Diaspora Tionghoa Di Peru

Populasi Tionghoa di Peru ternyata berada di urutan ketujuh terbesar didunia (http://www.ocac.gov.tw ) . (Table 1)  Tionghoa Peru berjumlah 1.3 juta jiwa yang berarti sedikit lebih banyak dari Hoa Vietnam yang  berada diperingkat kedelapan . Peru menjadi negara ketiga diaspora Tionghoa terbesar diluar Asia Tenggara pada khususnya selain Amerika Serikat dan Kanada. Bagaimana sejarah kehadiran Tionghoa di negara yang tidak begitu populer seperti Peru ? Continue Reading

Meluruskan Sejarah Pao An Tui

 

Budaya-Tionghoa.Net | Pao An Tui adalah pasukan penjaga keamanan keturunan Tionghua yang dibentuk pada masa awal kemerdekaan RI. Beberapa buku sejarah menyudutkan Pao An Tui sebagai musabab kebencian terhadap etnis Tionghua. Benarkah demikian? Kita akan mengulas kasus berdasarkan apa yang terjadi Sumatera Utara.

Pada era 1945-1947 terjadi situasi yang tidak aman di Sumatera Utara. Ketika itu, terjadi transisi antara pemerintah pendudukan Jepang yang sudah kalah dengan pemerintah RI, yang saat itu telah mengangkat T. Moh Hasan sebagai gubernur Sumatera. Sementara itu, Belanda yang datang kembali untuk menegakkan kekuasannya turut bermain di air keruh.

Untuk memahami Pao An Tui, kita perlu memahami bagaimana sikap para sultan dan raja terhadap republik, dimana sikap mereka berbeda-beda. Raja-raja dan sultan di Sumatera Timur (Deli, Serdang, Langkat, Kualuh, Bilah, Panei, dll) memang bersikap menunggu. Mereka ingin mengetahui bagaimanakah kebijakan republik terhadap kedudukan mereka. Setelah ada jaminan bahwa kedudukan daerah swapraja akan dihormati berdasarkan pasal 18 UUD 45, barulah mereka menyatakan dukungan terhadap Republik.

Malangnya kondisi yang kacau itu dimanfaatkan oleh orang-orang tak bertanggung jawab yang dikenal sebagai Barisan Harimau Liar (BHL). Mereka inilah yang melakukan pengacauan keamanan. Lebih malangnya lagi mereka mengatas-namakan Republik dan “rakyat.” Kaum keturunan Tionghua juga kerap merasakan teror barisan liar yang memang liar ini. Demikian juga para raja dan sultan, karena slogan BHL adalah “ganyang feodalisme.” Di sinilah timbul peran Pao An Tui, yakni sebagai penjaga keamanan bagi etnis Tionghua.

Mereka sering dituduh antek Belanda, padahal yang dikehendaki adalah ketertiban. Memang patut diakui bahwa otoritas Republik masih lemah di saa itu. Etnis Tionghua bukanlah pro Belanda, tetapi yang mereka kehendaki adalah ketertiban. Buktinya tidak sedikit pemuda2 Tionghua yang ikut berjuang di pihak tentara Republik (TRI).

Continue Reading

Seputar Kebangkitan Organisasi Tionghoa

SUARA PEMBARUAN DAILY
————————–
Oleh Benny G Setiono

     Setelah rezim Orde Baru jatuh dan berlangsung reformasi, tumbuh kesadaran di sebagian kalangan etnis Tionghoa bahwa kedudukan mereka terutama di bidang sosial dan politik, sangat lemah dan menyedihkan. Kesadaran itu pada ujungnya membangkitkan keberanian untuk menolak kesewenang-wenangan yang menimpa diri mereka dan menuntut keadilan sebagai warga negara Republik Indonesia
      Dengan segera berbagai organisasi baik partai politik, ormas maupun LSM dideklarasikan. Di antaranya Partai Reformasi Tionghoa Indonesia (Parti), Partai Bhinneka Tunggal Ika (PBI), Solidaritas Nusa Bangsa (SNB), Formasi, Simpatik, Gandi, PSMTI, Perhimpunan INTI.
      Demikian juga berbagai penerbitan seperti harian, tabloid, dan majalah antara lain Naga Pos, Glodok Standard, Suar, Nurani, Sinergi, Suara Baru, bermunculan. Namun, dengan berjalannya waktu, ternyata beberapa organisasi tersebut berguguran dan beberapa media cetak hilang dari peredaran.

