Diaspora Tionghoa Di Peru

Populasi Tionghoa di Peru ternyata berada di urutan ketujuh terbesar didunia (http://www.ocac.gov.tw ) . (Table 1)  Tionghoa Peru berjumlah 1.3 juta jiwa yang berarti sedikit lebih banyak dari Hoa Vietnam yang  berada diperingkat kedelapan . Peru menjadi negara ketiga diaspora Tionghoa terbesar diluar Asia Tenggara pada khususnya selain Amerika Serikat dan Kanada. Bagaimana sejarah kehadiran Tionghoa di negara yang tidak begitu populer seperti Peru ? Continue Reading

Kwa Geok Choo (1920-2010) : Menara Kekuatan Bagi Lee Kuan Yew

Photo : Lee Kuan Yew & Kwa Geok Choo , channelnewsasia.com

Budaya-Tionghoa.Net |   Kwa Geok Choo merupakan istri dari figure terkemuka Singapura , Lee Kuan Yew. Kwa GC dilahirkan pada 21 Desember 1920 ,  merupakan putri  dari Kwa Siew Tee , general manager Oversea-Chinese Banking Corporation (1935-1945) .Kwa menempuh kuliah di sekolah perempuan Methodist di Singapura. Setelah lulus Kwa melanjutkan pendidikan di Raffles College di bidang seni dan lulus pada tahun 1947.

Di bulan Agustus 1947 , Kwa berangkat ke Inggris dan meraih beasiswa Queen Scholarship untuk studi bidang hukum di Girton College – Cambridge University dan menjadi wanita pertama dari Malaya (Singapura ketika itu belum berdiri) yang lulus dengan memuaskan dari Cambridge. Di akhir tahun Kwa menikah dengan Lee Kuan Yew. Kwa dan Lee kembali ke Singapura melalui kapal Belanda Willem Ruys meninggalkan London pada 14 Juli 1950. Di Singapura mereka menikah kembali pada 30 September 1950. Pasangan ini dikaruniai tiga anak , Lee Hsien Loong , Lee Hsien Yang dan Lee Wei Ling.

Continue Reading

Silsilah Tionghoa Jose Rizal [1] – Domingo Lam-co / Ke Yinan

Budaya-Tionghoa.Net |  Domingo Lam-co ( Ke Yinan  ) seorang imigran Tionghoa yang menempuh perjalanan dari Jinjiang , Quanzhou ke Filipina di pertengahan abad 17. Quanzhou adalah daerah dimana Jesuit  (kemudian Dominican) masuk ke Tiongkok untuk misi penyebaran agama. Lam-co dikenal diantara masyarakat setempat yang kemudian tinggal bersamanya di Binan-Filipina sebagai figur pemimpin.

Lam-co dibaptis di gereja Parian di San Gabriel di suatu hari Minggu di bulan  Juni 1697. Nama kedua orang tuanya adalah Siang-co dan Zun-nio. Catatan baptis ini masih dapat dilihat di catatan di gereja tersebut di San Gabriel. Segera setelah Lam-co datang ke Manila kemudian Lam-co tinggal di Binan. Lam-co berpengaruh dalam pembangunan Tubigan barrio, salah satu bagian terkaya dalam tanah perkebunan yang besar. Isterinya bernama Inez de la Rosa. Mereka menikah di gereja yang sama saat Lam-co dibaptis 13 tahun sebelumnya.

Diantara Tionghua Filipino , arti sebuah nama sangat penting demikian juga alasan pemberian nama dari orang tua terhadap anaknya. Domingo Lam-co  memberikan nama anaknya satu terjemahan Spanyol dari nama Tionghua , Sangley , Mercado dan Merchant bermakna sama. Fransisco Mercado

Silsilah Tionghoa Jose Rizal

1. Domingo Lamco (Ke Yinan / Kho Gi-lam)
2. Francisco Mercado (Kakek Buyut)
3. Juan Mercado  (Kakek)
4. Francisco Engracio Mercado (Ayah)
5. Jose Rizal

Contine Reading

Justin Lin Yifu : Ekonom Top Dunia

 

Photo Credit : Bdwgast ,
“Justin Lin bersama istrinya di Frankfurt Bookfair 2009”

