu mempertanyakan kenapa orang-orang memakai topeng ketika mereka sudah memiliki wajah .

Continue Reading

 

 

Changde – Kota Dengan Tembok Seni

Budaya-Tionghoa.Net | Kota Changde yang terletak di bagian barat laut Provinsi Hunan, Tiongkok Tengah adalah sebuah kota budaya yang bersejarah lebih dua ribu tahun. Untuk memperagakan budaya yang dimiliki, kota tersebut pada tahun 1990-an telah membangun Tembok Seni Syair, Kaligrafi, Lukisan dan Ukiran yang paling panjang di dunia. Kini tembok seni tersebut sudah tercantum dalam catatan Guinness Sedunia.

Pembangunan Tembok Seni Changde dimulai pada tahun 1991 dan selesai pada tahun 2000. Tembok itu dibangun di tanggul penahan banjir tepi utara Sungai Yuanjiang yang mengalir melintasi kota Changde.

Pada tembok granit sepanjang 3 kilometer itu terukir lebih 1.200 syair terkenal dari berbagai zaman di Tiongkok dan dunia.

Syair-syair itu terlebih dulu dituliskan dengan tangan oleh 900 ahli kaligrafi terkenal di Tiongkok, kemudia diukirkan di atas batu granit oleh tukang. Selain itu, pada tembok seni itu diukirkan 43 lukisan ukir batu ukuran besar yang isinya sesuai dengan syair-syair tersebut.

Lukisan-lukisan itu juga karya pelukis terkenal Tiongkok zaman sekarang. Setelah diadakan pembuktian berulang-ulang, tembok itu pada tahun 2000 dicantumkan dalam catatan Geneese Sedunia sebagai “Tembok Seni Syair, Kaligrafi, Lukisan dan Ukiran Yang Terpanjang di Dunia”.

Continue Reading

Mengenai Kanglam dan Puisi “Selatan Sungai”

Zhou Fuyuan  | Ada dua puisi alam dalam artikel sebelumnya mengenai “Selatan Sungai” seperti karya Wei Zhuang (836-910M ) dan Bai Juyi (772-846) , keduanya berasal dari dari periode puisi dari masa Dinasti Tang seperti yang terlampir. Penjelasan untuk “Selatan Sungai” adalah Jiang Nan 江南, atau kita sering mendengar “Kanglam” , sebuah istilah Hokkian yang sering dipakai dalam cerita silat. “Selatan Sungai” secara harafiah berarti wilayah di Selatan Sungai Yangzi , namun secara spesifik menunjuk dua wilayah utama , yaitu Provinsi Jiangsu 江苏 dan Provinsi Zhejiang 浙江.

INGAT SELATAN SUNGAI

Wei Zhuang ( 836–910 ; Tang)

Seluruh manusia memuji Selatan Sungai,
pelancong lebih baik menua bersamanya.
Biru air musim semi melampaui angkasa,
tidur di perahu mendengar hujan berderai.

Yang di sisi gerabah laksana rembulan,
putih salju berkilau di sepasang lengan.
Sebelum menua janganlah engkau pulang,
bila pulang hati pun bersiaplah meradan

INGAT SELATAN SUNGAI
Bai Juyi ( 772-846 ; Tang )

Indahnya Selatan Sungai,
pemandangan yang pernah diakrabi :
Mentari terbit bunga sungai merah melebihi api,
musim semi tiba air sungai hijau laksana seruni.
Mungkinkah melupakan Selatan Sungai?

Perkembangan peradaban bangsa Han di Tiongkok Kuno memusat pada dua aliran sungai , Sungai Kuning (Huang he) dan Sungai Panjang (Yangzi , Yangtze) .  Dua sungai ini merupakan sungai terpanjang di Tiongkok dan juga merupakan  salah satu sungai terpanjang didunia. Dari dua aliran sungai ini , muncul perkembangan peradaban bangsa Han di masa Tiongkok Kuno , seperti kultur regional neolitikum Majiabang – Hemudu (5000-3000 SM) berasal dari kawasan Zhejiang – Jiangsu. Wilayah yang dialiri Sungai Kuning relatif lebih ganas iklimnya. Sedangkan dialiran Sungai Yangzi , iklimnya lebih ramah, tanahnya subur dengan alam yang penuh warna , berbukit-bukit dan dipenuhi sungai – danau.

