Perkembangan Manchu Sebelum 1644

Budaya-Tionghoa.Net | Lembah Liao adalah jantung dari kawasan oleh apa yang disebut Barat sebagai Manchuria. Suatu kawasan yang terdiri dari hutan , stepa dan lahan pertanian. Kawasan ini memanjang dari sungai Amur , Heilongjiang termasuk juga kawasan administratif dinasti Ming di semenanjung Liaodong. Di timur kawasan ini mencapai laut Jepang dan perbatasan Korea. Di barat kawasan ini berbatasan dengan Jehol, memanjang dari Great Wall ke daerah pastoral Mongolia di lereng pegunungan Khingan.

Jehol menjadi kawasan strategis karena hampir semua aktivitas Tiongkok di Manchuria melalui kawasan ini. Selama masa Dinasti Ming, kawasan ini merupakan tempat tinggal beberapa grup etnik di Mongolia Timur yang dalam catatan Tiongkok , bisa dipadankan dengan istilah Tatars, termasuk juga Jurchen. Etnis utama di Manchuria adalah Jurchen, suatu kelompot etnis yang mendirikan Dinasti Jin di abad 12 [1115-1234 M] . Di masa Ming berkuasa ada tiga grup utama Jurchen : Yeh Nuchen, Hai-hsi Jurchen dan Chien-chou Jurchen. Mereka juga sering dikelompokkan dengan identitas kolektif sebagai Yeh-jen.

Continue Reading

Advertisements

Buku Laksamana Cheng Ho Dan Asia Tenggara

Budaya-Tionghoa.Net | Buku ini  tentang Cheng Ho, (juga dikenal sebagai Zheng He, Sam Po, Sam Bao, Sam Po Kong, San Bao Gong, Sam Po Toa Lang, Sam Po Taijin, San Bao Daren, Sam Po Tai Kam) dan Asia Tenggara ini diambil dari panel yang diselenggarakan oleh Huayinet (Singapura) dan Ohio University Materials on the Chinese Overseas pada Agustus 2005.

Panel tersebut merupakan bagian dari konferensi internasional dengan tema “Chinese Overseas and Maritime Asia 1405-2005”. Seperti diketahui bahwa tahun 2005 adalah tahun peringatan ke-600 pelayaran armada Cheng Ho dan pelbagai seminar, konferensi, bahkan perayaan, digelar di berbagai tempat dan negeri.

Cetakan pertama buku ini diterbitkan oleh Pustaka LP3ES Indonesia pada Desember 2005 (162 halaman) dengan DR. Leo Suryadinata sebagai editornya.

Continue Reading

Kematian Sam Poo Kong Mungkin Dibunuh

Sumber : Suara Merdeka

MENINGGALNYA Sam Poo pada usia 61 tahun diduga ditangan Wang Cing Hong yang dikenal dengan nama Kyai Juru Mudi Dampo Awang. Sam Poo tokoh Cina yang beragama Islam itu dari marga Ma (bukan marga Cen/The), berasal dari Yen Nan, kota Gwen Ming, desa Cin Ling, Cina dan jenazahnya dimakamkan di gua Gedung Batu Semarang.

Dalam buku ”In Nie Hwa Jiauw She” di halaman 70, 71, 72, 73, dikatakan, makam di sebelah gua tersebut merupakan makamnya Sam Poo. Karena, waktu berlayar ke Semarang, kapalnya tenggelam, meninggal dan dikubur di tempat tersebut. Tetapi, dari penelitian Kong Kwan, ditemukan kalau itu merupakan makamnya Wang Cing Hong. Hasil penelitiannya dibenarkan para sejarahwan/ilmuwan yang menyatakan bahwa itu makamnya Wang Cing Hong.

Continue reading

Qin Liangyu (1574~1648)

秦良玉 Qin Liangyu (1574~1648) adalah seorang panglima wanita terkenal di masa jaman akhir dinasti Ming.

Beliau lahir di provinsi Sichuan, dari keturunan etnis Miao. Selama masa mudanya, beliau belajar keahlian berkuda, memanah dan bela diri dari ayahnya. Dan juga mempelajari sastra, khususnya dalam bidang
berpuisi. Ia menikah dengan seorang pemimpin militer daerah dan mendampingi suaminya dalam masa tugas dalam beberapa pertempuran kecil menghadapi panglima-panglima perang (panglima independen yang seringkali bertingkah laku seperti perampok) setempat di perbatasan barat daya dinasti Ming. Setelah suaminya meninggal, Qin Liangyu kemudian menggantikan posisi suaminya.