Continue reading

Sinopis Cerita: PATEKOAN & KAPITEIN GAN DJIE

oleh David Kwa
 
Gan Djie adalah seorang Kapitein der Chineezen yang mempunyai riwayat baik dan luar biasa. Ia adalah kapitein der Chineezen ketiga di Batavia, menggantikan Phoa Beng Gam. Istrinya adalah seorang perempuan Bali. Perempuan inilah yang kemudian menggantikan kedudukannya sebagai Kapitein der Chineezen selama 12 tahun setelah ia wafat.
——————– 
   Gan Djie adalah seorang Tionghoa totok yang berasal dari Ciangciu, sebuah kota keresidenan di bagian selatan Propinsi Hokkian. Dalam usianya yang sangat muda ia datang ke Gresik mengikuti kakak laki-lakinya yang sudah terlebih dahulu datang ke Jawa dan kebetulan sedang pulang ke Cina dan henda kembali pula ke Jawa. Di Gresik, Ia membantu kakaknya berdagang hasil bumi.
   Gan Djie seorang yang jujur, ramah, dan bersemangat tinggi, sehingga disukai banyak orang. Ia rajin sembahyang dan di beberapa waktu ia juga suka melakukan pang-she ( melepaskan makhluk hidup yang tengah menderita ) – umumnya burung atau ikan – suatu perbuatan bajik dalam pandangan agama Budha.

Continue reading

Tionghoa dalam Dinamika Sejarah Indonesia Modern: Refleksi Seorang Sejarawan Peranakan****

Tionghoa dalam Dinamika Sejarah Indonesia Modern: Refleksi Seorang Sejarawan Peranakan
Heterogenitas Golongan Tionghoa
Kekerasan atas Tionghoa dan “Koloborasi”: Kasus Jaman Jepang
Hubungan Pribumi–Tionghoa
Tidak Banyak Hal Yang Baru Dalam Social Policy Tionghoa
Catatan Kaki
All Pages
Page 1 of 6

oleh: Didi Kwartanada++++
“. . .Indonesia, the largest country in the world with a Chinese problem”[1]

Pendahuluan: Love and Hate Relations
Pertama-tama saya mohon maaf, karena tidak banyak waktu untuk melakukan persiapan penulisan makalah ini. Waktu penelitian kepustakaan di Belanda yang hanya dua bulan sama sekali tidak menyisakan banyak waktu untuk hal-hal lainnya. Jadi kebanyakan bahan yang disajikan disini adalah yang masih terekam dalam benak saya, sehingga pemaparannya jauh dari lengkap dan bersifat fragmentaris. Walaupun judul ceramah ini sangat luas, namun saya akan membatasi diri pada peran atau kontribusi Tionghoa dan juga hubungan Tionghoa dengan pribumi. Saya akan mengajak Bapak Ibu serta hadirin sekalian secara sersan—serius tapi santai—untuk berkelana sejenak ke masa lampau.

Artikel Terkait :

Di Indonesia dijumpai adanya hubungan –mengutip istilah Dr Mely G.Tan–“love and hate relations” (hubungan cinta-benci) antara orang Tionghoa dan Indonesia.[2] Sebagai contoh yang paling mudah, saat pertandingan olahraga (khususnya badminton), orang akan memuji-muji para atlet Tionghoa apabila mereka memenangkan suatu kejuaraan internasional. Namun saat media massa mengungkapkan penyelewengan dalam bidang ekonomi dan moneter yang dilakukan pengusaha Tionghoa (lengkap dengan nama Cinanya!), orang akan memaki-maki mereka.
Baru-baru ini saya mendapatkan di KITLV satu tabloid bernafaskan Islam yang cukup radikal bernama “Jurnal Islam” (selanjutnya disingkat JI) yang terbit setelah lengsernya Soeharto. Isi tabloid ini penuh dengan makian dan kekhawatiran (phobia) terhadap Yahudi-Zionis Israel–Barat–Nasrani dan Cina (Perantauan). Bahkan selalu dituduhkan adanya konspirasi  mereka berempat untuk melawan Islam (sic!). Yang menarik, walaupun memaki-maki Cina, namun tabloid ini juga menyajikan satu atau lebih laporan yang simpatik tentang aktivitas Tionghoa Muslim maupun organisasi mereka, yakni PITI (Persatuan Islam Tionghoa Indonesia). Muncullah judul2 berita yang provokatif tentang Cina sbg berikut:
·“Awas, Cina Perantauan Ancam Umat Islam” (JI, 2-8/2 2001: 8-9);
·“Konglomerat Cina Mau Makar” (JI, 9-15/2 2001: cover);
·“Siluman Cina Ingin Jadi Presiden” (JI, 16-22/2 2001);
·“Ekonomi Umat Islam Dicengkeram Yahudi dan Cina Kafir” (JI, 8-14/12 2000: 14-15).