Wilayah Jiangsu dimana kota-kota utamanya adalah Nanjing, Suzhou, Yangzhou, Wuzi  , dan wilayah Zhejiang dimana kota-kota  utamanya adalah Hangzhou, Ningbo, Jiaxing, Shaoxing, Wenzhou—selain  alamnya yang penuh warna, ekonominya juga makmur, semua kebutuhan hidup lengkap di sini, makanannya enak, wanitanya manis2 (dibandingkan orang utara, orang selatan juga lebih ramah), lantas berkembanglah menjadi pusat pesiar dan hiburan . Selain itu, wilayah ini juga menjadi pusat budaya, banyak sekali seniman dan sastrawan yang berkiprah di sini. Sebenarnya, Shanghai juga termasuk wilayah ini, hanya saja usia kota Shanghai relatif muda, belum berkembang saat para penyair berkiprah………...READ MORE

Ling Lun , Legenda Musik Klasik Tiongkok

Budaya-Tionghoa.Net | Ling Lun adalah bawahan Huangdi dan merupakan seorang pahlawan kultural yang menciptakan musik [1]  dan berbagai instrumen musik. Ada sejumlah mitos yang menjelaskan bagaimana musik dan instrumen musik ditemukan dalam berbagai tulisan klasik seperti Shiben [The Origin of Hereditary Families] , Lushi Chunqiu [Annals of Master Lu ] dan Fengsu Tongyi [Popular Custom and Traditions].

Continue Reading

Sastra Tiongkok ; Sejarah – Perbandingan Dengan Sastra Barat

Budaya-Tionghoa.Net | Membandingkan sastra Barat dengan  sastra Tiongkok memang hal yang menarik. ada seorang budayawan Tiongkok yang berujar, keunggulan sastra barat adalah penjelajahan tentang ruang. sedangkan keunggulan sastra Tiongkok adalah penelusuran tentang waktu.

Pengamatan ini ada benarnya, jika kita membaca novel Barat, tema alienisasi atau keterasingan yang sangat menonjol, keterasingan ini tentu berkaitan dengan ruang dan tempat, problem eksistensi sebenarnya juga mencerminkan hubungan manusia dengan dunia tempat manusia hidup. Novel Sampar dari Camus yang terkenal bahkan mengkondisikan tokoh-tokohnya terkungkung dalam ruang yang tertutup (kota dalam isolasi), untuk mengungkap problem eksisitensi.

Continue Reading

Pendekar-pendekar Komik Tionghua

Medio 1960 – Medio 1980
   SALAH satu bentuk kesenian moderen adalah komik alias cergam (cerita bergambar). Sayang sekali sekarang komik Indonesia mengalami ‘mati suri’, belum lahir lagi komikus-komikus seperti pada 25 tahun silam. Lihat di toko buku-toko buku, rak-rak dipenuhi manga (komik Jepang), terjemahan komik Mandarin (Hong Kong-Singapura) serta alihbasa komik superhero Amerika.
   Aku sendiri adalah penikmat komik sejak usia tiga tahun. Sempat mengenyam masa keemasan komik Indonesia pada era medio tahun 1960-an sampai dengan medio 1980-an.

Continue reading

A Short History of Chinese Opera

In 1790, theater companies from all over China arrived in Beijing, to perform for the Qing Emperor Qianlong’s birthday. Here begins the history of the various opera forms as we know them today in China…

Four theater companies from Anhui arrived in Beijing, and their fresh styles of music and theater electrified the capital and eventually came to replace the Kunqu Opera style that had been pre-eminent in the capital for the past two hundred years. Characteristics from other forms of opera, such as Hopeh, Wuhan, and Shansi, were incorporated into the Anhui style.

Continue reading