Continue reading

SERIAL SEJARAH : Dinasti Ming ( 1368 – 1644 )

Budaya-Tionghoa.Net – ICCSG | Setelah berhasil mengusir Bangsa Mongol, Zhu Yuanzhang menobatkan dirinya sebagai kaisar dengan gelar Ming Daizhu (1368 –1398). Tahun pemerintahannya disebut dengan Hongwu, sehingga Beliau juga dikenal dengan sebutan Kaisar Hongwu. Dinasti barunya tersebut diberi nama Ming.Pelayaran samudera merupakan salah satu hal yang patut dibanggakan pada masa Dinasti Ming. Kaisar Yongle (1403 – 1424) telah memerintahkan Admiral Zheng He untuk mengadakan pelayaran ke selatan menuju negeri-negeri yang jauh. Ia berhasil berlayar sejauh Afrika (Mogadishu dan Malindi), jauh sebelum Bangsa Barat berhasil mencapai tempat tersebut serta mencapai Kalkuta dan Kolombo beberapa ratus tahun sebelum Vasco Da Gama.

Artikel Terkait :

Zheng He berangkat pada tahun 1405, membawa 63 kapal yang memuat 27.870 orang (jauh lebih banyak dibandingkan dengan pelayaran Kolombus). Hal terpuji yang patut kita teladani di sini adalah: meskipun membawa kekuatan besar tetapi Zheng He tidaklah berusaha menaklukkan atau menjajah negeri-negeri yang dikunjunginya. Hal ini beda dengan bangsa Barat, dimana penjelajahan selalu diakhiri dengan penjajahan. Pelayaran samudera ini beberapa ratus tahun lebih tua dibandingkan dengan Kolombus, sehingga dapat dikatakan bahwa pelopor penjelajahan samudera yang sebenarnya adalah Zheng He.

Yongle digantikan oleh putera tertuanya Hongxi (1425), yang hanya memerintah setahun, namun ia memiliki rasa ketertarikan pada astronomi. Ia telah berhasil mengenali bintik matahari, jauh sebelum bangsa Barat mengenalnya.

Kaisar Dinasti Ming yang terkenal berikutnya adalah Wanli (1573 – 1620). Pada masa kekuasaannya transformasi Tiongkok menuju negara modernpun diawali. Hasil pertanian dari Amerika, seperti misalnya jagung, kentang manis, dan kacang meningkatkan produksi pangan dan jumlah penduduk meningkat hingga menjadi lebih dari 100 juta jiwa atau bertambah dua kali lipat dibandingkan awal Dinasti Ming.

Dinasti Ming terkenal pula dengan keramiknya yang diekspor ke seantero penjuru dunia. Pada beberapa bagian belahan bumi ini, kita dapat menjumpai sisa-sisa keramik dari jaman dinasti ini. Sementara itu menjelang akhir Dinasti Ming, Bangsa Manchu di utara menjadi bertambah kuat. Pemimpin mereka Nurhachi beserta puteranya Aberhai pada awal abad ketujuh belas berhasil merebut Liaoning dari tangan Dinasti Ming. Setelah merasa kuat mereka mendirikan dinasti sendiri yang diberi nama Qing (1626).

Kaisar Dinasti Ming terakhir adalah Chongzhen (1628 – 1644), pada jamannya terjadi pemberontakan yang dipimpin oleh Li Zicheng. Ia berhasil merebut Beijing, ibukota Dinasti Ming pada Bulan April 1644, menyatakan dirinya sebagai kaisar dan mendirikan Dinasti Xun. Kaisar Chongzhen bunuh diri dengan cara mengantung diri dan pada saat yang sama dengan kematiannya, berakhir pulalah Dinasti Ming. Jenderal Wu Sangui yang ditugaskan menjaga perbatasan masih setia pada Dinasti Ming, maka ia meminta tolong Bangsa Manchu yang saat itu dipimpin Shunzhi (1644 – 1661) untuk mengusir Li Zicheng. Tetapi ternyata setelah Li berhasil diusir, Bangsa Manchu tidak bersedia meninggalkan Tiongkok, sehingga dengan demikian berawalah kekuasaan Dinasti Qing di Tiongkok.

***

Tulisan ini adalah bagian dari Serial Sejarah , yang bisa anda ikuti melalui link dibawah ini .

[San Huang Wudi] [Xia] [Shang] [Zhou] [Qin] [Han] [Samkok] [Jin] [Sui] [Tang][Song] [Yuan] [Ming] [Qing]

Budaya-Tionghoa.Net |