Namun nada dan pandangan yang berbeda muncul saat berbicara tentang Tionghoa Muslim:
·“PITI: Berpotensi Besar untuk Membesarkan Islam” (JI, 29/9-5/10 2000: 14);
·“Persaudaraan Muslim Tionghoa Indonesia: Embrio Baru dalam Syiar Islam” (JI, 3-9/11 2000: 14).
· “PITI: Menyiapkan Pemimpin yang Solid” (JI, 22-28/9 2000: 23)

Disini tampak bahwa love and hate relations sudah menjadi “us” (kita) and “them” (mereka). Ini sekedar contoh saja dan tentunya rekan-rekan dari IAIN bisa berbicara lebih dalam soal ini.

Tabu di Jaman Rezim Orde Baru

Rezim Orde Baru (1966-1998) dikenal menabukan segala sesuatu yang berhubungan dengan Tionghoa, bahkan disebut “mempunyai masalah Tionghoa terbesar di dunia” (lihat kutipan di atas). Rezim ini menciptakan konglomerat2 Tionghoa (mayoritas Tionghoa totok).[3] ,sehingga kesan Tionghoa sebagai economic animal yg amat serakah menjadi sangat kuat. Akan tetapi orang sering lupa, bahwa konglomerat bisa bebas beraksi karena mendapatkan dukungan dari penguasa, birokrasi dan militer (dengan kompensasi pembagian keuntungan, tentunya!).
Rezim Orba juga memarjinalkan fakta bahwa golongan Tionghoa ikut berperan  dalam pembentukan nasion Indonesia, khususnya dalam bidang bahasa, pers dan sastra.  Pers Tionghoa dalam bahasa Melayu ikut menyebarluaskan bahasa Melayu sebagai lingua franca di Indonesia sejak 1890-an. Dari penelitian Claudine Salmon (sejarawan Perancis) dalam periode 1870-an hingga 1960an, sastrawan Tionghoa peranakan telah menerbitkan lebih dari 3,000 judul karya sastra dalam bahasaa Melayu dari berbagai bentuk: sandiwara, syair, terjemahan karya-karya Barat atau Tiongkok, novel dan cerpen.[4] Ternyata hasil sastra inipun dinikmati oleh publik non-Tionghoa.[5] Hasil penelitian Claudine ini berhasil memperkenalkan genre sastra ini ke hadapan publik internasional. Ironisnya, hingga kini Sastra Melayu Tionghoa masih belum sepenuhnya diakui sebagai kesusasteraan Indonesia modern. Buku pelajaran Sejarah Nasional Indonesia (SNI) pun sama sekali tidak menyinggung berbagai sumbangan tersebut.[6] Pada periode Orba juga tidak banyak literatur yang tersedia tentang golongan Tionghoa, jadi keberadaan mereka kurang banyak dipahami masyarakat umum.
Kejatuhan Orde Baru ternyata diiringi dengan kemunculan kembali minat yg besar ttg soal-soal “ketionghoaan”, dengan bermunculannya berbagai kegiatan ilmiah dan publikasi bermacam bahan tentang sejarah, adat istiadat dan budaya Tionghoa, yang sebelumnya ditabukan, seperti yang sudah kita saksikan dalam film tentang Imlek di Semarang tadi.[7] Di pihak lain, kita disadarkan pula bahwa tidak banyak akademisi dari kalangan generasi muda –baik Tionghoa maupun non-Tionghoa–yg memfokuskan diri dalam bidang ini.[8] Dengan demikian kajian tentang Tionghoa tidak banyak tersedia di toko-toko buku.  Oleh karena memang para akademisi belum banyak melakukan riset tentang komunitas Tionghoa di luar Jawa,[9] maka kajian yang ada masih bersifat “Jawa sentris” dan hanya ada satu dua studi tentang Sumatra[10] dan beberapa mengenai Kalimantan Barat.[11] Dari segi jender, kajian atau sumber-sumber tentang perempuan Tionghoa Indonesia masih sangat sedikit.[12] Namun hal yang menggembirakan, ternyata di kalangan Tionghoa (non-akademisi) juga terdapat beberapa peneliti dan pengamat yang cukup handal.[13]