Budaya-Tionghoa.Net | Justin Lin adalah seorang top ekonom dunia yang menjadi chief economists Bank Dunia untuk masa bakti 2008-2012. Justin Lin Yi-Fu 林正义 kelahiran 15 Oktober 1952 di Yilan Taiwan. Di tahun 1971 dia masuk kampus bergengsi di Taiwan , National Taiwan University . Kemudian Lin masuk ROC Military Academy dan lulus pada tahun 1975. Lin melanjutkan studi dengan beasiswa militer  di National  Chengchi University , Taipei , Taiwan . Setelah menerima MBA pada tahun 1978 , Lin kembali ke dinas militer dan ditempatkan di Quemoy.

Perubahan penting dalam hidupnya terjadi ketika sebagai seorang kapten di militer Taiwan , Lin desersi dan menyeberang ke mainland Tiongkok. Lin berenang sejauh 2.3 km dengan bantuan dua bola basket dari Kinmen ke wilayah selatan Fujian pada 16 Mei 1979. Dia meninggalkan istri dan anaknya masih berada di Taiwan . Kenekatan Lin kembali ke mainland ini sudah diperhitungkan Lin berdasarkan pemahaman kultural , politik , ekonomi dan historis , kembali ke mainland merupakan pilihan optimal. (The Weekly Standard , 14 Februari 2008). Pihak militer Taiwan pertama kali menganggap Lin sebagai orang hilang . Istri dan keluarganya mendapatkan kompensasi 31 ribu USD dari pemerintah Taiwan.

Justin Lin Yi Fu yang pada tanggal 4 Februari 2008 diangkat menjadi top ekonom Bank Dunia di Washington ( NRC , 5 Februari 2008) , yang tentu merupakan satu bank yang berpengaruh besar didunia. Presiden dari Bank Dunia Robert Zoelick mengatakan bahwa Justin Lin merupakan kombinasi yang unik dari pengalaman dan kepandaian. Justin Lin  adalah pakar dalam bidang perkembangan ekonomi dan Dengan pengangkatan Justin Lin Yi-Fu (55) menjadi ekonom kepala dari Bank dunia merupakan satu tindakan yang penting. Dia bukan hanya orang Tionghoa yang pertama mendapatakan fungsi ini, tetapi juga adalah orang pertama dari negara berkembang yang mendapatkan fungsi ini. Lin dianggap sebagai kandidat kuat peraih Nobel Ekonomi ( Taipei Times 7 Februari 2008)

Continue Reading

Dr. Kwa Tjoan Sioe (1893-1948) : Pendiri RS Husada

Photo : Rumah sakit yang didirikan Kwa Tjoan Sioe
akperhusada.ac.id

Budaya-Tionghoa.Net |  Kwa Tjoan Sioe (Ke Chuanshou ) dilahirkan di Salatiga pada tahun 1893 . Dia menempuh pendidikan di ELS – Salatiga . Di tahun 1908 dia masuk HBS Semarang . Di tahun 1913 Kwa berangkat ke Belanda untuk studi dibidang medis dan lulus pada tahun 1920. Selain itu selama setahun Kwa studi di Colonial Institute – Amsterdam dibidang spesialisasi penyakit di iklim tropis.

Kembali ke Hindia Belanda , Kwa berkerja di General Hospital – Jakarta , kemudian Instituut Pasteur – Jakarta. Mulai tahun 1922 , Kwa mulai praktek sendiri sebagai dokter.  Di tahun 1924 Kwa bersama Ang Yan Goan  mendirikan Rumah Sakit Jang Seng Ie dan menjadi direktur pertama . Pada masa revolusi kemerdekaan , rumah sakit ini mempunyai unit palang merah Jang Seng Ie . Kelak nama rumah sakit ini berubah menjadi Rumah Sakit Husada.

Continue Reading

Meluruskan Sejarah Pao An Tui

 

Budaya-Tionghoa.Net | Pao An Tui adalah pasukan penjaga keamanan keturunan Tionghua yang dibentuk pada masa awal kemerdekaan RI. Beberapa buku sejarah menyudutkan Pao An Tui sebagai musabab kebencian terhadap etnis Tionghua. Benarkah demikian? Kita akan mengulas kasus berdasarkan apa yang terjadi Sumatera Utara.