Siapakah orang Tionghoa itu?
Siapakah orang Tionghoa itu? Banyak jawaban yang bisa diberikan, namun menurut penulis orang Tionghoa adalah mereka yang mengidentifikasi dirinya sebagai orang Tionghoa, mempunyai darah Tionghoa (walaupun sudah banyak bercampur) dan mempunyai nama Tionghoa (namun banyak Tionghoa Indonesia yang lahir dimasa Orba tidak lagi mempunyai nama Tionghoa). Satu hal yang khas dari Tionghoa peranakan dari Indonesia (khususnya Jawa), bahwa mereka sudah tidak bisa lagi berbahasa Mandarin. Banyak cerita tentang peranakan dari Jawa, saat mereka melakukan perjalanan ke Singapura, Hongkong, RRT ataupun di Barat, selalu ditanya:  “anda orang Chinese, mengapa tidak mampu berbahasa Mandarin?“[14]
Bagi generasi pra-Orba,  istilah “Cina” jelas berkonotasi merendahkan, oleh karena itu mereka lebih suka disebut “Tionghoa”. Sejarah pemakaian kata “Tionghoa” berawal di kalangan perkumpulan Tiong Hoa Hwee Koan (THHK) Batavia pada tahun 1900. Pada saat itu istilah “Tjina” atau “Tjienna” –yang dipakai sejak lama– mulai dianggap merendahkan. Pada tahun 1928 Gubernur Jendral Hindia Belanda secara formal mengakui penggunaan istilah “Tionghoa” dan “Tiongkok” untuk berbagai keperluan resmi.[15] Penggunaan istilah “Tionghoa” ini hanya bertahan selama 38 tahun saja, karena di tahun 1966 Orde Baru kembali menggunakan istilah “Cina”. Menarik sekali bahwa istilah “Tionghoa” ini sangat khas Indonesia, karena di Malaysia dan Singapura istilah “Cina” masih lazim digunakan.

Tionghoa dalam Dinamika Sejarah Indonesia Modern: Refleksi Seorang Sejarawan Peranakan
Heterogenitas Golongan Tionghoa
Kekerasan atas Tionghoa dan “Koloborasi”: Kasus Jaman Jepang
Hubungan Pribumi–Tionghoa
Tidak Banyak Hal Yang Baru Dalam Social Policy Tionghoa
Catatan Kaki
All Pages
Page 1 of 6

Cerita tentang Bangsa Perantau (1) : Asimilasi, Pencinaan Kembali, dan Pengakuan

Cerita tentang Bangsa Perantau (1) : Asimilasi, Pencinaan Kembali, dan Pengakuan
Jakarta, KCM 

Minggu-minggu terakhir ini, sejumlah kota-kota besar di Indonesia ‘memerah’ oleh kain-kain dan lampion-lampion. Pusat-pusat perbelanjaan, hotel, dan restoran seperti berganti busana, menghiasi diri dengan nuansa merah. Tahun baru Imlek. Sekarang, perayaannya sama meriahnya dengan perayaan Lebaran dan Natal. Ini adalah tahun kelima sejak pemerintah Indonesia memberikan kebebasan kepada masyarakat Tionghoa di Indonesia untuk merayakan hari besar adat istiadat mereka.  