Pada era 1945-1947 terjadi situasi yang tidak aman di Sumatera Utara. Ketika itu, terjadi transisi antara pemerintah pendudukan Jepang yang sudah kalah dengan pemerintah RI, yang saat itu telah mengangkat T. Moh Hasan sebagai gubernur Sumatera. Sementara itu, Belanda yang datang kembali untuk menegakkan kekuasannya turut bermain di air keruh.

Untuk memahami Pao An Tui, kita perlu memahami bagaimana sikap para sultan dan raja terhadap republik, dimana sikap mereka berbeda-beda. Raja-raja dan sultan di Sumatera Timur (Deli, Serdang, Langkat, Kualuh, Bilah, Panei, dll) memang bersikap menunggu. Mereka ingin mengetahui bagaimanakah kebijakan republik terhadap kedudukan mereka. Setelah ada jaminan bahwa kedudukan daerah swapraja akan dihormati berdasarkan pasal 18 UUD 45, barulah mereka menyatakan dukungan terhadap Republik.

Malangnya kondisi yang kacau itu dimanfaatkan oleh orang-orang tak bertanggung jawab yang dikenal sebagai Barisan Harimau Liar (BHL). Mereka inilah yang melakukan pengacauan keamanan. Lebih malangnya lagi mereka mengatas-namakan Republik dan “rakyat.” Kaum keturunan Tionghua juga kerap merasakan teror barisan liar yang memang liar ini. Demikian juga para raja dan sultan, karena slogan BHL adalah “ganyang feodalisme.” Di sinilah timbul peran Pao An Tui, yakni sebagai penjaga keamanan bagi etnis Tionghua.

Mereka sering dituduh antek Belanda, padahal yang dikehendaki adalah ketertiban. Memang patut diakui bahwa otoritas Republik masih lemah di saa itu. Etnis Tionghua bukanlah pro Belanda, tetapi yang mereka kehendaki adalah ketertiban. Buktinya tidak sedikit pemuda2 Tionghua yang ikut berjuang di pihak tentara Republik (TRI).

Continue Reading

Yap Ah Loy – Pendiri Kuala Lumpur

Photo : Guyfrombronx

Budaya-Tionghoa.Net | Yap Ah Loy (1837 – 1885) adalah seorang pemuda Hakka berusia 17 tahun ketika dia pindah dari kampung halamannya di prefektur Huizhou, Guang Dong ke Melaka. Diduga orang tuanya adalah petani miskin yang tidak memiliki dana untuk membiayai anaknya untuk sekolah yang layak. Di Melaka, Yap muda berjumpa dengan kerabatnya yang kemudian mengatur pekerjaan di tambang timah. Dari pekerjaan ditambang , Yap beralih menjadi seorang asisten di toko kecil. Setelah hampir setahun , pemilik toko , Yap Ng , menasehati Yap Ah Loy untuk kembali ke Tiongkok dan memberikan ongkos yang cukup untuk kembali.Nasib berkata lain , Yap Ah Loy kehilangan tiketnya dalam sebuah permainan judi saat dia menunggu kapal yang akan membawa dia dari Singapura. Tidak ada pilihan lain bagi Yap Ah Loy untuk tetap bertahan di Malaya.

Yap kemudian  mendapatkan pekerjaan di kongsi tambang timah yang dipimpin oleh Hakka Huizhou bernama Chong Chong. Setelah berkerja selama tiga tahun , Yap Ah Loy berhasil menabung cukup uang untuk memulai usaha perdagangan babi. Yap Ah Loy bergabung dalam serikat rahasia Hai San dimana Kapitan Shin dan pengawal Liu diduga sebagai pemimpin Hai San [Khoo 1972 : 117 ] .

Di tahun 1862 , Yap Ah Loy mendapat undangan dari teman lamanya , pengawal Liu Ngim Kong yang sekarang sudah menjadi seorang kapitan di Kuala Lumpur , kawasan hunian yang sedang berkembang. Yap memegang peranan penting dalam pembangunan kelenteng yang didedikasikan untuk bekas atasannya , mendiang kapitan Shin. Kesuksesan Yap di Kuala Lumpir paralel dengan area yang terus bertambah luas. Yap Ah Loy terus menghimpun kekuatan , termasuk dengan mengirim adik termudanya ke Tiongkok untuk merekruit pengawal baru. Tahun 1870 menandai dua tahun kampanye dan pertempuran. Chong Chong menghimpun Hakka Jiayingzhou ke utara dan selatan Kuala Lumpur. Kekuatan pemimpin Malaya lokal di pimpin oleh Sayid Mashor , sementara Sutan Puasa dan yang lainnya mendukung Yap Ah Loy.

Continue Reading

Seputar Kebangkitan Organisasi Tionghoa

SUARA PEMBARUAN DAILY
————————–
Oleh Benny G Setiono

     Setelah rezim Orde Baru jatuh dan berlangsung reformasi, tumbuh kesadaran di sebagian kalangan etnis Tionghoa bahwa kedudukan mereka terutama di bidang sosial dan politik, sangat lemah dan menyedihkan. Kesadaran itu pada ujungnya membangkitkan keberanian untuk menolak kesewenang-wenangan yang menimpa diri mereka dan menuntut keadilan sebagai warga negara Republik Indonesia
      Dengan segera berbagai organisasi baik partai politik, ormas maupun LSM dideklarasikan. Di antaranya Partai Reformasi Tionghoa Indonesia (Parti), Partai Bhinneka Tunggal Ika (PBI), Solidaritas Nusa Bangsa (SNB), Formasi, Simpatik, Gandi, PSMTI, Perhimpunan INTI.
      Demikian juga berbagai penerbitan seperti harian, tabloid, dan majalah antara lain Naga Pos, Glodok Standard, Suar, Nurani, Sinergi, Suara Baru, bermunculan. Namun, dengan berjalannya waktu, ternyata beberapa organisasi tersebut berguguran dan beberapa media cetak hilang dari peredaran.

Continue reading

Etnis Tionghoa, Khonghucu dan Hak Asasi Manusia:Refleksi Perayaan Imlek Tahun 2558/2007

18 Feb 2007
Oleh Agust Riewanto

   Hingga hari ini masih banyak peraturan perundang-undangan yang berpotensi melahirkan diskriminasi dan pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM) bagi agama mayoritas etnis Tionghoa Khonghucu di Indonesia. Salah satunya adalah kebijakan Kantor Catatan Sipil yang menolak proses pencatatan perkawinan etnis Tionghoa yang beragama Khonghucu, karena agama ini dianggap di luar agama resmi versi pemerintah.
   Padahal sejak ditetapkan UU No1 Tahun 1974 tentang Perkawinan, maka mulai saat itu tidak berlaku lagi peraturan perkawinan Adat, hukum Islam, Ordonansi Perkawinan Kristen Indonesia (HOCI), hukum perkawinan Perdata Barat (KUHPerdata) dan perkawinan campur (reglemennt Gemengde Huwelijken/RGH). Oleh karena itu UU No 1 tahun 1974 adalah merupakan produk hukum perkawinan yang spektakuler, karena merupakan upaya pengkodifikasian hukum perkawinan Indonesia yang cukup komprehensif.
Bersamaan dengan diundangkannya UU.No 1/1974 itu, diterbitkan pula Peraturan Pemerintah (PP) No 9 Tahun 1975 tentang Pelaksanaan UU No 1/1974. Namun, patut disayangkan dalam UU perkawinan ini, masih bersemayam beberapa sisi diskriminasi terhadap agama Khonghucu (agama mayoritas etnis Tionghoa).

Continue reading

Dicari, Imlek Bangsa Indonesia

oleh: P Agung Wijayanto

   Beberapa tahun lalu, pemerintah Indonesia menyatakan, perayaan Imlek sebagai hari libur nasional. Sejak itu menjamur berbagai model perayaan Imlek yang ditawarkan berbagai kalangan, terutama dunia perdagangan.
   Sekarang pun ada banyak anggota masyarakat Indonesia yang dengan penuh semangat merayakan Imlek. Mereka yang tidak merayakan Imlek pun tidak terlalu dirugikan, paling tidak bisa menikmati kesempatan berlibur pada hari raya itu.
   Penekanan perayaan Imlek tanpa memerhatikan konteks Indonesia akan menyebabkan irrelevansi perayaan itu bagi sebagian besar masyarakat Indonesia. Misalnya, Imlek ditekankan sebagai perayaan musim semi. Indonesia tidak mengenal adanya empat musim. Karena itu, pemasangan pernik-pernik lambang musim semi tidak akan banyak menolong penghayatan perayaan Imlek.
   Dalam konteks masyarakat Indonesia yang plural, penekanan secara berlebihan perayaan Imlek akan dapat meninggalkan permasalahan yang dapat membahayakan keutuhan bangsa.