Continue reading

Prasangka dan Diskriminasi Terhadap Etnis Tionghoa

oleh Thung Ju Lan

Isu terpenting yang perlu dibahas di sini apabila kita berbicara tentang prasangka dan diskriminasi adalah stereotyping, yaitu suatu kecenderungan untuk mengidentifikasi dan mengeneralisasi setiap individu, benda dan sebagainya ke dalam katagori-katagori yang sudah dikenal. Stereotyping terhadap warga etnis Tionghoa di Indonesia, seperti yang kita semua telah ketahui, mempunyai akar sejarah yang panjang karena katagori-katagori yang kita kenal itu pada awalnya dibuat pada masa pemerintahan kolonial Belanda, walaupun setelah itu masih terjadi proses modifikasi yang terus-menerus sampai hari ini.

Continue reading

Mengikis Rasialisme Anti-Tionghoa

Selasa, 11 Mei 2004 WACANA

Sumanto Al QurtubyPADA 13 Mei 2004, saya diundang oleh Pusat Analisis Ketahanan dan Kepatriotan Indonesia (Patria) Jakarta dalam sebuah acara bertajuk “Dialog Kebangsaan Nasionalisme WNI Etnis Tionghoa”. Selain saya, juga tampil KSAD Jenderal Ryamizard Ryacudu, Kwik Kian Gie, dan Prof. Said Aqiel Siradj. Menurut panitia penyelenggara, dialog itu dimaksudkan untuk mengenang peristiwa Mei 1998 yang tragis tersebut.

Kenapa Mei perlu dikenang? Kita tahu, pada medio Mei 1998 di negeri tercinta ini telah terjadi sebuah tragedi kemanusiaan yang memilukan: penjarahan, pembakaran, pembunuhan, dan pemerkosaan. Celakanya, yang menjadi sasaran amuk massa dan pemerkosaan -lagi-lagi- adalah warga Tionghoa. Itulah sebabnya, peristiwa Mei pada hakikatnya adalah kerusuhan terhadap etnis Tionghoa, sebuah bentuk rasialisme.

Continue reading

Akulturasi Cina Benteng, Wajah Lain Indonesia

TIDAK seperti Cina peranakan pada umumnya, Ong Gian (47) berkulit gelap. Matanya pun tidak sipit. Sehari-hari ia bekerja sebagai petani di Neglasari, Tangerang. Selain itu, ia juga awak kelompok kesenian gambang kromong yang sering tampil di acara-acara hajatan perkawinan.

Nenek moyangnya adalah Cina Hokkian yang datang ke Tangerang dan tinggal turun- temurun di kawasan Pasar Lama. Mereka masuk dengan perahu melalui Sungai Cisadane sejak lebih 300 tahun silam.

Cina Benteng memang selalu diidentifikasi dengan stereotip orang Cina berkulit hitam atau gelap, jagoan bela diri, dan hidupnya pas-pasan atau malah miskin. Sampai sekarang, ternyata mereka juga tetap miskin meski sudah jarang yang jago bela diri.

Meski ada beberapa yang sudah berhasil sebagai pedagang, sebagian besar Cina Benteng hidup sebagai petani, peternak, nelayan. Bahkan, ada juga pengayuh becak.

Continue reading

Sejarah keturunan Tionghoa di Asia Tenggara yang tak dikenal chalayak ramai

Sdr-sdr sekalian,

Dibawah ini saya sampaikan serial berjudul “Sejarah ket. Tionghoa di Asia Tenggara yang tak dikenal khalayak ramai”, yang dimuat oleh Indonesia Media di California dalam 5(lima) bagian pada tahun 2003. Peranan penting dari pihak orang Tionghoa, bila diketahui umum, akan meninggihkan pandangan terhadap keturunan Tionghoa di Indonesia. Image yang baik dapat mencegah kejadian-kejadian yang tidak diinginkan.

Continue reading

China: Penghinaan atau Bukan?