Continue reading

Sinopis Cerita: PATEKOAN & KAPITEIN GAN DJIE

oleh David Kwa
 
Gan Djie adalah seorang Kapitein der Chineezen yang mempunyai riwayat baik dan luar biasa. Ia adalah kapitein der Chineezen ketiga di Batavia, menggantikan Phoa Beng Gam. Istrinya adalah seorang perempuan Bali. Perempuan inilah yang kemudian menggantikan kedudukannya sebagai Kapitein der Chineezen selama 12 tahun setelah ia wafat.
——————– 
   Gan Djie adalah seorang Tionghoa totok yang berasal dari Ciangciu, sebuah kota keresidenan di bagian selatan Propinsi Hokkian. Dalam usianya yang sangat muda ia datang ke Gresik mengikuti kakak laki-lakinya yang sudah terlebih dahulu datang ke Jawa dan kebetulan sedang pulang ke Cina dan henda kembali pula ke Jawa. Di Gresik, Ia membantu kakaknya berdagang hasil bumi.
   Gan Djie seorang yang jujur, ramah, dan bersemangat tinggi, sehingga disukai banyak orang. Ia rajin sembahyang dan di beberapa waktu ia juga suka melakukan pang-she ( melepaskan makhluk hidup yang tengah menderita ) – umumnya burung atau ikan – suatu perbuatan bajik dalam pandangan agama Budha.

Continue reading

Prasasti Jawa-China di Keraton Yogyakarta

     HANYA karena beda tafsir dalam membaca catatan sejarah, sejak dua bulan lalu antara China dan Jepang terjadi perselisihan yang masih juga tetap belum terpulihkan.
Meski pemerintah di Beijing terlihat menahan diri, tetapi untuk sebagian masyarakat China, kekejaman saat pendudukan Jepang agaknya sulit dihapuskan dari ingatan. Karena itu, setiap kali muncul ingatan terhadap masa penyerbuan pasukan Jepang ke China pada pra-Perang Dunia II muncul, seperti membangkitkan kembali naga tidur.

Continue reading

Tionghua-Agama-Islam

Lihat saja ketika orang China merantau ke negeri kristen seperti Filipina, Australia, Kanada dan Amerika.Secara otomatis mereka cenderung menjadi kristen juga. Ketika merantau ke negeri Buddha seperti Thailand, tiba – tiba merekapun menjadi penganut Buddha yang setia juga. Namun ketika mereka mendatangi negeri muslim seperti Malaysia dan Indonesia justru mereka cenderung anti kepada agama mayoritas dua negara muslim tersebut. hanya sedikit sekali dikalangan mereka yang mau menerima islam itupun dengan resiko diusir dan dikucilkan oleh keluarga dan komunitasnya.Ketika mendatangi kristen mereka menjadi kristen, ketika mendatangi buddha merekapun jadi penganut buddha namun ketika mendatangi islam mereka enggan menjadi muslim.”

RJ:
     Ini salah satu bentuk ketidakmengertian akan sejarah dan sifat2 migrasi orang Cina.
     Leluhur orang Cina itu sebenarnya bangsa yang sangat sekular, tidak peduli dengan tetek bengek agama yang mengikat. Yang penting bagi mereka adalah menyatu dan hidup harmonis dengan alam supaya kehidupan mereka dapat menjadi lebih baik. Tahukah kita bahwa agama Buddha, agama Kristen, agama Islam itu lebih dulu sampai ke Cina daripada Indonesia? Tahukah kita bahwa orang Cina juga punya andil dalam menyebarkan Islam di Indonesia? Jadi pernyataan “mendatangi kristen mereka jadi kristen, mendatangi buddha mereka jadi buddha” itu adalah pernyataan yang tidak dapat saya terima sejalan dengan pengertian saya akan sejarah keagamaan di Cina dan cara pandang orang Cina terhadap masalah keagamaan.

Continue reading