China dalam sejarahnya memang banyak sekali padanan yang menyertainya dikarenakan sejarah China sendiri yang panjang mencapai 5000 tahun. Istilah “Zhong Guo” atau “Negara Tengah” sendiri sebenarnya baru populer setelah terbentuknya republik setelah revolusi 1911. Tentunya istilah Zhong Guo tidak serta merta muncul begitu saja, namun berasal dari istilah Zhong Yuan (Hokkian : Tiong Goan) yang artinya dataran tengah. Dataran tengah ini merujuk kepada daerah di antara Sungai Kuning di utara dan Sungai Panjang (Yang-tse) di selatan yang merupakan mobilitas orang2 yang berbudaya Han. Dulu, orang Han masih menganggap mereka sederajat lebih tinggi daripada bangsa barbar yang belum “cukup” berbudaya. Jangan heran, sikap egosentris seperti ini memang lazim pada negara besar di zaman dulu.

Continue reading

Tentang Triad

Tanya:

Apakah benar Chiang Kai-shek anggota Triad? Triad bagi saya adalah kumpulan orang jahat, mengapa dikatakan berjasa oleh Sun Yat-sen? Apa kaitan Chiang Kai-shek, Sun Yat-sen dan Triad?

Jawab:
Triad punya sejarah yang panjang, Triad juga tidak dapat disamakan dengan organisasi sejenis seperti Yakuza di Jepang ataupun Mafia di Italia. Triad di dalam sejarah Tiongkok mempunyai sebuah kedudukan yang tidak dapat dinihilkan.

Continue reading

Etnik Tionghoa, Pribumi Indonesia…….

Etnik Tionghoa, Pribumi Indonesia dan Kemajemukan:
Peran Negara, Sejarah, dan Budaya dalam Hubungan antar Etnis

A Foreword
Leo Suryadinata (Institute of Southeast Asian Studies)

Semenjak berabad-abad lalu, etnik Tionghoa berada di Indonesia dengan jumlah cukup besar. Tetapi, karena persoalan menyangkut etnis masih dianggap peka, sebelum tahun 2000, jumlah suku bangsa/etnis di Indonesia tidak pernah dimasukkan ke dalam sensus penduduk epublik Indonesia. Perhitungan jumlah etnik Tionghoa ditaksir berdasarkan sensus tahun 1930. Pada waktu itu, jumlah etnik Tionghoa hanya 1,2 juta, kira-kira 2,03% penduduk Indonesia. Menurut pendapat lain, jumlah etnik Tionghoa di antara 2,5% dan 3% atau bahkan lebih besar, yaitu berkisar antara 4–5%. Sensus 2000 tidak memberikan jumlah etnik Tionghoa yang lengkap. Hasil perhitungan menunjukkan angka 1,7 juta, atau kira-kira 0,86%. Jika ditambah dengan etnik Tionghoa asing, jumlahnya kira-kira 1,8 juta, yaitu 0,91%. Continue reading

Akar Masalah Sentimen Anti Cina – DR. Wong Chin Na, SE,Ak,MBA

1. Akar Masalah Sentimen Anti Cina
2. Musuh Bersama
3. Evolusi Boss Boneka
4. Cina Dan Strategi Politik
5. Krisis Moneter
6. Kredit Macet
7. China Dan Globalisasi
8. Cina Dan Nasionalisme
9. Hukum Dan Keadilan
10. Keturunan Cina di Indonesia
11. Hipotesis Dan Kesimpulan Sementara
12. Himbauan

Author // DR. Wong Chin Na, SE,Ak,MBA

Budaya-Tionghoa.Net | Awal Januari 1998 Saudara-saudara sebangsa dan setanah air.
Polemik masalah Cina di forum Apakabar dewasa ini, telah berkembang menjadi tulisan- tulisan yang sifatnya menghasut, baik yang ditulis oleh kalangan pribumi maupun yang ditulis oleh keturunan Cina sendiri. Tulisan-tulisan seperti ini sangat berbahaya dan mudah dimanfaatkan oleh unsur-unsur tertentu untuk mengacaukan persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia. Kalau kita tidak ingin negara kita bertambah kacau, marilah kita secara sadar berusaha mencegah timbulnya kekacauan yang lebih parah dengan cara menghentikan tulisan yang tak tentu arahnya tersebut dan merubahnya menjadi suatu diskusi yang sehat yang didasari oleh suatu tujuan untuk memperkokoh persatuan dan kesatuan bangsa. Continue reading